Hari Bumi: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Dari dinding FB Gobind Vashdev, tentang apa yang bisa ia lakukan untuk bumi. Sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Kebetulan ada yang tanya dan pas di Hari BUmi, biarlah status kali ini berkata tentang ibu BUmiku yang tercinta.

Sebagian orang menilai hidup kami (saya sekeluarga) cukup ekstrim.
Ketika orang ramai-ramai mengejar financial freedom dengan mendekat di pusaran uang, kami memilih tinggal di desa.
Di saat industri kesehatan dan farmasi juga pengelolaan makanan telah maju, kami malah meninggalkan obat, dokter dan juga makanan yang diproses.
Kami melahirkan anak kami di rumah, tidak menambahkan vaksin dan produk kimia lainnya, juga termasuk televisi yang memang tidak tersedia di rumah kami.
Sebagian orang terkejut, ketika mengetahui bahwa kami telah bertahun-tahun tidak meletakkan apa yang tidak bisa kami makan ke tubuh, termasuk sabun, shampo, pasta gigi atau produk kimia lainnya.

Yang menarik adalah melihat respon banyak orang ketika mendengar hal ini. Kebanyakannya tidak bertanya apa alasannya atau untuk apa saya berhenti memakai barang-barang yang saat ini digolongkan wajib digunakan tersebut, namun “Terus gantinya apa, Pak?” adalah pertanyaan favorit.

Ribetnya jadi manusia ini ya kalau dipikir-pikir. Makanan harus dimasak, variasinya harus banyak, mandi harus ada sabun, kalau punya rambut harus punya shampo, belum lagi baju yang harus dicuci dengan detergen plus pelembut, pewangi serta pelicin dan ribuan percikan yang mebebani dan menghabiskan waktu.

Bila Anda cukup percaya diri, air saja sangatlah cukup untuk mengganti sabun, shampo dan pasta gigi. Kita mengabaikan fakta bahwa air adalah pembersih tebaik. Tentu untuk ‘special case’ kita memerlukan tambahan zat lain. Untuk membersikan minyak, kita menggunakan baking soda misalanya.

Bila masih meragukan air, silakan tambahkan: Garam laut natural yang tak beryodium tentunya adalah salah satu penghilang kuman yang terbaik. Anda bisa gunakan 2 kali seminggu. Seperti kita ketahui bahwa di dunia ini bakteri baik jumlahnya lebih banyak daripada bakteri yang tidak menguntungkan. Di saat orang menggunakan sabun ia membunuh 5000 bakteri jahat dan di saat yang sama 50.000 bakteri baik juga lenyap. Sementara garam hanya menghilangkan bakteri yang tak menguntungkan.

Air jeruk nipis bisa menjadi pengganti deodoran untuk ketiak atau seluruh tubuh, lagi-lagi ini bukan untuk harian, cukup seminggu 2 kali saja. Mecukur jenggot, saya menggantikan foam dengan lidah buaya, pengganti pasta gigi sesekali garam selebihnya menyikat dengan air liur yang sudah sejak nenek moyang diketahui khasiatnya.

Pengganti detergen tentu soap nut, yang bahasa kerennya lerak atau kelerak. Sekarang sedang banyak-banyaknya di ekspor ke Prancis, nanti kalau sudah masuk ke Indonesia, baru kita membeli dengan harga mahal.

Istri saya menggunakan pembalut yang dapat dicuci ulang, begitu pula anak kami menggunakan popok pakai ulang bila selama kami berada di rumah.

Memisahkan sampah organik dan non adalah wajib di rumah kami, sewajib membawa botol minum dan juga tidak jarang kotak makan sendiri.

Yang paling menarik di komunitas kita adalah bahwa hampir semua orang merasa bersalah ketika ada makanan lebih yang harus di buang, seringkali kita memaksakan memasukkan makanan tersebut ke perut yang sudah sesak, namun tidak banyak orang yang merasa bersalah ketika membuang plastik pembungkus makanan/minuman dalam kemasan tersebut.
Padahal makanan yang dibuang akan hancur dan menjadi pupuk dalam waktu seminggu namun plastik itu akan tetap tak terurai sampai kita menjadi fosil 500 tahun lagi.

“Kenapa kamu membuat hidup kamu sulit, Bin?” tanya seseorang, “hidup kok ngga mau yang praktis-praktis aja?” lanjutnya

“Mungkin saya punya hati yang lemah.” jawab saya. Saya tidak tega melihat plastik yang bukan hanya menggunung di TPA tapi juga terbenam di tanah penghasil makanan yang biasanya disebut sawah.

Kalau banyak orang takut menggunakan bahan kimia di tubuhnya demi alasan kesehatan, itu bukan hal utama bagi saya, alasan jawara bagi saya tidak menggunakan bahan kimia adalah karena saya mencintai ibu BUmi ini, saya ingin sesedikit mungkin meninggalkan limbah di BUmi ini, syukur-syukur apa yang saya lakukan selama dibekali nyawa ini bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik.

Lebih dari ini semua, satu hal yang ingin saya sampaikan di hari BUmi ini adalah saat ini kita makhluk yang mendiami BUmi ini mendapat ancaman yang sangat serius yang jutaan kali lebih serius dari bom atom Hiroshima, yaitu Perubahan Iklim (Climate Change).

Di hari Istimewa ini Jakarta dihadiahi hujan es, dan bagi saya ini adalah satu contoh nyata kecil bahwa kita sedang menuju dari siaga menjadi awas.

Dan penyebab terbesar dari pemanasan global ini bukanlah transportasi atau industri berat namun apa yang ada di depan kita, tepatnya ada di piring kita.

Menurut data yang dikeluarkan Badan Pangan Dunia, FAO, perternakan adalah penyumbang terbesar dari pemanasan global, lebih dari itu perternakan juga salah satu penyebab utama penebangan hutan dan juga kelaparan di dunia ini.

Untuk memproduksi satu kilo daging diperlukan 16 kilo sayur/biji-bijian.
85 % biji-bijian di Amerika digunakan untuk pakan ternak, bukan untuk mereka yang kelaparan.
Bila seluruh sapi di Amerika tidak diberi makan, maka makanan tersebut bisa menghidupi 1,3 milyar orang.
Tidak pernah terjadi ketimpangan yang luar biasa di dunia ini seperti saat ini, di negara maju begitu banyak orang meninggal karena penyakit pembuluh darah yang diakibatkan kolestrol yang berasal dari makanan hewani, sementara di dunia ketiga ada 40.000 orang mati karena kelaparan.

Dahulu saya sering merasa kesal karena sepertinya semua orang cuek alias tidak banyak orang yang perduli dengan hal ini, sekarang saya menyadari bahwa kita semua telah masuk dalam sebuah sistem pendidikan yang membuat kita berpikir kotak-kotak, terpisah, terbelah.

Ketika seseorang menyalakan lampu kemungkinan ia hanya berpikir tentang imbas tagihan listrik yang akan ia bayar, bukan pada penghematan energi dari hulu, begitu juga ketika kita menggunakan tissu atau membuang baterai bekas, pembalut dan lainnya.
Kita cenderung tidak mau ambil ‘pusing’ dengan semua itu .

‘Hidup sudah susah kok malah dibuat mikir yang ruwet-ruwet,” kata seorang teman yang mendegar ulasan saya di atas.

Memang kita mungkin sudah dipeluk BUmi saat bencana besar itu datang, Betul kita sudah tidak mempunyai badan yang mampu merasakan apapun yang telah kita lakukan, namun apakah benar kita tidak memikirkan anak-anak kita yang akan mewarisi dunia ini?

Kapan kita akan berhenti dari pesta-pesta memabukkan ini? Tidak ada yang bisa jawab, mungkin jawabannya ada di pepatah suku Cree:

“Only when the last tree has died and the last river has been poisoned and the last fish has been caught will we realize that we can’t eat money.”

“Ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar dan ikan terakhir telah terpancing, manusia mulai tersadar kalau ia tidak bisa makan uang.”

Mari merenung.

Advertisements

Hari Lingkungan Hidup

Meski sudah lewat satu hari, Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Tulisan di bawah diterjemahkan-dengan-adaptasi dari penjelasan mengenai tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini di website resmi UNEP. Temanya menarik. Sederhana, sehingga bisa dilakukan oleh semua orang; tapi bisa memiliki dampak yang besar jika kemudian dilakukan oleh banyak orang.

Tema tahun ini, Think. Eat. Save. Reduce Your Foodprint. Sebuah ajakan untuk “think before you eat and help save our environment.” Berpikir bijak sebelum memilih makanan yang akan kita konsumsi, demi membantu menyelamatkan lingkungan.

Selaras dengan tema United Nations Environment Programme (UNEP) di atas, Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia merilis tema, Ubah Perilaku dan Pola Konsumsi Untuk Selamatkan Lingkungan.

Menurut FAO, setiap tahunnya 1,3 miliar ton makanan terbuang. Ini setara dengan jumlah makanan yang diproduksi di seluruh sub-Sahara Afrika. Padahal, 1 dari setiap 7 orang di dunia tidur dalam keadaan lapar, dan lebih dari 20.000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap harinya karena kelaparan.

Dengan tema ini, UNEP mengajak kita untuk lebih peduli akan dampak lingkungan yang timbul akibat pilihan jenis makanan yang kita buat, sehingga bisa melakukan pilihan dengan lebih bijak. Tema sederhana ini mengajak semua orang untuk sama-sama ikut berpartisipasi menyelamatkan bumi, dengan tindakan sederhana yang bisa dilakukan dari rumah masing-masing.

Mengurangi limbah makanan, juga berarti menghemat uang, meminimalkan dampak lingkungan dalam proses produksi pangan, dan proses produksi pangan pun menjadi lebih efisien.

Jika makanan terbuang, berarti semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi makanan juga ikut hilang. Diantaranya, pupuk untuk menanamnya, air dan bahan bakar dalam proses produksi dan transportasinya. Belum lagi gas buang hasil samping proses produksi dan transportasinya.

Fakta saat ini, produksi pangan global menempati 25% dari seluruh lahan layak huni di bumi, menggunakan 70% dari total konsumsi air di bumi, penyumbang 80% kerusakan hutan dan penyumbang 30% dari total emisi gas rumah kaca.

Oleh karena itu, buatlah pilihan konsumsi makanan yang memiliki dampak lingkungan rendah. Seperti makanan organik yang tidak menggunakan bahan kimia dalam proses produksinya. Makanan lokal yang tidak memerlukan perjalanan panjang dalam proses distribusinya sehingga tidak memboroskan bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.

So think before you eat and help save our environment!
Pikirkan sebelum Anda makan dan bantu selamatkan lingkungan!


Tautan:

Islam dan Lingkungan Hidup

Menyambung tulisan sebelumnya tentang buku Green Deen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam.

Karena belum beli baca bukunya, saya coba searching ayat-ayat Quran dan hadis yang membahas hubungan Islam dan Lingkungan Hidup. Ternyata banyak, tapi tidak populer. Berikut beberapa yang saya temukan, dari berbagai sumber di internet.

  • Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS Al-Anbiya’ (21: 107)]
  • Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon, lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah. (HR. Bukhâri)
  • Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam tanaman, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memintakan ampunan untuknya sesudah kematiannya. (Shahîh al-Jâmi’) [Hadis ini hanya populer yang versi pendeknya, yang memuat tiga amal jariyah.]
  • Rasululah SAW bersabda, “Tidak menanam seseorang sepucuk tanaman kecuali Allah SWT menuliskan untuknya pahala sebanyak buah yang dihasilkan oleh tanaman tersebut.” (Kanz al-‘Ummal)
  • Saat kaum muslimin menaklukkan suatu negeri, mereka dilarang untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk atau merusak pepohonan yang ada kecuali untuk maslahat tertentu. Al Auza’i berkata, “Abu Bakar melarang pasukan kaum muslimin untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk suatu negeri atau menebang pepohonan yang ada.” (Tuhfadzul Ahwadzi)
  • Para ulama menyebutkan, dalam buku-buku fikih, terlebih khusus di dalam bab berburu, disebutkan bahwa menjadikan burung hanya sebagai sasaran untuk berlatih ketepatan membidik, hal itu dilarang. (Subulus Salam)
  • Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa diantara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanaman yang dimakan akan menjadi sedekah (bagi yang menanam). Demikian pula apa yang dicuri darinya, yang dimakan burung, dan yang diambil orang lain, semua itu menjadi sedekah bagi si penanam.” (HR. Muslim)
  • Konsep penghijauan – “Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka dengannya ia mendapatkan pahala. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka dengannya ia mendapatkan pahala.” (HR. Ahmad)
  • Hemat air – Rasulullah bersabda, “Basuhlah ketika berwudhu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran air) sebanyak satu sha’ sampai lima mud.” [Catatan: Satu mud lebih kurang sama dengan 1,3 – 2 liter.]
  • Larangan merusak tumbuhan – Rasulullah bersabda, “Siapa yang memotong pohon sidrah, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.” (HR. Abu Dawud) [Catatan: Pohon sidrah ialah pohon yang besar dan rindang yang sangat berguna sebagai tempat berteduh bagi para musafir dan hewan yang lelah kepanasan akibat panas matahari.]
  • Rasulullah bersabda, “Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang diantara kalian ada benih tanaman, selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

Sepertinya yang ayat Quran harus dicari lagi.

The Indians Say: The land has an owner?

The Indians Say:
The land has an owner? How’s that? How is it to be sold? How is it to be bought? If it does not belong to us, well, what? We are of it. We are its children. So it is always, always. The land is alive. As it nurtures the worms, so it nurtures us. It has bones and blood. It has milk, and gives us suck. It has hair, grass, straw, trees. It knows how to give birth to potatoes. It brings to birth houses. It brings to birth people. It looks after us and we look after it. It drinks chicha, accepts our invitation. We are its children. How is it to be sold? How bought?

– From Memory of Fire Volume 1: Genesis, by Eduardo Galeano

Dari sini.

Green Deen: Islam dan Lingkungan Hidup

green deen cover

“Deen” means belief, creed, path or way in Arabic. Christianity is a Deen. Judaism is a Deen. Buddhism is a Deen. A “Green Deen” is the choice to practice your religion while affirming the synergies between faith and the environment. – GreenDeenBook.com

Agama dalam bahasa Arab disebut “ad-Din”, artinya kepercayaan, keyakinan, jalan atau cara. Kristen adalah agama, Yahudi adalah agama, begitu juga Budha. Gerakan “agama hijau” adalah pilihan untuk menjalankan keyakinan agama kita, sambil berusaha membangun kesadaran tentang adanya keterkaitan erat antara ajaran agama dan pemeliharaan lingkungan. (Terjemahan bebas versi saya.)

~

Dalam perjalanan pada libur Desember 2012 lalu, seorang Bapak yang duduk dua bangku di depan saya di bis, memegang buku dengan sampul berwarna hijau bergambar bulan-bintang. Dari jauh saya membaca judulnya Green Deen, Agama Hijau. Pikir saya, agama baru? Atau.. aliran baru? Didorong rasa ingin tahu, saya lalu meminjamnya. Tulisan di sampul luar di bawah judulnya berbunyi,

“Bumi adalah masjid,” tutur Nabi; selain berarti kita boleh mengerjakan shalat di tempat mana pun yang bersih dan suci, ada pesan tersirat untuk memelihara alam. Dekat dengan Tuhan, ramah dengan lingkungan, dan saling menjaga satu sama lain di planet kita.

Saya suka sekali membaca kalimat itu.

Saya lihat daftar isinya dan saya buka-buka. Menarik! Isinya membahas hubungan pemeliharaan lingkungan dengan agama, Islam khususnya sesuai agama penulisnya. Yang bikin beda, pembahasannya riil dan aktual, tentang hal-hal dalam keseharian kehidupan kita dan permasalahan lingkungan terkini. 

Judul lengkapnya Green Deen: Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam, diterjemahkan dari Green Deen: What Islam Teaches About Protecting the Planetoleh penerbit Zaman. Penulisnya, Ibrahim Abdul-Matin, seorang aktivis lingkungan dan konsultan lingkungan. Profilnya bisa dilihat di sini.

Berhubung waktu itu sebentar lagi mau turun, saya tidak sempat melihat-lihat isinya lebih banyak. Akhirnya, saya mengambil jalan pintas. Saya memotret daftar isi dan resume isi buku untuk dibaca nanti. Dan ini hasilnya. Ini hasil jerih payah untuk tidak bergoyang-goyang di bis. :) 

Menarik? Kalau menurut saya, sangat menarik. Karena saya sendiri belum pernah menemukan buku yang membahas masalah lingkungan yang dikaitkan dengan agama Islam secara langsung, sekaligus praktis dan mutakhir (memuat perkembangan terbaru).

Di buku ini, penulis menyoroti empat masalah pokok dalam kehidupan: limbah, energi (listrik), air dan makanan. Meski penulisnya berbicara dalam konteks agama Islam sesuai agama yang dianutnya, namun di webnya dikatakan bahwa gerakan agama hijau ini adalah ajakan kepada semua orang tanpa memandang keyakinan agamanya, seperti saya kutip di atas. 

Coba buka websitenya GreenDeenBook.com, di pojok kanan atas ada page berjudul Green. Jika diklik, disitu ada pilihan langkah yang disarankan untuk mendukung dan membangun gerakan agama hijau ini. Kita bisa memilih mana yang paling nyaman untuk dilakukan. 

Saya sendiri jadi membayangkan, atau berkhayal.. mungkin ada bagusnya kalau khutbah atau pengajian majelis ta’lim diisi juga dengan pembicaraan seputar tema lingkungan. Yang ringan dan praktis saja. Saya jadi ingat kemarin baca tulisan bagus tentang prinsip pendidikan di Gontor, bisa dibaca di sini. Dikatakan bahwa motto pendidikan di Gontor antara lain: “Komposisi pelajaran di pondok adalah 100% agama dan 100% umum.” Tidak ada dikotomi ilmu umum dan agama. Tidak ada pembedaan. Yang ada keadilan. Keseimbangan. (Saya suka.)

Yang saya tahu, pengajian-pengajian sekarang lebih banyak membahas masalah tata cara ibadah ritual, pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Menurut hemat saya, pembahasan masalah lingkungan adalah juga salah satu upaya untuk menjadikan nyata peran kita sebagai khalifah atau “wakil” Tuhan di bumi. Karena, kita hidup saling bergantung dengan alam tempat kita hidup (QS 2 : 22). Ada hubungan timbal balik yang erat antara manusia dan alam dengan segala isinya. Dan mau tidak mau, segala kegiatan hidup kita memiliki dampak terhadap lingkungan. Sehingga, we are all responsible for protecting the planet, kata Ibrahim Abdul-Matin. Sebagai penghuni bumi ini, kita semua bertanggung jawab untuk melindungi planet tempat kita tinggal ini.

Sembari mengembalikan fungsi masjid dan makna majelis ilmu yang katanya semakin hari mengalami penyempitan. Seperti kutipan favorit saya di buku Negeri 5 Menara (masih seputaran Gontor nih): “Kami tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.

“Kita harus mulai mendidik diri kita—dan orang di sekitar kita, untuk menyadari adanya masalah (lingkungan) ini dan bersama-sama mencari solusinya. Semua yang merasa menjadi penduduk bumi, ikut bertanggung jawab atas pemeliharaan planet tempat tinggal kita ini,” demikian kata Ibrahim Abdul-Matin di webnya.

Dan ini, kewajiban kita, karena Tuhan sendiri yang sudah berkenan menetapkan manusia sebagai wakil-Nya di bumi. Menitipkan amanah pemeliharaan itu kepada kita. Dan kita manusia, sudah menerimanya.

Mari sama-sama mencari cara sederhana masing-masing untuk menjalankan amanah ini. Sehingga, tugas memelihara lingkungan bukan menjadi tanggung jawab para aktivis lingkungan saja.

Tapi, untuk kita yang awam ilmu lingkungan, bagaimana caranya?

Saya sendiri, belajar dari website yang logonya ada di pojok kanan atas blog saya ini. Lihat gak? Hehe. Iya, AkuInginHijau.org, yang slogan blognya berbunyi, Hal-hal kecil yang dapat mengubah dan melestarikan lingkungan Indonesia tercinta. Jadi, mulai dari hal kecil! :) Banyak tips ringan dan praktis di situ. Dan ini beberapa web/blog lain yang saya tahu:

  • Biopori.com – Resapkan air hujan menjadi air tanah (rahmat)
  • Blog Sampah –  Catatan perjalanan belajar mengolah sampah
  • Diet Kantong Plastik (Website & Facebook) – Gerakan nasional untuk lebih bijak dalam menggunakan kantong plastik
  • GoBlue.or.id – Konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkait
  • Jakarta Berkebun (FB) – One little step to make Indonesia greener, healthier and happier
  • YPBB Bandung (FB) – Pola hidup selaras dengan alam, untuk mencapai kualitas hidup yang baik dan berkelanjutan.

Meski sudah lewat dua hari, Selamat Hari Bumi!