Perjalanan Hidup Sang Taiko

Masih tentang Taiko. Sebagaimana Musashi, Taiko adalah kisah klasik yang ditulis ulang Eiji Yoshikawa dari manuskrip aslinya ke dalam bahasa yang lebih mudah dicerna. Ditulis tahun 1937 dengan judul Shinsho taikoki. Sebagaimana karya-karya lainnya, kisah ini ditulis ulang untuk menumbuhkan minat baru terhadap sejarah. Genrenya novel sejarah. Dan Eiji Yoshikawa menjadi yang terbaik dan terkemuka di Jepang di genre tersebut. Bahkan di tingkat dunia. Pemerintah Jepang sengaja menjadikan perjalanan hidup Toyotomi Hideyoshi (Sang Taiko) sebagai panutan orang banyak, sebagai bagian dari propaganda untuk menunjukkan kekuatan Jepang pada masa sebelum PD II. (Wikipedia)

Saya suka beberapa paragraf pada bagian Penutup, halaman 1140-1141:

Ketika membandingkan perjalanan hidupnya dengan sebuah pendakian gunung, ia merasa seakan-akan memandang bukit-bukit di bawah setelah hampir mencapai puncak.

Puncak gunung dianggap sebagai tujuan akhir sebuah pendakian. tapi tujuan sesungguhnya, yaitu memperoleh kenikmatan hidup, tidak ditemui di puncak, melainkan dalam kesulitan-kesulitan yang menghadang di perjalanan. Perjalanan itu ditandai oleh lembah, tebing, sungai, jurang, serta tanah longsor, dan pada waktu menyusuri jalan setapak, sang pendaki mungkin merasa ia tak dapat maju lebih jauh, atau bahkan kematian lebih baik daripada meneruskan perjalanan. Tapi kemudian ia bangkit dan kembali berjuang melawan kesulitan-kesulitan yang menghadang, dan ketika akhirnya ia dapat menoleh dan mengamati rintangan yang berhasil diatasinya, ia pun menyadari bahwa ia telah merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.

Betapa membosankan hidup bebas dari kebimbangan atau perjuangan yang melelahkan! Betapa cepatnya orang akan bosan menempuh perjalanan di tempat datar. Pada akhirnya, hidup manusia merupakan rangkaian penderitaan dan perjuangan, dan kenikmatan hidup tidak terletak dalam masa-masa jeda yang singkat. Hideyoshi, yang lahir dalam kesengsaraan, tumbuh dewasa sambil bermain di tengah-tengahnya.

… Tetapi cita-cita Hideyoshi tidak berhenti di batas air; ambisinya menjangkau lebih jauh, ke negeri yang diimpi-impikannya semasa kanak-kanak… Orang yang tak pernah ragu bahwa ia sanggup membalik setiap kesulitan menjadi keuntungan baginya, bahwa ia sanggup membujuk setiap musuh untuk menjadi sahabat, bahwa ia sanggup membujuk burung yang membisu agar menyanyikan lagu yang dipilihnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s