The Little Prince – Seorang Anak Dalam Rimba Orang Dewasa

The Little Prince and Letter to a Hostage by Antoine de Saint-Exupery. Translated with an Introduction by T.V.F. Cuffe (French to English). Illustrated by the author. Penguin Books, 1995. xxxiii+118 pages. ISBN 0-14-118562-7.

Ditulis dalam bahasa Perancis, pertama terbit di New York pada April 1943, dalam bahasa Perancis dan Inggris oleh Reynal & Hitchcock. Versi terjemahan pertama ke dalam bahasa Inggris oleh Katherine Woods. The Little Prince (TLP) adalah buku berbahasa Perancis yang paling banyak diterjemahkan sepanjang masa. Dan banyak diadaptasi ke berbagai media, seperti panggung musikal, film, opera.

~~~

Pertama, saya suka ilustrasinya. Karena tidak punya perbendaharaan ilmu tentang seni ilustrasi, saya kesulitan menggambarkannya. Yang pasti, ilustrasinya menarik. Kesan kanak-kanaknya sangat terasa. Imajinatif. Seperti ilustrasi buku-buku Roald Dahl yang juga khas dan unik. (Illustrated by Quentin Blake.) I like the art of illustration!

Kedua, saya suka cerita dan cara penyampaiannya yang dongeng banget. Tapi, sekaligus filosofis dan sarat makna. Konon buku ini banyak diperbincangkan karena keunikannya ini: sebuah dongeng anak yang fantastik di satu sisi, yang juga berisi renungan mendalam tentang kehidupan dan sifat manusia di sisi lain. Tergantung siapa yang membacanya—anak-anak atau orang dewasa—sudut pandangnya akan beda. Pengamat sastra menyebutnya sebagai dongeng alegori moral.

Ceritanya mengingatkan saya pada dongeng-dongeng masa kecil, yang berisi hanya ‘fantasi dan keindahan’. Didalamnya berisi penggambaran sifat-sifat manusia dewasa yang kadang aneh dalam persepsi anak kecil. Orang dewasa kadang membuat hidup yang sederhana dan indah menjadi rumit. Menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak. Terjebak dalam rimba kehidupan dan kehilangan esensi.

Sang pengarang yang telah tumbuh menjadi seorang dewasa, selalu merindukan kepolosan kanak-kanak yang menawarkan ketulusan, kejujuran, kesejatian. Setiap orang dewasa, dahulunya juga adalah kanak-kanak, ungkapnya. Selain tentang cinta dan persahabatan, didalamnya saya juga merasakan pengungkapan kesepian dan kegetiran hidup. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini atau di sini. Saya menyimpan beberapa bagian favorit di bawah. Silakan renungi dan resapi arti terdalamnya. :)

~~~

Pangeran kecil meninggalkan planet tempat tinggalnya untuk melihat semesta, dan mencari sahabat. Tempat asalnya adalah sebuah planet kecil yang tidak lebih besar dari sebuah rumah. Lebih merupakan sejenis asteroid—namanya ‘Asteroid B 612’. Saking kecilnya, dalam satu hari ia bisa menyaksikan matahari terbenam sebanyak 43 kali. Bayangkan! Jadi, jika ia ingin melihat matahari terbenam, ia hanya tinggal menggeser kursinya sedikit, dan ia bisa melihat malam datang kapanpun ia ingin. And, he is very fond of sunsets. When one is that sad, one can get to love the sunset, he said. (And I like it too.)

Di planet asalnya, tumbuh sebuah pohon yang sangat mengganggu, pohon baobab. For the first time I knew the trees, it’s very beautiful trees, actually. (See the picture below.) Tapi ketika ia tumbuh di planet sekecil itu dan tumbuh terus dan terus, ia jadi sangat menganggu. Dan pangeran kecil harus mencabuti setiap benih baru muncul.

Dalam pengembaraannya, ia berhasil mendatangi 6 asteroid dimana ia bertemu 6 penghuni orang dewasa yang menurutnya melakukan hal-hal ‘aneh dan bodoh’—mewakili enam sifat manusia. Mereka adalah:

The King. Seorang raja yang mengklaim dirinya penguasa semua planet dan bintang-bintang. Menjalankan kekuasaan dengan ‘perintah’, dan menganggap semua benda—termasuk manusia—adalah subjek yang harus mematuhi perintahnya. Sang pangeran dimintanya tinggal untuk menjadi Menteri Keadilan di planetnya, namun menolak, karena tidak ada seorang pun yang akan harus diadili.

Dan Sang Raja berkata: ‘In that case, you shall judge yourself. ‘That is the most difficult thing of all. It is far more difficult thing of all. It is far more difficult to judge yourself than to judge others. If you succeed in judging yourself correctly, then you are truly a man of wisdom.’ (I agree. It’s true, isn’t it?!)

Akhirnya pangeran kecil berhasil meninggalkan planet itu atas ‘perintah’ Sang Raja untuk pergi sebagai duta besar kelilingnya. Karena segala yang terjadi, haruslah terjadi atas ‘perintah’-nya. (Chapter 10)

The Conceited Man. yang ingin dihormati oleh setiap orang sebagai orang paling tampan, paling kaya dan paling pintar di planetnya yang hanya ditinggali olehnya seorang diri. Dan ia tidak ingin mendengar apapun kecuali pujian atas dirinya. (Chapter 11)

The Drunkard. Ia menjadi pemabuk untuk melupakan bahwa ia telah melakukan hal yang memalukan, yaitu: menjadi pemabuk. (Chapter 12) Paradoksal. :)

The Businessman. Ia selalu sibuk menghitung bintang-bintang yang ia klaim sebagai ‘milik’-nya. Bintang-bintang itu adalah miliknya, karena tidak seorangpun memilikinya dan tidak seorangpun sebelumnya pernah berpikir sebagai pemiliknya. Semakin banyak bintang yang dimilikinya, akan semakin banyak lagi bintang yang dapat ia beli, dan semakin kayalah ia, pikirnya. Dan bintang-bintang itu menjadi miliknya hanya dengan menemukannya, memasukkan kedalam daftar hitungannya, dan mencatatnya sebagai miliknya. That is all it takes.

Sang pangeran sendiri mempunyai sebuah pohon bunga dan tiga gunung di planetnya yang ia jaga dan pelihara. Begitu juga bunga dan gunung itu memberi manfaat dan peduli padanya. Tetapi Sang Pebisnis ini tidak dapat memelihara atau bahkan membawa bintang-bintang itu bersamanya, jadi ia tidak bisa menjadi pemilik bintang-bintang itu, begitu menurutnya. (Chapter 13)

The Lamplighter. Planet kelima ini adalah yang terkecil, yang berevolusi setiap satu menit. Si Penjaga Lampu mempunyai ‘tugas’ memadamkan lampu di pagi hari dan menyalakannya pada malam hari. Dulu ia masih bisa beristirahat di siang hari, menunggu sore datang; dan tidur di malam hari, menunggu pagi datang. Tetapi seiring berjalannya waktu, perputaran planet menjadi lebih cepat dan semakin cepat, sementara ‘tugas’ tidak berubah. Sekarang ia harus memadamkan dan menyalakan lampu satu kali dalam setiap menit, sehingga tidak punya waktu sama sekali untuk beristirahat.

Pangeran kecil sesungguhnya menaruh empati padanya, menurutnya ia yang terbaik diantara 4 orang sebelumnya. Ia seorang yang sangat patuh terhadap tugas dan peduli pada sesuatu diluar dirinya. Ia satu-satunya yang dapat dijadikannya teman. Terlebih di planet ini ia bisa menyaksikan 1440 kali pemandangan matahari terbenam dalam satu hari!

Tapi planet ini terlalu kecil. Hanya ada cukup ruang untuk Si Penjaga Lampu dan lampunya.

The Geographer. Planet keenam besarnya sepuluh kali planet sebelumnya. Ahli geografi ini menghabiskan waktunya untuk membuat peta tanpa pernah meninggalkan mejanya. Bahkan ia tidak tahu keadaan planet tempat tinggalnya, memiliki lautkah atau gunung. Mengadakan perjalanan adalah pekerjaan seorang ‘explorer’, dalihnya. Jadi, ia hanya menerima laporan dari explorers yang seringkali ia ragukan watak dan moralnya, tapi sungguh ia tidak beranjak dari mejanya. Ahli geografi ini kemudian merekomendasikan sang pangeran untuk mengunjungi planet Bumi.

So, planet terakhir yang disinggahinya adalah planet Bumi.

Tiba di Bumi ia terdampar di gurun Sahara. Menurut imajinasi pengarang yang juga menjadi tokoh utama kisah ini—sebagai Sang narator, pangeran kecil ini tiba di Bumi dengan ‘menumpang’ pada burung-burung yang bermigrasi. Di Sahara ia berjumpa dan bersahabat dengan seorang penerbang—yaitu sang narator, yang juga terdampar disana karena pesawatnya mengalami kerusakan. Tapi sebelumnya ia juga berjumpa dan mengalami banyak hal di gurun ini.

Saya suka bagian ketika ia bertemu dengan si rubah. Sebelum berpisah rubah memberikan sebuah rahasia yang menurut saya menjadi kunci paling penting kisah ini. The fox said: ‘Now here is my secret, very simply: you can only see things clearly with your heart. What is essential is invisible to the eye.

Saya juga suka bagian ketika ia bertemu saudagar yang menjual pil penghilang rasa haus. Kita hanya perlu meminumnya sekali dalam satu minggu, dan kita akan bebas dari rasa haus. Ketika ditanya mengapa menjual pil jenis ini, sang saudagar menjawab, ‘Untuk menghemat waktu’. Pil ini diciptakan oleh para ahli sehingga kita bisa menghemat 53 menit dalam satu minggu, dan kita bisa melakukan apa yang kita suka dengan 53 menit tersebut. But, the little prince said to himself, ‘For my part, if I had fifty-three minutes to spare, I would take my time walking slowly towards the nearest fountain water.’ (I’ll do the same, of course.)

Tentang Penulis

Antoine de Saint-Exupery, lahir di keluarga Perancis tua pada 1900. Meski pada 1904 ayahnya meninggal, ia mempunyai masa kecil yang menyenangkan bersama saudara laki-laki dan tiga saudara perempuannya. Menjadi pilot bukanlah harapan keluarganya, tetapi terbang adalah kecintaannya. Terbang adalah obsesinya di atas semuanya, karena hal itu memberinya kesempatan untuk memikirkan banyak hal—segala pertanyaan mendasar yang dimilikinya. Terbang dan menulis adalah dua hal dalam hidupnya.

Meski bukan sepenuhnya otobiografi, penulisan kisah ini terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman Saint-Exupery sendiri sebagai pilot. The Little Prince juga menjadi gambaran sikap politik dan pandangan penulisnya terhadap kehidupan. Saint-Exupery dan pesawatnya menghilang dan tidak pernah ditemukan dalam sebuah penerbangan pada 31 Juli 1944.

Last but not least

The Little Prince didedikasikan untuk teman dekatnya, Leon Werth. Bunyi ungkapannya seperti tertulis di bagian depan buku ini (I like these words. Jujur dan tulus..):

To Leon Werth

I ask the children to forgive me for dedicating this book to a grown-up. I have a serious excuse: this grown-up is the best friend I have in the world. I have another excuse: this grown-up can understand everything, even books for children. I have a third excuse: he lives in France where he is hungry and cold. He needs to be comforted. If all these excuses are not enough, then I want to dedicate this book to the child whom this grown-up once was. All grown-ups were children first. (But few of them remember it.) So I correct my dedication:

To Leon Werth, when he was a little boy

Di akhir cerita sang narator berkata: To forget a friend is sad. Not everyone has had a friend. And if I do forget him, I might become like those grown-ups who no longer care for anything except figures. (Lagi-lagi saya suka kalimat ini. And this is remembering me of my ordinary friend who had loosen. Friend, I always miss you.)

8 thoughts on “The Little Prince – Seorang Anak Dalam Rimba Orang Dewasa

  1. Linknya gak bisa di buka :( . Saya cari kemana2 buku ini untuk hadiah murid2 saya yang berpretasi (kelas 2SD) tapi gak nemu, gak ada, abis. Hiiiiiks. Sediiiih.
    Semoga gramedia bisa cetak ulang. Kalau ada yang jual bekas. Mau deh 6 pcs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s