Priangan Si Djelita

Karya Ramadhan KH (1956)

1.
Seruling dipasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina,
tembang menggema didua kaki,
Burangrang—Tangkubanprahu.

Djamrut diputjukputjuk
Djamrut diair tipis menurun.

Membelit tangga ditanah merah,
dikenal gadisgadis dari bukit.
Njanjikan kentang sudah digali,
kenakan kebaja merah kepewajangan.

Djamrut diputjukputjuk
Djamrut diair tipis menurun.

2.
Harum madu
dimawar merah
mentari ditengahtengah

Berbelit djalan
kegunung kapur,
antara Bandung dan Tjiandjur

Dan mawar merah
gugur lagi,
sisanja bertebaran
dikekeringan hati.

Dan belit didjalan
menghilang lagi,
sisanya menjiram
darah dinadi.

3.
Kembang tandjung berserakan
didjalan abu menghitam,
ditusuk bintang ditimur,
hati luka dipekuburan.

Mau pergi nak?
—Ja Ma.
Kemana?
—Entah, turutkan djejak lama,
Tak singgah dulu nak?
—Ja Ma,
singgah, tjutjurkan airmata.

Kembang tandjung berserakan
dipungut gadis berdendang

Gede mengungu dipagihari
bintang pudar, bulan pudar,
sianak tinggalkan pekuburan,
bersedih hati.

Kembang tandjung berserakan,
dan melaju ditali benang.

4.
Berbelit membiru djalan
ke Gede dan Pangrango,
lewat musim penghudjan.

Gadisgadis menjongsong pagi
diputjukputjuk teh jang menggeliat,
dikatil orang lain menanti.

Berbelit membiru djalan
ke Gede dan Pangrango
lewat angin dari selatan.

Udjangudjang menjongsong hari
memikul kentang ubi galian,
dengan belati orang lain menanti.

Berbelit membiru djalan
ke Gede dan Pangrango,
djuga penjair dinanti tikaman orang.

5.
Hidjau tanahku,
hidjau Tago,
didjaga gununggunung berombak

Dan mawar merah
disobek ditudjuh arah,
dikira orang menjanji,
lewat dikaju ketjapi.

Hidjau tanahku,
hidjau Tago,
didjaga gununggunung berombak

dan perawan sendirian,
disamun ditudjuh djalan,
dikira orang menjanji,
tangiskan lagu kinanti.

Hidjau tanahku,
hidjau Tago,
didjaga gununggunung berombak

6.
Seruling berkawan pantun
tangiskan derita orang priangan,
selendang merah, merah darah,
menurun ditjikapundung.

Bandung, dasar didanau,
lari tertumbuk dibukitbukit.

Seruling menjendiri ditepitepi
tangiskan keris hilang disumur,
melati putih, putih hati,
hilang kekasih dikata gugur.

Bandung, dasar didanau,
Derita memantul dikulitkulit.

7.
Setengah bulatan bumi
kusilang arah membusur.
Njatanya
aku hanja pengembara.

Seruling dan pantun
dimalam gelap
menjeret pulang
turun dikali tjitarum.

Dan aku kembali
kepangkuan asal.
Bunda,
dan aku kembali
kepelukan asal.
Kiranja
dengan tambah tua!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s