PhotoReading: Membaca Adalah Mengekstrak Isi Bacaan


Photoreading. The Photoreading Whole Mind System. By Paul R. Scheele, M.A. Published by Learning Strategies Corporation. Third Edition, 1999. Paperback. ISBN-13: 978-0-925480-53-8. www.LearningStrategies.com

Teknik photoreading di buku ini menawarkan peningkatan kecepatan membaca hingga 25.000 kata per menit (kpm). Saya jadi excited. Apa bisa? Bagaimana caranya?

25.000 kpm artinya kurang lebih satu halaman per detik. Dengan asumsi 1 halaman buku rata-rata terdiri dari 300-400 kata. Sounds like too good to be true. Bandingkan dengan speedreading. Kategori excellent dicapai jika bisa membaca dengan kecepatan 1000 kpm, dengan tingkat pemahaman sampai 85%.

Setelah dibaca… Prinsip kerjanya dapat saya terima, tapi penerapannya masih terasa sangat sulit. Kendati kecepatan dan efektifitas saya membaca meningkat. Itu bukan karena teknik photoreading, tapi lebih pada mengubah kebiasaan lama membaca dengan paradigma baru membaca.

Photoreading adalah teknik membaca cepat menggunakan penglihatan periferal dan menggunakan otak bawah sadar (preconscious mind, bukan subconscious mind) untuk memroses informasi. Saya membuat ringkasan langkah-langkah dari buku ini di bawah, tapi terlalu banyak istilah teknis yang belum saya temukan padanan bahasa Indonesia-nya, jadi longkap saja istilah-istilah sulitnya dan lanjutkan membaca untuk memperoleh gambaran besarnya. Di bawah juga saya tuliskan sedikit keterangan mengenai apa itu penglihatan periferal.

Sebelumnya.. Bagi yang ingin mudah dan praktis, bisa langsung loncat ke sini. Ada e-book gratis teknik baca kilat berbahasa Indonesia. Semoga masih ada! :)

Ringkasan Isi Buku

Jika speedreading bekerja berasaskan metode chunking, scanning, skimming dan meta-guiding. Maka photoreading bekerja dengan prinsip fotografis mental. (Apa itu? Bisa lihat di sini.) Photoreading is mentally photographing the text, lalu membiarkan kemampuan alami otak untuk memroses informasi yang diserap pada level preconscious mind.

Photoreading lahir dari studi tentang accelerative learning, rapid reading, neuro-linguistic programming, dan preconscious mind. Bisa diterapkan pada berbagai jenis materi bacaan dan berbagai subjek. Teknik PhotoReading whole mind system sendiri terdiri dari 5 langkah:

1 – Prepare. Pertama-tama tetapkan tujuan membaca dengan jelas. Lalu masuk pada kondisi rileks ideal (ideal state of relaxed alertness), semacam kondisi konsentrasi tinggi namun rileks.

Membaca yang efektif dimulai dengan sebuah tujuan yang jelas. Nyatakan dengan jelas apa yang ingin diperoleh dari kegiatan membaca. Lakukan ini dengan penuh kesadaran—dalam pengertian, membaca tidak asal membaca. Contohnya, apakah kita hanya ingin mengetahui gambaran umum isi buku, atau ingin mengetahui isi buku secara detail, misalnya untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Atau barangkali sekedar mencari poin-poin tertentu yang kita perlukan. Tujuan ibarat radar yang menuntun pikiran kita untuk menemukan apa yang kita cari.

(1) Ketika menetapkan tujuan, ajukan pertanyaan berikut: Adakah sesuatu yang ingin dicapai dengan bacaan ini, atau hanya untuk melewatkan waktu, atau sekedar memperoleh kesenangan dan pengalaman membaca; (2) Seberapa penting materi ini, misalnya untuk jangka panjang, atau adakah hal spesifik lain yang bisa diperoleh; (3) Seberapa detail yang ingin diketahui. Gambaran besarnya saja, poin-poin utama, atau detail keseluruhan. Bilakah yang kita perlukan harus diperoleh dengan membaca keseluruhan dokumen, atau bisa didapat dari bagian-bagian tertentu saja; (4) Time commitment. Tentukan target waktu untuk mencapai tujuan membaca.

Menetapkan tujuan beberapa menit, menghemat waktu kita ratusan kali lebih banyak.

(Ideal state of relaxed alertness bisa dicapai dengan latihan “tangerine technique“.)

2 – Preview. Preview didasarkan pada sebuah prinsip penting bahwa pembelajaran efektif seringkali memiliki pola “from whole to parts”. Yaitu, dimulai dari sebuah gambaran besar dan menyeluruh lalu masuk ke bagian lebih kecil, bagian-bagian yang lebih detail.

Preview meliputi 3 hal: (1) Survei materi bacaan. Tujuannya untuk memperoleh gambaran umum atau struktur isi buku. (2) Menarik kata-kata kunci atau trigger words dari materi bacaan, yang menjadi konsep utama. Trigger words memberi rangsangan awal akan hal-hal apa yang selanjutnya ingin kita explore. (3) Review informasi dan gambaran yang diperoleh untuk memperjelas tujuan yang telah ditetapkan. Putuskan apakah layak untuk terus dibaca, atau sebaliknya.

Lakukan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat saja. Sebagai gambaran, 5-10 menit untuk sebuah buku, 3 menit untuk sebuah laporan, 30 detik saja untuk sebuah artikel.

Preview memberi gambaran struktur isi buku, sehingga kita bisa memprediksi isi buku secara keseluruhan (content). Hasilnya, pemahaman dan kenikmatan membaca yang meningkat.

3 – PhotoReading. Konsep photoreading adalah menggunakan kemampuan alami otak dalam memroses informasi pada level preconscious, menggunakan teknik “seeing with soft eyes”, yaitu dengan mengoptimalkan penggunaan penglihatan periferal.

(1) Sebelumnya, lakukanlah persiapan. Ambil posisi duduk tegak, letakkan bahan bacaan di hadapan pada posisi 45 derajat terhadap meja, atau 90 derajat terhadap mata. Nyatakan kembali tujuan yang ingin dicapai, fokus pada apa yang akan dilakukan. (2) Selanjutnya, masuki kondisi accelerative learning. Bebaskan diri dari gangguan, kekhawatiran, dan berbagai tekanan. Duduk nyaman, tarik nafas dalam, tenangkan pikiran, bayangkan tempat nyaman dan indah, rileks, rileks, rileks. (3) Masuki tahap photofocus. Alih-alih memfokuskan mata pada kata per kata, sebuah gambar, frase, atau baris-baris kalimat dengan terfokus (hard/sharp focus), “lembutkan” pandangan mata Anda dengan tidak terfokus pada suatu objek tertentu, tapi tetap melihat objek secara keseluruhan (look at nothing, but see everything atau look at nothing but seeing whole), ini yang disebut melihat dengan soft eyes.

Pada kondisi photofocus inilah penglihatan periferal kita terbuka dan siap me-mentally photograph halaman demi halaman materi bacaan. Dalam kondisi ini, informasi diproses pada level preconscious dan dimasukkan ke dalam sistem penyimpanan memori nonconscious dari otak. Upayakan seminimal mungkin menggunakan pikiran sadar (conscious), dan semaksimal mungkin menggunakan pikiran bawah sadar (preconscious).

Pertahankan kondisi ini sampai selesai mem-photoreading keseluruhan bahan bacaan. Lakukan dengan kecepatan satu halaman per detik, ‘flip’.

Di akhir kegiatan photoreading, pikiran sadar Anda mungkin akan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan apa yang dibutuhkan oleh pikiran sadar.

4 – Activate. Tahap ini melibatkan semua bagian otak, melihat teks dengan pikiran sadar, dan mendapatkan hasil akhir yang ingin kita capai dari kegiatan membaca.

(1) Idealnya, tunggu beberapa waktu—bisa beberapa menit atau sampai semalaman, untuk mulai aktivasi setelah photoreading. Tahap ini disebut inkubasi. (2) Rangsang pikiran dengan pertanyaan, explore bagian-bagian yang dianggap menarik dan dibutuhkan. Super read bagian-bagian penting itu dengan men-scanning cepat dari atas ke bawah setiap halaman. (3) “Selami” bagian-bagian yang dianggap paling penting. (4) Lalu, buat “mind map”.

Otak kita tidak pernah berhenti bekerja. Ia tetap bekerja selama 24 jam sehari. Bahkan ketika tidur, otak membuat hubungan-hubungan antara berbagai persoalan yang kita hadapi dengan pengetahuan yang telah tersimpan di memori otak, untuk mencari solusi terhadap apa-apa yang kita hadapi.

Teknik aktivasi lain: Rhythmic perusal—You glide your eyes over the upper half of the letters; read each line in a single, smooth movement. The technique enhances your concentration and, with practice, allows you to increase speed and focus. Skittering—To move rapidly along a surface, usually with frequent light contacts or changes of direction; skip or glide quickly.

5 – Rapid Read. Membaca cepat kembali seluruh bahan bacaan. Semacam skimming (?).

Kesimpulan versi saya

Jujur.. logika saya belum bisa menerima konsep ‘flip’ satu halaman per detik. Maka terlepas dari semua struktur dan aturan baku yang ada, saya coba buat kesimpulan yang disederhanakan (versi saya). Menurut saya, tidak semua materi bacaan bisa dibaca dengan teknik photoreading. Atau seperti dikatakan Francis Bacon (filsuf Inggris abad XVI):

“Ada buku yang hanya sekedar untuk dicicipi, ada yang untuk ditelan, ada yang untuk dikunyah dan dicerna; artinya, ada buku yang hanya perlu dibaca bagian-bagian tertentunya, ada yang untuk dibaca tapi bukan sesuatu yang benar-benar baru, dan ada yang harus dibaca semuanya, dengan perhatian lebih dan melibatkan pikiran.”

Nilai informasi dalam sebuah buku berbeda-beda. Tetap ada buku yang bisa dinikmati dengan membaca kata per kata alias dinikmati alur dan rangkaian kalimatnya, seperti karya-karya sastra. Ada buku yang perlu dicerna mendalam dan diendapkan perlahan. Ada juga buku yang tidak harus dibaca detail, alias bisa (hanya perlu) dibaca bagian-bagian tertentunya saja.

Teknik photoreading adalah multipass method of reading. Sehingga kita tidak terjebak pada suatu bacaan yang ternyata hanya membuang waktu saja ketika membacanya. Dengan teknik photoreading, sejak awal kita bisa memutuskan, apakah sebuah buku layak dibaca, bisa dilewatkan, atau hanya untuk dikunyah bagian-bagian tertentunya saja. Satu buku mungkin bisa diselesaikan 15 menit atau buku lain 2 jam. Asal ide utama sudah diekstrak… that’s all.

Ada dua hal esensial dalam proses membaca. Pertama, sebelum membaca, selalu tetapkan tujuan yang jelas. Untuk apa buku itu dibaca, apa yang ingin kita cari dan dapatkan. Tujuan harus jelas, karena dalam teknik photoreading, paradigma baru membaca adalah bahwa: membaca adalah sebuah proses mengekstrak.

Kedua, menyangkut teknik. Selalu lakukan preview terhadap materi bacaan, untuk mengetahui struktur isi buku. Kemudian lakukan photoreading, yang tujuan utamanya adalah mengekstrak isi bacaan. Dalam tahap ini, kita bisa memilah dan memilih dimana kita akan menenggelamkan diri pada suatu bagian yang kita anggap penting, juga pada bagian mana kita akan melaluinya dengan cepat. Ingat, goal kita adalah ‘mengekstrak’ isi bacaan, dimana langkah pentingnya terletak pada memilah dan memilih ini.

Ringkasnya: tetapkan tujuan, lakukan preview, ekstrak; bila perlu, buat mind map. Jika ada bagian yang harus diperdalam, tandailah, dan kembalilah lagi kapan saja. Mudah, ringan, menyenangkan.

Penjelasan fisiologis untuk peripheral vision dan soft eyes

Retina mata kita terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama disebut fovea, yang dipenuhi sel-sel penerima cahaya (photoreceptor) berbentuk kerucut—cone cell. Letaknya di bagian tengah retina. Sel-sel ini berfungsi mendeteksi warna, dan bekerja dengan baik pada intensitas cahaya normal. Informasi yang diterima fovea diproses oleh pikiran sadar. Ini disebut penglihatan terfokus—focal vision.

Bagian kedua adalah bagian periphery atau bagian tepi. Bagian ini dipenuhi sel-sel penerima cahaya berbentuk batang—rod cell. Sel-sel batang ini sangat sensitif, sehingga dapat bekerja dengan baik pada intensitas cahaya sangat rendah, bahkan malam hari. Sel-sel batang ini berperan dalam mendeteksi pergerakan dan mengenali benda secara keseluruhan tanpa harus fokus, tetapi tidak sensitif terhadap warna. Bahkan disebutkan bahwa sel ini bisa mendeteksi cahaya lilin yang berjarak 10 mil. Dan yang dimaksud melihat dengan soft eyes adalah melihat menggunakan bagian periphery ini.

Bagian periferal ini memiliki wilayah lebih luas dibanding fovea. Maka, bayangkan jika kita bisa mengoptimalkan kegunaannya. Sayangnya kita lebih banyak menggunakan focal vision daripada penglihatan periferal kita. (Sampai di titik ini sih, prinsip kerja photoreading dapat saya terima.)

Penjelasan menarik lain.. Miyamoto Musashi dalam The Book of Five Rings menjelaskan dua jenis penglihatan: Ken, melihat apa yang tampak di permukaan, dan kan, melihat esensi sesuatu. Dengan peripheral vision of kan, seorang prajurit dapat mengetahui keberadaan musuh dan mendeteksi serangan tidak terduga sebelum itu terjadi. Dalam photoreading kita menggunakan sisi lain dari kan: ketenangan, konsentrasi, kreativitas, intuisi, dan kemampuan memperluas lapangan pandang. Jadi, photoreading bisa dimanfaatkan dalam berbagai situasi dan keadaan.

11 thoughts on “PhotoReading: Membaca Adalah Mengekstrak Isi Bacaan

  1. unconscious blitz reading dan photoreading , pada dasarnya adalah sama , bahkan bisa saya katakan hampir sama persis ,sehingga ,menurut saya yang dilakukan Ronny F. Ronodirdjo hanyalah sebuah plagiarism saja (coz dia hanya mengambil dari 1 sumber saja :) ). Silahkan baca keduanya dan anda bandingkan :) .
    mengenai photoreading itu sendiri, well, saya belum bisa bicara banyak karena baru aja selesai membacanya 1 x , dan saya sedang dalam tahap membiasakan diri dengan photoreading ini . beberapa buku sudah saya siapkan untuk photoreading , mudah2 an aja nyantol , coz , memang, konsep ini berlawanan dengan apa yang kita pahami dari kecil dulu , bahwa membaca adalah cenderung memahami dan menghapal hal2 yang dianggap penting (masa sekolah dulu) .
    satu hal yang saya terapkan dalam photoreading , adalah menganggapnya sebagai suatu permainan saja , seperti ketika kita masih kecil, whatever the result, it doesnt matter for now. Biasanya , dengan tanpa terlalu mengharap hasil , malah nice result yang saya dapat.
    btw, blog nya nice lho, thanks for sharing it with us

    • terima kasih sudah berkunjung dan komentarnya.. wah, ditunggu hasilnya, semoga berhasil dg photoreadingnya. sejauh ini sy belum ketemu orang yg bilang langsung bhw bs melakukan “flip” satu halaman per detik (orang Indonesia, maksudnya). excited banget klo ada kesaksian langsung, trims :)

  2. Pak, membaca cepat aja ya .KENAPA?
    karena e-book ronnyfr tidak menjelaskan tentang eye fixiation , so. buat yang belum terbiasa membaca dalam konteknya (bukan dalam huruf per huruf) akan kagok pak. namun jika sudah bisa DASAR MEMBACA CEPAT alias SUdah bisa PergERAKAN MATA CEPAT ,sangat dISARANKAN UNTUK MENCICIPI….. ahahahha

    membacacepat.com/

  3. Pak, saya bingung cara membaca yang ada di halaman petama dimana ada gambar einstein yang sedang berlari, naik sepeda, dan ada bola bola lampu diatas kepala einstein itu maksudnya apa ya pak? mohon bantuannya

    • wah, saya sudah lama sekali baca buku ini, ga ingat klo ada gambar seperti itu. bukunya juga pinjaman, jd tidak bisa lihat lagi. maaf klo tidak membantu :)

      • Saya ada pertanyaan buat bapak. Di artikel bapak bagian Preview itu, ada bapak tulis trigger word atau kata-kata kunci itu contohnya itu gimana? Mohon bantuanya sekali lagi.

      • trigger kalau dalam kamus artinya pemicu. dalam konteks ini saya menyebutnya kata kunci, yaitu kata2 penting terkait konteks bacaan yg sedang kita hadapi. bukunya sendiri berbahasa Inggris. jadi ini hanya tafsiran dan terjemahan versi saya. mohon maaf atas segala keterbatasannya.

        misal buku dg tema lingkungan, dari sekilas lihat, preview atau skimming, kita bisa cari tahu apakah kata2/istilah2 penting ttg topik yg kita cari ada atau tidak di bacaan tsb. (semoga saya tidak lupa, kurang lebih spt itu)

  4. bagus nih buat pelajar yang pengen dpet nilai tinggi tapi banyak aktivitas di skolah, jadinya kan ga terlalu makan banyak waktu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s