Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara. Ahmad Fuadi. Penerbit Gramedia. Cet ke-5 Februari 2010. 422 halaman. ISBN 978-979-22-4861-6

Meski sudah agak lama medengar tentang buku ini, saya belum tertarik sampai mendengar sendiri wawancara penulisnya di Kick Andy on Radio. Benarkah semenarik itu? Dan setelah saya baca, ternyata memang sangat menarik. Banyak hal baru. Saya kagum dengan inspirasi mengenai visi pendidikan yang ada didalamnya. Juga ada banyak pelajaran lain. Saya menyimpan beberapa hal menarik. Hanya beberapa.. (Tapi ternyata tulisan ini tetap jadi sangat panjang.)

Alif lahir di Maninjau, tepatnya di kampung pinggir danau Maninjau, Sumatra Barat. Lulus dari madrasah tsanawiyah, sekolah agama setingkat SMP, Alif ingin melanjutkan ke SMA non agama. Alif ingin ‘jadi’ Habibie. Alif sudah merancangnya jauh-jauh hari bersama teman sekaligus sparring partner-nya, Randai. Belajar agama, cukuplah pikirnya. Sekarang saatnya belajar ilmu umum, demi cita-citanya. Alif termasuk sepuluh besar lulusan terbaik di Kabupaten Agam.

Rupa-rupanya, jalan pikiran Amaknya Alif berbeda. Amak ingin Alif melanjutkan ke Aliyah, sekolah agama setingkat SMA. Amak seorang guru yang teguh memegang prinsip, rela diasingkan teman-teman untuk membela kebenaran yang harus ditegakkan. Amak berpendapat, karena Alif anak pintar, ia ingin Alif masuk sekolah agama. Amak ingin Alif jadi pemimpin agama yang berpengetahuan luas seperti Buya Hamka, ulama terkenal yang berasal dari kampung lain di tepi danau Maninjau juga.

Amak melihat, yang terjadi selama ini, anak yang masuk sekolah agama adalah warga kelas dua. Kebanyakan orangtua memasukkan anaknya ke sekolah agama karena tidak mampu secara ekonomi (biaya sekolah agama lebih murah) atau karena anaknya lulus dengan predikat kurang memuaskan (nilainya kurang untuk masuk SMP atau SMA). Bagaimana nanti kualitas para pemimpin agama yang dihasilkan madrasah kita? Bagaimana mereka kelak menghadapi masyarakat yang semakin maju dan kritis. Bagaimana nasib umat Islam kelak..? Begitu pikiran Amak.

Alif sangat kecewa, tapi permintaan Amak juga sulit ditolak. Sampai akhirnya Alif mengambil keputusan setengah hati, tetap masuk sekolah agama, tapi di tempat yang sangat jauh, melintas pulau. Di Pulau Jawa, tepatnya di Ponorogo, Jawa Timur, di Pondok Madani (PM).

Tidak disangka, di PM ini Alif malah bertemu hal-hal yang sebelumnya tidak terbayangkan akan ada di sekolah agama, atau lazim disebut pondok pesantren.

Pada tur keliling PM di hari pertama kedatangannya, di suatu ruangan ia melihat pemandangan yang tak lazim berada di suatu tempat bernama pondok. Di suatu sudut beberapa anak muda sibuk menyetem gitar listrik, dan seorang anak terpejam menjiwai gesekan biolanya yang mengalunkan lagu Sepasang Mata Bola. Ada yang sedang melukis wajah seseorang. Lukisan wajah Sir Muhammad Iqbal, pemikir modern Islam dari Pakistan, kata pemandu. Ada juga yang sedang melukis kaligrafi abstrak. Ini Art Department. Berbagai bidang mulai dari musik, melukis, teater, desain grafis hingga fotografi ada. “Bagi kita di sini, seni penting untuk menyelaraskan jiwa dan mengekspresikan kreatifitas dan keindahan,” kata pemandu.

Di blok berikutnya, bentuk ruangannya seperti camp tempur, ada papan bertuliskan ‘boyscout headquarter’. Ada tali temali, ransel, sepatu bot berjejer, tenda berlepotan lumpur. Pemandu menerangkan, mereka baru pulang dari jambore di Jepang. PM aktif mengirimkan pramuka ke berbagai jambore. Pramuka adalah kegiatan wajib bagi semua murid. PM penuh dengan berbagai macam kegiatan, hampir semua ada, tinggal memilih sesuai minat.

Yang menarik… Ketika satu dari orang tua murid yang ikut tur bertanya, dengan kegiatan sedemikian banyak dan beragam, lalu belajar agamanya kapan? Jawaban pemandu sangat menarik, “Kiai kami tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana.” (That’s the point!)

Hari-hari berikutnya, Alif sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Berteman akrab dengan 5 orang yang memiliki kegemaran sama yaitu duduk dibawah menara masjid PM menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Untuk ini mereka berenam menyebut diri mereka sebagai sahibul menara, artinya yang punya menara. Mereka adalah Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso, yang punya kemampuan photographic memory, dari Gowa.

Banyak hal yang Alif dan teman-teman pelajari. Di minggu awal, mereka belajar satu kata mutiara sederhana, yang kemudian menjadi kompas kehidupan mereka selanjutnya, man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh pasti sukses. Para ustad (guru) mengarahkan agar para murid punya cita-cita besar. Berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan orang lain, going the extra miles. Melangkah menuju sesuatu yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menemukan misi hidup. Menjadi manusia yang berguna bagi sesama sebanyak mungkin, menjadi rahmatan lil alamin. “Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar,” begitu kalimat saktinya.

Mereka diajarkan dan mempraktekkan motto siap memimpin dan siap dipimpin. Belajar hidup mandiri, disiplin tinggi, ‘tepat waktu’ dan belajar konsep ikhlas. Untuk pelajaran ikhlas ini, saya kagum. Kenapa? Karena ikhlasnya disajikan dalam konteks yang berbeda. Selama ini ikhlas lebih sering saya temukan dalam pengertian sempit dan penempatan yang kurang tepat. Seperti dalam konteks menyikapi sebuah… derita(?). Hehe. Atau dijadikan tameng ketika dalam posisi teraniaya. Di sini, beberapa bagian kisah menggambarkan ikhlas dalam pengertian dan penempatannya yang luas dan dalam (sebagaimana seharusnya). Ikhlas yang juga menjadi oksigen. Ikhlas yang memberi ruh atau nafas dalam semua perbuatan. Menggerakkan, menguatkan, aktif.

Saya hanya mencatat dua dari beberapa. Pertama, pada ceramah awal penyambutan siswa baru, pimpinan pondok memberi amanat, ikhlaskanlah diri kalian untuk diajar oleh kami, karena kami pun ikhlas mengajar kalian. Kedua, ketika siswa yang melanggar aturan pondok hendak dihukum, sang berwenang pemberi hukuman berkata, tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan. Bagaimana? Ada sensasi lain? Kalau saya merasa ada sensasi ‘daya gerak’ yang berbeda dari ikhlas yang seperti ini..

Kembali ke Alif dan teman-teman.. PM tidak mengeluarkan ijazah seperti sekolah lain. Ijazah PM adalah bekal ilmunya sendiri. Untuk penegakkan disiplin, PM punya aturannya sendiri. Aturan komando (qanun) dibacakan pada malam pertama siswa baru di asrama. Aturan ini harus disimak. Tidak ada peraturan tertulis sehingga harus ditulis dalam ingatan. Setelah mendengar qanun, setiap orang tidak punya alasan tidak tahu bahwa itu aturan. Aturan di PM punya konsekuensi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu.

Ada beberapa penegakkan disiplin, diantaranya disiplin bahasa. Setiap siswa baru hanya punya waktu empat bulan untuk boleh berbicara bahasa Indonesia. Setelah itu semua wajib berbahasa Inggris dan Arab selama 24 jam. Percaya kalian bisa kalau berusaha, bahasa asing adalah anak kunci jendela-jendela dunia, kata ustad. Dalam penegakkan disiplin bahasa inilah kemudian muncul cerita-cerita lucu dan menegangkan, karena digunakannya sebuah metode unik yang mengawinkan dua metode yang sama sekali berbeda: kepiawaian spionase Roger Moore, agen 007, dengan metode disiplin pondok. Dan ini jadi momok tersendiri bagi siswa baru.

Hal lain yang tak kalah menariknya… Menarik karena menyangkut hal yang saya suka. Pada ujian akhir Peradaban Islam, ustadnya hanya memberi 1 pertanyan. Bukan tipe soal yang sulit, tapi tipe soal yang menantang. Menantang dan menggairahkan, kata Alif. Pertanyaannya: “Apa kisah sejarah Islam yang paling mengisnpirasimu? Beri kritik.” Alif memutuskan untuk bercerita tentang topik yang selalu membuatnya terpukau, yaitu masa keemasan Islam di ranah Eropa pada abad ke-8 sampai ke-15. (Ketertarikan kita sama, Lif!)

Alif bercerita tentang suatu masa di mana waktu itu kota-kota penting Islam di Spanyol seperti Toledo, Valencia, Granada, Cordoba, Malaga dan Seville mencapai puncak peradaban, dan Universitas Cordoba dan Palacio de la Madraza di Granada menjadi tujuan orang Eropa untuk belajar ilmu mulai kedokteran sampai ilmu falak.

Untuk bagian kritik, Alif menguraikan jawabannya dengan meminjam pendapat Ibnu Khaldun, ahli hukum, sejarah, sosiologi, sekaligus filsuf, dalam buku terkenalnya, Mukaddimah. Sungguh mengasyikkan mempelajari kejayaan Islam zaman dulu mulai dari masa Dinasti Nasrid di Spanyol, Safavid di Iran, Mogul di India, Ottoman di Anatolia, Syiria, Afrika dan Timur Tengah, kata Alif. Tapi juga menyedihkan karena semua ini berkesudahan dengan kemunduran. Dan lebih menyedihkan lagi adalah kebiasaan umat Islam bernostalgia dengan kejayaan tua yang mangkrak itu. (What is mangkrak?) Sudah saatnya romantisme ini dilihat dari sisi yang lain. Bukan untuk dikenang dan dibangga-banggakan, tapi untuk mengambil hikmah dari masa lalu dan berjuang untuk membangun peradaban yang lebih kokoh lagi. (Ini poin yang kedua. Tapi, ini bahasa si Alif atau pengarangnya?)

Akhirnya, Alif dan teman-teman lulus. Meski Baso harus berhenti di tengah jalan, untuk sesuatu yang tidak kalah mulianya. Tapi berhenti bukan untuk surut. Mundur satu langkah untuk maju tiga langkah ke depan. Di akhir cerita, mereka bertemu dalam suasana lain, setelah masing-masing berada di 5 benua berbeda, dengan pengabdian masing-masing. Sesuai gambaran gumpalan-gumpalan awan yang pernah mereka lihat dari bawah menara masjid, yang membentuk negara dan benua impian masing-masing. Bagaimana perjalanan mereka mengejar impian selepas lulus dari PM? Mungkin ini yang akan dikisahkan di buku kedua yang akan segera terbit. Kabarnya, Negeri 5 Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Selamat membaca bagi yang belum membaca.

Mengutip tulisan pada cover belakang buku, Negeri 5 Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi. Penulisnya, Ahmad Fuadi, adalah mantan wartawan TEMPO & VOA, penyuka fotografi, terakhir menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi. Alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway, University of London. Meniatkan sebagian royalti trilogi ini untuk membangun Komunitas Negeri 5 Menara, organisasi sosial berbasis volunteerism yang ingin menyediakan sekolah, perpustakaan, klinik dan dapur umum gratis buat kalangan tidak mampu. (Semoga niat baik ini dilancarkan dan diberkahi-Nya. Amiin.)

Saya suka gaya bahasanya, detail dan tajam, khas wartawan ya.. Tapi kadang terasa ketinggian untuk ukuran seusia Alif yang juga dari kampung dan belum pernah menginjakkan kaki ke luar tempat lain. Jadi terasa kurang natural untuk Alif dengan dunianya di masa itu.. :)

Terakhir, kurang lengkap tanpa memasang foto danau Maninjau yang indah. Kapan-kapan saya ke sana, sambil ke museum rumah Buya Hamka di tepinya. :)

Foto: Ngakan Nyoman Maesa Yuda

Kutipan endorsement yang saya suka dan mewakili esensi cerita:

BJ Habibie – … merupakan pelajaran yang amat berharga bukan saja sebagai karya seni, tetapi juga tentang proses pendidikan dan pembudayaan untuk terciptanya sumberdaya insani yang handal.

Arief Rachman, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta – … tulisan yang sangat inspiratif dan saya anjurkan untuk dibaca oleh masyarakat pendidikan. … kita merasakan kekuatan pandangan hidup yang mendasari bangkitnya semangat untuk mencapai harga diri, prestasi dan martabat diri. Keterikatan, peleburan dan pencerahan diri dari kekuatan Allah SWT telah mendasari semua kegiatan menjadi ibadah dan keberkahan. Dari kekuatan inilah penulis novel ini memberikan perenungan bagi pembaca untuk tidak putus asa dalam hidup dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat bangsa dan agama.

Emha Ainun Nadjib – Masyarakat dunia, khususnya Indonesia, sedang mengolah kekayaan alam, kreativitas pengetahuan dan invensi serta inovasi teknologi menjadi sampah kebudayaan, kekonyolan mental, kehinaan moral dan kekerdilan kemanusiaan. Fuadi melakukan yang sebaliknya: dengan bukunya ini ia mengolah sampah-sampah masa silam kehidupannya menjadi emas permata masa depan. Apa itu gerangan? Bagi siapa pun yang mengerti emas permata nilai-nilai kehidupan, mereka tidak memerlukan saya menjelaskannya. Dan bagi yang tidak pernah belajar mengerti, sia-sia saya menjelaskannnya.

One thought on “Negeri 5 Menara

  1. Pingback: Green Deen, Agama Hijau | Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s