99 Cahaya di Langit Eropa

99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa. Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan kedua: Agustus 2011. ISBN: 978-979-22-7274-1

Michael Crichton bilang: If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. Barangsiapa tidak mengenal sejarah, ia tidak mengenal asal-usulnya. Seperti daun yang tidak menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah pohon.

Dan George Santayana mengatakan: Those who cannot remember the past are condemned to repeat it. Barangsiapa tidak belajar dari sejarah, ia dihukum untuk melakukan kesalahan yang sama dari sejarah.

Sejauh mana kita mengenal diri kita dan sejarah keberadaan diri kita? Sebagai umat Islam, sejauh apa kita mengenal Islam kita, sejarahnya, keberadaannya? Membaca novel ini, kita diajak menapaki jejak-jejak sejarah Islam di benua Eropa beberapa abad lalu. Melihat sisa-sisa peninggalannya secara fisik, juga melihat bagaimana keberadaan Islam dalam kehidupan Eropa di masa lalu dan kini.

Untuk serunya, silakan dibaca novelnya, hehe. Dibagi dalam empat bagian: Wina, Paris, Cordoba & Spanyol dan Istanbul. Intinya.. berkisah tentang perjalanan penulisnya selama 3 tahun tinggal di Eropa. Di mana ia berkesempatan mengunjungi beberapa tempat di Eropa, sebuah tempat dimana Islam adalah minoritas, namun disanalah justru penulis menemukan kembali Islamnya—mengenal kembali Islam dengan cara berbeda. Perjalanan ini mengantarnya menuju titik awal; membawanya menemukan jalan pulang, katanya.

Selain bicara tentang sejarah, di sini juga ada cerita tentang bagaimana menjadi agen Muslim yang baik. Yaitu dengan menebar kebaikan dan sikap positif, sembari memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Bahwa Islam identik dengan kasih sayang, bukan bom, senjata dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.

~

Dari banyak hal, satu bagian yang membuat hati saya bergetar adalah cerita tentang Istana Al-Hambra. Al-Hambra adalah sebuah kompleks istana yang didirikan Bani Umayyah pada pertengahan abad ke-13 di Granada, Andalusia, Spanyol. Istana yang, sungguh menakjubkan! Betapa cerminan sebuah peradaban yang sangat tinggi yang telah pernah ada. Namun, disinilah Mohammad Boabdil, sultan terakhir di Granada, menyerahkan kunci istana ini kepada Isabella dan Ferdinand, tanda ia menyerahkan diri.

Dan di sebuah tempat yang kemudian disebut ‘The Last Moor’s Sigh’, Boabdil—yang asli bangsa Moor—memandang Granada terakhir kali. Di tempat itu, Boabdil menangis dan berdoa agar rakyatnya lebih sejahtera dan tak terusik keimanannya di tangan Isabella dan Ferdinand. Melihat itu ibunya berkata: Weep then like a woman, over that which you could not defend like a man.

Namun, sayang seribu sayang, Isabella dan Ferdinand membuyarkan harapan Boabdil. Sepuluh tahun setelah itu, mereka memerintahkan pembaptisan massal terhadap seluruh penduduk, baik Islam maupun Yahudi. Perbuatan yang sesungguhnya tidak direstui oleh penduduk asli Granada yang memeluk Kristen sekalipun.

Mengenai keindahan Istana Al-Hambra, silakan googling. Ini hanya sebagian kecil yang membuat saya takjub: Ukiran ayat-ayat al-Quran terpahat pada setiap sudut, atap, dinding dan pilar-pilar pualam. Gambar di samping adalah salah satu dekorasi langit-langit bermotif sarang lebah, atau stalaktit, atau muqarnas, atau mocárabe—salah satu elemen arsitektur Islam yang sangat mengagumkan. Saya terobsesi ingin menyentuh pahatan kaligrafi dan ceruk stalaktit sarang lebahnya. :) Klik gambarnya untuk melihat ukuran besar. Sudah di klik? Menakjubkan, kan? Amazing, great, excellent!

Kembali ke laptop.. hehe. Berikut tempat-tempat yang dikunjungi penulis—tempat-tempat yang kemudian menjadi catatan sebuah perjalanan pencarian.

Austria: Bukit Kahlenberg, Wien Stadt Museum, Vienna Islamic Centre, Schatzkammer Museum (Book of Roger, Katedral Pallermo di Sisilia). Paris: Museum Louvre (Section Islamic Art Gallery dan Paintings Department of Middle Age), Axe Historique (garis imajiner lurus yang tepat membelah kota Paris; Voie Triomphale, Napoleon Code), Gereja Notre Dame. Cordoba: Mezquita. Granada: Al-Hambra. Istanbul: Hagia Sophia, Blue Mosque, Istana Topkapi.

Mengenai ada apa saja di tempat-tempat ini, sekali lagi, silakan baca bukunya. Bukan promosi, tapi mari membaca sejarah. :) Nah, yang ini, bagian favorit saya. Saya kutip langsung dari bukunya:

(273) … yang menarik, arah mihrab Mezquita dibangun tidak sepenuhnya menghadap kiblat di Mekkah. Penguasa saat itu, Sultan Al Rahman, sengaja membuatnya begitu. Mengapa? Karena—ini ada hubungannya dengan bagaimana Cordoba bisa menyandingkan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan begitu indah—di sebelah masjid ada gereja yang sudah lebih dulu berdiri di situ. Jika memaksakan arah mihrab ke arah tenggara (arah Mekkah), mau tak mau gereja kecil itu harus dirobohkan. Sultan tak mau melakukannya. Betapa Islam sangat menghormati pemeluk agama lain.

Dan meskipun mihrab itu dibangun ke selatan, pada praktiknya orang-orang tetap sholat sedikit menyerong ke tenggara. Sehingga esensi arah kiblat ke tenggara tidak tergadaikan hanya karena letak dinding gereja kecil itu.

Al Rahman melegakan dua kepentingan yang berbeda. Tidak melukai keimanannya, juga tidak melukai perasaan warganya yang Kristen.

(283) Cordoba besar karena masyarakatnya merayakan perbedaan dengan semangat melahirkan penemuan-penemuan bidang teknologi, hukum-hukum bermasyarakat, hingga kesenian, musik, dan puisi.

Refleksi (Diadaptasi dari Prolog & Epilog buku ini.)

Betul, bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Betul, bahwa Islam-lah (Cordoba) yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato dan Socrates hingga Eropa mencapai masa pencerahan (renaissance). Betul, bahwa Cordoba pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia. Tetapi kemudian apa yang membuat cahaya ini redup? Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lalu agar kita tidak terperosok di lubang yang sama? Apa yang harus kita lakukan agar cahaya itu kembali menerangi kita di abad ini?

Betul, bahwa umat Islam terdahulu adalah “traveller” tangguh, jauh sebelum Vasco de Gama menemukan Semenanjung Harapan dan Columbus menemukan benua Amerika. Betul, bahwa saat itu musafir-musafir Islam telah menyebrangi 3 samudra hingga Indonesia, China, menembus Himalaya dan Padang Pasir Gobi. Tetapi persoalannya sekarang adalah, bagaimana agar dakwah bisa bersatu lagi dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.

Kita terlalu sibuk dengan kata jihad yang dimaknai dengan pedang, bukan dengan perantara kalam (pengetahuan). Bukankah ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad adalah: Iqra’. Bacalah. Bismirabbikalladzii kholaq. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). Bukankah, peradaban Islam dibangun di atas peradaban literer (tradisi baca-tulis). Sebagaimana Tuhan memerintahkan kalam-Nya untuk disampaikan dan dituliskan. Lantas, bagaimana agar retorika teriakan jihad tidak sekedar jadi tindakan mandul karena kita dihadapkan pada realitas: ketidakmampuan melindungi diri karena ompong dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai penutup, saya kutip kalimat ini: Esensi sejarah bukan pada siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu: siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan. (310)

Mari renungkan.
Dan, selamat membaca.

~

Tautan menarik:

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s