Pelajaran Pertama: Dari Menerjemahkan Dongeng Klasik

Dua buku yang membuat saya menyadari arti penting seorang penerjemah adalah Dan Damai di Bumi! dan Taiko. Keduanya diterjemahkan oleh Hendarto Setiadi. Tanpa penerjemah, kedua buku itu tak akan bisa saya nikmati seindah itu dalam Bahasa Indonesianya.

Saking bagusnya terjemahan kedua buku itu, waktu itu saya jadi merenung, betapa ajaib Tuhan menciptakan bahasa. Dan dari bagaimana kalimat-kalimat tersusun dalam kedua buku itu, saya belajar satu hal, tak ada yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata (bahasa). Lagi, betapa ajaib Tuhan telah menciptakan bahasa sebagai wujud kebudayaan.

Saya bertanya pada teman yang berprofesi sebagai penerjemah, bagaimana caranya agar bisa menerjemahkan sebaik itu? Teman saya menjawab: Latihan. Mmm.. waktu itu saya tidak puas sama sekali dengan jawaban itu. Lalu berusaha mencari tahu. Saya membaca beberapa buku tentang penerjemahan dan berbagai artikel di internet. Dan baru setelah mencoba latihan, saya bisa mengerti maksud jawaban teman tersebut. Ada perbedaan antara hal-hal praktis dan yang sifatnya teoritis.

~~~

Setelah beberapa kali membantu teman mengoreksi naskah buku terjemahan nonfiksi, akhirnya kesempatan latihan menerjemahkan secara utuh sendiri pun datang. Saya mencoba menerjemahkan buku fiksi, buku cerita anak The Blue Fairy Book. Buku klasik! Dan petualangan pun dimulai. :P

Buku ini diterjemahkan dalam kerangka proyek penyediaan materi bacaan pelajaran sastra di website Pustaka Charlotte Mason Indonesia. Penyediaan materi bacaan sastra dari buku-buku berkualitas—CM menyebutnya sebagai living books— adalah satu dari 11 karakteristik pendidikan ala Charlotte Mason.

Salah satu cerita terjemahan saya yang sudah dimuat di website tersebut adalah Petualangan ke Negeri Liliput (disunting oleh mbak Gita). Saya terjemahkan dari A Voyage to Lilliput dalam The Blue Fairy Book, buku kumpulan dongeng klasik oleh Andrew Lang. Buku ini sendiri terdiri dari 37 cerita, di dalamnya terdapat kisah-kisah familiar seperti Little Red Riding Hood, Sleeping Beauty, Cinderella, Aladdin, Rumpelstiltzkin, Beauty and the Beast, dan Hansel and Gretel. Versi onlinenya bisa dibaca di sini.

Menerjemahkan kisah klasik, jangan ditanya susahnya, hehe. Kata-kata dan kalimatnya aneh dan panjang-panjang. Saya jadi harus rajin googling, mencari versi lain cerita ini sebagai pembanding, mencari arti kata-kata sulit dan padanannya. Apalagi cerita ini ditujukan untuk pembaca kanak-kanak. Nuansa dongengnya juga harus terasa. Di samping saya harus sedapat mungkin menerjemahkannya mendekati versi aslinya, sesuai permintaan empunya proyek. Tidak mudah, tapi seru. Saya jadi belajar banyak hal.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada perbedaan antara hal-hal praktis (teknik) dan yang sifatnya teoritis (metode dan prosedur). Mungkin itu sebabnya dalam sebuah tulisan dikatakan bahwa sesungguhnya kemampuan yang diperlukan dalam menerjemahkan adalah kemampuan memecahkan masalah. Masalah praktis yang dihadapi penerjemah ada dua. Satu, ketika ia tidak memahami teks (kata, kalimat, atau paragraf) bahasa asal sehingga tidak memahami pesannya. Dua, ketika ia kesulitan mengungkapkan dalam bahasa sasaran meski sudah memahami teks bahasa asal. Menyikapi hal tersebut diperlukan ketepatan tindakan. Dan ketepatan tindakan terbentuk melalui pengalaman. Praktik. Jadi memang, latihan! :)

Ini bagian yang paling saya suka dari cerita yang saya terjemahkan. Lucu.. :)

But I have made a translation of the conditions, which I here offer to the public:

“Golbaste Momarem Evlame Gurdile Shefin Mully Ully Gue, Most Mighty Emperor of Lilliput, delight and terror of the universe, whose dominions extend to the ends of the globe, monarch of all monarchs, taller than the sons of men, whose feet press down to the centre, and whose head strikes against the sun, at whose nod the princes of the earth shake their knees, pleasant as the spring, comfortable as the summer, fruitful as autumn, dreadful as winter: His Most Sublime Majesty proposeth to the Man-Mountain, lately arrived at our celestial dominions, the following articles, which by a solemn oath he shall be obliged to perform:

“First. The Man-Mountain  shall not depart from our dominions without our license under the great seal.

Terjemahan saya:

Terjemahan surat pernyataan tentang persyaratan-persyaratan itu sebagai berikut:

Golbaste Momarem Evlame Gurdile Shefin Mully Ully Gue, Raja Agung Penguasa Negeri Liliput, yang menerangi dan disegani di seluruh alam raya, yang kekuasaannya membentang hingga ujung dunia, raja dari segala raja, lebih tinggi dari anak manusia, yang kakinya menjejak kuat di bumi, dan kepalanya tegak menentang matahari hingga semua pangeran di bumi merunduk di hadapannya. Yang memberikan keindahan laksana musim semi, memberikan kehangatan laksana musim panas, yang menebar banyak manfaat seperti musim gugur, yang ditakuti seperti musim dingin: Baginda Yang Mulia menetapkan ketentuan berikut untuk Tuan Makhluk Besar yang belum lama ini tiba di wilayah kerajaan kami dan melalui sebuah sumpah ia berkewajiban menaati ketentuan-ketentuan berikut:

Pertama. Tuan Makhluk Besar tidak diperkenankan meninggalkan wilayah kerajaan kami tanpa surat izin resmi yang bertanda cap kerajaan.

Perhatikan bagaimana kalimat bahasa asalnya. Hehe. Gimana..? Oh ya, di dalam cerita-cerita tersebut banyak terdapat puisi dan nyanyian. Tentang penerjemahan puisi saya tulis terpisah. Juga keterangan tentang living books.

2 thoughts on “Pelajaran Pertama: Dari Menerjemahkan Dongeng Klasik

  1. Pingback: Living Book « Chrysant

  2. Pingback: Pelajaran Kedua: Ketika Berkenalan dengan Rudyard Kipling « Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s