Reichstag dan Semangat Keterbukaan Jerman
October 21, 2009 at 8:23 am | In Architecture | Leave a CommentTags: Architecture, dream country, germany, loves me
Ada yang unik dan masih sangat jauh berbeda dengan kondisi di negara kita saat ini. Ini tentang gedung parlemen negeri Jerman. Dari sebuah berita di detik.com pagi ini, berjudul Melongok Pusat Kekuasaan Jerman. Though Germany is my dream country. (Kapan ya bisa kesana?)
Dem Deutschen Volke
Kalimat diatas terukir di fasad Gedung Reichstag—gedung DPR-nya Jerman, yang artinya: Untuk Rakyat Jerman. (Merinding membacanya, mengingat ‘carut marut’ negeri sendiri.) Gedung Reichstag merupakan ruangan sidang paripurna DPR Jerman. Terletak di kompleks DPR Jerman, Bundestag, di kawasan Platz der Republik, Berlin. Gedung kantor Kanselir Jerman Angela Merkel berdiri disampingnya. Tidak ada pagar tinggi menghadang seperti di Senayan. Platz der Republik adalah lapangan luas tanpa pagar.
Kalau di Indonesia yang dibuka untuk publik adalah Istana Merdeka. Maka di Jerman, yang dibuka untuk publik adalah gedung DPR ini. Masuk Reichstag gratis. Keterbukaan menjadi tema besar bangunan di pusat kekuasaan Jerman ini. Gedung paripurna Reichstag bebas dikunjungi setiap hari. Sehingga pengunjung bisa melihat persidangan anggota DPR.
Gedung bergaya klasik Romawi ini menjadi salah satu obyek wisata paling menarik di Berlin. 3 juta pengunjung datang setiap tahunnya. Daya tarik Reichstag yang lain adalah sebuah kubah kaca futuristis di puncak gedung yang menyajikan pemandangan ke seluruh Berlin.
Pengunjung masuk setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Kemudian mereka langsung naik lift ke atap. Kubah kaca yang besar langsung terlihat. Kubah kaca ini didesain sebagai jalan masuknya cahaya ke ruang sidang paripurna untuk menghemat penggunaan listrik. Cahaya dipantulkan lewat cermin panjang dari puncak kubah sampai ke lantai. Pengunjung bisa naik ke puncak kubah dengan mengikuti tangga spiral yang landai untuk menikmati pemandangan.
Keterbukaan juga menjadi tema bangunan lain dalam kompleks DPR Jerman. Ruang anggota dewan dan ruangan komisi pun tampil transparan di Gedung Paul Loebe dan Gedung Jakob Kaiser. Semua serba kaca, sehingga rakyat dari jalanan bisa melihat apakah anggota DPR sedang tidur-tiduran atau sedang bekerja.
Semangat membuka diri ini tidak terlepas dari tekad untuk menjadikan Bundestag sebagai rumah rakyat Jerman. Seperti terpatri dalam ukiran tulisan di fasad Gedung Reichstag tadi: Dem Deutschen Volke yang berarti Untuk Rakyat Jerman.
Yang lebih menarik lagi, setelah saya browsing mengenai gedung Reichstag ini ternyata sangat indah. Futuristic. Fantastic. I love it. I wanna go there! Di bawah saya simpan beberapa gambar.

The Reichstag building - The dedication "DEM DEUTSCHEN VOLKE", meaning "To the German people" or "For the German people", can be seen on the architrave.
Note:
- Tulisan di atas disalin dari sumber berita detik.com dengan sedikit adaptasi.
- Sumber gambar dari Wikipedia dan www.panoramafactory.net.
Speed Reading: the Easy Way
October 13, 2009 at 5:08 am | In Books | Leave a CommentTags: speed reading
Speed Reading the Easy Way. By Howard Stephen Berg and Marcus Conyers. Published by Barron’s Educational Series, Inc. 1998. Paperback, 335 pages. ISBN 0-8120-9852-8
Kembali menemukan buku tentang speed reading... Berharap kecepatan membaca bisa meningkat dengan signifikan.
Jika speed reading-nya Tony Buzan pembahasannya lebih mendalam dan detail, maka speed reading yang ini lebih ringan dan praktis. Saya abadikan kutipan bagian pembukaan di halaman xii-xv buku ini di sini, dengan tujuan untuk meresapi, dan mencoba menerapkannya. Yang menurut hemat saya, keseluruhan tujuan buku ini sudah terangkum di bagian ini. OK, here it is…
The seven deadly myths that reduce your reading speed
Bayangkan sebuah balon udara berwarna indah dan cerah yang bisa terbang setinggi 2000 kaki, tetapi balon itu sekarang dipasangi beban sebanyak tujuh kantung pasir. Ketika kantung-kantung pasir itu dilepaskan, apa yang akan terjadi? Yup! Balon itu akan terbang setinggi-tingginya. Seperti itu pula kecepatan kita membaca. Sekarang ini kita digelayuti tujuh keyakinan salah yang membebani kegiatan membaca kita. Tapi, sekali kita berniat melepaskannya, maka kecepatan Anda membaca pun akan naik, setinggi-tingginya. Coba dan buktikan!
Ini dia beban-beban yang harus dilepaskan itu:
1 – You need to read one word at a time. Speed-readers read whole chunks of text at once rather than one single word.
2 - You need to read everything at the same speed. Speed-readers have the ability to slow down or accelerate depending on the complexity of the material. Research shows us that only 11 to 40 percent of a book contains examples and reinforcement.
3 - Slower reading speeds improve comprehension. Has this ever happened to you? You pick up a book and begin to read. Suddenly you find that five minutes have passed and you don’t even remember the name of the book. Why? You were going too slowly for your brilliant brain. When you read slowly, you are accessing the auditory front left portion of your brain. This section is one of the least efficient at storing information into long-term memory, and therefore, your comprehension actually drops. Comprehension and recall actually increases when you read at an accelerated rate because it switches on the powerful visual area of the brain.
4 - You must read the whole book in sequence to understand it. Only 11-40 percent of the book contains the real information. Speed-readers will often begin with a completely different sequence, one that maximizes comprehension and recall. Speed-readers can learn the key elements of a book at an accelerated rate by reading the book in a different sequence.
5 - You must stop to look up a word if you don’t understand it. Speed-readers simply mark them in the margin and look it up later if still necessary. This one step will boost your reading speed and recall tremendously.
6 – You should never use pen or your finger as a guide during reading. Speed-readers know that eye and hand coordination allow you to accelerate your reading speed tremendously. Simply use your pen, and rips through pages at a high speed, simply marking the bits you need to recall. Or simply run your hand down the pages.
7 – Reading a book is the same as learning the material in that book. Reading is not the same as learning; they are two separate stages. The key to effectively acquiring information at an accelerated rate is to use the following sequence: First explore and examine the book at a high speed, second identify the key data that needs to be remembered. Third, to use specific memory tools to load this information into long term memory.
Semoga bermanfaat.
Happy reading.
Cerita Seorang Anak Yatim Piatu Selepas Pesta Ulang Tahun Tetangganya
September 28, 2009 at 2:15 am | In Poems | Leave a CommentTags: taufiq ismail, ulang tahun
1
Seminggu lalu
datanglah undangan
untuk kami anak-anak penghuni panti asuhan
diantarkan seorang ibu
dan anak gadisnya.
Sekolahnya kira-kira di SMA
mereka naik Corolla biru
dari pakaian, cara bicara dan perilaku
kelihatan tamu ini orang gedongan
golongan yang hidup lebih dari kecukupan.
Mereka mengundang
anak-anak panti asuhan
untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam.
Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan
berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama
jalan kaki bersama, karena jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.
Rombongan disilakan masuk dengan ramah
dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya
para remaja belasan tahun
mereka sehat-sehat, harum-harum
berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya
saya berjuang melawan sifat minder saya
duduk di tengah ruang tamu yang luas.
Di atas karpet bersila, pegal dan canggung
di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan
di bawah lampu kristal bergelantungan.
Tapi alangkah aku jadi heran
tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
tidak ada tepuk tangan mengiringi
lagu Hepi-Bisde-Tuyu
Hepi-Bisde-Tuyu.
2
Lalu seorang remaja membaca
Surah Luqman dengan suara amat merdunya
dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya.
Kemudian
Lia yang berulang tahun
berpidato sangat mengharukan
dalam acara seperti ini
bukan saya yang jadi pusat perhatian
diperingati atau dihargai
tapi mama
ya, mama kita
ibunda kita
dan
ayahanda.
Ibunda dan ayahanda
pusat perhatian kita.
Hari ini, enam belas tahun yang lalu
mama melahirkan saya
posisi saya sungsang
saya terlalu besar
jadi mama harus sectio caesaria
mama dibedah,
berdarah-darah
seluruh keluarga khawatir dan berdoa
di luar ruang operasi
duduk menanti berita
dalam kecemasan luar biasa
tapi alhamdulillah
kelahiran selamat
walaupun mama sangat menderita
Sekarang ini, enam belas tahun kemudian
ulang tahun saya dirayakan
saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian
harus mama yang jadi pusat perhatian
mama. Bukan saya
saya pikir, tidak logis saya minta kado
harus mama yang diberi kado
Anak gadis itu berhenti sebentar
dia sangat terharu
kemudian dia mengambil sebuah bungkusan
kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga.
Mama
terima kasih mama, terima kasih
mama telah melahirkan
saya dengan susah payah
mama menyabung nyawa
berdarah-darah.
Persis
malam ini, 16 tahun yang lalu
terimalah rasa terima kasih ananda
tidak seberapa harganya.
Mamanya berdiri
terpukau pada kata-kata anak
gadisnya
terharu pada jalan pikirannya
yang dia tak sangka-sangka
dia langsung memeluk anaknya
terguguk-guguk menangis
keduanya tersedu-sedu
hadirin menitikkan air mata pula
suasana mencekam terasa
dan hening agak lama
3
Kemudian kakak pembawa acara berkata
para hadirin yang mulia
ini memang kejutan bagi kita
karena dengan tahun yang lalu
acara ini berbeda
Lia tidak mau tiup lilin jadi acara
karena ditemukannya di ensiklopedia
Manusia di Zaman Batu di Eropah
percaya pada kekuatan
nyala lilin, begitu tahayulnya
bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan
memedi begitu katanya
termasuk si jundai, setan, hantu, kuntilanak dan
gendruwo.
Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno
lalu dikarang lagi
berikutnya superstisi
yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya
semua mati.
Maka akan terkabul
apa yang jadi cita-cita di dalam hati.
Lia tidak mau acara ulang tahunnya
oleh tahayul jadi bernoda
acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman
purbakala.
Katanya: “Kok tiupan nyala 16 lilin
bisa menentukan nasib saya?
Allah yang menentukan nasib saya.
Sesudah kerja keras saya
saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul
walaupun itu datangnya dari
barat atau pun timur juga.
Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka
minta kado dari papa dan mama
minta kado dari keluarga dan
kawan-kawan saya.
Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua
burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika
dalam acara ulang tahun kita
begitu katanya.
Sesudah bertangis-tangisan
dengan ibunya
berkatalah yang berulang tahun itu
Hadiah paling saya
harapkan dari kalian
adalah doa bersama
sesudah hamdalah dan
salawat
karena saya ingin jadi anak yang baik laku
jadi perhiasan di leher ibuku
jadi penyenang hati ayahku
rukun dengan kakak-kakak dan
adik-adikku
bertegur-sapa dengan semua tetangga
dan kelak ketika dewasa
berguna bagi Indonesia.
4
Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu
lihatlah bersama kawan-kawannya
disilakan makan bersama-sama
dengarlah kisah kesannya.
Kini, dalam acara makan kunikmati nasi
beras Rajalele yang putih gurih
dendeng tipis balado, ikan emas panggang
dan udang goreng, besar dan gemuk-gemuk
belum pernah aku memegang udang sebesar itu.
Di asrama ikan asin dan tempe
seperti nyanyian yang nyaris abadi
kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.
Ketika kulayangkan
pandangku ke depan
kulihat tuan rumah yang baik hati itu
bapak dan ibu itu
berdiri bersama Lia anak gadisnya
berbicara amat mesranya.
Kubayangkan ayahku almarhum
mungkin seusia dengan bapak ini
beliau meninggal ketika umurku setahun.
Kubayangkan ibuku almarhumah
wafat ketika aku kelas enam SD
mungkin seusia pula dengan ibu itu.
Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku
Tidak pernah.
Semoga sorga firdaus jua
Bagi ibu bapakku
Panas
mengembang di atas pipiku
tak tertahan
titik air mataku.
Taufiq Ismail
1980, 2007
Satu Dia
August 12, 2009 at 2:25 am | In Songs | Leave a CommentTags: bimbo, satu dia
- Bimbo
Oh, embun pagi
Mengapa rindu, tak pernah hilang
Surya di siang, kunanti bila dia kan datang
Bulan dan bintang, katakan padanya
Kutunggu, kunanti
Di tempat yang sama
Ada tiada tetap menyinta
Sehidup semati berdua
Janjimu itu bak pusaka
Jiwa ragaku
Milikmu jua
Oh, burung pipit,
Tolong usir, si kumbang jantan
Hai angin lalu, jemputlah kasihku
Rinduku, cintaku, jangan sampai beku
Oh..oh..oh.. hanya satu dia
Kusanjung dan kumanja
Oh..oh..oh.. hanya satu dia
Kusayang dan kucinta
So Many Books, So Little Time!
August 11, 2009 at 7:09 am | In Books | 1 CommentTags: speed reading, tony buzan

The Speed Reading Book. By Tony Buzan. Published by BBC Worldwide Limited. Revised Edition, 2004. Paperback, 224 pages. ISBN 0 563 48702 X.
Siapa yang tidak kenal Tony Buzan, seorang penulis psikologi populer yang terutama dikenal melalui buku-bukunya tentang otak dan pembelajaran. Atau lebih dikenal juga sebagai penyokong konsep peta pikiran atau mind-map.
Sedikit catatan yang bisa dirangkum dari buku ini—dalam rangka mengkristalisasi apa yang bisa diperoleh dari buku ini. Kalau tidak, lumayan pusing. Karena isinya lumayan detail dan mendalam. Dibuat seringkas dan sepraktis mungkin. Bismillah…
~~~
Isi buku ini dibagi menjadi 5 divisi yang uraian singkat isinya bisa saya tulis sebagai berikut.
Diawali tes sederhana untuk mengetahui kecepatan kita membaca saat ini, sejarah speed-reading, dan definisi baru membaca. (Divisi 1)
Selanjutnya membahas hal-hal teknis sebagai berikut: bagaimana mengontrol pergerakan mata, dengan disertakan teori dan pengetahuan dasar mengenai mekanisme kerja mata dalam membaca—ternyata, banyak fakta menarik mengenai mata¹; bagaimana menciptakan kondisi lingkungan eksternal dan internal yang mendukung; pentingnya menggunakan jari atau alat lain sebagai alat bantu penunjuk untuk memandu mata agar terfokus pada materi bacaan, beserta teknik-tekniknya (meta-guiding techniques), juga latihan-latihan dasar untuk meningkatkan kemampuan ini yang selalu disertai penjelasan prinsip kerja teknik-teknik tersebut. Termasuk didalamnya mengenai skimming dan scanning. (Divisi 2)
Kemudian untuk meningkatkan kecepatan membaca, konsentrasi dan pemahaman dibahas juga mengenai: meningkatkan kecepatan membaca metode metronome; kendala-kendala teknis dan internal membaca yang biasa terjadi berikut penanganannya; keterampilan pendukung yang juga penting seperti metode mind-mapping, pengetahuan mengenai struktur paragraf, teknik preview dan peran pentingnya, teknik meningkatkan penyerapan kosa kata (dalam hal ini kosakata bahasa Inggris). (Divisi 3-4)
Bagian terakhir membahas teknik mind-map lanjutan; teknik membaca majalah, surat kabar, dan layar komputer; teknik membuat arsip terorganisir dari apa-apa yang kita baca; dan bagaimana membaca untuk dapat menikmati karya sastra dan puisi. (Divisi 5)
Setiap bab diakhiri latihan, sehingga selama membaca buku ini kita bisa selalu mengetahui berada dimanakah kita saat ini. Pada awal dan akhir setiap bab terdapat preview dan catatan poin-poin penting untuk diingat. Meski karena terlalu banyak tampilan ini membuat saya malah jadi pusing. Karena pusing inilah resume ini dibuat. When I ask myself, what I have had from this book? My mind turns flustered. Selain untuk melatih kemampuan transfer pemahaman dalam rangka latihan menerjemah.
~~~
Membaca adalah suatu kegiatan yang sangat penting dan diperlakukan sebagai ritual penting. Itu yang bisa saya tangkap dari apa yang dipaparkan buku ini. Orang-orang besar hampir selalu seorang pembaca buku. Di buku ini disebutkan beberapa tokoh master speed-reading, yang tiga diantaranya adalah presiden Amerika, yaitu Thomas Jefferson, F. D. Roosevelt, dan John F. Kennedy. Hmmm…, kalau tokoh negarawan kita dulu yang pembaca sekaligus pencinta buku banyak. Tapi presiden kita, menteri kita, pejabat dan tokoh politik kita sekarang yang gila-gilaan cinta buku, ada? Negarawan kita dulu, yang pencinta buku, bisa saya sebut disini seperti Bung Hatta, Agus Salim, Natsir, … siapa lagi ya?
Di bawah ini beberapa langkah praktis yang bisa saya rangkum untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dalam membaca, baik kecepatan, konsentrasi dan pemahaman. Setidaknya inilah yang pertama-tama bisa diterapkan. Kendati sasaran buku ini adalah menciptakan speed-readers dengan kemampuan membaca sampai sekian ribu kpm. OK, here it is…
Konsentrasi seperti kuda jantan. Anda adalah pengendara. Terserah Anda mau menjadi pengendara yang baik atau tidak. -Concentration is like a stallion. You are always riding it. It is up to you to become a good rider!
Pertama-tama, siapkanlah waktu khusus. Waktu yang kita rasa paling pas untuk berkonsentrasi pada materi bacaan—didapat melalui pengalaman; cobalah melakukannya pada berbagai waktu, pagi hari, siang, sore, atau malam; dan tentukan mana waktu yang paling pas untuk Anda.
Kemudian, kondisikan lingkungan eksternal dan internal sebaik mungkin, meliputi hal-hal berikut. Pencahayaan sebaiknya tidak terlalu redup dan tidak terlalu terang. Arah sumber cahaya paling baik ditempatkan hingga cahaya datang dari sebelah kiri atas. Posisi terbaik adalah duduk dengan punggung tegak, tinggi kursi sedemikian hingga ketika duduk posisi paha sejajar lantai. Tinggi meja 20 cm diatas kursi (ukuran tinggi ergonomis orang sana ya). Sediakan segala sesuatu yang mungkin diperlukan sedekat mungkin. Jarak mata terhadap buku tidak kurang dari 50 cm. Hindarkan interupsi. Pastikan kondisi kesehatan Anda baik.
Know the map if you wish to know the territory.
Masuk pada prosesi membaca. Lakukan preview terhadap isi buku untuk memperoleh gambaran umum—general overview—atau struktur isi buku. Ini penting untuk menentukan target, rencana aksi, dan target spesifik untuk setiap topik yang dibaca. Berusahalah untuk tidak menyalahi rencana sesuai waktu yang sudah ditentukan. Penting juga pada bagian ini mencari tahu tentang penulis, latar belakang, dan ke arah mana buku akan berbicara. Karena, minat Anda terhadap materi bacaan akan memberi peningkatan kecepatan, konsentrasi, dan pemahaman yang sangat berarti.
Ukuran pupil mata berubah menyesuaikan diri terhadap kondisi cahaya; dan ditemukan bahwa ukuran pupil juga berubah terhadap emosi. Ketika menemukan sesuatu yang menarik hatimu (co’/ce’ cakep, misalnya) ukuran pupil akan membesar. Begitupun dalam membaca, ketika menemukan sesuatu yang menarik, tanpa perlu bersusah payah, otak akan menerima lebih banyak dari mata. Setiap mata kita memiliki 130 juta sel penerima-cahaya. Dan setiap sel penerima-cahaya dapat mengambil sedikitnya 5 foton per detik. (hal. 43)
Pada saat membaca, gunakanlah jari atau alat penunjuk lain yang bisa digunakan untuk memandu mata. Alat penunjuk ini harus kecil agar tidak menutupi materi bacaan. Membacalah dengan kecepatan normal. Ada pemahaman salah selama ini, bahwa membaca perlahan dan hati-hati akan mendapat pemahaman lebih baik. Dan membaca cepat mengurangi pemahaman. Terdengar logis, tapi hasil pengamatan menunjukkan lain. Bahwa semakin cepat Anda membaca, semakin baik pemahaman Anda. Otak Anda tidak didesain untuk membaca secara perlahan. Membaca perlahan dan hati-hati membuat otak membaca lebih dan lebih lambat lagi dengan pemahaman yang sedikit dan usaha yang payah. Ketika kecepatan membaca meningkat, pemahaman pun meningkat. Kemampuan mengingat juga akan meningkat, karena memori juga bekerja di atas kemampuan otak untuk mengorganisasi penggalan-penggalan informasi.
Bagaimana sebetulnya mata membaca? Mata membuat lompatan-lompatan kecil yang tetap. Mempertahankan pandangan lalu melompat lagi, demikian seterusnya. Sehingga untuk membaca satu halaman, mata tidak bergerak perlahan pada seluruh bagian halaman, melainkan bergerak dalam lompatan kecil dari kiri ke kanan, berhenti sebentar—pausing, ini yang disebut fixation time—untuk menyerap satu atau dua kata, dan bergerak melompat lagi. Informasi diserap ketika pada fase berhenti. Dan ini menghabiskan waktu. Latihan speed-reading memperpendek waktu henti ini. (hal. 44)
Ketika Anda mengalami stuck pada suatu bacaan, jangan berhenti atau balik lagi (back skipping or regretion), lanjutkan saja. Pemahaman akan diperoleh seiring konteks yang lebih luas. Ambil jeda setiap 30-60 menit untuk meningkatkan konsentrasi dan memberi mata dan otak kesempatan untuk istirahat.
Isi buku ini jauh lebih luas. Banyak fakta ilmiah mengenai mata dan otak; kaya dengan teknik-teknik untuk meningkatkan kemampuan membaca super cepat. Tetapi tulisan ini bisa jadi sangat panjang. Bagusnya baca sendiri. Tidak rugi kok.
Sebagai penutup, saya kutipkan penggalan berikut.
Brain Reading – Memasuki abad 21, ada sebuah revolusi kesadaran bahwa bukanlah mata yang melakukan kegiatan membaca, melainkan otak. Membaca lebih sebagai fungsi otak dibanding fungsi mata. Terdapat jutaan facet optik pada mata, dan otaklah yang mengendalikannya. Cahaya yang diterima oleh retina ditransmisikan oleh saraf optik ke otak bagian visual—lobus occipital. Dan lobus occipital ini letaknya di bagian belakang kepala, bukan dibelakang mata. Lobus occipital inilah yang melakukan kegiatan ‘membaca’, mengarahkan mata pada hal-hal yang menarik menurutnya. (hal. 43)
Semoga bermanfaat.
Happy reading.
—
[1] The Cerne Laboratory di Switzerland menyatakan: Diperkirakan diperlukan biaya sekitar 68 juta dollar untuk membuat sebuah mesin yang bisa menduplikasi kecanggihan mata. Tetapi mesin ini kemungkinan tidak dapat bergerak-gerak seperti bola mata dan ukurannya bisa jadi sebesar rumah. Subhanallah…, Maha Besar Allah dengan segala Kekuasaanya.
One Day in Your Life
July 7, 2009 at 7:47 am | In Songs | 1 CommentTags: jacko
-Michael Jackson
One day in your life
You’ll remember a place
Someone touching your face
You’ll come back and you’ll look around you
One day in your life
You’ll remember the love you found here
You’ll remember me somehow
Though you don’t need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You’ll remember one day . . .
One day in your life
When you find that you’re always waiting
For a love we used to share
Just call my name, and I’ll be there
One day in your life
When you find that you’re always lonely
For a love we used to share
Just call my name, and I’ll be there.
Prinsip-prinsip Pikiran
June 16, 2009 at 8:04 am | In Life | 2 CommentsTags: arvan pradiansyah, pikiran
Tulisan di bawah adalah rangkuman dari tiga rangkaian acara talkshow Arvan Pradiansyah di Smart FM 95.9 bertajuk Smart Happiness, setiap Jum’at jam 07.00 WIB. Tiga pertemuan masing-masing tanggal 29 Mei, 5 Juni dan 12 Juni 2009 membahas satu topik yang sama: Prinsip-prinsip Pikiran.
Materi ini sendiri dirangkum dari bukunya Arvan Pradiansyah yang berjudul The 7 Laws of Happiness. Jadi kalau penasaran dan ingin tahu lengkapnya, beli dan bacalah bukunya. Saya sendiri belum membaca bukunya (belum beli pula
).
Menurut Arvan, kunci kebahagiaan itu letaknya pada ‘pikiran’, yaitu pada bagaimana kita mengelola pikiran. Tidak ada yang lebih dahsyat di dunia ini selain pikiran. Dan pikiran inilah yang membedakan manusia dengan yang bukan manusia.
Ketidaksempurnaan itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Tuhan mengutus kita ke dunia ini untuk menyempurnakan hidup kita. Dan segala sesuatu selalu memiliki bright side dan dark side. Tetapi keputusan untuk bahagia ada pada tangan kita, kitalah yang memutuskan untuk tidak diperbudak oleh pikiran-pikiran kita.
Prinsip 1 – Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.
Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menyebutkan kita bisa memilih untuk bersikap proaktif atau reaktif. Menjadi proaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan positif, dan menjadi reaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan negatif dalam menyikapi sesuatu. Arvan said, memilih tindakan akan memberikan Anda kesuksesan, tetapi memilih pikiran memberi Anda kebahagiaan.
Ilustrasinya seperti ini. Ketika datang peminta sumbangan ke kantor Anda, dan Anda sedang berada bersama rekan-rekan dan beberapa bawahan Anda. Kemudian Anda memberikan sumbangan yang cukup besar, karena, Anda merasa perlu menjaga image Anda sebagai seorang yang dermawan.
Analisisnya, secara tindakan Anda jelas sukses, image Anda terjaga. Tetapi secara pikiran, apakah Anda bahagia? Jawabannya tidak. Karena Anda menyumbang bukan atas dasar keinginan Anda, melainkan karena faktor luar. Anda sama sekali tidak memenuhi need Anda, dan Anda tidak bahagia.
Prinsip 2 – Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.
Pikiran adalah induk dari segalanya. Mari kita lihat ilustrasi berikut. Anda menerima sebuah sms dari seorang teman yang isinya tidak baik. Anda kecewa, sedih, sebel dan mungkin ngomel. Tetapi, tidak lama kemudian kawan tadi sms lagi, meminta maaf bahwa ia tadi salah kirim sms. Bagaimana perasaan Anda? Sampai disini terungkap bahwa perasaan Anda ditentukan oleh pikiran Anda.
Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.
Prinsip 3 - Pikiran kita tidak dapat membedakan mana kejadian yang sudah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi.
Begitu Anda memikirkan kejadian yang pernah Anda alami, walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi. Contohnya, jika Anda pernah memiliki suatu pengalaman yang sangat menyenangkan (mengesankan) atau sangat menyedihkan berpuluh tahun yang lalu, ketika Anda memikirkannya lagi, akankah sensasi rasa senang atau rasa pedih yang pernah dirasakan itu terasa kembali?
Prinsip 4 – Pikiran adalah gladiresik dari semua tindakan.
Peribahasa mengatakan, You are what you think. Arvan said, You are what you repetitively think. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah hasil dari pikiran yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Artinya, masa depan dapat kita ciptakan.
Kita harus benar-benar memilih dan memilah pikiran-pikiran yang masuk ke dalam pikiran kita. Setiap pikiran yang masuk tidak selalu serta merta dapat diwujudkan. Ia akan mengendap menjadi sebuah keinginan pasif, yang menunggu diaktifkan. Ketika ada suatu rangsangan yang mengaktivasi maka ia akan terwujud dalam bentuk tindakan.
Contoh sederhananya, ketika ingin membeli suatu barang, terkadang kita tidak bisa langsung membelinya. Setelah diincer cukup lama, dan kondisi keuangan sudah mendukung, barulah barang tersebut bisa kita beli.
Atau yang agak ekstrim, proses selingkuh. Ketika kondisi belum mendukung, mungkin hal itu hanya sesuatu yang sekedar terbersit di pikiran. Lalu ketika kondisi luar mendukung, seperti kondisi financial, ada lawan main, maka teraktivasilah keinginan pasif tadi menjadi sebuah tindakan.
Prinsip 5 – Kita sadar ketika pikiran-pikiran positif masuk ke dalam pikiran kita. Namun, seringkali kita tidak sadar ketika pikiran-pikiran negatif masuk ke dalam pikiran kita. Karenanya kita harus selalu dalam kondisi ‘alert‘.
Contohnya, kita sadar ketika kita sedang berada di masjid, atau di gereja, atau sedang mengikuti training-training motivasi, bahwa kita sedang memasukkan makanan positif ke dalam pikiran kita. Tetapi seringkali kita tidak sadar ketika menonton televisi, ketika berjalan-jalan di mall, bahwa segala sesuatu yang kita lihat bisa saja menimbulkan hasrat-hasrat negatif yang terlintas begitu saja tanpa kita sadari.
Prinsip 6 - Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu berpikir, memasukkan makanan ke dalam pikiran kita. Pikiran kita senantiasa sibuk.
Oleh karena itu, ketika ada masalah, endapkanlah dulu. Ketika mau tidur hendaklah berdo’a, menyerahkan masalah tersebut pada Tuhan dan meminta diberi petunjuk agar keesokan hari dapat berpikir dengan jernih demi mencari solusinya. Dengan begini, ketika tidur nanti, bawah sadar kita akan berproses. Apalagi kalau sudah dibimbing Tuhan. Dalam hal ini kita berserah, surrender. Artinya, menyerahkan apa yang tidak bisa kita lakukan kepada Tuhan, ketika kita overwhelmed. Surrender, damai, tenang.
Prinsip 7 – Pada saat kepala kita terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.
Tahu dari mana kalau kita kurang sehat? Tentunya dari tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan. Sekarang, tahu dari mana kalau kepala kita sudah terinfeksi oleh pikiran negatif? Jawabnya adalah, dari perasaan (feeling) kita.
Perasaan adalah barometer untuk mengetahui keadaan kita. Perasaan negatif adalah barometer bahwa telah ada makanan negatif yang masuk ke pikiran kita. Tuhan menurunkan perasaan sebagai barometer pikiran kita.
Ketika ada pikiran negatif masuk, kita bisa switch saat ini juga. (Dengan catatan pikiran negatif itu belum mengendap dalam bawah sadar kita. Jika sudah masuk dalam bawah sadar, megubahnya tidak semudah itu. Perlu reprogramming, ada tekniknya, seperti hipnoterapi dan sejenisnya.)
Prinsip 8 – Kemampuan kita untuk mengendalikan pikiran kita seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.
Rumus dari latihan ini adalah, selalulah mengawasi makanan yang masuk ke dalam pikiran kita, indikasinya adalah perasan kita.
Prinsip 9 – Kita hanya bisa memikirkan satu hal. Jika kita memikirkan hal yang positif, maka hal yang negatif akan pergi. Begitu juga sebaliknya.
~~~
Kebahagiaan itu adalah hasil pilihan pikiran. Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.
Jagalah hati! Tentunya yang dimaksud hati disini adalah qalbu. Bukan hati sebagai organ hati. Qalbu dalam subsistem jiwa menjadi pusat perasaan. Qalbu berbentuk spiritual, sehingga sulit dikelola secara langsung. Berkaitan dengan hal ini, Arvan Pradiansyah menyodorkan sebuah terobosan. Menurutnya yang menjadi pusat segalanya adalah PIKIRAN.
Pikiran adalah sumber dari segalanya. Dimana letak pikiran? Dengan mudah kita akan menunjuk kepala kita. Pikiran bersifat abstrak, tetapi pikiran memiliki bentuk real sebagai organ otak. Bila diibaratkan, otak adalah hardware dan pikiran adalah software-nya.
Di dalam otaklah segala data dan informasi yang kita terima diolah. Segala jenis kecerdasan pun berpusat di otak. Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (SQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) ~God spot, semuanya terdapat di otak.
Maka, terkait hadits Nabi yang berbunyi, ”Sesungguhnya di dalam diri setiap orang ada segumpal daging. Bila daging itu sehat maka sehatlah seluruh tubuh orang itu, tetapi bila daging itu sakit maka rusaklah seluruh tubuh orang tersebut”, Arvan merasa yakin bahwa yang dimaksud “segumpal daging” tersebut adalah otak.
Semoga bermanfaat.
PS. Terkait paragraf terakhir mengenai otak yang diyakini Arvan menjadi pusat ’segalanya’, saya pernah membaca dua artikel Jalaluddin Rakhmat di facebook page-nya, yang juga menyatakan hal senada. Ada teman yang menyimpannya di halaman ini. Ada pro dan kontra, sudah tentu. Banyak hal bisa diterima, selain kemudian muncul berbagai pertanyaan akan hal yang sudah mapan.
Next what..? Wallahu ‘alam bishawab. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Tuhan mengilhamkannya pada manusia untuk menyempurnakan kehidupannya.
Menangislah!
June 15, 2009 at 7:56 am | In Poems | Leave a CommentTags: matsnawi, rumi
Matsnawi, Buku Kelima 65-149
Terjemahan: Jalaluddin Rakhmat
Karena tangisan awan, taman pun tersenyum
Karena tangisan bayi, air susu pun mengalir
Pada suatu hari ketika bayi tahu cara, ia berkata
“Aku akan menangis agar perawat penyayang tiba”
Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat Agung
Tidak akan berikan susu jika kamu tidak meraung
Tuhan berfirman, “Menangislah sebanyak-banyaknya”
Dengarkan, anugrah Tuhan kan curahkan air susunya
Tangisan awan dan panas mentari
Adalah tiang dunia, rajutlah keduanya
Jika tak ada panas mentari dan tangisan awan
Mana mungkin bakal kembang semua badan
Mana mungkin musim silih berganti
Jika kemilau dan tangis ini berhenti
Mentari yang membakar dan awan yang menangis
Itulah yamg membuat dunia segar dan manis
Biarkan matahari kecerdasanmu terus-menerus terbakar
Biarkan matamu, seperti awan, kemilau karena airmata yang keluar
Menangislah seperti rengekan anak kecil, jangan makan rotimu
karena roti jasmanimu akan mengeringkan air ruhanimu
Ketika tubuhmu rimbun dengan dedaunan yang subur
Siang malam batang rohmu melepaskannya seperti musim gugur
Kerimbunan tubuhmu adalah kerontangan rohmu
Segeralah, jatuhkan tubuhmu, tumbuhkan rohmu!
Pinjami Tuhan, pinjamkan kerimbunan tubuhmu
Tukarkan dengan taman yang merkah dalam jiwamu
Berikan pinjaman, kurangi makanan badanmu
Biar tampaklah muka yang dulu tak terlihat matamu
Ketika badan mengeluarkan semua kotoran keji
Tuhan mengisinya dengan mutiara dan kesturi
Orang itu telah menukar kotoran dengan kesucian
Dari “Dia sucikan kamu” ia peroleh kenikmatan
Lewat Semesta
June 12, 2009 at 8:04 am | In Songs | Leave a CommentTags: lewat semesta
Song by: Randy Pangalila
Satu kata bertulis cinta
Telah merasukiku
Tak berwujud tak tersentuh
hanya ku rasa
Dan jika wujudnya menjelma
Pada sebentuk hati
Bukankah itu amanah dari Yang Kuasa
Menjaganya…
Menjaganya…
Wahai insan yang di sana
Mungkin saja ini kau dengar
Melewati semesta ini
Aku sampaikan
Begitu ingin berbagi batin
Mendengarkan hasrat di jiwa
Oh Tuhan, pertemukan aku
Sebelum hatinya beku
Dan Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-kata
June 1, 2009 at 2:24 am | In Life, Poems | 1 CommentTags: dan perjuangan adalah, rendra
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
adalah pelaksanaan kata-kata.
- Cuplikan pidato kebudayaan Rendra di TIM, 10 November 1997.
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
~~~
“Di dalam perutku
kakimu bergerak terasa perkasa.
Tendangan yang mencerminkan keberanian.
Apakah kamu keberanian di dalam diriku?
Keputusan sudah aku ambil, anakku.
Memberi kesempatan kamu bicara
lebih berharga dari takut kepada dunia.
Melihat keuletanmu di dalam kandungan
aku segera menyadari
bahwa berhadapan dengan segala derita
ternyata aku punya keuletan.”
~ Rendra. Dari kumpulan sajak Perjalanan Bu Aminah (1997).
Apakah kamu keberanian di dalam diriku? Keputusan sudah aku ambil. Memberi kesempatan kamu bicara, lebih berharga dari takut kepada dunia.
…aku segera menyadari, bahwa berhadapan dengan segala derita, ternyata aku punya keuletan.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.








