Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Jostein Gaarder & Klaus Hagerup. Penerjemah: Ridwana Saleh. Penerbit Mizan. 2006. 294 halaman. ISBN 979-433-415-4. Diterjemahkan dari Bibbi Bokkens magische Bibliothek. Terbit pertama oleh H. Aschehoug & Co. Oslo, 1999.

Kisah dua sepupu yang mencari sebuah perpustakaan ajaib yang tidak hanya berisi buku-buku yang sudah ditulis tetapi juga berisi buku-buku yang belum ditulis dan baru akan terbit. Nils Boyum Torgersen dengan fantasi liarnya yang fantastis, dan Berit Boyum yang selalu membawa buku catatan dalam tasnya untuk menuliskan pemikiran cerdiknya agar tidak lupa.

Nils dan Berit tinggal di kota berbeda. Untuk berhubungan mereka sepakat saling menulis buku-surat yang dikirim bolak-balik antara Oslo dan Fjærland. Tetapi ternyata ada orang yang mengincar buku-surat mereka. Dan itu ada kaitannya dengan peringatan tahun buku yang akan berlangsung di Norwegia tahun depan. Cerita selanjutnya… seru dan bikin penasaran.

Petualangan yang membawa pada pencarian banyak hal seputar dunia buku. Mulai dari pembicaraan mengenai buku-buku dan penulis besar dunia; perpustakaan, bibliophile, bibliografer, kartotek, incunabula, Klasifikasi Desimal Dewey; puisi dan apresiasinya; teori sastra, teori fiksi, teori menulis, drama, dan film. Juga tentang sejarah buku dan penerbitan, mulai dari sejarah huruf sampai pada budaya baca-tulis masyarakat pada masa ini. Ah, pokoknya surat cinta kepada buku dan dunia penulisan kalau kata Ruhr Nachricht, kata saya juga. :) Ini buku tentang buku.

Oh ya, satu lagi.. Buku ini sangat direkomendasikan untuk bahan bacaan anak usia pra-remaja untuk membangkitkan dan memberi kesadaran arti sebuah buku, juga bahan bacaan lainnya. Tentang bagaimana dunia, kebudayaan atau peradaban yang luas dan besar ini terbentuk, berawal hanya dari dua puluh enam huruf alfabet. Dijamin seru dan tidak membosankan. Saya juga kagum bagaimana kedua penulis benar-benar menjadi bocah remaja usia 12-an dengan fantasi liarnya yang hidup.

Beberapa kutipan…

Ungkapan Bibbi Bokken tentang buku:

Tetapi aku tetap saja merasa nyaman di tengah masyarakatku sendiri—dan di tengah buku-bukuku. Seseorang pernah berkata: ‘Buku adalah teman terbaik.’ Orang lain pernah mengucapkan kalimat yang mirip dengan itu: ‘Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter yang paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keluhuran manusia bersemayam.’ (235)

Kalimat penutup buku Der grausame Genuss—Texte uber die Geheimnisse des Lesens (Kenikmatan yang Kejam—Buku tentang Rahasia Membaca), karya Simen Skjonsberg: Aku berjalan menyusuri rak-rak perpustakaan. Buku-buku tersebut memunggungiku. Tak seperti manusia yang ingin berjarak denganku, buku-buku itu malah menawarkan diri untuk memperkenalkan diri mereka. Bermeter-meter jajaran buku yang tak akan pernah mampu kubaca. Dan aku tahu: apa yang ada di sini adalah kehidupan yang merupakan pelengkap kehidupanku, yang menanti untuk dimanfaatkan. Tetapi hari-hari berlalu, dan kesempatan itu tetap tak tergapai—terabaikan. Salah satu buku ini mungkin benar-benar bisa mengubah hidupku. Siapakah aku sekarang? Siapakah sebenarnya aku? (234)

Ungkapan Nils ketika berada di dalam perpustakaan ajaib, di tengah ribuan buku:

… , aku mengalami keajaiban. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mengerti apa sesungguhnya buku itu. Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan “ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.

… merasa seolah-olah buku-buku tersebut menatapku. Ya, seolah mereka bernyawa, dan memanggil: “Datanglah kepada kami! Jangan takut! Kemarilah!”

Tiba-tiba aku lapar sekali. Bukan lapar akan makanan, namun akan segenap kata-kata yang tersembunyi di rak-rak tersebut. Tapi aku tahu: seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari seluruh kalimat yang tertuliskan. Karena di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu laksana sebuah ruang yang tak pernah berujung.

Namun, pada saat itu pun aku tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas. Selama beberapa saat aku melongok ke dalam dunia buku yang fantastis dan berdaya magis. (237-238)

Sejarah huruf hingga menjadi buku, dan munculnya seni pencetakan buku:

“Apakah kalian pernah berpikir, bahwa kita, manusia, adalah satu-satunya makhluk hidup di planet ini—yah, mungkin di seluruh jagat raya—yang dapat saling bertukar pikiran, perasaan, dan pengalaman?”

“Sejak berabad-abad yang lalu, manusia sudah mampu melakukannya. Tetapi kita baru belajar menulis lima atau enam ribu tahun yang lalu. Dan itu memberikan nuansa yang benar-benar baru ke dalam bahasa. Sekarang kita bisa berbagi pengalaman dengan manusia lain yang berjarak ratusan mil dari kita—ataupun dengan manusia yang akan hidup ratusan atau bahkan ribuan tahun setelah kita nanti. Bahasa yang maju dulu pertama-tama menggunakan huruf-gambar. Dulu elemen-elemen penulisan memiliki kemiripan dengan komik yang kita kenal sekarang. Namun, lambat laun berkembanglah sebuah sistem penulisan yang bisa mengungkapkan kata-kata dari sebuah bahasa melalui sedikit huruf saja ….”

“Mari kita bicarakan tentang alfabet. Ini adalah revolusi besar pertama dalam sejarah budaya huruf. Selama ribuan tahun orang menulis di atas batu dan papirus, di atas potongan kayu dan tempurung kura-kura, di atas lembaran tanah liat kering, dan di atas pecahan tembikar, kulit hewan, dan lembaran dari lilin. Ya, di atas segala yang bisa dicoret-coreti dengan tulisan cakar ayam. Situasi saat itu laksana demam yang mewabah serentak di seluruh dunia. Seiring dengan perjalanan waktu, buku-buku dicetak di atas perkamen dan kertas. Namun demikian, setiap halaman harus ditulis tangan. Oleh karena itu, dulu harga buku mahal dan tak terjangkau oleh sebagian besar orang. Di beberapa tempat di dunia, dicoba untuk menggoreskan huruf pada pelat kayu sehingga bisa berkali-kali dicetak. Dengan cara inilah berkembang seni penggandaan. Namun, ‘pencetakan buku’ adalah sebuah proses yang makan waktu dan mahal.”

“Lalu datanglah Gutenberg,” ujar Berit.

“Benar, sekitar tahun 1450. Dan baru setelah itu kita dapat membicarakan seni pencetakan buku yang merupakan revolusi terbesar kedua dalam budaya huruf. Gutenberg menggunakan huruf bongkar-pasang (movable type) dari timah hitam. Pada awalnya, ia adalah seorang pandai besi. Tapi, sebagaimana ia akhirnya mampu mencetak seluruh halaman buku. Huruf bongkar-pasang itu dapat dipergunakan berulang-ulang. Ia menciptakan atom-atom dan molekul-molekul dari dunia perbukuan.”

Nils berdeham, lalu berkata: “Jadi, sama seperti atom dan molekul bisa menjadi seekor beruang, huruf-huruf tersebut pun dapat menjadi kisah Pooh si Beruang.”

“Benar, misalnya Pooh si Beruang. Sudah sejak lebih dari sembilan abad yang lalu, huruf bongkar-pasang semacam itu digunakan di Cina. Tetapi di sana tak ada alfabet. Tak banyak gunanya menggunakan huruf-huruf cetak seperti itu jika bahasa kita punya ribuan huruf. Budaya huruf di Eropa dibentuk baik oleh alfabet maupun oleh huruf bongkar-pasang.” (224-227)

Saya suka gaya Nils yang kadang sok dewasa, ungkapan-ungkapannya yang lucu dan unik—dengan fantasi bebasnya. Ini salah satu bagian yang saya suka… :D

“Ini buku suratnya,” kataku.
“!!!!!????????”
Berit terlihat bak lima tanda seru dan delapan tanda tanya.

Covernya lebih suka yang di sebelah kanan ini, lebih terasa kesan fantastis perpustakaannya. Yang edisi terjemahan kurang terlihat kesan perpustakaannya, tidak terlihat kalau lorong itu adalah rak-rak buku, kalah oleh kesan misteri yang muncul. Nuansa ‘magis’ perpustakaannya tidak muncul—nuansa magis dari sebuah perpustakaan yang dipenuhi buku, dari yang paling tua sekalipun (incunabula).

Setelah baca bukunya pasti penasaran dengan nama-nama tempat yang disebutkan, terutama tentang perpustakaan bawah tanah—yang anti kebakaran dan bom atom serta terlindungi dari segala macam bencana alam—di bawah Jostedalsbreen itu kan? :) Ini fakta tentang Fjærland dan tempat lain di sekitarnya (dari Wikipedia).

Fjærland is the Norwegian Book Town (since 1996). Between 10 and 15 second hand book shops are situated in Mundal giving new life to second hand books as well as to old barns, boat sheds and other buildings that are no longer needed for their original purpose. The Norwegian Book Town is part of the international book town movement.

Fjærland is a village in the municipality of Sogndal, along the Fjærlandsfjord, in Sogn og Fjordane county, Norway. The Fjærlandfjord is a branch of the Sognefjord, the longest fjord in Norway. The village is located about 31 kilometres (19 mil) northwest of the municipal center of Sogndalsfjøra.

Fjord is a long, narrow inlet with steep sides or cliffs, created in a valley carved by glacial activity. The Sognefjord is the largest fjord in Norway, and the second longest in the world. The glacier arms Bøyabreen and Supelabreen (a part of the Jostedalsbreen glacier) and the Norwegian Glacier Museum are located nearby. Jostedalsbreen, is the largest glacier in continental Europe.

Link menarik:
Norwegian Glacier Museum & Ulltveit-Moe Climate Centre
Hotel Mundal yang unik.
Sognefjord yang fantastis. My dream place!

8 thoughts on “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

    • salam kenal juga bang Helvry, terima kasih mau berkunjung n meninggalkan jejak. blog saya jarang diupdate, hehe. trims juga sudah app di GR. oya, saya sudah berkunjung balik ke blognya, kayaknya harus sering2 saya kunjungi biar bisa belajar byk :)

    • hehehe, lengkap kutipannya iya.. :D jauh dari review, cuma buat nyimpen kesan2 yg ga mau dilupain dari buku yg dibaca ^^

  1. Sudah lama beli buku ini dan sudah baca setengahnya.. cuma entah kenapa terlupakan.. dua hari yang lalu baca lagi dari awal sampai tamat.. bagus ceritanya dan sangat suka akan kalimat-kalimatnya. Barusan mencari di google dan nyangkut di blog ini. :D

    paling suka ini: Tetapi hari-hari berlalu, dan kesempatan itu tetap tak tergapai—terabaikan.

    Rasanya menyesal di waktu luang tidak digunakan untuk membaca. Harus membaca lebih banyak lagi sepertinya. :)

  2. That is very interesting, You’re an excessively skilled blogger. I have joined your feed and stay up for searching for more of your fantastic post. Additionally, I’ve shared your site in my social networks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s