Eiji Yoshikawa: Taiko

Taiko (Dari Taiko"": An Epic Novel of War and Glory in Feudal Japan). Eiji Yoshikawa. Alih bahasa: Hendarto Setiadi. PT Gramedia Pustaka Utama. Cetakan keempat, April 2006. Hardcover, 1142 halaman. ISBN: 979220492X (ISBN 13: 9789792204926)

Menulis tentang novel ini? Hmm.. tidak sekarang. Masih ecstasy. Hehe. 1142 halaman! Karena tebalnya, bisa dijadikan bantal. Membacanya jadi perjuangan tersendiri, tapi puas. Biar terendapkan dulu. Meski bercerita tentang perang, perebutan kekuasaan, intrik politik, dan pengkhianatan, tapi juga becerita tentang perjuangan, pengabdian, kesetiaan dan sisi-sisi kemanusiaan di dalamnya. Tentang ambisi, namun juga nurani yang tetap mendasari ambisi yang besar dan kuat itu. Tentang idealisme di satu sisi, dan sisi-sisi kemanusiaan yang tetap mewadahi. Tentang sebuah cita-cita besar, dan perjuangan untuk mewujudkannya.

Nah, untuk saat ini, hanya ingin mengabadikan 2 hal yang membuat saya bertahan hingga berbulan-bulan untuk menyelesaikan membaca buku ini: sampai tuntas! Yang pertama, kalimat pembuka pada halaman Catatan Untuk Pembaca. Perhatikan bagian yang ditebalkan.. Poinnya, bagaimana cara Hideyoshi membuat burung itu ingin berkicau. It’s exactly sparked my curiosity.

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka berbeda secara mencolok satu sama lain: Nobunaga, gegabah, tegas, brutal; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar, penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:

Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?

Nobunaga menjawab,” Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Buku ini, Taiko (sampai kini, di Jepang, Hideyoshi masih dikenal dengan gelar tersebut), merupakan kisah tentang laki-laki yang membuat burung itu ingin berkicau.

Yang kedua, sinopsis pada cover belakang buku:

Dalam pergolakan menjelang dekade abad keenam belas, Kekaisaran Jepang menggeliat dalam kekacau-balauan ketika keshogunan tercerai-berai dan panglima-panglima perang musuh berusaha merebut kemenangan. Benteng-benteng dirusak, desa-desa dijarah, ladang-ladang dibakar.

Di tengah-tengah penghancuran ini, muncul tiga orang yang bercita-cita mempersatukan bangsa. Nobunaga yang ekstrem, penuh karisma, namun brutal; leyasu yang tenang, berhati-hati, bijaksana, berani di medan perang, dan dewasa. Namun kunci dari tiga serangkai ini adalah Hideyoshi, si kurus berwajah monyet yang secara tak terduga menjadi juru selamat bagi negeri porak-poranda ini. Ia lahir sebagai anak petani, menghadapi dunia tanpa bekal apa pun, namun kecerdasannya berhasil mengubah pelayan-pelayan yang ragu-ragu menjadi setia, saingan menjadi teman, dan musuh menjadi sekutu. Pengertiannya yang mendalam terhadap sifat dasar manusia telah membuka kunci pintu-pintu gerbang benteng, membuka pikiran orang-orang, dan memikat hati para wanita. Dari seorang pembawa sandal, ia akhirnya, menjadi Taiko, penguasa mutlak Kekaisaran Jepang.

Selain mengagumi Eiji Yoshikawa, saya juga mengagumi Hendarto Setiadi. My awesome translator. (Sejak pertama berkenalan lewat novel Dan Damai di Bumi!) Belajar tentang satu hal: Tak ada yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata (bahasa). Betapa Tuhan menciptakan bahasa sebagai suatu wujud kebudayaan.

2 thoughts on “Eiji Yoshikawa: Taiko

  1. Pingback: Perjalanan Hidup Sang Taiko « Chrysant

  2. Pingback: Menerjemahkan Dongeng Klasik « Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s