Burung-Burung Manyar

Burung-burung Manyar. Y. B. Mangunwijaya. Penerbit Djambatan. Cetakan 13, Mei 2004. 319 halaman. ISBN 979-428-528-5. Cetakan pertama Agustus 1981. Mendapat penghargaan South East Asia Write Award pada 1983.

“.. Anda pasti akan dipecat bila rahasia ini Anda bocorkan.”

“Ya, saya sudah memperhitungkan itu sebelumnya.”

“Anda idealis. Orang-orang seperti Anda ini sebetulnya makhluk-makhluk yang tersesat di dunia seperti yang kita punyai ini. Seharusnya Anda tidak menjadi ahli matematika, tetapi pendeta.”

Tamunya tersenyum, dan senyumnya penuh kedamaian yang pasti, seperti seorang sukarelawan Special Command di dalam Perang Dunia, yang siap terjun di daerah musuh, hanya untuk mati.

“Pendeta masa kini adalah para ahli matematika dan sarjana-sarjana dalam kedudukan perhitungan kunci,” jawabnya tenang, pasti, ningrat. (216)

Saya melihatnya bukan sebagai roman percintaan, tetapi lebih tentang manusia. Juga tentang Indonesia dalam proses kelahiran sebagai bangsa, dan perjalanannya menuju ‘dewasa’. Ini hanya celoteh selepas membaca buku yang kaya dan dalam ini…

Cerita dibuka dengan sebuah prolog yang dinamai prawayang. Semacam narasi awal yang mengantar pada suasana dan isi cerita. Sekilas seperti tidak ada hubungan dengan isi cerita, tapi bagi yang akrab dengan cerita wayang mungkin bisa mengasosiasikan tokoh dan peristiwa pada prawayang dan menangkap perlambang (sasmita) yang dimaksud. Selanjutnya kisah terbagi dalam tiga bagian. Bagian I mengambil setting masa penjajahan kolonial Belanda dan pendudukan Jepang, 1934-1944; Bagian II, masa revolusi kemerdekaan, 1945-1950; Bagian III, masa Orde Baru, 1968-1978.

Secara tersurat berkisah tentang perjalanan hidup Teto si “anak kolong” yang pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia memilih masuk KNIL, berpihak pada Belanda. Argumen dan perspektif tokoh Teto yang skeptis mengungkapkan cara pandang lain mengenai kemerdekaan, mengenai Indonesia sebagai bangsa yang baru lahir dan harus menuju kedewasaannya. Cara pandang yang tidak umum, bahkan bersebrangan, tapi jujur dan objektif.

Teto bilang, orang-orang Indonesia belum matang untuk merdeka. Tidak akan sebanding korban akibat ketidak-dewasaan dengan keuntungan yang akan dicapai. (57) Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membongkok dan minder harus dididik dahulu menjadi kepribadian. Barulah kemerdekaan datang seperti buah durian yang jatuh karena sudah matang. (89)

Sebagai roman sejarah, BBM juga menampilkan potret realitas rakyat (bawah) dalam gejolak revolusi. Hal-hal yang yang luput dari gaung kebesaran dan romantisme revolusi. Potret kehidupan para pahlawan yang sesungguhnya, rakyat yang terjajah dan teraniaya, dan para pejuang yang tak terkenal. Bagaimana mereka memaknai situasi dan ‘kemerdekaannya’. Seperti Teto yang mempertanyakan, apakah sama atau berbeda bagi mereka, berada di bawah singgasana raja-raja Jawa mereka sendiri atau di bawah Hindia Belanda? … seolah negara sama dengan rakyat. Jika negara merdeka, orang mengira rakyat otomatis merdeka juga. (58)

Dan Teto juga memandang negerinya adalah negeri yang sangat indah, tetapi menjengkelkan karena tak pernah dapat terbaca apa sebenarnya isi hatinya, kendatipun didatangi agresor. (148) Tetapi ini bangsa kuli. Coba kau injak, barulah mereka hebat bekerja. Tetapi bila diberi hati, kembalilah mereka menjadi anak kecil yang merengek-rengek permintaan bukan-bukan tidak masuk akal. (205) Nendang banget!

Novel ini tidak terlalu panjang, ceritanya terkesan mengalir ringan dan tentu saja menarik. Tapi menyampaikan begitu banyak hal. Banyak hal dan banyak segi, dari banyak segi. :) Saya sampe bingung menulisnya. Kadang menyindir halus, kadang terang-terangan.

Dari sisi filosofi kehidupan, bicara tentang manusia, novel ini mengajak kita untuk jujur menelanjangi kemanusiaan kita. Tanpa merendahkan, tidak juga meninggikan. Tidak menggurui.., hanya mengajak kita menjadi manusia yang lengkap; lengkap dengan kelemahan dan juga sisi baiknya.

Dunia burung digambarkan sebagai perumpamaan manusia dalam strata kehidupan. Burung manyar adalah perumpamaan perjalanan hidup Teto yang gagal menyelaraskan dua hal, jati diri di dalam dan bahasa citranya ke luar, sehingga ia harus kalah dan kehilangan orang yang dicintai.

Sebagaimana dikupas dalam tesis Atik—kekasih hati Teto—yang berjudul “Jatidiri dan bahasa citra dalam struktur komunikasi varietas burung Ploceus Manyar”. Antara jatidiri di dalam dan bahasa citra ke luar semestinya selalu menari dalam gerak harmoni, sehingga manusia yang dalam kehidupannya adalah seorang berdaulat—namun tetap tertambat dengan berjuta-juta benang halus sutera tak tampak alam raya dan dunia flora dan fauna, juga dengan tanah air dan rakyat—dapat menemukan jatidiri kehidupan dan panggilannya sebagai manusia. Agar tidak terjadi suatu bangsa berperang melawan bangsa lain berdasarkan kesimpulan perhitungan dan suatu strategi yang diletuskan dan dipastikan oleh silikon-silikon komputer. (247-253) Huah.. berat dan dalam. :)

H.B. Jassin menyatakan, pengarang cerita ini memperlihatkan pengetahuan dan pengalaman yang banyak serta pengetahuan tentang manusia yang mendalam.

Judul-judul babnya menggambarkan tahapan perjalanan kehidupan seorang anak manusia. Misalnya, pada bagian I terdapat judul Anak Kolong, Anak Emas, Buah Gugur, Kuncup Mekar; Bagian II, Anak Harimau Mengamuk, Singa Mengerti, Banteng-banteng Muncul, Burung Kul Mendamba; Bagian III, Nisan Perhitungan, Gunung Rawan, Aula Hikmah, Rumah Pertanyaan, Istana Perjuangan, Sarang Manyar Baru. Unik dan apik.

Gaya bahasanya luwes, lugas. Tetap asik dibaca meski kadang filosofis banget. Bangunan ceritanya apik. Struktur aslinya kompleks, kaya dan dalam, tapi terlihat sederhana dalam kemasan alur kisah yang menarik. Pergolakan batin tokoh-tokohnya nyata. Menampilkan banyak sisi kehidupan. Ditulis dengan penuh perhitungan mesti. Sebuah karya yang tidak kalah dengan karya sastra luar, tapi gaungnya tidak terdengar, tidak seperti karya-karya sastra luar. Hanya karena masih minimnya apresiasi bangsa kita terhadap karya sastra seperti ini. Cerminan budaya literasi kita yang masih rendah.

Karya sastra yang besar selalu menghimbau angan-angan kita untuk bergerak dengan leluasa di dalam ruang jagatnya. Untuk menemukan makna bagi kehidupan kita sendiri. BBM telah sanggup memberika makna itu. (Subagio Sastrowardoyo, Tempo)

Tentang penulis

Romo Mangun dikenal sebagai pembela orang miskin dan yang terpinggirkan. Visi kerakyatannya terbentuk setelah ia mendengar pidato Danyon Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP), Mas Imam, saat dielukan rakyat ketika memasuki Malang: Jangan elukan kami, kami bukan pahlawan, tangan kami penuh lumuran darah. Yang layak disebut pahlawan adalah rakyat yang terjajah dan teraniaya. Di halaman persembahan buku ini pun ditulis dipersembahkan kepada: Ayah-Ibu tak terkenal para pejuang.

Yang paling dibutuhkan orang miskin adalah harga diri, katanya dalam buku “Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia”, 1985-1986.

Ia yakin bahwa interaksi saling ajar antara guru dan murid adalah hal yang paling menentukan keberhasilan pendidikan. Biar pendidikan tinggi brengsek dan awut-awutan, namun jangan telantarkan pendidikan dasar, ucapnya. Ia yakin, pendidikan dasar yang benar akan melahirkan generasi yang cerdas. (Totally agree. The point is: pendidikan dasar.) Saya rindu menjadi guru SD, katanya dalam sebuah wawancara. Ia pun terjun mengajar dan juga belajar.

Kecewa terhadap sistem pendidikan Indonesia ia mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Pendidikan itu bukan industri tapi sebuah proses memanusiakan manusia, katanya.

Romo Mangun dekat dengan semua golongan agama. Perbedaan agama baginya bukan suatu persoalan yang besar. “Bagi saya yang nomor satu bukan agama, melainkan iman dan takwa. Banyak orang yang beragama tapi tidak beriman,” ungkap Romo Mangun dalam berbagai kesempatan. Melalui karyanya, Romo Mangun ingin Indonesia memiliki visi kemandirian dalam bidang ekonomi dan pendidikan.

Saya mengagumi beliau dan ingin dapat melakukan apa yang dilakukannya.

Referensi tentang penulis: Bayang Baur Sejarah, Sketsa Hidup Penulis-penulis Besar Dunia. Aulia A. Muhammad. Tiga Serangkai, 2003.
Tautan menarik: Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya. Penerbit Kompas, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s