Life Is Wonderful
February 5, 2010 at 7:26 am | In Songs | Leave a CommentTags: jason mraz, life is wonderful
- Jason Mraz
It takes a crane to build a crane
It takes two floors to make a story
It takes an egg to make a hen
It takes a hen to make an egg
There is no end to what I’m saying
It takes a thought to make a word
And it takes some words to make an action
It takes some work to make it work
It takes some good to make it hurt
It takes some bad for satisfaction
La la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Al la la la la
It takes a night to make it dawn
And it takes a day to make you yawn brother
And it takes some old to make you young
It takes some cold to know the sun
It takes the one to have the other
And it takes no time to fall in love
But it takes you years to know what love is
It takes some fears to make you trust
It takes those tears to make it rust
It takes the dust to have it polished
Ha la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is so full of
Ah la la la la la la life is so rough
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is our love
Ah la la la la la
It takes some silence to make sound
It takes a loss before you found it
And it takes a road to go nowhere
It takes a toll to make you care
It takes a hole to make a mountain
Ah la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ha la la la la la life is wonderful
Ha la la la la la life is meaningful
Ha la la la la la life is wonderful
Ha la la la la la life it is…so… wonderful
It is so meaningful
It is so wonderful
It is meaningful
It is wonderful
It is meaningful
It goes full circle
Wonderful
Meaningful
Full circle
Wonderful
“Design Your Future!”
February 5, 2010 at 12:00 am | In Quotes | Leave a CommentTags: edward de bono, future, Quotes, thinking
You can analyse the past, but you have to design the future.
The quality of our thinking will determine the quality of our future.
The winner is the chef who takes the same ingredients as everyone else and produces the best results.
- Perception is real even when it is not reality.
- If you do not design the future someone or something else will design it for you.
- We may need to solve problems not by removing the cause but by designing the way forward even if the cause remains in place.
- Traditional thinking is all about “what is;” Future thinking will also need to be about what can be.
- Effectiveness without values is a tool without a purpose.
- Nothing’ is the space for everything.
- Edward de Bono -
PhotoReading: Membaca Adalah Soal Mengekstrak Isi Bacaan
December 15, 2009 at 2:36 am | In Books | Leave a CommentTags: photoreading, reading
PhotoReading. The PhotoReading Whole Mind System. By Paul R. Scheele, M.A. Published by Learning Strategies Corporation. Third Edition, 1999. Paperback. ISBN-13: 978-0-925480-53-8. www.LearningStrategies.com
Buku ini menawarkan peningkatan kemampuan membaca hingga kecepatan 25.000 kata per menit (kpm). Mengetahui ini, saya jadi excited, apa bisa? Bagaimana caranya?
25.000 kpm, artinya kurang lebih satu halaman per detik. Dengan asumsi 1 halaman buku rata-rata terdiri dari 300-400 kata. Sounds like too good to be true. Membaca dengan teknik speed-reading saja, kategori excellent dicapai jika bisa membaca dengan kecepatan 1000 kpm, dengan tingkat pemahaman sampai 85%.
Setelah dibaca… Prinsip kerja teknik PhotoReading-nya bisa saya terima. Tapi penerapan konsep PhotoReading-nya, tetap belum bisa saya terima. Kendati kecepatan dan efektifitas saya membaca meningkat, itu bukan karena teknik PhotoReading-nya sendiri. Melainkan lebih pada mengubah kebiasaan membaca lama dengan paradigma baru membaca.
Berikut yang bisa saya ekstrak dari buku ini. Terlepas dari semua struktur dan aturan baku konsep PhotoReading di buku ini, saya mencoba mengekstraknya demi kepentingan pribadi. Jadi ini hasil ekstrak relatives to me..
Di bawah nanti akan saya tuliskan juga sedikit resume buku ini.
Pertama-tama yang bisa saya simpulkan adalah bahwa, tidak semua materi bacaan bisa dibaca dengan teknik PhotoReading. Ada buku yang bisa dinikmati dengan membaca kata per kata alias dinikmati alur dan rangkaian kalimatnya, seperti karya-karya sastra, dimana disini teknik PhotoReading tidak diperlukan. Ada juga buku yang tidak harus dibaca detail, alias bisa (hanya perlu) dibaca bagian-bagian tertentunya saja. Jadi kalimat saktinya adalah, seperti yang dikatakan Francis Bacon berikut ini:
“Ada buku yang hanya sekedar untuk dicicipi, ada yang untuk ditelan, ada yang untuk dikunyah dan dicerna; artinya, ada buku yang hanya perlu dibaca bagian-bagian tertentunya, ada yang untuk dibaca tapi bukan sesuatu yang benar-benar baru, dan ada yang harus dibaca semuanya, dengan perhatian lebih dan melibatkan pikiran.” – Francis Bacon, filsuf Inggris abad XVI -
Maka, hal pertama yang harus dilakukan sebelum membaca adalah, tetapkan sebuah tujuan yang jelas. Untuk apa buku itu dibaca, apa yang ingin kita cari dan dapatkan dari buku tersebut. Sekali lagi, tujuan harus jelas. Ini penting, karena dalam teknik PhotoReading, paradigma baru membaca adalah, bahwa: membaca adalah sebuah proses mengekstrak. Sebuah strategi membaca yang fleksibel untuk mengekstrak dengan efisien dari apapun yang kita baca.
Nilai informasi dalam sebuah buku berbeda-beda. Teknik PhotoReading adalah solusi: sebuah multipass method of reading. Sehingga kita tidak terjebak pada suatu bacaan yang ternyata hanya membuang waktu saja ketika kita membacanya. Dengan teknik PhotoReading, sejak awal kita bisa memutuskan, apakah sebuah buku layak dibaca, bisa dilewatkan, atau hanya untuk dikunyah bagian-bagian tertentunya saja. Satu buku mungkin bisa diselesaikan 15 menit atau buku lain 2 jam. Asal ide utama sudah diekstrak… that’s all, right?
Langkah selanjutnya menyangkut teknik. Pertama-tama, selalu lakukan preview terhadap materi bacaan, untuk mengetahui struktur isi buku. Kemudian lakukan PhotoReading, yang tujuan utamanya adalah mengekstrak isi bacaan. Dalam tahap ini, kita bisa memilah dan memilih dimana kita akan menenggelamkan diri pada suatu bagian yang kita anggap penting, juga pada bagian mana kita akan melaluinya dengan cepat. Sekali lagi, goal kita adalah: mengekstrak isi bacaan. Saya rasa disinilah letak langkah pentingnya: pada memilah dan memilih ini.
Atau kalimat singkatnya: tetapkan tujuan, lakukan preview, ekstrak; bila perlu, buat mind map. Jika ada bagian yang harus diperdalam, tandailah, dan kembalilah lagi kapan saja. Mudah, ringan, menyenangkan.
~~~
Jika speed-reading bekerja berasaskan metode chunking, scanning, skimming dan meta-guiding. Maka PhotoReading bekerja dengan prinsip mental photographing. (Apa itu? Silakan lihat di sini.) PhotoReading is mentally photographing the text, lalu membiarkan kemampuan alami otak untuk memroses informasi yang diserap pada level preconscious mind.
PhotoReading lahir dari studi tentang accelerative learning, rapid reading, neuro-linguistic programming, dan preconscious mind. Bisa diterapkan pada berbagai jenis materi bacaan dan berbagai subjek. Teknik PhotoReading whole mind system sendiri terdiri dari 5 langkah. Resume kelima langkahnya akan saya tulis di bawah.
1 - Prepare. Pertama-tama tetapkan tujuan membaca dengan jelas. Lalu masuk pada kondisi rileks ideal—ideal state of relaxed alertness, semacam kondisi konsentrasi tinggi namun rileks.
Membaca yang efektif dimulai dengan sebuah tujuan yang jelas. Nyatakan dengan jelas apa yang ingin diperoleh dari kegiatan membaca. Lakukan ini dengan penuh kesadaran—dalam pengertian, membaca tidak asal membaca. Contohnya, apakah kita hanya ingin mengetahui gambaran umum isi buku, atau ingin mengetahui isi buku secara detail, misalnya untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Atau barangkali sekedar mencari poin-poin tertentu yang kita perlukan. Tujuan ibarat radar yang menuntun pikiran kita untuk menemukan apa yang kita cari.
(1) Ketika menetapkan tujuan, ajukan pertanyaan berikut: Adakah sesuatu yang ingin dicapai dengan bacaan ini, atau hanya untuk melewatkan waktu, atau sekedar memperoleh kesenangan dan pengalaman membaca; (2) Seberapa penting materi ini, misalnya untuk jangka panjang, atau adakah hal spesifik lain yang bisa diperoleh; (3) Seberapa detail yang ingin diketahui. Gambaran besarnya saja, poin-poin utama, atau detail keseluruhan. Bilakah yang kita perlukan harus diperoleh dengan membaca keseluruhan dokumen, atau bisa didapat dari bagian-bagian tertentu saja; (4)Time commitment, tentukan target waktu untuk mencapai tujuan membaca.
Menetapkan tujuan beberapa menit, menghemat waktu kita ratusan kali lebih banyak.
(Ideal state of relaxed alertness bisa dicapai dengan latihan “tangerine technique“.)
2 – Preview. Previewing didasarkan pada sebuah prinsip penting: bahwa pembelajaran efektif seringkali memiliki pola “from whole to parts”. Yaitu, dimulai dari sebuah gambaran besar dan menyeluruh lalu masuk ke bagian lebih kecil, bagian-bagian yang lebih detail.
Previewing meliputi 3 hal: (1) Survei materi bacaan. Tujuannya untuk memperoleh gambaran umum atau struktur isi buku. (2) Menarik kata-kata kunci atau trigger words dari materi bacaan, yang menjadi konsep utama. Trigger words memberi rangsangan awal akan hal-hal apa yang selanjutnya ingin kita explore. (3) Review informasi dan gambaran yang diperoleh untuk memperjelas tujuan yang telah ditetapkan. Putuskan apakah layak untuk terus dibaca, atau sebaliknya.
Lakukan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat saja. Sebagai gambaran, 5-10 menit untuk sebuah buku, 3 menit untuk sebuah laporan, 30 detik saja untuk sebuah artikel.
Previewing memberi gambaran struktur isi buku, sehingga kita bisa memprediksi isi buku secara keseluruhan (content). Hasilnya, pemahaman dan kenikmatan membaca yang meningkat.
3 – PhotoReading. Konsep PhotoReading adalah menggunakan kemampuan alami otak dalam memroses informasi pada level preconscious, menggunakan teknik “seeing with soft eyes”, yaitu dengan mengoptimalkan penggunaan peripheral vision—penglihatan periferal*.
(1) Sebelumnya, lakukanlah persiapan. Ambil posisi duduk tegak, letakkan bahan bacaan di hadapan pada posisi 45 derajat terhadap meja, atau 90 derajat terhadap mata. Nyatakan kembali tujuan yang ingin dicapai, fokus pada apa yang akan dilakukan. (2) Selanjutnya, masuki kondisi accelerative learning. Bebaskan diri dari gangguan, kekhawatiran, dan berbagai tekanan. Duduk nyaman, tarik nafas dalam, tenangkan pikiran, bayangkan tempat nyaman dan indah, rileks, rileks, rileks. (3) Masuki tahap PhotoFocus. Alih-alih memfokuskan mata pada kata per kata, sebuah gambar, frase, atau baris-baris kalimat dengan terfokus (hard/sharp focus), “lembutkan” pandangan mata Anda dengan tidak terfokus pada suatu objek tertentu, tapi tetap melihat objek secara keseluruhan (look at nothing, but see everything atau look at nothing but seeing whole), ini yang disebut melihat dengan soft eyes*.
Pada kondisi PhotoFocus inilah penglihatan periferal kita terbuka dan siap me-mentally photograph halaman demi halaman materi bacaan. Dalam kondisi ini, informasi diproses pada level preconscious dan dimasukkan ke dalam sistem penyimpanan memori nonconscious dari otak. Upayakan seminimal mungkin menggunakan pikiran sadar–-conscious, dan semaksimal mungkin menggunakan pikiran preconscious.
Pertahankan kondisi ini sampai selesai mem-photoreading keseluruhan bahan bacaan. Lakukan dengan kecepatan satu halaman per detik.
Di akhir kegiatan PhotoReading, pikiran sadar Anda mungkin akan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan apa yang dibutuhkan oleh pikiran sadar.
(Hufph..! Ini bagian paling berat dalam menulis resume ini.)
4 – Activate. Tahap ini melibatkan semua bagian otak, melihat teks dengan pikiran sadar, dan mendapatkan hasil akhir yang ingin kita capai dari kegiatan membaca.
(1) Idealnya, tunggu beberapa waktu—bisa beberapa menit atau sampai semalaman, untuk mulai aktivasi setelah PhotoReading. Tahap ini disebut inkubasi. (2) Rangsang pikiran dengan pertanyaan, explore bagian-bagian yang dianggap menarik dan dibutuhkan. Super read bagian-bagian penting itu dengan men-scanning cepat dari atas ke bawah setiap halaman. (3) “Selami” bagian-bagian yang dianggap paling penting. (4) Lalu, buat “mind map”.
Otak kita tidak pernah berhenti bekerja. Ia tetap bekerja selama 24 jam sehari. Bahkan ketika tidur, otak membuat hubungan-hubungan antara berbagai persoalan yang kita hadapi dengan pengetahuan yang telah tersimpan di memori otak, untuk mencari solusi terhadap apa-apa yang kita hadapi.
Teknik aktivasi lain: Rhythmic perusal—You glide your eyes over the upper half of the letters; read each line in a single, smooth movement. The technique enhances your concentration and, with practice, allows you to increase speed and focus. Skittering—To move rapidly along a surface, usually with frequent light contacts or changes of direction; skip or glide quickly.
5 - Rapid Read.
— — —
*) Penjelasan fisiologis untuk peripheral vision dan soft eyes.
Retina mata kita terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama disebut fovea, yang dipenuhi sel-sel penerima cahaya (photoreceptor) berbentuk kerucut—cone cell. Letaknya di bagian tengah retina. Sel-sel ini berfungsi mendeteksi warna, dan bekerja dengan baik pada intensitas cahaya normal. Informasi yang diterima fovea diproses oleh pikiran sadar.
Bagian kedua adalah bagian periphery atau bagian tepi. Bagian ini dipenuhi sel-sel photoreceptor berbentuk batang—rod cell. Sel-sel batang ini sangat sensitif, sehingga dapat bekerja dengan baik pada intensitas cahaya sangat rendah, bahkan malam hari. Sel-sel batang ini berperan dalam mendeteksi pergerakan dan mengenali benda secara keseluruhan tanpa harus fokus, tetapi tidak sensitif terhadap warna. Bahkan disebutkan bahwa sel ini bisa mendeteksi cahaya lilin yang berjarak 10 mil. Dan yang dimaksud melihat dengan soft eyes adalah melihat menggunakan bagian periphery ini.
Bagian periferal ini memiliki wilayah lebih luas dibanding fovea. Maka, bayangkan jika kita bisa mengoptimalkan kegunaannya. Sayangnya kita lebih banyak menggunakan focal vision daripada peripheral vision kita. (Sampai di titik ini, prinsip kerja PhotoReading dapat saya terima. Kendati belum berhasil mempraktikkan PhotoFocus, terutama bagian “flip” satu halaman per detik.)
Ada penjelasan menarik lain mengenai penggunaan penglihatan periferal, yang ternyata telah digunakan oleh ksatria favorit saya, Miyamoto Musashi.
Musashi dalam The Book of Five Rings menjelaskan tentang dua jenis penglihatan ini. Ken, melihat apa yang tampak di permukaan, dan kan, melihat esensi sesuatu. Dengan peripheral vision of kan, seorang prajurit dapat mengetahui keberadaan musuh dan mendeteksi serangan tidak terduga sebelum itu terjadi. Dalam PhotoReading kita menggunakan sisi lain dari kan: ketenangan, konsentrasi, kreativitas, intuisi, dan kemampuan memperluas lapangan pandang. Jadi, PhotoReading bisa dimanfaatkan dalam berbagai situasi dan keadaan.
(Pfuh..! Ini pengalaman menulis resume yang sangat berat. Pertama-tama harus mencerna (digest) dari bahasa aslinya, menyerap, lalu mengeluarkannya lagi dengan mencari padanan bahasa Indonesia yang pas. Ditambah materi yang cukup berat terutama ketika mencerna mekanisme PhotoFocus. Lalu istilah-istilah yang tidak biasa sehingga tidak ada link yang bisa dirujuk. So, cari pengertiannya, digest lagi, terjemahkan lagi. Pfuh..! Bener-bener. Thanks God, I’ve finished it.)
Mengangkasa Bersama Buku
December 3, 2009 at 4:04 am | In Books | 1 CommentTags: Books
Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.
(Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken – Biblioteca Magica de Bibbi Bokken – Bibbi Bokken’s Magic Library)
Kalimat di atas berulang saya temukan di buku yang baru saya baca, Mengikat Makna Update, yang ditulis Pak Hernowo. How very fascinating words. I like it so.
Di bawah saya simpan daftar beberapa buku (tidak semua) yang direkomendasikan—atau lebih tepatnya dituturkan—Pak Her di buku MM Update. Terima kasih telah membawa saya merambahi ranah isi, bahkan makna, dari buku-buku ini ya Pak. Dan ini membuat saya: terpacu.
Beberapa diantaranya sudah masuk daftar harus-baca. Membaca MM Update, jadi diingatkan kembali, agar daftar itu tidak hanya menjadi sekedar daftar. Bahkan lebih jauh—melalui penuturan bagaimana buku-buku ini telah menjadi bingkai (frame) konsep “mengikat makna”-nya Pak Her, konsep tujuan saya membaca jadi lebih jelas. Dan ini teramat penting! My next post will talk about why purpose becomes so important.
Buku-buku yang ditulis Pak Her sendiri beberapa diantaranya bisa di lihat di website-nya Mizan. Saya baik hati, sudah saya carikan link-nya, klik saja di sini.
Tapi di daftar di bawah ini, saya hanya menulis yang berarti buat saya. Maaf ya.. He-he.
The World Is Flat: Sejarah Ringkas Abad Ke-21, Thomas L. Friedman. (Dian Rakyat)
Crowd: Marketing Becomes Horizontal, Yuswohady, Pengantar oleh Hermawan Kartajaya. (Gramedia)
Think Like A Genius, Todd Siler. Edisi Indonesia: Berpikir ala Einstein. (2004)*
Brain Based Learning, Eric Jensen.*
The 7 Habits of Highly Effective Families, Stephen Covey.*
The 28 Laws of Attraction: Saatnya Kesuksesan Mengejar Anda, Thomas J. Leonard. (Kaifa)
Spiritual Capital (SC), Danah Zohar dan Ian Marshall. (Mizan)
Contextual Teaching and Learning (CTL) : Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Elaine B. Johnson. (MLC, 2006)
Authentic Happiness, Martin E. P. Seligman, Pengantar oleh Jalaluddin Rakhmat: From Suffering to Savoring”. (Mizan)*
What Happy People Know: How the New Science of Happiness Can Change Your Life for the Better, Dan Baker. Edisi Indonesia: Pergulatan Cinta dan Rasa Takut: Kisah-kisah Menggugah dan Mengharukan Orang-orang yang Menemukan Kembali Kebahagiannya, Pengantar oleh Jalaluddin Rakhmat. (Kaifa - Creative Nonfiction)*
SQ for Kids: Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini, Jalaluddin Rakhmat, (Mizan)*
Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, Dr. James W. Pennebaker. Edisi Indonesia: Ketika Diam Bukan Emas: Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi. (Mizan, 2002)
Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup.*
Accidental Genius, Mark Levy.
Marketing Yourself: Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis, Hermawan Kartajaya.
New Wave Marketing, Hermawan Kartajaya.
Semua Berakar pada Karakter, Ratna Megawangi. (Penerbit UI Pres)*
Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, Muhammad Iqbal. (Penerbit Tintamas, Bogor, 1966)*
Discours de la methode (1637), Rene Descartes. Edisi Indonesia: Risalah tentang Metode. (Gramedia Pustaka Utama, 1995).
Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, Arief Budiman.
Pergolakan Pemikiran Islam, Achmad Wahib.*
Stray Reflections (catatan harian M. Iqbal).*
Mutiara Nahjul Balaghah. (Penerbit Mizan)
Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, Taufik Adnan Amal.*
Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, Ziauddin Sardar. (Penerbit Mizan)*
The Power of Reading, Dr. Stephen D. Krashen.*
Parent Who Love Reading, Kids Who Don’t, Mary Leonhardt.
99 Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan” Membaca, Mary Leonhardt. (Kaifa)
Dunia Sophie, Jostein Gaarder. (Mizan) ~ dari dulu belum kesampean aja baca buku ini, sampe harus ditulis di sini, hiks…*
Kembara Bahasa, Anton M. Moeliono.
Present Yourself!: Melakukan Presentasi Berdasarkan Cara Kerja Otak, Michael J. Gelb, Pengantar oleh Tony Buzan. (MLC)
Menjadi Superkreatif dengan Menggunakan Metode “Pemetaan Pikiran”, Joyce Wycoff. (Kaifa)
Bengkel Kreativitas, Jordan E. Ayan. (Kaifa)
F.I.R.E.U.P Your Learning, Thomas L. Madden. ~ pernah baca versi Indonesianya tapi lupa judulnya apa, penerbitnya mana, sudah lama banget.. (anybody know?)
Ajaran Islam tentang Perawatan Anak, Ismail R. Faruqi. (Dewan Ulama Al-Azhar Mesir)*
Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Ismail R. Faruqi & Lois Lamya.*
Revolusi Cara Belajar, Gordon Dryden & Jeannette Vos.*
Muhammad Iqbal, Donny Gahral Adian. ~ sepertinya punya dan sudah baca
Barack Obama: Dreams from My Father
Anne of Green gables, Anne of Avonlea, Anne of the Island, Lucy M. Montgomery.
Mengikat Makna Update
December 2, 2009 at 8:18 am | In Books | 3 CommentsTags: hernowo, mengikat makna, reading, Writing
Mengikat Makna Update. Penulis: Hernowo. Penerbit: Kaifa (PT. Mizan Pustaka). Cetakan I, Oktober 2009. xxxii + 216 Halaman. ISBN 978-979-1284-34-9
Alhamdulillah.. Akhirnya selesai juga membaca buku ini, setelah dua hari lamanya berjuang melawan deretan kalimat-kalimat panjangnya Pak Her. Dua hari yang penuh perjuangan. Diselingi berkali-kali membuka facebook—hampir setiap setengah jam.
Usai menarik nafas dalam dan bertanya pada hati: apa yang didapat dari buku ini? Sungguh ini menjadi pengalaman membaca yang tak akan saya lupakan. Mengapa? Mengutip judul kecil buku ini: Membaca dan Menulis yang Memberdayakan, saya juga sungguh merasa terberdayakan. Rasa terberdayakan itu saya rasakan di sepanjang perjalanan menyimak seluruh bagian buku ini. Rasa yang sulit diungkapkan, semacam opening up my mind, or like your feeling filled up with energies.., semacam itulah.
Terima kasih Pak Her, untuk berbagi pengalaman yang teramat sangat berharga. Banyak penulis, bahkan penulis hebat. Tetapi mungkin tidak banyak yang mau (dan bisa) berbagi dengan begitu tulus dan jujur mengenai proses panjang perjalanan kepenulisannya, yg meminjam istilah Pak Her—tidak sekali jadi ini.
Ini menjadi kabar baik bagi siapapun. Bahwa menulis bukan soal bakat. Melainkan menulis adalah sebuah keterampilan. Untuk mendapatkan keterampilan ini, seseorang perlu berproses menulis atau membiasakan diri menulis dalam rentang waktu yang panjang. Menulis boleh tentang apa saja dan untuk siapa saja, tetapi menulislah untuk mendapatkan manfaat langsung dan konkret bagi diri sendiri ‘terlebih dahulu’. Inilah tujuan penerbitan buku MM Update ini. Dan manfaat menulis yang dimaksud adalah manfaat menulis untuk sebuah upaya memperbaiki diri. (hal. 17)
Nah, saya rasa mungkin inilah mengapa lantas di atas saya sebutkan bahwa saya merasa jiwa saya menjadi terbuka dan dipenuhi energi. (Ah, finally I found it…) Ada hubungannya kan? Membaca-Menulis-Menemukan makna-Memperbaiki diri-Jiwa yang terbuka-Terberdayakan. Rantainya kurang lebih seperti itu.
Banyak hal indah terkait kegiatan membaca dan menulis, yang dibagikan Pak Her dari banyak buku yang dibacanya. Atau lebih tepatnya, buku-buku yang memiliki nilai sejarah tersendiri dalam proses panjang perumusan konsep “mengikat makna”.
Tentang “mengikat makna” sendiri, sebelumnya pernah saya tulis sedikit di sini. Yang dalam MM Update, ditegaskan dengan penyederhanaan bahwa jika ingin memanfaatkan konsep “mengikat makna”, diperlukan hanya 3 hal: menyediakan “ruang privat”; memadukan kegiatan membaca-menulis secara kontinu dan konsisten; berusaha menemukan makna dalam kegiatan membaca-menulis.
Sulit membuat semacam intisari atau sekedar ringkasan tentang isi buku ini. Karena keseluruhan isinya, dari lembar pertama sampai halaman terakhir, adalah deretan mutiara yang sangat berharga. Tentang apa dan bagaimana kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan itu. Alami dan rasakan sendiri sensasi membacanya. Bagi saya pribadi, ada sensasi tersendiri, entah apakah karena saya sedang mencoba mempelajari “jalan pena” ini. (Lagi-lagi meminjam istilahnya Pak Her: jalan pena.) Tapi memang Pak Her tidak sekedar bicara tentang membaca dan menulis. Melainkan, lebih dari itu.
Satu diantara sekian banyak yang ingin saya kutip di sini adalah, tentang membaca sebagai salah satu bentuk kasih sayang Tuhan. Dari halaman 97-98, saya ungkapkan dengan adaptasi versi saya (Amit ya, Pak..): Tuhan melimpahkan kasih sayang lewat membaca kepada hamba-Nya, secara unik dan luar biasa. Dengan kemampuan membaca, manusia kemudian bisa memiliki derajat di atas malaikat. Dengan kemampuan membaca, seorang manusia dapat mendaki tangga kualitas kehidupan. Manusia dapat menantang dirinya untuk terus mereguk nikmat Tuhan yang tersebar di alam semesta, menjumpai wilayah baru, menyimpan pengetahuan baru, menjelajah kehidupan luas yang hampir tidak terbatas. (Feel so excited for these words…)
Masih dari halaman 97, Pak Her menuliskan: membaca adalah sebentuk kasih sayang Tuhan yang paling awal sekali diberikan kepada Rasulullah Saw. Dan saya juga jadi tersadarkan, lewat penggalian Pak Her atas makna kata iqra’, bahwa Allah Swt. pertama-tama mengajarkan “membaca dan menulis” dalam peristiwa panjang penurunan wahyu al-Quran kepada Rasulullah Saw.
Ini hanya sedikit kesan yang bisa diungkapkan usai membaca buku ini. Sungguh tak sebanding dengan makna besar yang saya dapat dari membacanya. Sekali lagi terima kasih Pak Her. Semoga menjadi catatan amal baik Bapak yang tak kan pernah putus.
Sejalan dengan yang diungkapkan Riris K. Toha-Sarumpaet pada halaman apresiasi buku ini, bahwa Pak Her tak hanya bicara tentang keterampilan baca-tulis; lebih dari itu pak Her terutama bicara tentang sebuah kehidupan yang bermakna.
Bagi saya pribadi, dari merenungi perjalanan “mengikat makna”-nya Pak Her ini, menemukan sesuatu yang lebih tinggi di atas semua pembicaraan mengenai membaca dan menulis. Bahwa di dalamnya, terekam jejak panjang sebuah pencarian diri, menuju puncak. Saya menyebutnya seperti sebuah “sujud panjang” sebuah pencarian diri. Yang pada ujungnya, bermuara kepada-Nya jua. Semoga dapat mengikuti jejak Bapak. Amiin.
Oh, ya.. Facebook-nya Pak Her klik di sini.
Selamat mengeksplorasi kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan. Dan terbang dengan sepasang sayap: “membaca” dan “menulis”, seperti kata Pak Her lagi.
Happy reading.
Then, get writing!
~~~
*) Saya membuat catatan tersendiri untuk nge-list buku-buku yang direkomendasikan Pak Her di setiap halaman buku MM Update. Di sini. (I feel so excited for this stuff. Terima kasih banyak-banyak pokoknya Pak.)
1984
November 11, 2009 at 8:26 am | In Books | Leave a CommentTags: 1984, george orwell, science-fiction books
1984. By George Orwell. Published by Signet Classic, an imprint of New American Library, a division of Penguin Group (USA). 1961. Paperback. 328 pages. ISBN 0-451-52493-4. Centennial Edition with an afterword by Erich Fromm.
Masih bingung mau nulis apa mengenai buku ini.. Yang pasti buku ini ’sangat’ enak dibaca. Kendati bahasa Inggris saya pas-pasan, saya masih bisa baca dengan speed-reading. Dan saya sangat ingin menyimpan kutipan my favorite stage—Part 3 Chapter 2 halaman 248-249, here it is…
‘There is a Party slogan dealing with the control of the past,’ he said. ‘Repeat it, if you please.’
‘”Who controls the past controls the future: who controls the present controls the past,”‘ repeated Winston obediently.
‘”Who controls the present controls the past,”‘ said O’Brien, nodding his head with slow approval. ‘Is it your opinion, Winston, that the past has real existence?’
Again the feeling of helplessness descended upon Winston. His eyes flitted towards the dial. He not only did not know whether ‘yes’ or ‘no’ was the answer that would save him from pain; he did not even know which answer he believed to be the true one.
O’Brien smiled faintly. ‘You are no metaphysician, Winston,’ he said. ‘Until this moment you had never considered what is meant by existence. I will put it more precisely. Does the past exist concretely, in space? Is there somewhere or other a place, a world of solid objects, where the past is still happening?’
‘No.’
‘Then where does the past exist, if at all?’
‘In records. It is written down.’
‘In records. And –?’
‘In the mind. In human memories.’
‘In memory. Very well, then. We, the Party, control all records, and we control all memories. Then we control the past, do we not?’
‘But how can you stop people remembering things?’ cried Winston again momentarily forgetting the dial. ‘It is involuntary. It is outside oneself. How can you control memory? You have not controlled mine!’
O’Brien’s manner grew stern again. He laid his hand on the dial.
‘On the contrary,’ he said, ‘you have not controlled it. That is what has brought you here. You are here because you have failed in humility, in self-discipline. You would not make the act of submission which is the price of sanity. You preferred to be a lunatic, a minority of one. Only the disciplined mind can see reality, Winston. You believe that reality is something objective, external, existing in its own right. You also believe that the nature of reality is self-evident. When you delude yourself into thinking that you see something, you assume that everyone else sees the same thing as you. But I tell you, Winston, that reality is not external. Reality exists in the human mind, and nowhere else. Not in the individual mind, which can make mistakes, and in any case soon perishes: only in the mind of the Party, which is collective and immortal. Whatever the Party holds to be the truth, is truth. It is impossible to see reality except by looking through the eyes of the Party. That is the fact that you have got to relearn, Winston. It needs an act of self-destruction, an effort of the will. You must humble yourself before you can become sane.’
Next time I will write about this book. How very interesting science-fiction book. I like it, so-o-o much..
Reichstag dan Semangat Keterbukaan Jerman
October 21, 2009 at 8:23 am | In Architecture | Leave a CommentTags: loves me, germany, dream country, Architecture
Ada yang unik dan masih sangat jauh berbeda dengan kondisi di negara kita saat ini. Ini tentang gedung parlemen negeri Jerman. Dari sebuah berita di detik.com pagi ini, berjudul Melongok Pusat Kekuasaan Jerman. Germany is my dream country. (Kapan ya bisa kesana?)
Dem Deutschen Volke
Kalimat diatas terukir di fasad Gedung Reichstag—gedung DPR-nya Jerman, yang artinya: Untuk Rakyat Jerman. (Merinding membacanya, mengingat ‘carut marut’ negeri sendiri.) Gedung Reichstag merupakan ruangan sidang paripurna DPR Jerman. Terletak di kompleks DPR Jerman, Bundestag, di kawasan Platz der Republik, Berlin. Gedung kantor Kanselir Jerman Angela Merkel berdiri disampingnya. Tidak ada pagar tinggi menghadang seperti di Senayan. Platz der Republik adalah lapangan luas tanpa pagar.
Kalau di Indonesia yang dibuka untuk publik adalah Istana Merdeka. Maka di Jerman, yang dibuka untuk publik adalah gedung DPR ini. Masuk Reichstag gratis. Keterbukaan menjadi tema besar bangunan di pusat kekuasaan Jerman ini. Gedung paripurna Reichstag bebas dikunjungi setiap hari. Sehingga pengunjung bisa melihat persidangan anggota DPR.
Gedung bergaya klasik Romawi ini menjadi salah satu obyek wisata paling menarik di Berlin. 3 juta pengunjung datang setiap tahunnya. Daya tarik Reichstag yang lain adalah sebuah kubah kaca futuristis di puncak gedung yang menyajikan pemandangan ke seluruh Berlin.
Pengunjung masuk setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Kemudian mereka langsung naik lift ke atap. Kubah kaca yang besar langsung terlihat. Kubah kaca ini didesain sebagai jalan masuknya cahaya ke ruang sidang paripurna untuk menghemat penggunaan listrik. Cahaya dipantulkan lewat cermin panjang dari puncak kubah sampai ke lantai. Pengunjung bisa naik ke puncak kubah dengan mengikuti tangga spiral yang landai untuk menikmati pemandangan.
Keterbukaan juga menjadi tema bangunan lain dalam kompleks DPR Jerman. Ruang anggota dewan dan ruangan komisi pun tampil transparan di Gedung Paul Loebe dan Gedung Jakob Kaiser. Semua serba kaca, sehingga rakyat dari jalanan bisa melihat apakah anggota DPR sedang tidur-tiduran atau sedang bekerja.
Semangat membuka diri ini tidak terlepas dari tekad untuk menjadikan Bundestag sebagai rumah rakyat Jerman. Seperti terpatri dalam ukiran tulisan di fasad Gedung Reichstag tadi: Dem Deutschen Volke yang berarti Untuk Rakyat Jerman.
Yang lebih menarik lagi, setelah saya browsing mengenai gedung Reichstag ini ternyata sangat indah. Futuristic. Fantastic. I love it. I wanna go there! Di bawah saya simpan beberapa gambar.

The Reichstag building - The dedication "DEM DEUTSCHEN VOLKE", meaning "To the German people" or "For the German people", can be seen on the architrave.
Note:
- Tulisan di atas disalin dari sumber berita detik.com dengan sedikit adaptasi.
- Sumber gambar dari Wikipedia dan www.panoramafactory.net.
Speed Reading: the Easy Way
October 13, 2009 at 5:08 am | In Books | Leave a CommentTags: speed reading
Speed Reading the Easy Way. By Howard Stephen Berg and Marcus Conyers. Published by Barron’s Educational Series, Inc. 1998. Paperback, 335 pages. ISBN 0-8120-9852-8
Kembali menemukan buku tentang speed reading... Berharap kecepatan membaca bisa meningkat dengan signifikan.
Jika speed reading-nya Tony Buzan pembahasannya lebih mendalam dan detail, maka speed reading yang ini lebih ringan dan praktis. Saya abadikan kutipan bagian pembukaan di halaman xii-xv buku ini di sini, dengan tujuan untuk meresapi, dan mencoba menerapkannya. Yang menurut hemat saya, keseluruhan tujuan buku ini sudah terangkum di bagian ini. OK, here it is…
The seven deadly myths that reduce your reading speed
Bayangkan sebuah balon udara berwarna indah dan cerah yang bisa terbang setinggi 2000 kaki, tetapi balon itu sekarang dipasangi beban sebanyak tujuh kantung pasir. Ketika kantung-kantung pasir itu dilepaskan, apa yang akan terjadi? Yup! Balon itu akan terbang setinggi-tingginya. Seperti itu pula kecepatan kita membaca. Sekarang ini kita digelayuti tujuh keyakinan salah yang membebani kegiatan membaca kita. Tapi, sekali kita berniat melepaskannya, maka kecepatan Anda membaca pun akan naik, setinggi-tingginya. Coba dan buktikan!
Ini dia beban-beban yang harus dilepaskan itu:
1 – You need to read one word at a time. Speed-readers read whole chunks of text at once rather than one single word.
2 - You need to read everything at the same speed. Speed-readers have the ability to slow down or accelerate depending on the complexity of the material. Research shows us that only 11 to 40 percent of a book contains examples and reinforcement.
3 - Slower reading speeds improve comprehension. Has this ever happened to you? You pick up a book and begin to read. Suddenly you find that five minutes have passed and you don’t even remember the name of the book. Why? You were going too slowly for your brilliant brain. When you read slowly, you are accessing the auditory front left portion of your brain. This section is one of the least efficient at storing information into long-term memory, and therefore, your comprehension actually drops. Comprehension and recall actually increases when you read at an accelerated rate because it switches on the powerful visual area of the brain.
4 - You must read the whole book in sequence to understand it. Only 11-40 percent of the book contains the real information. Speed-readers will often begin with a completely different sequence, one that maximizes comprehension and recall. Speed-readers can learn the key elements of a book at an accelerated rate by reading the book in a different sequence.
5 - You must stop to look up a word if you don’t understand it. Speed-readers simply mark them in the margin and look it up later if still necessary. This one step will boost your reading speed and recall tremendously.
6 – You should never use pen or your finger as a guide during reading. Speed-readers know that eye and hand coordination allow you to accelerate your reading speed tremendously. Simply use your pen, and rips through pages at a high speed, simply marking the bits you need to recall. Or simply run your hand down the pages.
7 – Reading a book is the same as learning the material in that book. Reading is not the same as learning; they are two separate stages. The key to effectively acquiring information at an accelerated rate is to use the following sequence: First explore and examine the book at a high speed, second identify the key data that needs to be remembered. Third, to use specific memory tools to load this information into long term memory.
Semoga bermanfaat.
Happy reading.
Cerita Seorang Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya
September 28, 2009 at 2:15 am | In Poems | Leave a CommentTags: taufiq ismail, ulang tahun
1
Seminggu lalu
datanglah undangan
untuk kami anak-anak penghuni panti asuhan
diantarkan seorang ibu
dan anak gadisnya.
Sekolahnya kira-kira di SMA
mereka naik Corolla biru
dari pakaian, cara bicara dan perilaku
kelihatan tamu ini orang gedongan
golongan yang hidup lebih dari kecukupan.
Mereka mengundang
anak-anak panti asuhan
untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam.
Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan
berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama
jalan kaki bersama, karena jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.
Rombongan disilakan masuk dengan ramah
dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya
para remaja belasan tahun
mereka sehat-sehat, harum-harum
berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya
saya berjuang melawan sifat minder saya
duduk di tengah ruang tamu yang luas.
Di atas karpet bersila, pegal dan canggung
di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan
di bawah lampu kristal bergelantungan.
Tapi alangkah aku jadi heran
tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
tidak ada tepuk tangan mengiringi
lagu Hepi-Bisde-Tuyu
Hepi-Bisde-Tuyu.
2
Lalu seorang remaja membaca
Surah Luqman dengan suara amat merdunya
dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya.
Kemudian
Lia yang berulang tahun
berpidato sangat mengharukan
dalam acara seperti ini
bukan saya yang jadi pusat perhatian
diperingati atau dihargai
tapi mama
ya, mama kita
ibunda kita
dan
ayahanda.
Ibunda dan ayahanda
pusat perhatian kita.
Hari ini, enam belas tahun yang lalu
mama melahirkan saya
posisi saya sungsang
saya terlalu besar
jadi mama harus sectio caesaria
mama dibedah,
berdarah-darah
seluruh keluarga khawatir dan berdoa
di luar ruang operasi
duduk menanti berita
dalam kecemasan luar biasa
tapi alhamdulillah
kelahiran selamat
walaupun mama sangat menderita
Sekarang ini, enam belas tahun kemudian
ulang tahun saya dirayakan
saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian
harus mama yang jadi pusat perhatian
mama. Bukan saya
saya pikir, tidak logis saya minta kado
harus mama yang diberi kado
Anak gadis itu berhenti sebentar
dia sangat terharu
kemudian dia mengambil sebuah bungkusan
kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga.
Mama
terima kasih mama, terima kasih
mama telah melahirkan
saya dengan susah payah
mama menyabung nyawa
berdarah-darah.
Persis
malam ini, 16 tahun yang lalu
terimalah rasa terima kasih ananda
tidak seberapa harganya.
Mamanya berdiri
terpukau pada kata-kata anak
gadisnya
terharu pada jalan pikirannya
yang dia tak sangka-sangka
dia langsung memeluk anaknya
terguguk-guguk menangis
keduanya tersedu-sedu
hadirin menitikkan air mata pula
suasana mencekam terasa
dan hening agak lama
3
Kemudian kakak pembawa acara berkata
para hadirin yang mulia
ini memang kejutan bagi kita
karena dengan tahun yang lalu
acara ini berbeda
Lia tidak mau tiup lilin jadi acara
karena ditemukannya di ensiklopedia
Manusia di Zaman Batu di Eropah
percaya pada kekuatan
nyala lilin, begitu tahayulnya
bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan
memedi begitu katanya
termasuk si jundai, setan, hantu, kuntilanak dan
gendruwo.
Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno
lalu dikarang lagi
berikutnya superstisi
yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya
semua mati.
Maka akan terkabul
apa yang jadi cita-cita di dalam hati.
Lia tidak mau acara ulang tahunnya
oleh tahayul jadi bernoda
acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman
purbakala.
Katanya: “Kok tiupan nyala 16 lilin
bisa menentukan nasib saya?
Allah yang menentukan nasib saya.
Sesudah kerja keras saya
saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul
walaupun itu datangnya dari
barat atau pun timur juga.
Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka
minta kado dari papa dan mama
minta kado dari keluarga dan
kawan-kawan saya.
Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua
burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika
dalam acara ulang tahun kita
begitu katanya.
Sesudah bertangis-tangisan
dengan ibunya
berkatalah yang berulang tahun itu
Hadiah paling saya
harapkan dari kalian
adalah doa bersama
sesudah hamdalah dan
salawat
karena saya ingin jadi anak yang baik laku
jadi perhiasan di leher ibuku
jadi penyenang hati ayahku
rukun dengan kakak-kakak dan
adik-adikku
bertegur-sapa dengan semua tetangga
dan kelak ketika dewasa
berguna bagi Indonesia.
4
Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu
lihatlah bersama kawan-kawannya
disilakan makan bersama-sama
dengarlah kisah kesannya.
Kini, dalam acara makan kunikmati nasi
beras Rajalele yang putih gurih
dendeng tipis balado, ikan emas panggang
dan udang goreng, besar dan gemuk-gemuk
belum pernah aku memegang udang sebesar itu.
Di asrama ikan asin dan tempe
seperti nyanyian yang nyaris abadi
kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.
Ketika kulayangkan
pandangku ke depan
kulihat tuan rumah yang baik hati itu
bapak dan ibu itu
berdiri bersama Lia anak gadisnya
berbicara amat mesranya.
Kubayangkan ayahku almarhum
mungkin seusia dengan bapak ini
beliau meninggal ketika umurku setahun.
Kubayangkan ibuku almarhumah
wafat ketika aku kelas enam SD
mungkin seusia pula dengan ibu itu.
Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku
Tidak pernah.
Semoga sorga firdaus jua
Bagi ibu bapakku
Panas
mengembang di atas pipiku
tak tertahan
titik air mataku.
Taufiq Ismail
1980, 2007
Satu Dia
August 12, 2009 at 2:25 am | In Songs | Leave a CommentTags: bimbo, satu dia
- Bimbo
Oh, embun pagi
Mengapa rindu, tak pernah hilang
Surya di siang, kunanti bila dia kan datang
Bulan dan bintang, katakan padanya
Kutunggu, kunanti
Di tempat yang sama
Ada tiada tetap menyinta
Sehidup semati berdua
Janjimu itu bak pusaka
Jiwa ragaku
Milikmu jua
Oh, burung pipit,
Tolong usir, si kumbang jantan
Hai angin lalu, jemputlah kasihku
Rinduku, cintaku, jangan sampai beku
Oh..oh..oh.. hanya satu dia
Kusanjung dan kumanja
Oh..oh..oh.. hanya satu dia
Kusayang dan kucinta
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.








