Pelajaran Kedua: Ketika Berkenalan dengan Rudyard Kipling

Menerjemahkan The Blue Fairy Book membuat saya agak lelah. Ceritanya panjang-panjang dan dongeng banget.

Dalam rangka ganti suasana, saya mencoba menerjemahkan Just So Stories, kumpulan cerita pendek karangan Rudyard Kipling. Baca sekilas, ceritanya lucu-lucu. Idenya ada saja. Banyak permainan kata dan puisi. Sepertinya seru dan menantang. Hehe.

Dalam profil Rudyard Kipling di Goodreads dikatakan bahwa ia dikenal sebagai seorang dengan imajinasi orisinil, idenya kuat dan narasinya luar biasa. Kesan saya sendiri, Pak Kipling cerdas. Imajinasinya hidup.

Cerita lengkap Just So Stories bisa dibaca di sini. Saya coba menerjemahkan cerita kedua, berjudul How the Camel Got His Hump. Saya terjemahkan menjadi Asal-usul Punuk Unta.

Beberapa bagian membuat saya mikir lama untuk menemukan kalimat yang enak dalam bahasa Indonesianya. Mau tidur juga kepikiran terus, hehe. Karena kalimatnya kadang berima. Jadi agak sulit menemukan kata yang pas dan berima juga dalam bahasa Indonesianya.

Saya lihat di Goodreads versi terjemahan bahasa Indonesianya sudah ada, diterbitkan oleh Gramedia, Januari 2012 kemarin, lihat di sini. Semoga nanti saya bisa mendapatkan bukunya untuk dipelajari.

Ini beberapa paragraf yang sulit itu.

In the beginning of years, when the world was so new and all, and the Animals were just beginning to work for Man, there was a Camel, and he lived in the middle of a Howling Desert because he did not want to work; and besides, he was a Howler himself. So he ate sticks and thorns and tamarisks and milkweed and prickles, most ‘scruciating idle; and when anybody spoke to him he said ‘Humph!’ Just ‘Humph!’ and no more.

Pada zaman dahulu kala, ketika dunia baru diciptakan, dan binatang mulai dipekerjakan untuk meringankan pekerjaan Manusia, hiduplah seekor Unta. Ia tinggal di tengah sebuah gurun yang disebut Gurun Lenguhan, karena ia tidak mau bekerja, dan juga hobi melenguh. Ia makan batang-batang dan ranting pohon, dan daun pohon cedar dan bunga milkweed dan tanaman berduri. Oh, sungguh binatang yang sangat malas. Dan jika siapa pun berbicara kepadanya, ia hanya akan menjawab dengan lenguhan, “Hmmph!” Hanya “Hmmph!”, dan tidak ada jawaban lain.

At the end of the day the Man called the Horse and the Dog and the Ox together, and said, ‘Three, O Three, I’m very sorry for you (with the world so new-and-all); but that Humph-thing in the Desert can’t work, or he would have been here by now, so I am going to leave him alone, and you must work double-time to make up for it.’

That made the Three very angry (with the world so new-and-all), and they held a palaver, and an indaba, and a punchayet, and a pow-wow on the edge of the Desert; and the Camel came chewing on milkweed most ‘scruciating idle, and laughed at them. Then he said ‘Humph!’ and went away again.

Pada sore harinya Manusia memanggil Kuda, dan Anjing dan Lembu Jantan bersamaan, lalu berkata, “Kalian Bertiga, wahai, Kalian Bertiga, aku sungguh minta maaf pada Kalian Bertiga (yang tentunya masih asing dengan dunia yang serba baru ini). Tetapi Makhluk yang selalu melenguh di Gurun itu tidak mau bekerja, padahal seharusnya ia berada di sini bersama kalian. Saya meninggalkannya karena ia tidak mau bekerja, dan kalian terpaksa harus bekerja lebih keras untuk menggantikan pekerjaan yang ditingalkannya.”

Mendengar hal ini, Mereka Bertiga sangat marah (mengingat keadaan mereka yang berada di dunia yang serba baru), lalu mereka berunding, mengadakan indaba (rapat penting), membuat punchayet (majelis kecil), dan menyelenggarakan rapat kilat darurat di tepi Gurun. Sang Unta datang seraya mengunyah bunga milkweed, dengan gaya malasnya yang sungguh menyebalkan, dan tertawa pada mereka. Lalu ia melenguh, “Hmmph!’, dan pergi lagi.

Terjemahan bahasa Indonesianya lebih panjang dari teks aslinya ya.. Cerita lain tak kalah menarik. Besok-besok saya ingin coba How the First Letter was Written dan How the Alphabet was Made.

Oh ya, di setiap bagian akhir cerita terdapat puisi. Tentang penerjemahan puisi, saya tulis terpisah.

6 thoughts on “Pelajaran Kedua: Ketika Berkenalan dengan Rudyard Kipling

  1. Saya termasuk penganut terjemahan lugas, dalam arti suka kalimat padat ringkas seperti yang Mbak lakukan di atas. Ada yang menyukainya karena jadi lebih mudah menyerap dan mengerti cerita klasik yang rumit, ada juga yang menyalahkan dan mengatakan seharusnya gaya berbelit dan panjang itu tetap dipertahankan agar tetap “puitis”.
    Terlepas dari kesadaran saya bahwa menyenangkan semua orang sungguh hil yang mustahal, saya baru belakangan “berlatih” dari terjemahan “berbunga-bunga” karya orang lain. Misalnya “when the world was so new and all” mungkin bisa diartikan “kala dunia masih muda” atau “kala dunia masih belia”, semacam itu.
    Namun saya pribadi lebih suka gaya seperti Mbak di atas, lebih praktis dan hemat waktu:))

    • Wah, terima kasih masukannya, Teh Rini.
      Btw, ada masukan lain, Teh? Karena saya sendiri merasa belum puas dengan hasil terjemahan saya di atas itu, tapi tidak tahu dimananya. :)

      • Hmm, menelitinya perlu baca berulang-ulang Mbak, kalau saya:)
        Mungkin “he was a Howler himself.” diterjemahkan “ia sendiri gemar mengeluh”. Atau kalau Howler ini jadi semacam panggilan, bahkan ada lebih dari satu, diartikan “ia termasuk Pengeluh”. CMIIW:)

  2. Bagaimanapun, makasih waktunya untuk membaca dan komen, Teh :)
    Sangat berguna :) Tadinya mau pakai “Pengeluh” juga tapi kok kayak aneh.. Makasih. Senang dapat komen spt ini :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s