So Many Books, So Little Time!

The Speed Reading Book. By Tony Buzan. Published by BBC Worldwide Limited. Revised Edition, 2004. Paperback, 224 pages. ISBN 0 563 48702 X.

Siapa yang tidak kenal Tony Buzan, seorang penulis psikologi populer yang terutama dikenal melalui buku-bukunya tentang otak dan pembelajaran. Atau lebih dikenal juga sebagai penyokong konsep peta pikiran atau mind-map.

Sedikit catatan yang bisa dirangkum dari buku ini—dalam rangka mengkristalisasi apa yang bisa diperoleh dari buku ini. Kalau tidak, lumayan pusing. Karena isinya lumayan detail dan mendalam. Dibuat seringkas dan sepraktis mungkin. Bismillah…

~~~

Isi buku ini dibagi menjadi 5 divisi yang uraian singkat isinya bisa saya tulis sebagai berikut.

Diawali tes sederhana untuk mengetahui kecepatan kita membaca saat ini, sejarah speed-reading, dan definisi baru membaca. (Divisi 1)

Selanjutnya membahas teknik-teknik dasar dalam speed-reading: bagaimana mengontrol pergerakan mata, dengan disertakan teori dan pengetahuan dasar mengenai mekanisme kerja mata dalam membaca—ternyata, banyak fakta menarik mengenai mata¹; bagaimana menciptakan kondisi lingkungan eksternal dan internal yang mendukung; pentingnya menggunakan jari atau alat lain sebagai alat bantu penunjuk untuk memandu mata agar terfokus pada materi bacaan, beserta teknik-tekniknya (meta-guiding techniques), juga latihan-latihan dasar untuk meningkatkan kemampuan ini yang selalu disertai penjelasan prinsip kerja teknik-teknik tersebut. Termasuk didalamnya mengenai skimming dan scanning. (Divisi 2)

Kemudian untuk meningkatkan kecepatan membaca, konsentrasi dan pemahaman dibahas juga mengenai: meningkatkan kecepatan membaca metode metronome; kendala-kendala teknis dan internal membaca yang biasa terjadi berikut penanganannya; keterampilan pendukung yang juga penting seperti metode mind-mapping, pengetahuan mengenai struktur paragraf, teknik preview dan peran pentingnya, teknik meningkatkan penyerapan kosa kata (dalam hal ini kosakata bahasa Inggris). (Divisi 3-4)

Bagian terakhir membahas teknik mind-map lanjutan; teknik membaca majalah, surat kabar, dan layar komputer; teknik membuat arsip terorganisir dari apa-apa yang kita baca; dan bagaimana membaca untuk dapat menikmati karya sastra dan puisi. (Divisi 5)

Setiap bab diakhiri latihan, sehingga selama membaca buku ini kita bisa selalu mengetahui berada dimanakah kita saat ini. Pada awal dan akhir setiap bab terdapat preview dan catatan poin-poin penting untuk diingat. Meski karena terlalu banyak tampilan ini membuat saya malah jadi pusing. Karena pusing inilah resume ini dibuat. When I ask myself, what I have had from this book? My mind turns flustered. Selain untuk melatih kemampuan transfer pemahaman dalam rangka latihan menerjemah.

~~~

Membaca adalah suatu kegiatan yang sangat penting dan diperlakukan sebagai ritual penting. Itu yang bisa saya tangkap dari apa yang dipaparkan buku ini. Orang-orang besar hampir selalu seorang pembaca buku. Di buku ini disebutkan beberapa tokoh master speed-reading, yang tiga diantaranya adalah presiden Amerika, yaitu Thomas Jefferson, F. D. Roosevelt, dan John F. Kennedy. Hmmm… kalau tokoh negarawan kita dulu yang pembaca sekaligus pencinta buku banyak. Tapi pejabat, tokoh politik kita sekarang yang ‘membaca’, ada? Negarawan kita dulu, yang ‘pembaca’ buku, bisa saya sebut disini seperti Soekarno, Bung Hatta, Agus Salim, Natsir, … siapa lagi ya?

Di bawah ini beberapa langkah praktis yang bisa saya rangkum untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dalam membaca, baik kecepatan, konsentrasi dan pemahaman. Setidaknya inilah yang pertama-tama bisa diterapkan. Kendati sasaran buku ini adalah menciptakan speed-readers dengan kemampuan membaca sampai sekian ribu kpm. OK, here it is…

Konsentrasi seperti kuda jantan. Anda adalah pengendara. Terserah Anda mau menjadi pengendara yang baik atau tidak. –Concentration is like a stallion. You are always riding it. It is up to you to become a good rider!

Pertama-tama, siapkanlah waktu khusus. Waktu yang kita rasa paling pas untuk berkonsentrasi pada materi bacaan—didapat melalui pengalaman; cobalah melakukannya pada berbagai waktu, pagi hari, siang, sore, atau malam; dan tentukan mana waktu yang paling pas untuk Anda.

Kemudian, kondisikan lingkungan eksternal dan internal sebaik mungkin, meliputi hal-hal berikut. Pencahayaan sebaiknya tidak terlalu redup dan tidak terlalu terang. Arah sumber cahaya paling baik ditempatkan hingga cahaya datang dari sebelah kiri atas. Posisi terbaik adalah duduk dengan punggung tegak, tinggi kursi sedemikian hingga ketika duduk posisi paha sejajar lantai. Tinggi meja 20 cm diatas kursi (ukuran tinggi ergonomis orang sana ya). Sediakan segala sesuatu yang mungkin diperlukan sedekat mungkin. Jarak mata terhadap buku tidak kurang dari 50 cm. Hindarkan interupsi. Pastikan kondisi kesehatan Anda baik.

Know the map if you wish to know the territory.

Masuk pada prosesi membaca. Lakukan preview terhadap isi buku untuk memperoleh gambaran umum—general overview—atau struktur isi buku. Ini penting untuk menentukan target, rencana aksi, dan target spesifik untuk setiap topik yang dibaca. Berusahalah untuk tidak menyalahi rencana sesuai waktu yang sudah ditentukan. Penting juga pada bagian ini mencari tahu tentang penulis, latar belakang, dan ke arah mana buku akan berbicara. Karena, minat Anda terhadap materi bacaan akan memberi peningkatan kecepatan, konsentrasi, dan pemahaman yang sangat berarti.

Ukuran pupil mata berubah menyesuaikan diri terhadap kondisi cahaya; dan ditemukan bahwa ukuran pupil juga berubah terhadap emosi. Ketika menemukan sesuatu yang menarik hatimu (co’/ce’ cakep, misalnya) ukuran pupil akan membesar. Begitupun dalam membaca, ketika menemukan sesuatu yang menarik, tanpa perlu bersusah payah, otak akan menerima lebih banyak dari mata. Setiap mata kita memiliki 130 juta sel penerima-cahaya. Dan setiap sel penerima-cahaya dapat mengambil sedikitnya 5 foton per detik. (hal. 43)

Pada saat membaca, gunakanlah jari atau alat penunjuk lain yang bisa digunakan untuk memandu mata. Alat penunjuk ini harus kecil agar tidak menutupi materi bacaan. Membacalah dengan kecepatan normal. Ada pemahaman salah selama ini, bahwa membaca perlahan dan hati-hati akan mendapat pemahaman lebih baik. Dan membaca cepat mengurangi pemahaman. Terdengar logis, tapi hasil pengamatan menunjukkan lain. Bahwa semakin cepat Anda membaca, semakin baik pemahaman Anda. Otak Anda tidak didesain untuk membaca secara perlahan. Membaca perlahan dan hati-hati membuat otak membaca lebih dan lebih lambat lagi dengan pemahaman yang sedikit dan usaha yang payah. Ketika kecepatan membaca meningkat, pemahaman pun meningkat. Kemampuan mengingat juga akan meningkat, karena memori juga bekerja di atas kemampuan otak untuk mengorganisasi penggalan-penggalan informasi.

Bagaimana sebetulnya mata membaca? Mata membuat lompatan-lompatan kecil yang tetap. Mempertahankan pandangan lalu melompat lagi, demikian seterusnya. Sehingga untuk membaca satu halaman, mata tidak bergerak perlahan pada seluruh bagian halaman, melainkan bergerak dalam lompatan-lompatan kecil dari kiri ke kanan, berhenti sebentar—pausing, ini yang disebut fixation time—untuk menyerap satu atau dua kata, dan bergerak melompat lagi. Informasi diserap ketika pada fase berhenti. Dan ini menghabiskan waktu. Latihan speed-reading memperpendek waktu henti ini. (hal. 44)

Ketika Anda mengalami stuck pada suatu bacaan, jangan berhenti atau balik lagi (back skipping or regretion), lanjutkan saja. Pemahaman akan diperoleh seiring konteks yang lebih luas. Ambil jeda setiap 30-60 menit untuk meningkatkan konsentrasi dan memberi mata dan otak kesempatan untuk istirahat.

Isi buku ini jauh lebih luas. Banyak fakta ilmiah mengenai mata dan otak; kaya dengan teknik-teknik untuk meningkatkan kemampuan membaca super cepat. Tetapi tulisan ini bisa jadi sangat panjang. Bagusnya baca sendiri. Tidak rugi kok. :) Sebagai penutup, saya kutipkan penggalan berikut.

Brain Reading – Memasuki abad 21, ada sebuah revolusi kesadaran bahwa bukanlah mata yang melakukan kegiatan membaca, melainkan otak. Membaca lebih sebagai fungsi otak dibanding fungsi mata. Terdapat jutaan facet optik pada mata, dan otaklah yang mengendalikannya. Cahaya yang diterima oleh retina ditransmisikan oleh saraf optik ke otak bagian visual—lobus occipital. Dan lobus occipital ini letaknya di bagian belakang kepala, bukan dibelakang mata. Lobus occipital inilah yang melakukan kegiatan ‘membaca’, mengarahkan mata pada hal-hal yang menarik menurutnya. (hal. 43)

Semoga bermanfaat.
Happy reading. :)

[1] The Cerne Laboratory di Switzerland menyatakan: Diperkirakan diperlukan biaya sekitar 68 juta dollar untuk membuat sebuah mesin yang bisa menduplikasi kecanggihan mata. Tetapi mesin ini kemungkinan tidak dapat bergerak-gerak seperti bola mata dan ukurannya bisa jadi sebesar rumah. Subhanallah…, Maha Besar Allah dengan segala Kekuasaanya.

One thought on “So Many Books, So Little Time!

  1. Pingback: Speed Reading: the Easy Way « Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s