Aku Arab Tua Tidak Berguna

Kisah di bawah diambil dari novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu, karya Tere-liye. Novel ketiga Tere-liye yang saya baca. Khas Tere-liye, bercerita tentang hidup yang (sejatinya) sederhana, namun artinya sungguh tidak sederhana; tentang sesuatu yang horizontal, dan akan selalu terhubung pada yang vertikal. Berikut ini bagian tentang penjelasan sebab-akibat kehidupan; salah satu pertanyaan besar dan mendasar dalam kehidupan semua orang, right? (Tulisannya saya adaptasi lagi.)

Alkisah, ada seorang Arab tua, renta, sakit-sakitan. Selama delapan puluh tahun Arab tua itu tinggal di oase gurun. Kehidupan oase yang biasa-biasa saja. Berkali ia bertanya pada dirinya. Untuk apa hidupnya begitu panjang jika hanya terjebak pada sesuatu yang tidak berarti. Ketika oase mulai mengering, dan orang-orang mulai pindah, ia memaksakan diri bertahan. Tubuh tuanya tidak bisa lagi diajak pergi.

Delapan puluh tahun yang tak berarti. Ia menjalani masa kanak-kanak seperti teman-temannya. Menjadi remaja, dan bicara cinta. Bekerja menjadi pandai besi. Menikah. Punya anak. Dan seterusnya. Sama seperti penduduk oase lainnya. Istrinya meninggal saat tubuhya beranjak tua. Beberapa tahun kemudian anak-anaknya pergi ke kota lain. Dan ia tertinggal, sendiri. Sibuk berteman dengan pertanyaan, apa arti seluruh kehidupan yang dimilikinya.

Suatu hari, serombongan karavan melintasi puing-puing oase yang mengering. Mereka tiba persis saat Arab tua itu meninggal di rumah kecil dan buruknya. (Hingga maut menjemput Arab tua itu tidak tahu apa sebab-akibat hidupnya.) Karavan itu tidak peduli, meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh-penuh tempat air. Hanya satu yang peduli. Orang itu berbaik hati menguburkan Arab tua tersebut.

Dan ternyata, orang yang berbaik hati itu terselamatkan dari pembantaian Suku Badui, kawanan bandit yang menguasai gurun. Karavan yang pergi lebih dulu ternyata binasa, tidak bersisa. Orang baik hati itu baru berjalan esok harinya, dan ia menemukan bangkai dan sisa-sisa pertempuran mereka.

Lima generasi berikutnya… Dari orang baik hati itu ternyata lahir seorang manusia pilihan. Manusia pilihan yang orang-orang kelak menyebutnya al-amin

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Arab tua itu tidak meninggal hari itu, di tempat itu. Mungkin orang baik hati itu akan terbantai juga. Apa yang akan terjadi dengan generasi kelima keturunannya kalau Arab tua itu tidak tinggal di oase itu. Bagaimana dengan nasib pembawa risalah itu. Itulah sebab-akibat kehidupan Arab tua tersebut. Yang sayangnya tidak ia ketahui hingga maut menjemputnya.

~~~

Apakah cerita ini benar-benar terjadi? Tidak ada yang tahu. Tapi setidaknya kita bisa membayangkan, betapa hebatnya penjelasan sebab-akibat, sehingga seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik.

Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, mereka yang menyadari bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup, akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan diambil, setiap kenyataan yang harus dihadapi, kejadian menyakitkan atau menyenangkan, semua disadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Ia akan selalu berharap perbuatannya akan berakibat baik bagi orang lain.

Kehidupan manusia bagai titik-titik kecil. Bayangkan sebuah kolam luas. Kolam itu tenang. Saking tenangnya ia terlihat bagai kaca. Tiba-tiba hujan deras turun. Bayangkan ada bermilyar bulir air hujan yang jatuh di atas air kolam, membuat riak. Milyaran rintik air terus berdatangan, membentuk riak, kecil-kecil, memenuhi seluruh permukaan kolam. Begitulah kehidupan, seperti sebuah kolam raksasa.

Manusia bagai air hujan yang berdatangan terus-menerus, membuat riak. Riak itu adalah gambaran kehidupannya. Siapa yang peduli dengan sebuah bulir air hujan yang jatuh ke kolam pada menit ke sekian, detik ke sekian? Ada milyaran bulir air hujan lain, bahkan dalam sekejap, riak yang ditimbulkan tetes hujan barusan sudah hilang, terlupakan, tak tercatat dalam sejarah.

Siapa yang peduli dengan anak manusia yang lahir tahun sekian, bulan sekian, tanggal sekian, jam sekian, menit sekian, detik sekian? Ada milyaran manusia, dan bahkan dalam sekejap, nama, wajah, dan apalah darinya segera lenyap dari muka bumi. Ada seribu kelahiran dalam setiap detik, siapa yang peduli dengan diri kita?

Jika memahaminya dari sisi positif, engkau akan mengerti ada yang peduli atas bermilyar-milyar bulir air yang mebuat riak tersebut. Peduli atas riak-riak yang engkau timbulkan di atas kolam, sekecil atau sekejap apapun riak itu. Dan saat kau menyadari ada yang peduli, maka kau akan selalu memikirkan dengan baik semua keputusan yang akan kau ambil. Sekecil apapun, setiap perbuatan kita memiliki sebab-akibat…

Siklus sebab-akibat itu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya, kecuali satu: yaitu kebaikan. Kebaikan bisa merubah takdir. Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.

Seseorang yang memahami siklus sebab-akibat itu—seseorang yang tahu bahwa kebaikan bisa merubah siklusnya, maka ia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik. Mungkin apa yang dilakukannya tampak biasa saja, bahkan dianggap tidak bernilai bagi sebagian yang lain, tapi ia tetap mengisinya sebaik mungkin.

“Ah, siapa peduli dengan Diar yang selalu jujur menyetorkan uang tiga ribu rupiah? Siapa peduli dengan Diar yang selalu memberikan kembalian? Siapa peduli? Tetapi langit peduli. Dan Diar menjemput seribu pelangi indah saat waktu terhenti baginya, Diar menjemput janji langit karena telah menyelesaikan dengan baik siklus tersebut, malaikat berebut mengucap salam padanya.” (hal. 83)

Kecil-besar sebuah perbuatan, langit yang menentukan. Kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menentukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.

That’s it.
Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s