Orang Bajo: Suku Pengembara Laut

bajoJudul: Orang Bajo: Suku Pengembara Laut (Pengalaman Seorang Antropolog). Penulis: François-Robert Zacot. Penerjemah: Fida Muljono-Larue, Ida Budi Pranoto. Paperback, 488 halaman. Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia. 2008. ISBN 13: 9789799101433.

Buku ini ditulis oleh seorang antropolog Perancis, Francois-Robert Zacot, yang mengadakan penelitian mengenai orang Bajo, suku pengembara laut, di desanya yang terpencil di Sulawesi Utara.

Pertama terbit di Perancis pada 2002, dengan judul Peuple nomade de la mer: Les Badjos d’Indonesie. Versi terjemahan bahasa Indonesianya terbit pada 2008, 30 tahun setelah perjumpaan pertama Pak Zacot yang tanpa sengaja dengan suku Bajo. Saat itu orang Indonesia sendiri belum mengenal keberadaan suku ini.

Suku Bajo dulunya merupakan suku pengembara laut yang tersebar di seluruh penjuru Asia Tenggara. Jejaknya berasal dari sekitar dua ribu tahun lalu. Mereka muncul dan menghilang di pesisir dengan cara mereka sendiri. Mereka tinggal di rumah-rumah di atas laut, dengan bertumpu pada cara hidup maritim mereka.

Di kebanyakan daerah, keberadaan suku Bajo tidak diketahui dengan pasti. Untuk dapat meneliti kehidupan orang Bajo, pertama-tama Pak Zacot harus mencari desa-desa yang berhasil dilokalisasi. Dipilihlah dua desa terpencil yang kemudian berhasil dicapainya: Pulau Nain di utara Manado (Sulawesi Utara) dan Torosiaje di Gorontalo.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Bajo mencerminkan sejarah dan sosiologi suku ini, yang orisinal, berbeda dari semua model kehidupan sosial yang selama ini dikenal. Pak Zacot menyatakan, masyarakat Bajo baru dapat diteliti dari segi etnografis hanya dengan masuk ke tengah-tengah budaya mereka secara langsung. (10)

Kesulitan-kesulitan dalam penelitian, kehidupan sehari-hari dan cara hidup mereka yang unik, serta ketertutupan mereka, merupakan bagian dari etnografi masyarakat Bajo. Kesemuanya menghantarkan kerja penelitian Pak Zacot pada apa yang disebutnya sebagai perjumpaan pribadi yang bersifat manusiawi, berdasarkan rasa kasih dan hormat. Itu sebabnya buku ini ditulis dengan gaya penceritaan personal (sudut pandang orang pertama, aku).

Simak ungkapan Pak Zacot mengenai apa yang diperolehnya dalam kebersamaannya dengan orang Bajo.. telah memberikan kepada si etnolog ini segala sesuatu yang diperlukan bagi pikirannya daripada pengetahuannya, dan suatu pengenalan yang tak lagi mengenai masyarakat Bajo, tetapi mengenai dirinya sendiri (461).

Jadi, buku ini berisi perpaduan catatan pengalaman pribadi Pak Zacot dan deskripsi etnografis hasil dari sebuah studi ilmiah. Sejarah dan kebesaran orang Bajo dalam buku ini diungkap melalui kehidupan sehari-hari mereka.

Membaca buku ini kita bisa mengetahui bagaimana orang Bajo menikah, melahirkan dan mendidik anak. Bagaimana arti sebuah kelahiran dan kematian, dan bagaimana mereka memandang dan menjalani kehidupan. Hubungan-hubungan antara orang tua dan anaknya, suami dan istri, laki-laki dan perempuan, yang tua dan yang muda. Kepercayaan-kepercayaan orang Bajo terhadap setan yang tampaknya memiliki makna tersendiri dalam hubungannya dengan sejarah asal-usul Bajo. Tak luput juga masalah bahasa, bagaimana orang Bajo memandang diri mereka dan orang luar Bajo yang tercermin dalam istilah-istilah yang mereka sepakati untuk penyebutan diri.

Dalam prakata edisi Indonesia Pak Zacot menyatakan, melalui buku ini ia ingin memberikan kepada masyarakat Bajo sebuah tanda keterikatan, sebuah bukti rasa terima kasih. Sebagai bukti bahwa ia berada di antara mereka, bukan untuk memuaskan secara egois keinginannya untuk melaksanakan sebuah proyek ilmiah semata. Ia berharap buku ini akan menjadi sumbangan supaya budaya Bajo dapat langgeng dan ingatan orang Bajo dapat terwariskan. (12)

Mengenai masa depan suku Bajo, Pak Zacot mengingatkan adanya masalah besar yang dihadapi suku Bajo. Seperti sejumlah masyarakat adat Indonesia lainnya, suku Bajo tak luput dari masalah yang mengancam masa depan keberlangsungan hidup mereka. Cara hidup mereka yang berbeda, dianggap sebagai tidak layak. Pemerintah berencana menempatkan suku Bajo di daratan. Beruntung Pak Zacot berhasil melakukan mediasi dengan pihak pemerintah, sehingga orang Bajo tidak dihimbau lagi untuk pindah ke daratan. Mereka tetap dapat hidup di atas air, sebagaimana kehidupan telah mereka lalui selama berabad-abad.

Bicara layak tidak layak, menurut saya, tentu timpang jika kita menilai cara hidup suku-suku tradisional dari sudut pandang kita. Ketika pemerintah bermaksud merelokasi orang Bajo ke daratan, karena dinilai tinggal di daerah yang tidak layak untuk dihuni. Di sisi lain, penting bagi kita melihat kehidupan dari sisi mereka yang menjalani kehidupan tersebut. Dalam hal ini, bagaimana sebetulnya orang Bajo memandang kehidupan mereka sendiri.

Orang Bajo hidup hanya dengan sedikit barang, barang yang benar-benar mereka perlukan saja, untuk hidup di sebuah rumah kecil di atas laut dengan segala kondisinya. Dalam keseharian, orang Bajo juga cenderung tidak memiliki persediaan bahan makanan. Sama sekali. Akan tetapi, kapan pun mereka perlu, mereka hanya harus turun ke perahu di depan rumahnya, melaju sedikit ke arah alun-alun laut, dan menangkap ikan yang mereka perlukan untuk makan hari itu. Mereka tidak menangkap banyak ikan dan menyimpannya untuk bekal beberapa hari. Mereka hanya mengambil yang diperlukan untuk hari itu.

Sistem barter masih berlaku dalam kebudayaan mereka. Meski sedikit demi sedikit, konsep uang sudah mulai masuk. Untuk mendapatkan keperluan lainnya, terkadang yang perlu mereka lakukan adalah mendayung ke sebuah tempat pertemuan yang mereka sebut pasar, dan menukar barang yang dimiliki dengan apapun barang yang diperlukan, dengan siapa pun yang setuju untuk menukarnya, tanpa ribut selisih nilainya.

Jika hendak membandingkan, boleh kiranya kita bertanya, tentang siapa yang sesungguhnya memiliki kelimpahan? Mereka, atau kita yang harus bekerja dari pagi sampai sore untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan kita.

Dengan demikian mungkin kita bisa merekonstruksi konsep layak tadi, dan bisa lebih adil menyikapi arti keberadaan mereka serta perbedaan yang ada.

Bahaya lain yang dihadapi orang Bajo adalah serbuan para regu film yang ingin menjadikan masyarakat Bajo sebagai tontonan bagi dunia luar. Praktik yang semakin biasa dan semakin diterima masyarakat ini, menurut Pak Zacot harus digugat. Itu sebabnya demi rasa hormat terhadap orang Bajo, Pak Zacot tidak menjelaskan di mana letak kedua desa yang pernah ditinggalinya. Demikian besar kepedulian dan rasa hormat Pak Zacot pada suku Bajo.

Membaca buku ini, dan melihat kenyataan-kenyataan yang ada, terpikir oleh saya.. jika Pak Zacot bisa sedemikian peduli, bagaimana dengan orang kita sendiri; kepedulian seperti apa yang kita miliki. Bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan warisan budaya, itu benar. Bahwa banyak yang masih belum tergali, itu juga benar. Namun.. bahwa tidak banyak yang mau sekaligus mampu berbuat sesuatu akan hal ini, itu juga fakta yang tidak bisa kita pungkiri.

Berbelok sedikit. Sekarang sedang ramai soal reklamasi, bukan hanya di Jakarta, tapi juga di beberapa daerah lain. Yang tidak setuju, selain menyoal aspek lingkungan, juga menyoal sisi sosial dan budaya. Ada masyarakat nelayan yang harus merelakan aspek-aspek kehidupannya tergerus. Yang setuju, mengatakan bahwa kehidupan mereka memang jauh dari layak, perlu diperbaiki, salah satunya dengan relokasi.

Keadaannya mungkin tidak persis sama, tapi kondisi yang dialami tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi orang Bajo dan suku tradisional lainnya. Mereka sama-sama menghadapi ironi: tercerabut dari akar budayanya. Entah atas nama pembangunan, atau apapun.

Saya kutipkan ungkapan kecintaan Pak Zacot lainnya pada suku Bajo: Aku ingin sekali menjadi saksi dari sejarah Bajo ini. Bukan untuk menemukan kunci misteri orang Bajo tetapi terutama untuk melihat mereka hidup, untuk mendengarkan keluh-kesah mereka, pesan-pesan mereka sepanjang abad (237).

Membaca kutipan di atas, apa yang Anda pikirkan?

Akhir kata.. keberagaman yang dimiliki bangsa ini sudah semestinya diakui sebagai kekayaan warisan budaya bangsa, yang harus dipelihara. Yang bahkan jika diselami, di dalamnya tersembunyi rahasia-rahasia kehidupan yang telah terbukti menjaga keberlangsungan hidup manusia. Ah, seandainya kehidupan bisa berjalan sekecil, sesederhana dan seindah itu. Seterusnya.. :)

Mencintai Indonesia

Sudah mau Desember lagi. Hampir setahun draf tulisan ini disimpan. Oleh-oleh dari acara Festival Pembaca Indonesia waktu itu. Sayang kalau hilang begitu saja dari laci ingatan.

Jadi, pada Desember 2012 dulu itu, saya datang ke acara Festival Pembaca Indonesia 2012 di Plaza Area GOR Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta. Acara yang diburu adalah gelar wicara, ngobrol bersama periset dan penulis buku seri masjid dan kelenteng kuno di Indonesia, Ibu Asti Kleinsteuber.

Ibu Asti adalah penulis tiga buah buku dokumentasi warisan budaya Indonesia, judulnya Masjid-masjid Kuno di Indonesia, Kelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia dan Istana-istana Kepresidenan di Indonesia. Ketiganya berisi berbagai dokumen foto beserta keterangan sejarahnya. Info detail mengenai bukunya bisa dilihat di Genta Kreasi Nusantara.

Dalam penyusunan ketiga buku itu, Ibu Asti bersama timnya melakukan riset selama lebih dari tiga tahun. Riset yang tidak mudah. Apalagi si ibu harus bolak-balik Indonesia-Jerman, karena beliau memang tinggal di Jerman dan bersuamikan orang sana.

Selama penyusunan buku itu, selain biaya, waktu, tenaga dan pikiran yang harus dicurahkan, kesungguhan niat dan tekad dengan segala rintangan yang ditemuinya di lapangan adalah ujian tersendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya. Budaya adalah cerminan jati diri bangsa. Dan sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang memiliki arti penting bagi perkembangan peradaban suatu bangsa. Dengan buku-buku yang disusunnya, Ibu Asti ingin masyarakat Indonesia bisa menilik perjalanan sejarah bangsanya. Ini adalah salah satu wujud cinta tanah air yang bisa dilakukannya, katanya.

Dorongan kuat lainnya yang membuat Ibu Asti bertahan adalah kenyataan bahwa selama ini riset-riset seperti ini lebih banyak dilakukan oleh orang asing. Yang karya anak bangsanya sendiri terbilang langka. Padahal mestinya kita yang harus punya kepedulian lebih.

Pak Ardi, fotografer senior tim ini, yang hadir bersama Ibu Asti saat itu, memberi contoh tentang bagaimana Francois-Robert Zacot, seorang antropolog Perancis, melakukan riset mendalam mengenai orang Bajo yang tinggal di daerah kepulauan di Sulawesi Utara. Sampai-sampai Pak Zacot itu ikut tinggal bersama orang Bajo di rumah-rumah di atas laut selama beberapa tahun. Pak Ardi bilang, ada semacam ‘rasa sakit hati yang positif’ yang menyulut semangatnya untuk berbuat hal yang sama, untuk tanah air tercinta.

(Pengalaman riset antropolog Perancis tersebut telah dibukukan, versi Indonesianya berjudul Orang Bajo: Suku Pengembara Laut (Pengalaman Seorang Antropolog)Buku yang sudah agak susah dicari. Saya juga belum dapat-dapat bukunya. Kalau ada yang mau jual bekas, saya mau.)

Hal lainnya. Selama perjalanan riset beliau berdua menemukan banyak hal yang kontradiktif. Memang arus globalisasi menggeser banyak tata nilai. Sebagian besar masyarakat, bahkan yang katanya terdidik sekalipun, banyak yang masih kurang bisa menghargai berbagai warisan budaya ini. Ada yang karena tidak tahu, tidak mau, mau tapi tidak bisa, bisa tapi tidak mau, macam-macam. Tak jarang ditemui warisan keluhuran budaya itu harus kandas oleh hal-hal yang tidak semestinya.

Tantangan berat selanjutnya sesudah menerbitkan buku-buku itu adalah memasarkannya. Memasarkan jenis buku seperti ini di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri, apalagi harga bukunya agak di atas rata-rata. Konon katanya, sampai saat saya ngobrol dengan si ibu waktu itu, bahkan departemen yang logonya ada di sampul buku-buku itu, belum (sempat) membelinya. Semoga sekarang sudah.

Ada satu pesan penutup dari Ibu Asti dan Pak Ardi yang tidak ingin saya lupakan.

Dari pengalaman risetnya keliling Indonesia, beliau berdua mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri paling indah di dunia. Beliau berdua berpesan, jelajahilah Indonesia, gali kekayaannya. Banyak yang bisa dan masih harus kita lakukan untuk negeri ini. Jangan selalu orang asing yang melakukannya. Kita yang katanya memiliki negeri ini, mencintai negeri ini, lakukanlah sesuatu. Dan kalian generasi muda, harus bisa berbuat lebih.

Begitulah sekelumit kesan dan pesan yang masih bisa saya kais dari lipatan ingatan.

Mencintai tanah air tentunya bisa diwujudkan dengan banyak cara. Setiap kita bisa bercermin pada diri dan keadaan sekeliling, mulai yang terdekat; untuk dapat memulai berbuat sesuatu untuk negeri ini, mulai dari hal sederhana.

~

Suatu ketika saya ngobrol dengan teman, lupa sedang membahas apa, tapi kami sampai pada pertanyaan: jika dihadapkan pada pilihan untuk berganti kewarganegaraan, mau tidak? Mendengar pertanyaan itu, karena sesuatu hal saya langsung teringat obrolan dengan Ibu Asti dan Pak Ardi di atas. Waktu itu jawaban spontan saya: “Mmm, kalau saya.. tidak mau. Saya cinta Indonesia.. dengan segala kekurangan dan kelebihannya…” #aishh

Tentu saja pilihan berganti kewarganegaraan tidak sesederhana itu. Yang ingin saya simpan dalam tulisan ini, bahwa pertanyaan itu membuat saya menginsafi bahwa saya memiliki kecintaan jenis ini, yah, sesederhana apapun. Sampai beberapa hari sesudahnya, saya masih kepikiran jawaban saya itu. Kalau istilah sononya, jadi semacam epifani (momen keinsafan yang dalam), yang memunculkan dorongan untuk mewujudkannya.

Waktu belajar PPKn, kewiraan dan ikut penataran P4 dulu, rasanya tidak sampai muncul perasaan cintanya. Kali ini saya merasakan cinta ini dengan sadar. #ckck Doa saya, semoga bisa mewujudkannya dalam bentuk karya nyata, suatu saat, entah kapan. Aamiin. :)

Green Deen: Islam dan Lingkungan Hidup

green deen cover

“Deen” means belief, creed, path or way in Arabic. Christianity is a Deen. Judaism is a Deen. Buddhism is a Deen. A “Green Deen” is the choice to practice your religion while affirming the synergies between faith and the environment. – GreenDeenBook.com

Agama dalam bahasa Arab disebut “ad-Din”, artinya kepercayaan, keyakinan, jalan atau cara. Kristen adalah agama, Yahudi adalah agama, begitu juga Budha. Gerakan “agama hijau” adalah pilihan untuk menjalankan keyakinan agama kita, sambil berusaha membangun kesadaran tentang adanya keterkaitan erat antara ajaran agama dan pemeliharaan lingkungan. (Terjemahan bebas versi saya.)

~

Dalam perjalanan pada libur Desember 2012 lalu, seorang Bapak yang duduk dua bangku di depan saya di bis, memegang buku dengan sampul berwarna hijau bergambar bulan-bintang. Dari jauh saya membaca judulnya Green Deen, Agama Hijau. Pikir saya, agama baru? Atau.. aliran baru? Didorong rasa ingin tahu, saya lalu meminjamnya. Tulisan di sampul luar di bawah judulnya berbunyi,

“Bumi adalah masjid,” tutur Nabi; selain berarti kita boleh mengerjakan shalat di tempat mana pun yang bersih dan suci, ada pesan tersirat untuk memelihara alam. Dekat dengan Tuhan, ramah dengan lingkungan, dan saling menjaga satu sama lain di planet kita.

Saya suka sekali membaca kalimat itu.

Saya lihat daftar isinya dan saya buka-buka. Menarik! Isinya membahas hubungan pemeliharaan lingkungan dengan agama, Islam khususnya sesuai agama penulisnya. Yang bikin beda, pembahasannya riil dan aktual, tentang hal-hal dalam keseharian kehidupan kita dan permasalahan lingkungan terkini. 

Judul lengkapnya Green Deen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam, diterjemahkan dari Green Deen: What Islam Teaches About Protecting the Planetoleh penerbit Zaman. Penulisnya, Ibrahim Abdul-Matin, seorang aktivis lingkungan dan konsultan lingkungan. Profilnya bisa dilihat di sini.

Berhubung waktu itu sebentar lagi mau turun, saya tidak sempat melihat-lihat isinya lebih banyak. Akhirnya, saya mengambil jalan pintas. Saya memotret daftar isi dan resume isi buku untuk dibaca nanti. Dan ini hasilnya. Ini hasil jerih payah untuk tidak bergoyang-goyang di bis. :) 

Menarik? Kalau menurut saya, sangat menarik. Karena saya sendiri belum pernah menemukan buku yang membahas masalah lingkungan yang dikaitkan dengan agama Islam secara langsung, sekaligus praktis dan mutakhir (memuat perkembangan terbaru).

Di buku ini, penulis menyoroti empat masalah pokok dalam kehidupan: limbah, energi (listrik), air dan makanan. Meski penulisnya berbicara dalam konteks agama Islam sesuai agama yang dianutnya, namun di webnya dikatakan bahwa gerakan agama hijau ini adalah ajakan kepada semua orang tanpa memandang keyakinan agamanya, seperti saya kutip di atas. 

Coba buka websitenya GreenDeenBook.com, di pojok kanan atas ada page berjudul Green. Jika diklik, disitu ada pilihan langkah yang disarankan untuk mendukung dan membangun gerakan agama hijau ini. Kita bisa memilih mana yang paling nyaman untuk dilakukan. 

Saya sendiri jadi membayangkan, atau berkhayal.. mungkin ada bagusnya kalau khutbah atau pengajian majelis ta’lim diisi juga dengan pembicaraan seputar tema lingkungan. Yang ringan dan praktis saja. Saya jadi ingat kemarin baca tulisan bagus tentang prinsip pendidikan di Gontor, bisa dibaca di sini. Dikatakan bahwa motto pendidikan di Gontor antara lain: “Komposisi pelajaran di pondok adalah 100% agama dan 100% umum.” Tidak ada dikotomi ilmu umum dan agama. Tidak ada pembedaan. Yang ada keadilan. Keseimbangan. (Saya suka.)

Yang saya tahu, pengajian-pengajian sekarang lebih banyak membahas masalah tata cara ibadah ritual, pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Menurut hemat saya, pembahasan masalah lingkungan adalah juga salah satu upaya untuk menjadikan nyata peran kita sebagai khalifah atau “wakil” Tuhan di bumi. Karena, kita hidup saling bergantung dengan alam tempat kita hidup (QS 2 : 22). Ada hubungan timbal balik yang erat antara manusia dan alam dengan segala isinya. Dan mau tidak mau, segala kegiatan hidup kita memiliki dampak terhadap lingkungan. Sehingga, we are all responsible for protecting the planet, kata Ibrahim Abdul-Matin. Sebagai penghuni bumi ini, kita semua bertanggung jawab untuk melindungi planet tempat kita tinggal ini.

Sembari mengembalikan fungsi masjid dan makna majelis ilmu yang katanya semakin hari mengalami penyempitan. Seperti kutipan favorit saya di buku Negeri 5 Menara (masih seputaran Gontor nih): “Kami tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.

“Kita harus mulai mendidik diri kita—dan orang di sekitar kita, untuk menyadari adanya masalah (lingkungan) ini dan bersama-sama mencari solusinya. Semua yang merasa menjadi penduduk bumi, ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan planet tempat tinggal kita ini,” demikian kata Ibrahim Abdul-Matin di webnya.

Dan ini, kewajiban kita, karena Tuhan sendiri yang sudah berkenan menetapkan manusia sebagai wakil-Nya di bumi. Menitipkan amanah pemeliharaan itu kepada kita. Dan kita manusia, sudah menerimanya.

Mari sama-sama mencari cara sederhana masing-masing untuk menjalankan amanah ini. Sehingga, tugas memelihara lingkungan bukan menjadi tanggung jawab para aktivis lingkungan saja.

Tapi, untuk kita yang awam ilmu lingkungan, bagaimana caranya?

Saya sendiri, belajar dari website yang logonya ada di pojok kanan atas blog saya ini. Lihat gak? Hehe. Iya, AkuInginHijau.org, yang slogan blognya berbunyi, Hal-hal kecil yang dapat mengubah dan melestarikan lingkungan Indonesia tercinta. Jadi, mulai dari hal kecil! :) Banyak tips ringan dan praktis di situ. Dan ini beberapa web/blog lain yang saya tahu:

  • Biopori.com – Resapkan air hujan menjadi air tanah (rahmat)
  • Blog Sampah –  Catatan perjalanan belajar mengolah sampah
  • Diet Kantong Plastik (Website & Facebook) – Gerakan nasional untuk lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik
  • GoBlue.or.id – Konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkait
  • Jakarta Berkebun (FB) – One little step to make Indonesia greener, healthier and happier
  • YPBB Bandung (FB) – Pola hidup selaras dengan alam, untuk mencapai kualitas hidup yang baik dan berkelanjutan.

Meski sudah lewat dua hari, Selamat Hari Bumi!

Apa Itu Living Book..?

Living books atau di Komunitas Charlotte Mason Indonesia dikenal dengan sebutan “pustaka hidup” adalah satu dari 11 karakteristik pendidikan ala Charlotte Mason. Mengenai siapa itu Charlotte Mason, boleh dibaca di sini atau di sini.

Dari SimplyCharlotteMason.com:

Living books are usually written by one person who has a passion for the subject and writes in conversational or narrative style. The books pull you into the subject and involve your emotions, so it’s easy to remember the events and facts. Living books make the subject “come alive.” They can be contrasted to dry writing, like what is found in most encyclopedias or textbooks, which basically lists informational facts in summary form.

Dari Wikipedia:

Probably the best known of Mason’s methods is her use of living books for every subject possible instead of dry, factual textbooks or books that are ‘written down’ to children. Rather than books written by committee, as most textbooks are, living books are usually written by one person with a passion for the topic and a broad command of the language as well as the ability to write in an engaging, literary style while communicating great ideas rather than mere facts. The size of the book is not as important as the content and style-it should be alive and engaging.

Miss Mason did use textbooks when they were the best books she could find to meet the above criterion.
Miss Mason dismissed as ‘twaddle’ materials that are dumbed down and insulting to children.

Ciri-ciri living books di buku Cinta Yang Berpikir: Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason:

Di dalam living books ada ide-ide yang berharga, yang menggerakkan anak untuk mengingat, merenungkan, atau memvisualisasikannya. Ide-ide yang masih akan mengeram dalam benak anak, lama setelah ia selesai membaca buku tersebut. Ide-ide yang menggugah, membangun kepribadian anak secara positif, dituturkan dalam bahasa yang indah dan biasanya naratif (berkisah). Jika disertai ilustrasi, maka ilustrasi itu pun dikerjakan secara sungguh-sungguh, berkarakter. (85)

Buku-buku seperti ini selalu ditulis oleh pengarang berdedikasi yang kompeten di bidangnya dan menulis dengan jiwanya—sebagian jiwanya tertinggal di halaman-halaman bukunya. Ia bicara tentang nilai, mempertontonkan suatu sikap moral, namun tidak dengan menggurui. Alih-alih mendikte pemahaman pembaca, ia memberi ruang bagi pembaca untuk membuat penafsiran sendiri. (86)

Apakah living books selalu berbentuk cerita? Buku teks memang seringkali bukan living books. Tetapi pendidikan CM bukan melulu berisi buku-buku cerita. Yang ditekankan Charlotte Mason adalah mutu sastrawi (literacy quality), yaitu cara pengungkapan yang pas dan indah (fit and beautiful expression) dan cara penceritaan yang baik (well put, well told). Charlotte Mason menuntut adanya kriteria ini pada semua buku, baik fiksi dan nonfiksi. (Cinta Yang Berpikir, hal. 87)

Mengapa CM menganggap living books begitu penting? CM mengibaratkan buku-buku berkualitas atau living books itu sebagai gizi untuk pikiran anak. Ide-ide inspiratif seperti pikiran-pikiran besar, peristiwa-peristiwa besar dan perenungan-perenungan besar akan merasuk ke pikiran anak dan mempengaruhi cara berpikirnya. Tujuan akhirnya adalah pembentukan karakter.

Bagi praktisi homeschooling metode CM di Indonesia sendiri, pengadaan living books masih menjadi persoalan, karena masih sulitnya menemukan bahan bacaan atau buku-buku berbahasa Indonesia yang memenuhi kriteria sebuah living books. Itu sebabnya pengelola website Pustaka Charlotte Mason Indonesia menggagas proyek penerjemahan living books, seperti saya singgung di tulisan sebelumnya.

~~~

Bicara tentang living books, saya jadi ingat pernah dengar sebuah ungkapan “ajarkanlah sastra kepada anakmu agar jiwa mereka hidup”, juga peryataan Gus Mus bahwa “bersastra itu sudah menjadi tradisi ulama sejak dulu.”

Dan kalau tidak salah ingat, pernah baca di satu buku tentang pendidikan anak dalam Islam, bahwa syair/sastra adalah salah satu bidang yang ‘harus’ diajarkan pada anak. Buku apa ya.. Kalau sudah ingat dan ketemu sumbernya, akan saya update di sini. Atau ada yang tahu? :)

Baiklah, saya sambung tulisan ini. Saya menemukan versi lengkap penggalan ungkapan di atas. Ternyata, itu nasihat Umar bin Khattab (semoga Allah senantiasa merahmatinya, I love him, tapi belum menemukan sumber untuk mengenalnya lebih jauh). Ungkapannya seperti ini:

Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, agar mereka berani melawan ketidakadilan.
Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar mereka berani menegakkan kebenaran.
Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar jiwa-jiwa mereka hidup.
Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu. Sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.

– Umar bin Khattab

Dikaitkan dengan keberanian dan penegakkan kebenaran, mungkin sesuai konteks keadaan bangsa Arab pada masa itu. Kalau Aisyah r.a. menyebutnya secara lebih spesifik, “Ajari anak-anak puisi sejak dini.”

Sajak Saija Untuk Adinda

Hirup katungkul ku pati,
ajal teu nyaho di mangsa.

Laut Kidul breh kacipta,
sagara kungsi kasaba,
basa jeung bapa keur milir,
nyiuen uyah di basisir

Mun seug kuring manggih ajal,
di tengah sagara ngumpal,
mayit disantokan hiu,
marebutkeun jasad layu.

Kuring mah hamo ngareungeu ….

Hirup katungkul ku pati,
ajal teu nyaho di mangsa,
kuring nyeueung kahuruan,
nu nyundut imah sorangan,
Pa Ansu, nu edan eling,
sabab mundingna dipaling ….

Mun seug kuring teh kaduruk,
ku seuneu tutung sing bubuk,
jalma gehger narulungan,
mayit kuring diteangan.

Kuring mah hamo ngareungeu ….

Hirup katungkul ku pati,
ajal teu nyaho di mangsa,
Si Una ngoleang ragrag,
tina kalapa ngagubrag,
basa ku indung dititah,
ngala buahna sasirah.

Mun seug kuring paeh ragrag,
teu diceungceurikan indung,
da geus diurugan padung,
ngan nu lian jejeritan.

Kuring mah hamo ngareungeu ….

Hirup katungkul ku pati,
ajal teu nyaho di mangsa,
rea batur urang Badur,
nu geus lastari dikubur,
mayitna anu sakujur,
dibungkus ku lawon putih.

Mun kuring paeh di Badur,
dikubur di Pasir Wetan,
Ina nyekar, ka kuburan,
ngawur kembang seuseungitan.
Leumpang alon lalaunan,
semu alum sedih kingkin,
sisi sampingna ngeresek,
kana jukut kembang eurih,
kawas nu harewos peurih ….

Ku kuring tangtu kareungeu.

[Karangan Multatuli, aya dina buku “Saija”, Girimukti, 2003]

~

Sajak Saija untuk Adinda ini ternyata yang versi bahasa Sunda-nya lebih indah dari yang versi bahasa Indonesia-nya. :) Terima kasih kepada pemilik blog Reading Multatuli yang telah memuatnya.

Melihat beberapa foto yang menggambarkan suasana alam pedesaan Lebak di blog tersebut, ditambah ada foto bekas tembok rumah Max Havelaar, serasa merasai jejak hati dan pikiran Max saat itu, semua perjuangan dan pengorbanannya. Bukumu abadi, Max!

99 Cahaya di Langit Eropa

99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa. Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan kedua: Agustus 2011. ISBN: 978-979-22-7274-1

Michael Crichton bilang: If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. Barangsiapa tidak mengenal sejarah, ia tidak mengenal asal-usulnya. Seperti daun yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah pohon.

Dan George Santayana mengatakan: Those who cannot remember the past are condemned to repeat it. Barangsiapa tidak belajar dari sejarah, ia dihukum untuk melakukan kesalahan yang sama dari sejarah.

Sejauh mana kita mengenal diri kita dan sejarah keberadaan diri kita? Sebagai umat Islam, sejauh apa kita mengenal Islam kita, sejarahnya, keberadaannya? Membaca novel ini, kita diajak menapaki jejak-jejak sejarah Islam di benua Eropa beberapa abad lalu. Melihat sisa-sisa peninggalannya secara fisik, juga melihat bagaimana keberadaan Islam dalam kehidupan Eropa di masa lalu dan kini.

Untuk serunya, silakan dibaca novelnya, hehe. Dibagi dalam empat bagian: Wina, Paris, Cordoba & Spanyol dan Istanbul. Intinya.. berkisah tentang perjalanan penulisnya selama 3 tahun tinggal di Eropa. Di mana ia berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Eropa, sebuah tempat dimana Islam adalah minoritas, namun disanalah justru penulis menemukan kembali Islamnya—mengenal kembali Islam dengan cara berbeda. Perjalanan ini mengantarnya menuju titik awal; membawanya menemukan jalan pulang, katanya.

Selain bicara tentang sejarah, di sini juga ada cerita tentang bagaimana menjadi agen Muslim yang baik. Yaitu dengan menebar kebaikan dan sikap positif, sembari memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Bahwa Islam identik dengan kasih sayang, bukan bom, senjata dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.

~

Dari banyak hal, satu bagian yang membuat hati saya bergetar adalah cerita tentang Istana Al-Hambra. Al-Hambra adalah sebuah kompleks istana yang didirikan Bani Umayyah pada pertengahan abad ke-13 di Granada, Andalusia, Spanyol. Istana yang, sungguh menakjubkan! Betapa cerminan sebuah peradaban yang sangat tinggi yang telah pernah ada. Namun, disinilah Mohammad Boabdil, sultan terakhir di Granada, menyerahkan kunci istana ini kepada Isabella dan Ferdinand, tanda ia menyerahkan diri.

Dan di sebuah tempat yang kemudian disebut ‘The Last Moor’s Sigh’, Boabdil—yang asli bangsa Moor—memandang Granada terakhir kali. Di tempat itu, Boabdil menangis dan berdoa agar rakyatnya lebih sejahtera dan tak terusik keimanannya di tangan Isabella dan Ferdinand. Melihat itu ibunya berkata: Weep then like a woman, over that which you could not defend like a man.

Namun, sayang seribu sayang, Isabella dan Ferdinand membuyarkan harapan Boabdil. Sepuluh tahun setelah itu, mereka memerintahkan pembaptisan massal terhadap seluruh penduduk, baik Islam maupun Yahudi. Perbuatan yang sesungguhnya tidak direstui oleh penduduk asli Granada yang memeluk Kristen sekalipun.

Mengenai keindahan Istana Al-Hambra, silakan googling. Ini hanya sebagian kecil yang membuat saya takjub: Ukiran ayat-ayat al-Quran terpahat pada setiap sudut, atap, dinding dan pilar-pilar pualam. Gambar di samping adalah salah satu dekorasi langit-langit bermotif sarang lebah, atau stalaktit, atau muqarnas, atau mocárabe—salah satu elemen arsitektur Islam yang sangat mengagumkan. Saya terobsesi ingin menyentuh pahatan kaligrafi dan ceruk stalaktit sarang lebahnya. :) Klik gambarnya untuk melihat ukuran besar. Sudah di klik? Menakjubkan, kan? Amazing, great, excellent!

Kembali ke laptop.. hehe. Berikut tempat-tempat yang dikunjungi penulis—tempat-tempat yang kemudian menjadi catatan sebuah perjalanan pencarian.

Austria: Bukit Kahlenberg, Wien Stadt Museum, Vienna Islamic Centre, Schatzkammer Museum (Book of Roger, Katedral Pallermo di Sisilia). Paris: Museum Louvre (Section Islamic Art Gallery dan Paintings Department of Middle Age), Axe Historique (garis imajiner lurus yang tepat membelah kota Paris; Voie Triomphale, Napoleon Code), Gereja Notre Dame. Cordoba: Mezquita. Granada: Al-Hambra. Istanbul: Hagia Sophia, Blue Mosque, Istana Topkapi.

Mengenai ada apa saja di tempat-tempat ini, sekali lagi, silakan baca bukunya. Bukan promosi, tapi mari membaca sejarah. :) Nah, yang ini, bagian favorit saya. Saya kutip langsung dari bukunya:

(273) … yang menarik, arah mihrab Mezquita dibangun tidak sepenuhnya menghadap kiblat di Mekkah. Penguasa saat itu, Sultan Al Rahman, sengaja membuatnya begitu. Mengapa? Karena—ini ada hubungannya dengan bagaimana Cordoba bisa menyandingkan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan begitu indah—di sebelah masjid ada gereja yang sudah lebih dulu berdiri di situ. Jika memaksakan arah mihrab ke arah tenggara (arah Mekkah), mau tak mau gereja kecil itu harus dirobohkan. Sultan tak mau melakukannya. Betapa Islam sangat menghormati pemeluk agama lain.

Dan meskipun mihrab itu dibangun ke selatan, pada praktiknya orang-orang tetap sholat sedikit menyerong ke tenggara. Sehingga esensi arah kiblat ke tenggara tidak tergadaikan hanya karena letak dinding gereja kecil itu.

Al Rahman melegakan dua kepentingan yang berbeda. Tidak melukai keimanannya, juga tidak melukai perasaan warganya yang Kristen.

(283) Cordoba besar karena masyarakatnya merayakan perbedaan dengan semangat melahirkan penemuan-penemuan bidang teknologi, hukum-hukum bermasyarakat, hingga kesenian, musik, dan puisi.

Refleksi (Diadaptasi dari Prolog & Epilog buku ini.)

Betul, bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Betul, bahwa Islam-lah (Cordoba) yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato dan Socrates hingga Eropa mencapai masa pencerahan (renaissance). Betul, bahwa Cordoba pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia. Tetapi kemudian apa yang membuat cahaya ini redup? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama? Apa yang harus kita lakukan agar cahaya itu kembali menerangi kita di abad ini?

Betul, bahwa umat Islam terdahulu adalah “traveller” tangguh, jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan dan Columbus menemukan benua Amerika. Betul, bahwa saat itu musafir-musafir Islam telah menyebrangi 3 samudra hingga Indonesia, China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Tetapi persoalannya sekarang adalah, bagaimana agar dakwah bisa bersatu lagi dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.

Kita terlalu sibuk dengan kata jihad yang dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan). Bukankah ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad adalah: Iqra’. Bacalah. Bismirabbikalladzii kholaq. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). Bukankah, peradaban Islam dibangun di atas peradaban literer (tradisi baca-tulis). Sebagaimana Tuhan memerintahkan kalam-Nya untuk disampaikan dan dituliskan. Lantas, bagaimana agar retorika teriakan jihad tidak sekedar jadi tindakan mandul karena kita dihadapkan pada realitas: ketidakmampuan melindungi diri karena ompong dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai penutup, saya kutip kalimat ini: Esensi sejarah bukan pada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan. (310)

Mari renungkan.
Dan, selamat membaca.

~

Tautan menarik: