Mencintai Indonesia

Sudah mau Desember lagi. Hampir setahun draf tulisan ini disimpan. Oleh-oleh dari acara Festival Pembaca Indonesia waktu itu. Sayang kalau hilang begitu saja dari laci ingatan.

Jadi, pada Desember 2012 dulu itu, saya datang ke acara Festival Pembaca Indonesia 2012 di Plaza Area GOR Soemantri Brojonegoro, Kuningan, Jakarta. Acara yang diburu adalah gelar wicara, ngobrol bersama periset dan penulis buku seri masjid dan kelenteng kuno di Indonesia, Ibu Asti Kleinsteuber.

Ibu Asti adalah penulis tiga buah buku dokumentasi warisan budaya Indonesia, judulnya Masjid-masjid Kuno di Indonesia, Kelenteng-kelenteng Kuno di Indonesia dan Istana-istana Kepresidenan di Indonesia. Ketiganya berisi berbagai dokumen foto beserta keterangan sejarahnya. Info detail mengenai bukunya bisa dilihat di Genta Kreasi Nusantara.

Dalam penyusunan ketiga buku itu, Ibu Asti bersama timnya melakukan riset selama lebih dari tiga tahun. Riset yang tidak mudah. Apalagi si ibu harus bolak-balik Indonesia-Jerman, karena beliau memang tinggal di Jerman dan bersuamikan orang sana.

Selama penyusunan buku itu, selain biaya, waktu, tenaga dan pikiran yang harus dicurahkan, kesungguhan niat dan tekad dengan segala rintangan yang ditemuinya di lapangan adalah ujian tersendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya. Budaya adalah cerminan jati diri bangsa. Dan sejarah adalah rekonstruksi masa lalu yang memiliki arti penting bagi perkembangan peradaban suatu bangsa. Dengan buku-buku yang disusunnya, Ibu Asti ingin masyarakat Indonesia bisa menilik perjalanan sejarah bangsanya. Ini adalah salah satu wujud cinta tanah air yang bisa dilakukannya, katanya.

Dorongan kuat lainnya yang membuat Ibu Asti bertahan adalah kenyataan bahwa selama ini riset-riset seperti ini lebih banyak dilakukan oleh orang asing. Yang karya anak bangsanya sendiri terbilang langka. Padahal mestinya kita yang harus punya kepedulian lebih.

Pak Ardi, fotografer senior tim ini, yang hadir bersama Ibu Asti saat itu, memberi contoh tentang bagaimana Francois-Robert Zacot, seorang antropolog Perancis, melakukan riset mendalam mengenai orang Bajo yang tinggal di daerah kepulauan di Sulawesi Utara. Sampai-sampai Pak Zacot itu ikut tinggal bersama orang Bajo di rumah-rumah di atas laut selama beberapa tahun. Pak Ardi bilang, ada semacam ‘rasa sakit hati yang positif’ yang menyulut semangatnya untuk berbuat hal yang sama, untuk tanah air tercinta.

(Pengalaman riset antropolog Perancis tersebut telah dibukukan, versi Indonesianya berjudul Orang Bajo: Suku Pengembara Laut (Pengalaman Seorang Antropolog)Buku yang sudah agak susah dicari. Saya juga belum dapat-dapat bukunya. Kalau ada yang mau jual bekas, saya mau.)

Hal lainnya. Selama perjalanan riset beliau berdua menemukan banyak hal yang kontradiktif. Memang arus globalisasi menggeser banyak tata nilai. Sebagian besar masyarakat, bahkan yang katanya terdidik sekalipun, banyak yang masih kurang bisa menghargai berbagai warisan budaya ini. Ada yang karena tidak tahu, tidak mau, mau tapi tidak bisa, bisa tapi tidak mau, macam-macam. Tak jarang ditemui warisan keluhuran budaya itu harus kandas oleh hal-hal yang tidak semestinya.

Tantangan berat selanjutnya sesudah menerbitkan buku-buku itu adalah memasarkannya. Memasarkan jenis buku seperti ini di Indonesia, menjadi tantangan tersendiri, apalagi harga bukunya agak di atas rata-rata. Konon katanya, sampai saat saya ngobrol dengan si ibu waktu itu, bahkan departemen yang logonya ada di sampul buku-buku itu, belum (sempat) membelinya. Semoga sekarang sudah.

Ada satu pesan penutup dari Ibu Asti dan Pak Ardi yang tidak ingin saya lupakan.

Dari pengalaman risetnya keliling Indonesia, beliau berdua mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri paling indah di dunia. Beliau berdua berpesan, jelajahilah Indonesia, gali kekayaannya. Banyak yang bisa dan masih harus kita lakukan untuk negeri ini. Jangan selalu orang asing yang melakukannya. Kita yang katanya memiliki negeri ini, mencintai negeri ini, lakukanlah sesuatu. Dan kalian generasi muda, harus bisa berbuat lebih.

Begitulah sekelumit kesan dan pesan yang masih bisa saya kais dari lipatan ingatan.

Mencintai tanah air tentunya bisa diwujudkan dengan banyak cara. Setiap kita bisa bercermin pada diri dan keadaan sekeliling, mulai yang terdekat; untuk dapat memulai berbuat sesuatu untuk negeri ini, mulai dari hal sederhana.

~

Suatu ketika saya ngobrol dengan teman, lupa sedang membahas apa, tapi kami sampai pada pertanyaan: jika dihadapkan pada pilihan untuk berganti kewarganegaraan, mau tidak? Mendengar pertanyaan itu, karena sesuatu hal saya langsung teringat obrolan dengan Ibu Asti dan Pak Ardi di atas. Waktu itu jawaban spontan saya: “Mmm, kalau saya.. tidak mau. Saya cinta Indonesia.. dengan segala kekurangan dan kelebihannya…” #aishh

Tentu saja pilihan berganti kewarganegaraan tidak sesederhana itu. Yang ingin saya simpan dalam tulisan ini, bahwa pertanyaan itu membuat saya menginsafi bahwa saya memiliki kecintaan jenis ini, yah, sesederhana apapun. Sampai beberapa hari sesudahnya, saya masih kepikiran jawaban saya itu. Kalau istilah sononya, jadi semacam epifani (momen keinsafan yang dalam), yang memunculkan dorongan untuk mewujudkannya.

Waktu belajar PPKn, kewiraan dan ikut penataran P4 dulu, rasanya tidak sampai muncul perasaan cintanya. Kali ini saya merasakan cinta ini dengan sadar. #ckck Doa saya, semoga bisa mewujudkannya dalam bentuk karya nyata, suatu saat, entah kapan. Aamiin. :)

Puisi-puisi Rumi

On God

When His light shines — without a veil — neither the sky remains nor the earth, not
the sun, nor the moon.
God embraces all…there is nothing that is not a part of him already.

Remember God! His remembrance is the strength in the wings of the bird that is
your soul

The souls of all friends of God are connected with one another

You must seek anything that you wish to find
Not so with the Friend…
You begin to seek after you find him

– translation from Discourses of Rumi by Fatemeh Keshavarz

On Love

Wherever you are, whatever you do, be in love…

– translation from Discourses of Rumi by Fatemeh Keshavarz

On Language

To speak the same language is to share the same blood, to be related
To live with strangers is the life of captivity
Many are Hindus and Turks who share the same language
Many are Turks who may be alien to one another

The language of companionship is a unique one
To reach someone through the heart is other than reaching them
through words.

Besides words, allusions and arguments
The heart knows a hundred thousand ways to speak

– translation from Discourses of Rumi by Fatemeh Keshavarz

On the World

The world is a mountain
Whatever you say, good or bad, it will echo it back to you
Don’t say I sang nicely and mountain echoed an ugly voice…
That is not possible
The human intellect is a place where hesitation and uncertainty take root
There is no way to overcome this hesitation…except by falling in love

To reach the sea and be happy with a jug water is a waste
The sea that has pearls…
And a hundred thousand other precious things.

– translation from Discourses of Rumi by Fatemeh Keshavarz

Like This

If anyone asks you about the huris, show your face, say:
like this!

If anyone asks you about the moon, climb up on the roof, say:
like this!

If anyone seeks a fairy, let them see your countenance,
If anyone talks about the aroma of musk, untie your hair [and] say:
like this!

If anyone asks: “How do the clouds uncover the moon?” untie the front of
Your robe, knot by knot, say:
like this!

If anyone asks: “How did Jesus raise the dead?” kiss me on the lips, say:
like this!

If anyone asks: What are those killed by love like?” direct him to me, say:
like this!

If anyone kindly asks you how tall I am, show him your arched eyebrows,
say: like this!

– translation from Rumi’s Divan by Fatemeh Keshavarz

The Promise

When pain arrives side by side with your love
I promise not to flee
When you ask me for my life
I promise not to fight
I am holding a cup in my hand
By God if you do not come
Till the end of time
I promise not to pour out the wine
Nor to drink a sip

Your bright face is my day
Your dark curls bring the night
If you do not let me near you
I promise not go to sleep…nor rise

Your magnificence has made me a wonder
Your charm has taught me the way of love
I am the progeny of Abraham
I’ll find my way through fire

Please, let me drink water from the jug
This love is not a short-lived fancy
It is the daily prayer, the year-after-year fast
I live it, like an act of worship, till the end of my life

But then, a tree
Blessed not with fruits of your bounty
Will be dry wood for fire
Even if it drinks the ocean

On the wings of the Friend, fly o my heart!
Fly and look upward
For high on the peak of presence
Earthlings like you will not be let in

Others praise God at the time of affliction
You stay awake day and night
Steady, watchful like the wheel of the firmament

Time to stop speaking of the Friend
Jealousy won’t let me scatter the perfume to the
wind

– translation from Rumi’s Divan by Fatemeh Keshavarz

Song of the Reed

Rumi

Listen to the story told by the reed,
of being separated.

“Since I was cut from the reedbed,
I have made this crying sound.

Anyone apart from someone he loves
understands what I say.

Anyone pulled from a source
longs to go back.

At any gathering I am there,
mingling in the laughing and grieving,
a friend to each, but few
will hear the secrets hidden
within the notes. No ears for that.

Body flowing out of spirit,
spirit up from body: no concealing
that mixing. But it’s not given us
to see the soul. The reed flute
is fire, not wind. Be that empty.”

Hear the love fire tangled
in the reed notes, as bewilderment
melts into wine. The reed is a friend
to all who want the fabric torn
and drawn away. The reed is hurt
and salve combining. Intimacy
and longing for intimacy, one
song. A disastrous surrender
and a fine love, together. The one
who secretly hears this is senseless.

A tongue has one customer, the ear.
A sugarcane flute has such effect
because it was able to make sugar
in the reedbed. The sound it makes
is for everyone. Days full of wanting,
let them go by without worrying
that they do. Stay where you are
inside such a pure, hollow note.

Every thirst gets satisfied except
that of these fish, the mystics,
who swim a vast ocean of grace
still somehow longing for it!
No one lives in that without
being nourished every day.

But if someone doesn’t want to hear
the song of the reed flute,
it’s best to cut conversation
short, say good-bye, and leave.

– translated by Coleman Barks

A Great Wagon

Rumi

When I see your face, the stones start spinning!
You appear; all studying wanders.
I lose my place.

Water turns pearly.
Fire dies down and doesn’t destroy.

In your presence I don’t want what I thought
I wanted, those three little hanging lamps.

Inside your face the ancient manuscripts
Seem like rusty mirrors.

You breathe; new shapes appear,
and the music of a desire as widespread
as Spring begins to move
like a great wagon.
Drive slowly.
Some of us walking alongside
are lame!

~

Today, like every other day, we wake up empty
and frightened. Don’t open the door to the study
and begin reading. Take down a musical instrument.

Let the beauty we love be what we do.
There are hundreds of ways to kneel and kiss the ground.

~

Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing,
there is a field. I’ll meet you there.

When the soul lies down in that grass,
the world is too full to talk about.
Ideas, language, even the phrase each other
doesn’t make any sense.

~

The breeze at dawn has secrets to tell you.
Don’t go back to sleep.
You must ask for what you really want.
Don’t go back to sleep.
People are going back and forth across the doorsill
where the two worlds touch.
The door is round and open.
Don’t go back to sleep.

I would love to kiss you.
The price of kissing is your life.

Now my loving is running toward my life shouting,
What a bargain, let’s buy it.

~

Daylight, full of small dancing particles
and the one great turning, our souls
are dancing with you, without feet, they dance.
Can you see them when I whisper in your ear?

~

They try to say what you are, spiritual or sexual?
They wonder about Solomon and all his wives.

In the body of the world, they say, there is a soul
and you are that.

But we have ways within each other
that will never be said by anyone.

~

Come to the orchard in Spring.
There is light and wine, and sweethearts
in the pomegranate flowers.

If you do not come, these do not matter.
If you do come, these do not matter.

*Ada audionya juga, di sini.

Hari Lingkungan Hidup

Meski sudah lewat satu hari, Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Tulisan di bawah diterjemahkan-dengan-adaptasi dari penjelasan mengenai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini di website resmi UNEP. Temanya menarik. Sederhana, sehingga bisa dilakukan oleh semua orang; tapi bisa memiliki dampak yang besar jika kemudian dilakukan oleh banyak orang.

Tema tahun ini, Think. Eat. Save. Reduce Your Foodprint. Sebuah ajakan untuk “think before you eat and help save our environment.” Berpikir bijak sebelum memilih makanan yang akan kita konsumsi, demi membantu menyelamatkan lingkungan.

Selaras dengan tema United Nations Environment Programme (UNEP) di atas, Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia merilis tema, Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan.

Menurut FAO, setiap tahunnya 1,3 miliar ton makanan terbuang. Ini setara dengan jumlah makanan yang diproduksi di seluruh sub-Sahara Afrika. Padahal, 1 dari setiap 7 orang di dunia tidur dalam keadaan lapar, dan lebih dari 20.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap harinya karena kelaparan.

Dengan tema ini, UNEP mengajak kita untuk lebih peduli akan dampak lingkungan yang timbul akibat pilihan jenis makanan yang kita buat, sehingga bisa melakukan pilihan dengan lebih bijak. Tema sederhana ini mengajak semua orang untuk sama-sama ikut berpartisipasi menyelamatkan bumi, dengan tindakan sederhana yang bisa dilakukan dari rumah masing-masing.

Mengurangi limbah makanan, juga berarti menghemat uang, meminimalkan dampak lingkungan dalam proses produksi pangan, dan proses produksi pangan pun menjadi lebih efisien.

Jika makanan terbuang, berarti semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi makanan juga ikut hilang. Diantaranya, pupuk untuk menanamnya, air dan bahan bakar dalam proses produksi dan transportasinya. Belum lagi gas buang hasil samping proses produksi dan transportasinya.

Fakta saat ini, produksi pangan global menempati 25% dari seluruh lahan layak huni di bumi, menggunakan 70% dari total konsumsi air di bumi, penyumbang 80% kerusakan hutan dan penyumbang 30% dari total emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, buatlah pilihan konsumsi makanan yang memiliki dampak lingkungan rendah. Seperti makanan organik yang tidak menggunakan bahan kimia dalam proses produksinya. Makanan lokal yang tidak memerlukan perjalanan panjang dalam proses distribusinya sehingga tidak memboroskan bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.

So think before you eat and help save our environment!
Pikirkan sebelum Anda makan dan bantu selamatkan lingkungan!


Tautan:

Islam dan Lingkungan Hidup

Menyambung tulisan sebelumnya tentang buku Green Deen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam.

Karena belum beli baca bukunya, saya coba searching ayat-ayat Quran dan hadis yang membahas hubungan Islam dan Lingkungan Hidup. Ternyata banyak, tapi tidak populer. Berikut beberapa yang saya temukan, dari berbagai sumber di internet.

  • Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS Al-Anbiya’ (21: 107)]
  • Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon, lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah. (HR. Bukhâri)
  • Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam tanaman, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan untuknya sesudah kematiannya. (Shahîh al-Jâmi’) [Hadis ini hanya populer yang versi pendeknya, yang memuat tiga amal jariyah.]
  • Rasululah SAW bersabda, “Tidak menanam seseorang sepucuk tanaman kecuali Allah SWT menuliskan untuknya pahala sebanyak buah yang dihasilkan oleh tanaman tersebut.” (Kanz al-‘Ummal)
  • Saat kaum muslimin menaklukkan suatu negeri, mereka dilarang untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk atau merusak pepohonan yang ada kecuali untuk maslahat tertentu. Al Auza’i berkata, “Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada.” (Tuhfadzul Ahwadzi)
  • Para ulama menyebutkan, dalam buku-buku fikih, terlebih khusus di dalam bab berburu, disebutkan bahwa menjadikan burung hanya sebagai sasaran untuk berlatih ketepatan membidik, hal itu dilarang. (Subulus Salam)
  • Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa diantara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanaman yang dimakan akan menjadi sedekah (bagi yang menanam). Demikian pula apa yang dicuri darinya, yang dimakan burung, dan yang diambil orang lain, semua itu menjadi sedekah bagi si penanam.” (HR. Muslim)
  • Konsep penghijauan – “Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.” (HR. Ahmad)
  • Hemat air – Rasulullah bersabda, “Basuhlah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran air) sebanyak satu sha’ sampai lima mud.” [Catatan: Satu mud lebih kurang sama dengan 1,3 – 2 liter.]
  • Larangan merusak tumbuhan – Rasulullah bersabda, “Siapa yang memotong pohon sidrah, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud) [Catatan: Pohon sidrah ialah pohon yang besar dan rindang yang sangat berguna sebagai tempat berteduh bagi para musafir dan hewan yang lelah kepanasan akibat panas matahari.]
  • Rasulullah bersabda, “Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang diantara kalian ada benih tanaman, selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Sepertinya yang ayat Quran harus dicari lagi.

The Indians Say: The land has an owner?

The Indians Say:
The land has an owner? How’s that? How is it to be sold? How is it to be bought? If it does not belong to us, well, what? We are of it. We are its children. So it is always, always. The land is alive. As it nurtures the worms, so it nurtures us. It has bones and blood. It has milk, and gives us suck. It has hair, grass, straw, trees. It knows how to give birth to potatoes. It brings to birth houses. It brings to birth people. It looks after us and we look after it. It drinks chicha, accepts our invitation. We are its children. How is it to be sold? How bought?

– From Memory of Fire Volume 1: Genesis, by Eduardo Galeano

Dari sini.