Homeschooling: Orang Tua Adalah Titik Awal

Judul: Anakku Tidak (Mau) Sekolah? Jangan Takut – Cobalah Homeschooling! Penulis: Maria Magdalena. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama. Ukuran: 13 x 18 cm. Tebal: 208 halaman. Terbit: Maret 2010. ISBN: 978-979-22-5535-5; 20401100053. Soft Cover.

“Tiap-tiap orang jadi guru, tiap-tiap rumah jadi perguruan. ” Ki Hajar Dewantara

Apa itu homeschooling? Homeschooling—dikenal juga dengan istilah home education atau home-based learning—adalah model pendidikan di mana keluarga memilih untuk bertanggung jawab secara mandiri atas proses pendidikan yang dijalani anak-anaknya.

Legalitas homeschooling di Indonesia diatur dalam UU No. 20/2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, dalam kategori pendidikan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan), pasal 27.

Melihat akar sejarahnya, homeschooling atau sekolah rumah bukan sesuatu yang baru. Pendidikan berbasis rumah adalah model awal pendidikan sebelum pendidikan distrukturkan dan dilembagakan dalam institusi bernama sekolah, khususnya sejak revolusi industri. Di Indonesia sendiri, tercatat tokoh-tokoh seperti Buya Hamka, KH. Agus Salim dan Ki Hajar Dewantara menjalani pendidikan di rumah. Dulu dikenal dengan sebutan otodidak.

Beberapa tahun terakhir, homeschooling di Indonesia semakin dikenal luas. Namun sejauh ini masih beredar anggapan-anggapan keliru mengenai homeschooling, misalnya: homeschooler cenderung kurang bisa bersosialisasi; hanya bisa dijalankan oleh keluarga kaya, karena biaya mahal; masalah legalitas (ijazah/kesetaraan); lebih banyak dilakukan untuk anak-anak yang notabene ‘bermasalah’ atau berkebutuhan khusus; belajar semaunya, tidak disiplin; orang tua harus tahu segalanya untuk menjadi guru.

Nah, buku ini ditulis oleh seorang praktisi home education, dan berisi sharing pengalamannya dalam menjalani home education. Bercerita tentang apa dan bagaimana home education yang dijalaninya, dengan segala warna dan keunikannya. Mulai dari prinsip dasar yang mendorongnya untuk mempraktikkan HE, sampai bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tersebut berikut segala tantangan yang kemudian dihadapi. Buku ini, sekaligus memberi jawaban bagi banyak pertanyaan tentang home education dan anggapan-anggapan seperti di atas.

Masing-masing keluarga tentu memiliki kriteria berbeda mengenai hal terbaik yang akan diberikan pada buah hatinya, termasuk dalam hal pendidikan. Berangkat dari kesadaran, keinginan, bahkan kebutuhan untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati, penulis memilih HE sebagai bagian dari cara hidup: The way we learn and the way we live. HE dinilai dapat memberi kesempatan pada anak untuk belajar dan benar-benar mengembangkan potensinya. Dimana dalam lembaga bernama sekolah biasanya kurang (tidak) dapat terakomodasi. (Terkait pilihan, bukan berarti mereka yang memilih sekolah formal tidak lebih baik. Sekolah pun telah banyak memberi manfaat.)

Dinyatakan, HE setiap keluarga berbeda dan unik. Tergantung pada prinsip dan nilai utama yang dianut keluarga tersebut. Jika Hillary Clinton—dengan mengambil peribahasa Afrika—menyatakan, “It takes a village to raise a child.” Maka di sini penulis menekankan “It takes a whole family”, untuk bisa menjalankan HE dengan baik. Mestinya ini menjadi ‘proyek keluarga’. Pendidikan karakter yang baik selalu berawal dari penanaman kebiasaan dan nilai-nilai dari rumah. (Saya suka istilah ini: It takes a whole family. Home-based banget.)

Penulis menggeluti HE untuk putranya sejak Januari 2007. Semua proses pembelajarannya terdokumentasi dalam blog portofolionya, Belajar Tanpa Batas. Di buku ini juga dipaparkan mengenai beberapa metode HE yang bisa dipilih, ada tujuh metode yang disinggung, mulai dari yang paling terstruktur (school at home) sampai yang paling tidak terstruktur (unschooling). Pemilihan metode hendaknya dipilih yang sesuai dengan pribadi anak dan kondisi keluarga.

Terkait biaya, penulis menyatakan, HE adalah metode pendidikan yang sepenuhnya diatur oleh keluarga, termasuk pemilihan materi yang dipakai. Dalam memilih kurikulum perlu dikenali kesesuaian materi dengan prinsip hidup keluarga, pembiayaan kurikulum serta pelaksanaan ujiannya. Jadi, pembiayaan sepenuhnya ditentukan oleh keluarga. Sebagaimana disebutkan di halaman 112, ini juga yang menjadi alasan penulis mengapa memilih HE: Karena kami bukan dari keluarga kaya, tapi kami ingin pendidikan yang terbaik untuk anak kami. Sekolah yang bagus dengan standar layanan sesuai yang diharapkan sangat mahal biayanya, sementara sekolah yang bisa kami jangkau, standarnya sangat tidak sesuai dengan gambaran kami tentang pendidikan terbaik.

Selanjutnya dibahas mengenai masalah sosialisasi, ijazah, dan tantangan-tantangan praktis baik yang sifatnya internal maupun eksternal. Karena dalam HE orang tua mengambil “tanggung jawab penuh”, maka orang tua memegang peran sentral. Penulis menyatakan, tantangan akan selalu ada, seberapa besar pun niat dan idealisme ditetapkan. Konsekuensinya, dibutuhkan komitmen yang kuat dalam menjalaninya.

Bagi saya pribadi, homeschooling adalah sesuatu yang terlampau menarik. Demi mendengar kata home, maka jaringan syaraf asosiatif saya langsung memunculkan kata-kata: sweet home, family; kehangatan, kebersamaan, keluarga. Hehe, I like every home-based thing!

Menyimak sharing pengalaman penulis di buku ini: Jika dimaknai lebih mendalam, maka praktik HE adalah metode pendidikan alternatif yang bisa mengembalikan fungsi dan peran rumah/keluarga/orang tua sebagai tempat belajar/guru/sekolah yang pertama dan utama bagi anak. Melihat fenomena sekarang, dimana orang tua dan masyarakat cenderung menyerahkan tanggung jawab pendidikan pada institusi bernama sekolah, sehingga seolah-olah hanya sekolah yang bertanggung jawab atas peran mendidik. Maka, konsep HE bisa menjadi titik balik. Dalam Islam dikenal konsep “al ummu madrasatul ‘ula”, yang kurang lebih pengertiannya sama, bahwa orang tua, khususnya ibu hendaknya menjadi sekolah yang pertama bagi anaknya.

Nah, selamat memaknai. Semoga bermanfaat terutama bagi Anda yang mungkin sedang mempertimbangkan HE sebagai jalur pendidikan alternatif.

~

Penulis bisa ditemui lewat Facebook: Maria Magdalena. Bersama teman-temannya mendirikan Klub Sinau, sebuah support group untuk praktisi home education/homeschooling di Sidoarjo khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya; sebagai konsultan, pembicara dan pengelola website. Juga sebagai moderator mailing list Klub Sinau dan Sekolah Rumah yang sudah beranggota lebih dari 2.000 orang. Bersama teman-temannya menggagas terbentuknya ASPIRASI, Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah Seluruh Indonesia, pada Juni 2009, yang menjadi wadah bagi keluarga yang mendidik anaknya di jalur informal. Asosiasi ini bertaraf nasional, dan mengkhususkan diri untuk keluarga pendidikan rumah.

For me, saya mengenal penulis juga lewat Facebook. Saya mengaguminya: Beliau seorang ibu yang bekerja dari rumah dengan segala kesibukannya, menjaga komitmen pada home education putranya, juga sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tanpa pembantu! What a big big job. Banyak belajar darinya. You gave me inspirations.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s