Deklarasi Cahaya

Agus R. Sardjono

I

Dengan nama Allah! Menjelmalah tongkat Musa
menjadi perkasa, menelan segala ular
dari sihir peradaban. Tongkat itu pula
yang membelah lautan membuka jalan
pembebasan. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia

II

Sulaiman di singgasana gemilang
yang terbentang sejauh mata memandang
terhampar dari ufuk fajar
hingga malam menjelang. Tak putus-putus
merebahkan kening ke tanah
dalam takjub yang enggan sudah
pada-Nya, pemilik semesta raya
maka kalbunya pun berpuasa
atas segala kemilau dunia. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

III

Dengan cinta pada Allah yang tunggal
dan tak berbagi, yang mustahil tanggal
dan abadi, Ibrahim membawa kapak
menghancurkan berhala pada peradaban
dan hatinya sendiri. Di kalbunya hanya Allah
Esa dan bercahaya
membikin jiwanya bagai
padang terbuka
lautan luas yang bebas
dan mandiri. Tapi siapa
tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

IV

Matahari memucat dan rembulan
bagai lilin yang lama padam. Panorama
segera jadi lusuh, kala cahaya wajah Yusuf
tersenyum menerangi dunia.
Perempuan-perempuan jelita
berduyun-duyun menyulut syahwat
memikat Yusuf dalam sepenuh-penuh hasrat.
Tapi Yusuf memilih penjara
bagi tubuhnya, dan merdeka
bagi ruhnya. Terlalu indah Cinta-Nya
dibanding bermilyar perempuan.
Dirangkainya tiap detik dan ingatan
dengan gemerlap nama-nama Tuhan. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

V

Di sunyi malam ketika angin
menunduk takzim bersama dingin
Muhammad bershalat
melipat seluruh semesta
dalam kalbunya yang sabar dan bercahaya
lalu berangkat menjumpai Tuhannya
dengan sepenuh-penuh rindu
kepada Dia yang esa satu.
Ketika suku Qurays mempersembahkan
singgasana agar dia serahkan hati
pada berhala dan tradisi
leluhur suku yang asli, iapun menampik
bahkan sekalipun matahari
bahkan sekalipun rembulan
kepadanya dipersembahkan, dia tak sudi
menghambakan diri pada peradaban
sebab hanya pada Tuhan
ia temukan kebebasan
sebagai diri dan pribadi.

Dunia tersipu malu
di ujung tikar sembahyang
ketika pada Tuhan, ruh dan tubuhnya
pergi dan pulang. Tapi siapa
yang tahan hidup merdeka
berdiri bebas menengadah cakrawala?
Hanya para Nabi dan pencinta
dengan hati bunga dan kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia.

2000

Dikutip dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s