Tentang Penerjemahan, Penerjemah dan Menerjemahkan

Judulnya seperti gimana gitu.. Tapi saya sedang belajar menerjemahkan, eh, penerjemahan (lebih tepat mana, trus lebih enak mana dibacanya?). :)

Pertama-tama, ini rangkuman saya, hasil membaca beberapa tulisan tentang penerjemahan dan berdasar apa yang saya rasakan dari sedikit latihan awalan sekali.

Menerjemahkan itu, ternyata bukan sekedar menyalin suatu teks dari satu bahasa ke bahasa lain. Dalam menerjemahkan: ada pesan dan makna yang harus bisa disampaikan kepada pembaca hasil terjemahan; ada rasa, nuansa dan suasana yang harus tersampaikan dalam bahasa berbeda—terutama untuk naskah nonfiksi; dan ada aspek sosial, sejarah dan budaya yang menjadi konteks dari teks atau tulisan yang diterjemahkan.

Dan pengerjaannya tidak sederhana. Menjadi istimewa karena saya jadi berkesempatan (atau harus) belajar banyak hal, untuk bisa mereproduksi pesan dari bahasa asal dengan baik dan benar.

Yang berikut, adalah kutipan beberapa kalimat sakti favorit dari para pakar, yang saya jadikan rujukan.

Penerjemahan itu bukan pengalihan kata, karena itu saya tidak setuju dengan istilah mengalihbahasakan. Menerjemahkan itu menyampaikan kembali dalam bahasa lain. Hal itu luas aspeknya, tidak hanya (menerjemahkan) kata-kata saja, tetapi juga suasana dan nuansanya. Jadi, ini merupakan pekerjaan yang membutuhkan rasa seni juga. ~Koesalah S Toer, dalam Tidak Sekadar Alih Bahasa

Menerjemahkan adalah proses mengalihkan satu kebudayaan ke kebudayaan lain atau suatu pengertian dari kebudayaan yang satu ke pengertian kebudayaan yang lain. Jadi, hal yang utama dalam karya terjemahan adalah keterbacaan dan kepemahaman. Artinya, kemampuan atau potensi untuk bisa dipahami dalam bahasa sasaran. Oleh karena itu, terjemahan yang baik adalah terjemahan yang bisa dibaca oleh pembaca sasaran. ~Sapardi Djoko Damono, dalam Tidak Sekadar Alih Bahasa

Seorang penerjemah selain harus menguasai bahasa asal atau sumber juga harus memahami konteks dan latar belakang budayanya. Kadang-kadang ada penerjemah yang menguasai bahasa asalnya, tapi konteks zaman atau peristiwa sejarahnya kurang dikuasai. Akibatnya, kendati bahasanya (asal) dikuasai betul, dalam proses menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bisa menjadi tidak tepat. Ini karena mereka tidak menguasai konteks zaman, historis, maupun kondisi sosialnya. ~Manneke Budiman, dalam Tidak Sekadar Alih Bahasa

Bahasa sasaran itu lebih penting daripada bahasa asal. Kalau bahasa asal kita enggak tahu, kita bisa buka kamus, tanya teman, atau cari di internet. Tapi kalau kosakata kita terbatas, pengetahuan tentang susunan kalimat atau gramatik kita juga terbatas, dengan sendirinya hasilnya juga enggak baik, kurang variatif, bahkan enggak bunyi. ~Hendarto Setiadi, dalam Tidak Sekadar Alih Bahasa

“Translation is not everybody’s art.” Menerjemahkan adalah sebuah seni yang tidak bisa begitu saja dimiliki setiap orang. Menerjemahkan bukanlah hal mudah. ia membutuhkan keterampilan yang kompleks. Sebagai sebuah seni, seperti juga seni musik, seni rupa, seni tari, menerjemahkan bersifat intuitif. Oleh karenanya tidak mungkin berkembang tanpa pengetahuan, latihan dan pengalaman. ~Luther dalam Simatupang (2000: 3), dalam Ideologi Dalam Penerjemahan

Penguasaan bahasa sasaran sangatlah penting. Kemampuan menerjemahkan bertumpu pada pengalaman, bakat, dan pengetahuan umum: gabungan pengetahuan atau inteligensi (kognitif), rasa bahasa (emotif), dan keterampilan menggunakan bahasa (retoris). ~Benny H Hoed, dalam Tentang Penerjemah

Kemahiran menerjemahkan tidak mungkin berkembang menjadi kemahiran profesional tanpa pengetahuan tentang teknik penerjemahan, latihan yang intensif dan pengalaman yang banyak. ~Hidayat (2002:35), dalam Ideologi Dalam Penerjemahan

Penerjemahan merupakan rangkaian proses belajar yang bergerak terus-menerus melalui tiga tahapan, yaitu naluri, pengalaman dan kebiasaan. ~Robinson (2005: 163-164), dalam Ideologi Dalam Penerjemahan

Kegiatan menerjemahkan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah memahami teks sumber dan tahap kedua adalah mengungkapkan kembali teks tersebut ke dalam bahasa lain. Kedua tahap tersebut memiliki kompleksitas tersendiri. Tahap pertama memerlukan pengetahuan linguistik dan ekstra-linguistik yang cukup memadai, sementara tahap kedua memerlukan pengetahuan bahasa sasaran, terutama kemampuan menulis. ~Lederer (1994 : 1), dalam Ideologi Dalam Penerjemahan

“Menerjemahkan sebuah tulisan itu harus paham amanat dan pesan di baliknya. Yang saya lakukan adalah mengadaptasi dan melakukan alih gagasan, bukan sekadar alih bahasa.” ~Maria Antonia Rahartati Hardjasoebrata Bambang Haryo, penerjemah komik Asterix, dalam wawancara Penerjemah Bukan Pekerjaan Mudah.

Kalau yang ini, dari Kompilasi Artikel Wawancara Penerjemah Buku, oleh Teh Rini.

Translating was the manifestation of the desire to engage with a certain process, the mechanics of writing, to see what I could learn from these writers. ~Writing-Translating (from) the In-Between: An Interview with Gail Scott

Mostly, I’ve been happy to translate the books I have translated, even though they weren’t my choices.  In some ways, I envy those who only translate the books they choose, but on the other hand, I’ve had the chance, thanks to publishers, to get to know books and authors I might not otherwise have known about. ~Howard Curtis, Reading the World 2007: E-Panel of Literary Translators

I really do think that writers are the ideal people to be translators. To translate a text, you must understand it fully and be able to basically rewrite it in a new language. Clearly, then, it helps if a translator has experience with writing, the writing process, analyzing literature, and editing. Certainly there are good translators out there who do not work on their own original writing and likewise there are good writers who don’t have the patience for or interest in working with other people’s documents,but in general, I believe translating and writing are worthy and compatible mates and I find both that reading, analyzing, and translating texts has benefited my own writing and also that writing stories and articles has helped me better understand the English language and how to translate into it. ~The Translator’s Practice: An Interview with Brett Jocelyn Epstein

Translating is different from writing in that the translator has the text already ready to hand; our task is to recreate that same text in our own language, just as the writer?s task was to create that text in his/her own language. ~Art Talk with Literary Translator Charlotte Mandell

There wasn’t a particularly heavy editing process, in part because the book is so short and concise, but I had great editors whose main influence was to suggest some very good solutions to a few things I had been struggling with. Juan Pablo didn’t influence the translation per se, but was very helpful in terms of providing answers to my questions about Mexican food, swear words and in-jokes. ~Rosalind Harvey

There is a place for many types of literary translation in the world, including translation in the world, including translation out of one national literature and into another. ~Esperanto and the Literary Translator: An Interview with Humphrey Tonkin

Literary translation is an art; five literary translators would translate a given piece in five different ways. ~The C.M. Mayo Interview

I think we need to remain optimistic. There are now many younger literary translators and readers of literary translators. ~Peter Bush

Gregory Rabassa’s achievements as a translator are difficult to measure. In historical terms, his translations parallel the introduction into English of a whole generation of Latin American writers whose innovations have revitalized the novel and established new directions in short fiction. ~The Translator’s Voice: An Interview with Gregory Rabassa

JH: When did your efforts at translating seem to become an activity, a calling even, that you knew would stay important to you? MSP: The work seemed important from that first book on. ~The Intimate Presence of the Other: An Interview with Margaret Sayers Peden

I also believe that translation is about recreating an experience you have reading, which necessarily means some kind of adaptation to get the reading pleasure across. ~Interview with Anne Trager of Le French Book, French Mysteries in Translation

2 thoughts on “Tentang Penerjemahan, Penerjemah dan Menerjemahkan

  1. Pingback: Menerjemahkan Dongeng Klasik « Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s