Seni Memotivasi Diri

Judul: Seni Memotivasi Diri: Strategi Mengubah Mimpi Menjadi Takdir
Penulis: Brian Tracy & Dan Strutzel
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Pengalih bahasa: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Deesis Edith Mesiani
Cetakan: I, Juni 2019
Tebal: 356 halaman
ISBN: 9786232162891

 

Banyak dari kita mengatakan ingin sukses, bahagia, dan berpengaruh. Namun, sangat sedikit dari kita yang menindaklanjuti apa yang kita katakan dengan tindakan yang menggerakkan kita secara langsung untuk mencapai tujuan itu.

Apa yang harus kita lakukan untuk menjembatani jarak antara apa yang kita katakan sebagai keinginan kita dengan apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya? Jawabannya adalah kita memerlukan motivasi yang berorientasi tujuan. Motivasi jenis khusus ini adalah bahan bakar yang akan membawa kita melalui perjalanan panjang yang sering kali penuh ketidakpastian, menuju sasaran yang kita tuju dalam hidup.

Buku ini akan membimbing kita untuk mengetahui bagaimana cara menumbuhkan motivasi saat diperlukan, mempertahankan motivasi saat menghadapi masa sulit dalam hidup, dan menanamkannya sedemikian rupa ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga ide tentang motivasi tersebut sudah tidak diperlukan lagi.

Semua pembahasan tentang hal itu secara menyeluruh dapat Anda temukan dalam buku Seni Memotivasi Diri: Strategi Mengubah Mimpi Menjadi Takdir, yang merupakan intisari diskusi dari seorang pakar motivasi dan pengembangan diri, Brian Tracy, dan Dan Strutzel, seorang veteran di bidang pengembangan diri.

Catatan Pertama: Berkenalan dengan Aristoteles

Aristotle statue located at Stageira of Greece – ©Panos/Fotolia.com

Alfred North Whitehead, filsuf terkemuka Amerika, berpendapat bahwa seluruh sejarah filsafat Barat adalah rangkaian catatan kaki dari pemikiran Plato. Socrates adalah guru Plato, dan Plato pada gilirannya mengajar Aristoteles. Sehingga bisa dikatakan, ungkapan Whitehead juga berlaku bagi Socrates dan Aristoteles.

Ketiganya—Socrates, Plato dan Aristoteles—dikenal sebagai sosok yang mempengaruhi perjalanan sejarah Yunani. Yang pada gilirannya mempengaruhi lahirnya peradaban Barat dewasa ini. Di mana tanpa peradaban Yunani klasik, peradaban Barat mungkin tak akan pernah muncul dalam sejarah.

Aristoteles, melalui karyanya, Retorika, secara umum dikenal sebagai peletak dasar-dasar sistem retorika yang berfungsi sebagai batu pijakan bagi perkembangan teori retorika dari zaman kuno sampai zaman modern. Retorika dianggap sebagai karya tunggal yang paling penting dalam seni persuasi.

Sebagaimana Alfred North Whitehead yang berpendapat bahwa semua filsafat Barat adalah catatan kaki bagi pemikiran Plato, Gross dan Walzer sepakat menyatakan bahwa semua teori retorika yang ada kemudian hanyalah serangkaian tanggapan terhadap isu-isu yang diangkat Aristoteles dalam Retorika.

Salah satu kontribusi terpenting Aristoteles dalam Retorika adalah ia mengidentifikasi retorika sebagai salah satu dari tiga elemen kunci dalam filsafat, bersanding dengan logika dan dialektika.

Menurut Aristoteles, logika berkaitan dengan argumen tentang sesuatu yang bersifat pasti secara ilmiah, sementara dialektika dan retorika berkaitan dengan sesuatu yang bersifat kemungkinan. Dan sementara dialektika digunakan dalam debat filosofis, retorika digunakan dalam debat terkait persoalan praktis; keduanya membentuk sistem persuasi yang didasarkan pada pengetahuan, alih-alih manipulasi emosi dan pengaburan fakta.

Menurut Wikipedia, terdapat empat versi terjemahan Retorika dalam bahasa Inggris yang paling banyak diacu oleh pembaca abad ke-21, yaitu versi terjemahan Richard C. Jebb, 1909; John H. Freese, 1924; W. Rhys Roberts, edisi pertama 1924, edisi revisi 1954; dan Lane Cooper, 1932. Edisi revisi W. Rhys Roberts dianggap sebagai versi paling mudah dibaca.

Pada 1991 terbit versi lain yang juga dianggap penting. Versi terjemahan George A. Kennedy, yang kemudian dikenal sebagai versi dengan terjemahan paling akurat. Dilengkapi komentari, catatan dan referensi yang kaya, sehingga secara umum dianggap sebagai standar referensi ilmiah versi terjemahan Retorika dalam bahasa Inggris. Edisi revisinya terbit pada 2006.

Sampai catatan ini ditulis, saya masih belum menemukan versi terjemahan buku ini dalam bahasa Indonesia. Entah memang belum ada, atau saya yang belum menemukannya.

Saya sendiri berkesempatan menerjemahkan buku ini dari versi bahasa Inggris W. Rhys Roberts. Di naskah sumbernya sendiri tidak ada keterangan apakah itu edisi pertama atau edisi revisi, tetapi saya berasumsi itu edisi revisi.

Pengerjaannya dilakukan pada 2017. Sudah agak lama. Tetapi waktu itu belum terpikir untuk mencatat hal-hal terkait penerjemahannya. Baru pada pertemuan saya yang kedua dengan salah satu karya Aristoteles yang lain, saya merasa ada hal-hal yang perlu saya catat. Di antaranya, daftar referensi yang saya gunakan sebagai rujukan silang.

Dalam Retorika, Aristoteles banyak merujuk pada hal-hal dan peristiwa historis pada masanya, banyak mengutip syair dan dialog dari berbagai karya sastra penulis lain, selain juga banyak menunjukkan rujukan silang pada karya tulis Aristoteles terkait lainnya. Saya menggunakan tiga versi lain sebagai pembanding pada saat diperlukan. Dan satu komentari oleh E.M. Cope, yang sungguh sangat membantu menjelaskan berbagai konteks.

Berikut rincian kepustakaan semuanya, yang saya akses selama kurun waktu penerjemahannya.

1 – The Rhetoric of Aristotle. A translation by Sir Richard Claverhouse Jebb. Edited with an introduction and with supplementary notes by John Edwin Sandys. Cambridge: University Press. 1909. Versi pdf tersedia di http://www.archive.org/details/rhetorictranslat00arisuoft

2 – Aristotle, Rhetoric. Translated by J. H. Freese. Cambridge and London. Harvard University Press; William Heinemann Ltd. 1926. Tersedia online di Perseus Digital Library. http://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Aristot.%20Rh

3 – The Rhetoric, Poetic, and Nichomachean Ethics of Aristotle. Translated from the Greek by Thomas Taylor. Volume 1. London: Printed by A. J. Valpy, Tooke’s Court, Chancery Lane, For James Black and Son, Tavistock Street, Covent Garden. 1818. Versi pdf tersedia di https://archive.org/details/rhetoricpoetica02arisgoog

4 – Commentary on the Rhetoric of Aristotle. Edward Meredith Cope. Cambridge. Cambridge University Press. 1877. Tersedia online di Perseus Digital Library. http://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus%3Atext%3A1999.04.0080

Meski pengerjaannya sungguh tidak mudah, saya merasa tetap jauh lebih beruntung. Karena sudah banyak tersedia versi bahasa Inggris yang sudah dilengkapi dengan berbagai catatan, pengantar, bahkan komentari. Membaca beberapa jurnal dan review tentang penerjemahan karya-karya Aristoteles dari bahasa Yunani ke Inggris, saya dibuat kagum oleh kesungguhan mereka. Bahkan ada diskusi-diskusi panjang, demi membahas pemadanan satu dua kata saja, dari bahasa Yunani ke Inggris.

Tidak tertutup kemungkinan jika ke depannya iklim seperti ini juga tumbuh dalam dunia akademik dan penerjemahan-penerbitan di Indonesia (atau mungkin sudah tumbuh, saya saja yang tidak tahu). Penerjemahan karya-karya klasik dan ilmiah seperti ini di Indonesia tentunya masih sangat dibutuhkan. Dan bersamaan dengan itu, upaya perbaikan dan peningkatan harus terus dilakukan.

Untuk menjamin mutu dan akurasi sebuah terjemahan, revisi mungkin saja perlu dilakukan, entah oleh penerjemah bersangkutan atau orang lain. Tidak tertutup kemungkinan juga jika Retorika yang saya terjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Basabasi pada April 2018 lalu ini ke depannya memerlukan revisi. Entah oleh saya lagi atau oleh penerjemah lain. Atau dibuatkan versi terjemahannya yang lain. Catatan ini saya buat sebagai arsip yang siapa tahu akan dibutuhkan di masa mendatang.

Mastering Megatrends: Menghadapi & Menguasai Megatrends

Judul: Mastering Megatrends: Menghadapi & Menguasai Megatrends di Tatanan Global Baru
Penulis: Doris & John Naisbitt
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Pengalih bahasa: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Saptono Raharjo
Penyelaras akhir: Marina Ariyani
Cetakan: I, Agustus 2018
Tebal: 286 halaman
ISBN: 9786024557379

Dari penulis buku The New York Times Best Seller, Megatrends (1982) dan Global Game Change (2015), Mastering Megatrends hadir untuk menjawab pertanyaan bagaimana menghadapi kompleksitas perubahan sebagaimana dipetakan pada kedua buku tersebut.

Dalam Mastering Megatrends, penulis menginterpretasikan secara sistematis, mendalam dan tajam bagaimana kondisi dunia pada saat ini dan masa depan, dari perspektif pembentukan tatanan dunia baru dan tatanan perdagangan baru, perkembangan sains dan teknologi terkini, tantangan dunia pendidikan, kontrol terhadap media massa, dan upaya melepaskan diri dari kelembaman pikiran.

Sebagai pakar di bidang riset mengenai isu-isu China, kedua penulis telah banyak mengeksplorasi China—dari Wenweng Shishi, sekolah menengah umum pertama di China, sampai Belt and Road Initiative, satelit Mozi dan parade militer China… Dengan membandingkan budaya, pendidikan, pola pikir, serta perkembangan ekonomi dan sosial Barat dan Timur, dengan membuat perbandingan model perkembangan China dan model perkembangan Barat, keduanya mencapai kesimpulan yang menakjubkan.

Dalam era digital saat ini, informasi dapat diakses oleh hampir semua orang. Namun rentang informasi bisa beragam dari fakta hingga opini, yang bersifat informatif semata atau disampaikan dengan intensi tertentu, yang hanya dapat dipahami oleh kelompok intelektual tertentu atau bersifat populis, dan disebarkan oleh manusia atau algoritma.

Begitu tersebar, informasi akan diterima oleh mereka yang memiliki pola pikir terbuka maupun mereka yang memiliki pola pikir penuh bias, dengan penyikapan yang beragam baik secara budaya maupun geografis. Berbagai rintangan dalam proses pencarian fakta seperti media massa, gejala echo chamber dan prasangka bisa menghalangi kita dalam menemukan peluang dan membutakan kita terhadap berbagai ancaman yang ada.

Di saat Megatrends lebih bisa diakses dibanding waktu-waktu sebelumnya, kita cenderung menampik informasi yang tidak sesuai ekspektasi. Mastering Megatrends menawarkan panduan untuk mengatasi berbagai rintangan internal dan eksternal dalam memahami dan memanfaatkan berbagai prospek pada dekade mendatang.

Konten Mastering Megatrends:

• Kemunculan Dunia Baru
• Bagaimana Membuat Penilaian dan Menguasai Emosi
• Memahami Pola Pikir Para Pemain Kunci
• Memahami Para Pemain Baru
• Pemetaan Baru Dunia
• Menguasai Dunia Kerja Baru
• Menguasai Tantangan Pendidikan
• Menguasai Komunikasi Massa
• Menguasai Tatanan Perdagangan Baru
• Menguasai Pikiran Sendiri

Timaeus dan Critias: Awal Mula Kisah Atlantis

Judul: Timaeus dan Critias: Awal Mula Kisah Atlantis
Penulis: Plato
Penerbit: Basabasi
Alih bahasa: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Fandy Hutari
Pemeriksa aksara: Daruz Armedian
Cetakan: I, September 2018
Tebal: 252 halaman
ISBN: 9786025783296

Timaeus dan Critias, dua dari dialog-dialog karya Plato, adalah satu-satunya catatan tertulis yang tersedia dan secara spesifik membahas tentang Atlantis. Keduanya berisi percakapan antara Socrates, Hermocrates, Timaeus, dan Critias. Dalam rangka menanggapi pembicaraan Socrates sebelumnya tentang masyarakat yang ideal, Timaeus dan Critias sepakat untuk menjamu Socrates dengan sebuah kisah yang “bukan fiksi, melainkan kisah nyata”. Sebuah kisah tentang konflik antara orang-orang Athena dan Atlanta kuno yang terjadi 9000 tahun sebelum masa Plato.

Pengetahuan tentang masa Iampau yang sepertinya sudah dilupakan oleh orang-orang Athena pada masa Plato, kisah tentang Atlantis yang disampaikan kepada Solon oleh pendeta Mesir. Solon menyampaikan kisah ini kepada Dropides, kakek buyut Critias. Critias mendengarnya dari kakeknya yang juga bernama Critias, anak dari Dropides.

Kedua dialog berikut ditulis oleh Plato pada sekitar 360 SM dan diterjemahkan ke dalam bahasa lnggris oleh Benjamin Jowett.

Spinoza: Filsafat Praktis

Judul: Spinoza: Filsafat Praktis
Penulis: Gilles Deleuze
Penerbit: Basabasi
Alih bahasa: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Fandy Hutari
Pemeriksa aksara: Daruz Armedian
Cetakan: I, Mei 2018
Tebal: 260 halaman
ISBN: 9786025783074

Buku ini provokatif sejak awal: sebuah buku tentang Spinoza, dengan sub-judul Filsafat Praktis, dan menyebut Nietzsche dalam kata pembuka bab pertamanya. Kedekatan Spinoza dan Nietzsche dibuat sangat jelas. Buku ini membahas bentuk familiar yang kita sebut manusia. Spinoza membicarakan haI-hal yang mendahului bentuk itu, dan Nietzsche membicarakan hal-hal yang melampaui bentuk itu.

Bagi Spinoza, persoalan historisnya ada pada bagaimana memahami komposit terbatas seperti manusia, dalam keterlibatannya dengan kekuatan-kekuatan sempurna, yaitu kekuatan yang tak terbatas, yang memiliki bentuk yang dikenal sebagai Tuhan. Salah satu bagian paling menarik dari buku ini berkaitan dengan kritik Spinoza terhadap teologi. Tuhan, sang pembuat peraturan dan hakim, perencana dan pelindung, tidak bisa bertahan hidup.

Dalam banyak hal, tampak bahwa bagi kita, istilah yang lebih kuat dalam konsep kesetaraan Spinoza yang terkenal, Tuhan atau Alam, adalah Alam. Namun, sesuatu terjadi pada istilah itu ketika kita menggabungkannya dengan Manusia. Terdapat afek yang melemahkan istilah itu, yang memberi dampak kesedihan kepada kita: Manusia dan Alam, adalah tragedi; Manusia di Alam, adalah pengkhotbah saleh; Manusia melawan Alam, adalah korban.

Retorika: Seni Berbicara

Judul: Retorika: Seni Berbicara
Penulis: Aristoteles
Penerbit: Basabasi
Alih bahasa: Dedeh Sry Handayani
Penyunting: Deddy Arsya
Pemeriksa aksara: Reza Nufa
Cetakan: I, April 2018
Tebal: 416 halaman
ISBN: 9786026651983

Socrates, Plato, dan Aristoteles memandang retorika dan puisi sebagai alat yang terlalu sering digunakan untuk memanipulasi orang lain melalui manipulasi emosi dan pengaburan fakta. Mereka mendakwa para sofis, termasuk Gorgias dan Isocrates, sebagai para pengguna manipulasi jenis ini, sedangkan para filsuf merupakan pengguna retorika yang didasarkan pada filsafat dan upaya-upaya pencerahan. Salah satu kontribusi terpenting Aristoteles dalam buku ini adalah ia mengidentifikasi retorika sebagai salah satu dari tiga elemen kunci dalam filsafat, bersanding dengan logika dan dialektika.

Aristoteles, melalui buku ini, memberikan dasar-dasar sistem retorika yang berfungsi sebagai batu pijakan bagi perkembangan teori retorika dari zaman kuno sampai zaman modern, sehingga buku ini dianggap sebagai karya tunggal yang paling penting dalam seni persuasi. Gross dan Walzer, sebagaimana Alfred North Whitehead, setuju bahwa semua filsafat Barat adalah catatan kaki bagi pemikiran Plato, dan semua teori retorika hanyalah serangkaian tanggapan terhadap isu-isu yang diangkat dalam Retorika.