Pelajaran Ketiga: Menerjemahkan Puisi

Ketika sampai pada menerjemahkan puisi atau lirik lagu, saya dilanda bingung. Antara menerjemahkan sesuai maknanya, tapi rasa puisinya jadi hilang, rimanya tidak dapat dipertahankan. Atau memilih melakukan sedikit modifikasi, dengan tetap mencari padanan kata yang paling dekat, tapi rasa puisinya tetap bisa dipertahankan, rimanya tetap diupayakan.

Naah.. ketika sedang bingung-bingung itulah tiba-tiba di kotak masuk email saya masuk tulisan mbak Dina terbaru. Saya berlangganan tulisan terbaru di blognya. Di situ mbak Dina juga cerita hal yang sama. Begini katanya: “Menerjemahkan syair, puisi atau lirik lagu sudah tidak diragukan lagi merupakan tantangan tersendiri bagi para penerjemah. Terkadang demi rima kita harus ‘berkhianat’ pada teks aslinya, namun masih setia kepada makna.”

Ada diskusi pendek yang mencerahkan di kolom komentar, daan.. ada dua tautan keren ihwal penerjemahan puisi, yaitu Penerjemahan nursery rhymes dan puisi dalam novel di blog Bahtera dan Crazy Password Poem di blog Catatan Penerjemahan.

Setelah itu, inilah hasil pembelajaran saya. Dari puisi pada akhir cerita How the Camel Got His Hump, dalam Just So Stories, karangan Rudyard Kipling. Masih ada yang saya terjemahkan terlalu panjang dari kalimat asalnya, jadi terasa tidak proporsional dengan kalimat asalnya. Hmm.. susyah. Tapi melihat ada larik-larik yang juga lebih panjang dari larik/baris lainnya dalam satu bait, maka saya berijtihad (hehe) bahwa saya juga boleh membuat larik panjang diantara larik pendek lainnya dalam satu bait.

THE Camel’s hump is an ugly lump
Which well you may see at the Zoo;
But uglier yet is the hump we get
From having too little to do.

Kiddies and grown-ups too-oo-oo,
If we haven’t enough to do-oo-oo,
We get the hump–
Cameelious hump–
The hump that is black and blue!

We climb out of bed with a frouzly head
And a snarly-yarly voice.
We shiver and scowl and we grunt and we growl
At our bath and our boots and our toys;

And there ought to be a corner for me
(And I know there is one for you)
When we get the hump–
Cameelious hump–
The hump that is black and blue!

The cure for this ill is not to sit still,
Or frowst with a book by the fire;
But to take a large hoe and a shovel also,
And dig till you gently perspire;

And then you will find that the sun and the wind,
And the Djinn of the Garden too,
Have lifted the hump–
The horrible hump–
The hump that is black and blue!

I get it as well as you-oo-oo–
If I haven’t enough to do-oo-oo–
We all get hump–
Cameelious hump–
Kiddies and grown-ups too!

Terjemahan saya:

Punuk Unta adalah hukuman untuknya
Di kebun binatang kamu bisa melihatnya;
Bayangkan bila ada di punggung kita
Dikarenakan kita malas bekerja.

Anak-anak dan orang dewasa semua sama-aa-aa,
Jika kita tak mau bekerja-aa-aa
Kita akan memperoleh punuk–
Seperti Unta terpasang di punggung–
Warnanya hitam dan biru!

Ketika bangun di pagi hari dengan kepala berat
Dengan suara tertahan menggeliat.
Kedinginan dan mengkerut, menggeram dan mengerang
Di kamar mandi, saat pakai sepatu dan mengambil mainan;

Bisa saja terjadi padaku
(Dan bisa juga terjadi padamu)
Kita akan memperoleh punuk–
Seperti Unta terpasang di punggung–
Warnanya hitam dan biru!

Yang harus kita lakukan bukanlah duduk diam,
Atau bermalasan mendekap buku dekat perapian;
Ambillah cangkul dan sekop besar,
Galilah sampai tubuhmu berkeringat;

Dan lihatlah matahari dan angin,
Dan juga Jin penjaga Kebun,
Tiba-tiba mereka telah mengangkat bebanmu–
Punuk yang memberati punggungmu–
Yang warnanya hitam dan biru!

Punuk yang akan kupunya-aa-aa–
Jika aku malas bekerja-aa-aa–
Kita semua bisa punya punuk–
Seperti Unta terpasang di punggung–
Anak-anak dan orang dewasa juga!

2 thoughts on “Pelajaran Ketiga: Menerjemahkan Puisi

  1. Cerdas!

    Tapi kasihan juga si unta dituduh malas bekerja (Punuk Unta adalah hukuman untuknya) padahal dia kan jagoannya angkat beban dan lintas alam hehehe…
    Kalau aku, mungkin akan dibikin jadi begini:

    Punuk unta sungguh buruk rupa
    Di kebun binatang kamu bisa melihatnya;
    Bayangkan di punggung kita juga ada
    Gara-gara malas bekerja.

    belum tentu bener lhooo… masalah selera aja.

    • hehehe, kayaknya memang lebih pas pake “… buruk rupa”. kok ga kepikiran ya :P saking bingung jadi tenggelem dalam cerita, karena diceritakan klo punuknya diberikan gara2 kemalasan si unta, jadi yg kepikiran dikaitkan dengan hukuman.. makasiih, makasiih _/\_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s