Bulan Langlayangan Peuting
January 3, 2012 at 3:26 pm | Posted in Lirik Lagu | Leave a commentTags: kacapi, lagu sunda, loves me, mang koko
Bulan téh langlayangan peuting
nu ditatar dipulut ku tali gaib
entong salempang mun kuring miang
ditatar ti Tatar Sunda
dipulut nya balik deui ka dieu
ieuh, masing percaya.
Bedil geus dipéloran
granat geus disoréndang
ieu kuring arék miang
jeung pasukan Siliwangi
ka Jogja hijrah taat paréntah.
Bulan téh langlayangan tineung
nu ngoleang dipulut ku angin gaib
entong salempang mun kuring anggang
kapirarai tanah Sunda
kacipta mun balik enung mapagkeun
ieuh, di dora lembur.
Bedil geus dipéloran
granat geus disoréndang
ieu kuring arék miang
jeung pasukan nusaati
ka wétan muru bijil balebat.
(Syair gubahan Mang Koko)
—
Waktu kecil suka sekali lagu ini. Alat musik yang mengiringinya disebut kacapi. Nemu lagi lagu ini di blog The Kabayan World. Eh, di Wikipedia Bahasa Inggris ada contoh suara kacapinya, di sini.
99 Cahaya di Langit Eropa
December 18, 2011 at 11:03 am | Posted in Buku-buku | Leave a commentTags: al-hambra, sejarah islam

99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa. Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan kedua: Agustus 2011. ISBN: 978-979-22-7274-1
Michael Crichton bilang: If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. Barangsiapa tidak mengenal sejarah, ia tidak mengenal asal-usulnya. Seperti daun yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah pohon.
Dan George Santayana mengatakan: Those who cannot remember the past are condemned to repeat it. Barangsiapa tidak belajar dari sejarah, ia dihukum untuk melakukan hal yang sama.
Sejauh mana kita mengenal diri kita dan sejarah keberadaan diri kita? Sebagai umat Islam, sejauh apa kita mengenal Islam kita, sejarahnya, keberadaannya? Membaca novel ini, kita diajak menapaki jejak-jejak sejarah Islam di benua Eropa beberapa abad lalu. Melihat sisa-sisa peninggalannya secara fisik, juga melihat bagaimana keberadaan Islam dalam kehidupan Eropa di masa lalu dan kini.
Untuk serunya, silakan dibaca novelnya, hehe. Dibagi dalam empat bagian: Wina, Paris, Cordoba & Spanyol dan Istanbul. Intinya.. berkisah tentang perjalanan penulisnya selama 3 tahun tinggal di Eropa. Di mana ia berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Eropa, sebuah tempat dimana Islam adalah minoritas, namun disanalah justru penulis menemukan kembali Islamnya—mengenal kembali Islam dengan cara berbeda. Perjalanan ini mengantarnya menuju titik awal; membawanya menemukan jalan pulang, katanya.
Selain bicara tentang sejarah, di sini juga ada cerita tentang bagaimana menjadi agen Muslim yang baik. Yaitu dengan menebar kebaikan dan sikap positif, sembari memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Bahwa Islam identik dengan kasih sayang, bukan bom, senjata dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.
~
Dari banyak hal, satu bagian yang membuat hati saya bergetar adalah cerita tentang Istana Al-Hambra. Al-Hambra adalah sebuah kompleks istana yang didirikan Bani Umayyah pada pertengahan abad ke-13 di Granada, Andalusia, Spanyol. Istana yang, sungguh menakjubkan! Betapa cerminan sebuah peradaban yang sangat tinggi yang telah pernah ada. Namun, disinilah Mohammad Boabdil, sultan terakhir di Granada, menyerahkan kunci istana ini kepada Isabella dan Ferdinand, tanda ia menyerahkan diri.
Dan di sebuah tempat yang kemudian disebut ‘The Last Moor’s Sigh’, Boabdil—yang asli bangsa Moor—memandang Granada terakhir kali. Di tempat itu, Boabdil menangis dan berdoa agar rakyatnya lebih sejahtera dan tak terusik keimanannya di tangan Isabella dan Ferdinand. Melihat itu ibunya berkata: Weep then like a woman, over that which you could not defend like a man.
Namun, sayang seribu sayang, Isabella dan Ferdinand membuyarkan harapan Boabdil. Sepuluh tahun setelah itu, mereka memerintahkan pembaptisan massal terhadap seluruh penduduk, baik Islam maupun Yahudi. Perbuatan yang sesungguhnya tidak direstui oleh penduduk asli Granada yang memeluk Kristen sekalipun.
Mengenai keindahan Istana Al-Hambra, silakan googling. Ini hanya sebagian kecil yang membuat saya takjub: Ukiran ayat-ayat al-Quran terpahat pada setiap sudut, atap, dinding dan pilar-pilar pualam. Gambar di samping adalah salah satu dekorasi langit-langit bermotif sarang lebah, atau stalaktit, atau muqarnas, atau mocárabe—salah satu elemen arsitektur Islam yang sangat mengagumkan. Saya terobsesi ingin menyentuh pahatan kaligrafi dan ceruk stalaktit sarang lebahnya. :) Klik gambarnya untuk melihat ukuran besar. Sudah di klik? Menakjubkan, kan? Amazing, great, excellent!
Kembali ke laptop.. hehe. Berikut tempat-tempat yang dikunjungi penulis—tempat-tempat yang kemudian menjadi catatan sebuah perjalanan pencarian.
Austria: Bukit Kahlenberg, Wien Stadt Museum, Vienna Islamic Centre, Schatzkammer Museum (Book of Roger, Katedral Pallermo di Sisilia). Paris: Museum Louvre (Section Islamic Art Gallery dan Paintings Department of Middle Age), Axe Historique (garis imajiner lurus yang tepat membelah kota Paris; Voie Triomphale, Napoleon Code), Gereja Notre Dame. Cordoba: Mezquita. Granada: Al-Hambra. Istanbul: Hagia Sophia, Blue Mosque, Istana Topkapi.
Mengenai ada apa saja di tempat-tempat ini, sekali lagi, silakan baca bukunya. Bukan promosi, tapi mari membaca sejarah. :) Nah, yang ini, bagian favorit saya. Saya kutip langsung dari bukunya:
(273) … yang menarik, arah mihrab Mezquita dibangun tidak sepenuhnya menghadap kiblat di Mekkah. Penguasa saat itu, Sultan Al Rahman, sengaja membuatnya begitu. Mengapa? Karena—ini ada hubungannya dengan bagaimana Cordoba bisa menyandingkan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan begitu indah—di sebelah masjid ada gereja yang sudah lebih dulu berdiri di situ. Jika memaksakan arah mihrab ke arah tenggara (arah Mekkah), mau tak mau gereja kecil itu harus dirobohkan. Sultan tak mau melakukannya. Betapa Islam sangat menghormati pemeluk agama lain.
Dan meskipun mihrab itu dibangun ke selatan, pada praktiknya orang-orang tetap sholat sedikit menyerong ke tenggara. Sehingga esensi arah kiblat ke tenggara tidak tergadaikan hanya karena letak dinding gereja kecil itu.
Al Rahman melegakan dua kepentingan yang berbeda. Tidak melukai keimanannya, juga tidak melukai perasaan warganya yang Kristen.
(283) Cordoba besar karena masyarakatnya merayakan perbedaan dengan semangat melahirkan penemuan-penemuan bidang teknologi, hukum-hukum bermasyarakat, hingga kesenian, musik, dan puisi.
Refleksi (Diadaptasi dari Prolog & Epilog buku ini.)
Betul, bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Betul, bahwa Islam-lah (Cordoba) yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato dan Socrates hingga Eropa mencapai masa pencerahan (renaissance). Betul, bahwa Cordoba pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia. Tetapi kemudian apa yang membuat cahaya ini redup? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama? Apa yang harus kita lakukan agar cahaya itu kembali menerangi kita di abad ini?
Betul, bahwa umat Islam terdahulu adalah “traveller” tangguh, jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan dan Columbus menemukan benua Amerika. Betul, bahwa saat itu musafir-musafir Islam telah menyebrangi 3 samudra hingga Indonesia, China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Tetapi persoalannya sekarang adalah, bagaimana agar dakwah bisa bersatu lagi dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Kita terlalu sibuk dengan kata jihad yang dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan). Bukankah ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad adalah: Iqra’. Bacalah. Bismirabbikalladzii kholaq. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). Bukankah, peradaban Islam dibangun di atas peradaban literer (tradisi baca-tulis). Sebagaimana Tuhan memerintahkan kalam-Nya untuk disampaikan dan dituliskan. Lantas, bagaimana agar retorika teriakan jihad tidak sekedar jadi tindakan mandul karena kita dihadapkan pada realitas: ketidakmampuan melindungi diri karena ompong dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebagai penutup, saya kutip kalimat ini: Esensi sejarah bukan pada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan. (310)
Mari renungkan.
Dan, selamat membaca.
Tuhan Tahu
December 14, 2011 at 1:55 pm | Posted in Puisi | Leave a commentTags: Tuhan tahu
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya
dari usaha yang sepertinya sia-sia,
TUHAN tahu betapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama
dan hatimu masih terasa pedih,
TUHAN sudah menghitung air matamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu
dan waktu serasa berlalu begitu saja,
TUHAN sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian
dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon,
TUHAN selalu berada disampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya
dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi,
TUHAN punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal
dan kau merasa tertekan,
TUHAN dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan,
TUHAN sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar
dan kau merasa ingin mengucap syukur,
TUHAN telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi
dan kau dipenuhi ketakjuban,
TUHAN telah tersenyum padamu.
Ketika kau memilih tujuan untuk dipenuhi
dan mimpi untuk digenapi,
TUHAN sudah membuka matamu
dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau berada
atau kemanapun kau menghadap, TUHAN TAHU.

Warna-Warni Homeschooling
November 29, 2011 at 3:02 am | Posted in Buku-buku, Pendidikan | Leave a commentTags: charlotte mason, home-education, homeschooling, indonesia bisa, pendidikan, pendidikan rumah
Warna-warni Homeschooling. Penerbit Elex Media. Februari, 2009. 110 halaman. ISBN: 978-979-27-4384-0.
Mengenai apa itu homeschooling (jika belum mengenalnya), pernah saya tulis sedikit di sini. Dari catatan pengantar: Buku ini berisi kumpulan tulisan dari beberapa keluarga homeschooling Indonesia yang aktif di milis SekolahRumah.
Tulisan-tulisan dikelompokkan ke dalam 7 bagian: Menghargai Keragaman, Peluang dan Masa Depan Anak Homeschooling, Model dan Metode Homeschooling, Kurikulum dan Standar Homeschooling, Bahan Belajar Homeschooling, Evaluasi Homeschooling, Ide Belajar & Kegiatan Homeschooling.
Dari judul ketujuh bagian di atas, sudah bisa dibayangkan isinya, kan? Ditulis dalam bentuk tulisan-tulisan pendek dan ringan, berdasarkan pengamatan dan pengalaman nyata dari para praktisi selama menjalankan HS sehari-hari. Dari yang filosofis sampai yang praktis.. Memberi gambaran lengkap tentang apa dan bagaimana HS dan praktiknya. Bagi Anda yang berminat atau sedang mencari informasi mengenai pendidikan berbasis keluarga atau homeschooling, mungkin buku ini wajib dibaca.
Tulisan-tulisan di buku ini: Menginspirasi. Ringkas, tapi kaya dan warna-warni.
Salah satu cerita favorit saya, “Homeschooler Inggris Pecinta Indonesia”, ditulis oleh Yanuar Nugroho, dosen dan peneliti di Manchester University, Inggris, praktisi homeschooling untuk kedua putranya. Saya kutip utuh. Ini dia:
Pagi ini tanpa persiapan saya tiba-tiba diminta bergabung dengan komite seleksi mahasiswa doktoral dari jurusan tetangga (studi pembangunan). Mahasiswa itu mau mempelajari soal Indonesia. Maka saya diajak mewawancarainya.
Bagi seorang yang bukan Indonesia, pengetahuannya luar biasa. Ia ingin meneliti soal peran kearifan dan pengetahuan tradisional (indigenous wisdom and knowledge) dalam pembangunan. Waktu saya dapat giliran bertanya, setelah bertanya macam-macam soal landasan teori dan lain-lain, saya tanya dia, “Mengapa kamu berminat mempelajari Indonesia?”
Dia jawab kira-kira begini, “Indonesia itu negara besar. Setidaknya, ia akan besar suatu hari. Memang sayang sekali itu tidak tercermin dalam kinerjanya baik dalam dunia akademik maupun pembangunan saat ini. Tetapi itu tinggal tunggu waktu. Saya kira saya ingin menyumbangkan sesuatu pada Indonesia.”
Hmmm.. lalu saya tanya lagi, “Dari mana kamu tahu soal Indonesia?”
Dia jawab, “Oh, itu saya tahu karena saya belajar sendiri di rumah. Saya dulu tidak sekolah.”
Saya kaget, “Tidak sekolah?” kejar saya. Dia jelaskan, “Orang tua saya meng-‘home-ed’ (home education/homeschooling) saya hingga saya selesai A-level. Saya suka sekali mempelajari Indonesia. Saya belajar banyak tentang sejarah Indonesia. Karena itulah saya ingin meneruskannya. lalu saya kuliah sarjana dan kini langsung mencoba doktor tanpa lewat master.”
Saya tanya lagi, “Kamu pernah ke Indonesia?”
“Belum. Tapi saya pasti akan ke sana dalam fieldwork saya. Saya juga belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit, lho.” (sambil tersenyum), lalu bilang, “selamat siang, pak” (dalam bahasa Indonesia.
Saya ketawa.
Waktu kami reses, kolega senior saya yang memimpin sidang wawancara itu bertanya apa saya merekomendasikannya diterima. Saya bilang, bacalah proposalnya. Itu saja kriterianya. Memang, proposalnya jauh lebih bagus—lebih dalam, lebih kritis—dari rata-rata kandidat doktor lainnya yang melamar yang punya gelar master. Dan memang benar, baru saja saya dikabari, dia diterima.
Seorang anak muda Inggris, baru 22 tahun, percaya diri, kritis, cerdas. Tidak pernah sekolah formal. Langsung kuliah. Selesai sarjana langsung diterima di jenjang doktoral. Mempelajari aspek tradisional dan pembangunan negara lain karena tertarik dan ingin menyumbang/berbuat sesuatu pada negara itu, yang hanya dikenalnya lewat buku dan film. Luar biasa.
Saya yakin anak-anak muda kita bisa juga melakukan hal yang sama jika mereka dibiasakan berpikir kritis, merdeka, terbuka. Yang dibutuhkan bangsa ini untuk maju adalah anak-anak yang terdidik (tidak selalu berarti tersekolahkan) dengan baik: yang hidup daya nalar dan daya kritisnya.
Dan saya ingin suatu hari bukan hanya kita, tapi dunia yang akan mengatakan “luar biasa” ketika melihat anak-anak Indonesia tersebut berkiprah membangun bangsanya.
##
Nah, bagaimana perasaan Anda setelah membaca kisah di atas? Buat saya.. menarik dan menggelitik. Jadi ingat slogan kebanggaan kita sekarang, Ayo, Indonesia Bisa!
Oh ya, buku ini membuat saya mengenal Charlotte Mason, salah satu metode homeschooling paling populer. Dan seperti cinta yang menemukan bentuknya.. hehe, tepat dua hari setelah saya menulis status ini di Google+, “baca warna-warni HS, dan aku jatuh cinta pada Charlotte Mason, in a glance..,” Bu Ellen, salah satu penulis buku ini, membuat grup Komunitas Charlotte Mason Indonesia di Facebook. Cinta yang tuntas dan tertunaikan. :)
Sebagai penutup, saya kutip kata-kata CM dari Bu Ellen: Memilih opsi pendidikan apa pun, berangkatlah dari apa yang benar-benar kita yakini tentang mengapa, apa, dan bagaimana anak seharusnya belajar.
Selamat megeksplor opsi pendidikan Anda. :)
Nyanyian Langit
November 2, 2011 at 6:39 am | Posted in Lirik Lagu | Leave a commentTags: abah iwan, lagu alam, nyanyian langit
Iwan Abdulrachman
Sore tadi surut perlahan-lahan
Dan bayang-bayang senja merayap satu-satu
Menjemput bintang-bintang yang diam-diam hadir
Kuterpana tiba-tiba bagai dalam mimpi
Langit luas malam ini penuh lagu
Lama kutercenung
Angin semilir mengelus kalbuku
Dan air mata meleleh di dalam hatiku.. Di hatiku
Entah kapan peristiwa begini
Bintang-bintang berbisik.. mmm..
Bernyanyi di hatiku.. mmm..
Malam senyap begini
Kuingin kau berulang
Satu-satu kudatangi kerlip-kerlip ini
Ragu-ragu kuhampiri dalam sepi
Langit yang terkembang
Begini kecil hadirku di sini
Pesona yang dahsyat
Menyergap memukau hatiku.. Jiwaku..
Entah kapan peristiwa begini
Bintang-bintang berbisik.. mmm..
Bernyanyi di hatiku.. mmm..
Malam senyap begini
Bergema penuh lagu
* Dan salah satu keinginan saya yang belum terpenuhi adalah: nonton konser Abah Iwan, live.
Oh! The Places You’ll Go!
September 7, 2011 at 6:23 am | Posted in Buku-buku | Leave a commentTags: buku anak, dr. seuss, favorit, oh the places you'll go
Oh, the Places You’ll Go! Written and illustrated by Dr. Seuss. Terbit pertama oleh Random House, 22 Januari 1990. Hardcover. 22 pages. ISBN 978-0-679-80527-4. Merupakan karya terakhir yang diterbitkan sebelum Dr. Seuss meninggal. Website Dr. Seuss, Seussville.com.
Buku yang sangat menarik. Saya suka konsepnya: cerdas dan realistis. Tidak seperti buku anak kebanyakan yang seringkali menggambarkan dunia yang terlalu indah dan semu (tidak nyata). Karena isinya yang inspiratif, buku ini biasa dijadikan hadiah untuk anak-anak yang baru lulus sekolah katanya. Inspiratif dan penuh pelajaran di dalamnya.
Isi ringkasnya.. Cerita dibuka dengan ucapan selamat dari narator kepada tokoh utama, seorang anak laki-laki yang kemudian disebut sebagai “kamu”, karena hari ini adalah hari dimana ia mulai menjelajahi dunia. Narator berkata, kamu memiliki otak untuk berpikir dan kaki untuk melangkah, untuk memutuskan berjalan atau tidak, dan memutuskan jalan mana yang akan dipilih.
Dalam sebuah perjalanan.. tidak semua hal bisa sesuai yang diharapkan. Ada saat hal baik terjadi, namun juga ada saat hal tidak baik akan terjadi. Ada saat harus mengambil sebuah keputusan dengan segala resikonya. Ada saat harus berjuang sendiri. Tapi, selama punya keberanian untuk melangkah, melakukan hal baru, dan tidak hanya menunggu suatu keberuntungan terjadi (menunggu bukanlah tempat yang baik), serta tetap berhati-hati, maka akankah sukses… “And will you succeed? Yes! You will, indeed! (98 and ¾ percent guaranteed.)” Cerita ditutup dengan open ending, si anak memulai perjalanannya.
Kalau ingin baca teks lengkapnya, saya simpan di bawah, diambil dari sini. Ada juga resume isi buku, di suite101.com. Dan ini versi video yang dibacakan di YouTube. Kalau ingin lihat bagian dalam isi bukunya lebih jelas.. di sini. Dan ini yang keren banget.. video tentang isi bagian dalam buku versi pop-up. Great book. Enjoy! :)
Oh! The Places You’ll Go!
by Dr. Seuss
Congratulations!
Today is your day.
You’re off to Great Places!
You’re off and away!
You have brains in your head.
You have feet in your shoes.
You can steer yourself any direction you choose.
You’re on your own. And you know what you know. And YOU are the guy who’ll decide where to go.
You’ll look up and down streets. Look’em over with care. About some you will say, “I don’t choose to go there.” With your head full of brains and your shoes full of feet, you’re too smart to go down a not-so-good street.
And you may not find any you’ll want to go down. In that case, of course, you’ll head straight out of town. It’s opener there in the wide open air.
Out there things can happen and frequently do to people as brainy and footsy as you.
And when things start to happen, don’t worry. Don’t stew. Just go right along. You’ll start happening too.
Oh! The Places You’ll Go!
You’ll be on your way up!
You’ll be seeing great sights!
You’ll join the high fliers who soar to high heights.
You won’t lag behind, because you’ll have the speed. You’ll pass the whole gang and you’ll soon take the lead. Wherever you fly, you’ll be best of the best. Wherever you go, you will top all the rest.
Except when you don’t.
Because, sometimes, you won’t.
I’m sorry to say so but, sadly, it’s true that Bang-ups and Hang-ups can happen to you.
You can get all hung up in a prickle-ly perch. And your gang will fly on. You’ll be left in a Lurch.
You’ll come down from the Lurch with an unpleasant bump. And the chances are, then, that you’ll be in a Slump.
And when you’re in a Slump, you’re not in for much fun. Un-slumping yourself is not easily done.
You will come to a place where the streets are not marked. Some windows are lighted. But mostly they’re darked. A place you could sprain both your elbow and chin! Do you dare to stay out? Do you dare to go in? How much can you lose? How much can you win?
And if you go in, should you turn left or right…or right-and-three-quarters? Or, maybe, not quite? Or go around back and sneak in from behind? Simple it’s not, I’m afraid you will find, for a mind-maker-upper to make up his mind.
You can get so confused that you’ll start in to race down long wiggled roads at a break-necking pace and grind on for miles across weirdish wild space, headed, I fear, toward a most useless place.
The Waiting Place…for people just waiting.
Waiting for a train to go or a bus to come, or a plane to go or the mail to come, or the rain to go or the phone to ring, or the snow to snow or waiting around for a Yes or No or waiting for their hair to grow. Everyone is just waiting.
Waiting for the fish to bite or waiting for wind to fly a kite or waiting around for Friday night or waiting, perhaps, for their Uncle Jake or a pot to boil, or a Better Break or a string of pearls, or a pair of pants or a wig with curls, or Another Chance. Everyone is just waiting.
No! That’s not for you!
Somehow you’ll escape all that waiting and staying. You’ll find the bright places where Boom Bands are playing. With banner flip-flapping, once more you’ll ride high! Ready for anything under the sky. Ready because you’re that kind of a guy!
Oh, the places you’ll go! There is fun to be done! There are points to be scored. There are games to be won. And the magical things you can do with that ball will make you the winning-est winner of all. Fame! You’ll be famous as famous can be, with the whole wide world watching you win on TV.
Except when they don’t. Because, sometimes, they won’t.
I’m afraid that some times you’ll play lonely games too. Games you can’t win ‘cause you’ll play against you.
All Alone!
Whether you like it or not, Alone will be something you’ll be quite a lot.
And when you’re alone, there’s a very good chance you’ll meet things that scare you right out of your pants. There are some, down the road between hither and yon, that can scare you so much you won’t want to go on.
But on you will go though the weather be foul. On you will go though your enemies prowl. On you will go though the Hakken-Kraks howl. Onward up many a frightening creek, though your arms may get sore and your sneakers may leak. On and on you will hike. And I know you’ll hike far and face up to your problems whatever they are.
You’ll get mixed up, of course, as you already know. You’ll get mixed up with many strange birds as you go. So be sure when you step. Step with care and great tact and remember that Life’s a Great Balancing Act. Just never forget to be dexterous and deft. And never mix up your right foot with your left.
And will you succeed?
Yes! You will, indeed!
(98 and ¾ percent guaranteed.)
Kid, you’ll move mountains!
So…be your name Buxbaum or Bixby or Bray or Mordecai Ale Van Allen O’Shea, you’re off to Great Places!
Today is your day!
Your mountain is waiting.
So…get on your way!
Talatah
July 7, 2011 at 7:45 am | Posted in Lirik Lagu | Leave a commentTags: lagu sunda, talatah
Nia Daniaty
cing hariring pang nepikuen salam kuring
deudeuh, nyaah.. asih tingtrim
naha talatah taya waleran
duh aduh dirungrum kabingung
cenah mah seueur wagelan
piraku rek nyapirakeun
kedah kumaha, kedah kasaha
sono, bogoh… hoyong amprok
paduduaan rek sosonoan
cing kakasih masing tingtrim dina ati
jangji surti masing bukti
jirim kamari ka impi-impi
nung geulis pupujaning ati
sawios abdi nu ngantos
sawios ukur harewos
salam kanyaah, salam katresna
deudeuh nyaah.. salamina
seja talatah kanggo salira
keur kakasih titip diri sakanyeri
abdi jangji satia saati
keur kakasih moal bade nganyenyeri
kanyaah sadaya kanggo salira
imutna, teuteupna, deudeuhna, rindatna
masing percanten
* Download MP3, di sini.
[e-book] Simplicity, Minimalism, The Essentials
June 9, 2011 at 5:38 am | Posted in Buku-buku | 2 CommentsTags: e-book, leo babauta, minimalist, simplicity, zen, zen habits, zen to done
Close both eyes to see with the other eye. #Rumi
Ini foto favorit saya di 2010. Pertama lihat di zenhabits.net, blog keren dari penulis favorit, Leo Babauta. Sudah pada kenal? Fotonya sendiri milik mudeth. Lokasi foto di Coorg, wilayah India Utara. Di puncak Thadiyandamol. Not a very well known place, but that’s probably why it remains beautiful, katanya. Searching di google, ternyata jalur menuju puncak Thadiyandamol adalah jalur trekking keren di India. Cek di sini atau di sini. Apa kesan Anda tentang foto ini?
Zen Habits bicara tentang: achieving goals, productivity, being organized, getting things done, motivation, eliminating debt, saving, getting a flat stomach, eating healthy, simplifying, living frugally, parenting, happiness, and successfully implementing good habits. (Wikipedia)
Atau, penulisnya sendiri bilang: Zen Habits is about finding simplicity in the daily chaos of our lives. It’s about clearing the clutter so we can focus on what’s important, create something amazing, find happiness.
Zen Habits termasuk satu dari Top 25 blogs in the world, dengan 200,000 subscribers. Dua blog Leo Babauta lainnya yang saya ikuti: Write to Done, untuk penulis dan blogger; dan, mnmlist.com, bicara tentang pola dan gaya hidup minimalis.
Mengapa suka konsep zen habits dan minimalis-nya Leo Babauta? Ya, karena saya suka tiga kata ini: simplicity, minimalism and the essentials. Ingin menjadikannya sebagai.. ‘jalan hidup’. :) Saya pikir konsep ini selaras dengan tuntunan agama (saya khususnya), dan selaras dengan kehendak alam. Jadi, baik juga untuk bumi kita. Hitung-hitung, bisa jadi kampanye penyelamatan bumi kecil-kecilan. Bermula dari diri sendiri. Tidak percaya? Baca dan pelajari konsepnya, dech. Bisa baca-baca blognya, atau buku-bukunya yang akan saya daftar di bawah.
Beberapa buku yang sudah saya baca, dimulai dari yang gratisan. Hehe.
- Thriving on Less – Simplifying in a Tough Economy. Yang ini gratis, bisa di unduh di sini. Kapan-kapan saya buatkan ulasan hasil baca saya.
- Focus: A simplicity manifesto in the Age of Distractions. Ada dua versi, versi gratis dan premium. Saya baca yang gratisan. Unduh yang gratisan atau beli yang premium, di sini. Oh ya, ini yang terbaru.
- Zen to Done – Simple Productive. Yang ini tidak gratis, detail buku atau jika ingin beli, di sini. Ulasannya? Ya, kapan-kapan.. :)
Yang belum saya baca, tentunya yang tidak ada versi gratisnya. Hehe. Pesan saya, kalau berminat dengan buku-buku di bawah, untuk pembelian, tolong klik dari sini, karena saya akan mendapat keuntungan (sst.. saya jadi affiliate member untuk penjualan buku-buku ini di blog-nya Leo Babauta). Klik di judulnya ya, jangan dari link lain.. :)
Akun twitter Leo Babauta di @zen_habits. Untuk pemula yang ingin menerapkan zen habits, bisa mulai dari sini: The Beginner’s Guide to Zen Habits: A Guided Tour.
Semoga bermanfaat. Selamat mengunduh ebook gratisnya, dan memaknai konsep zen serta prinsip hidup minimalis. Jika dirasa bermanfaat dan membuat nyaman, selamat menerapkannya! :)
Clone this site at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

