Prinsip-prinsip Pikiran

Tulisan di bawah adalah rangkuman dari tiga rangkaian acara talkshow Arvan Pradiansyah di Smart FM 95.9 bertajuk Smart Happiness, setiap Jum’at jam 07.00 WIB. Tiga pertemuan masing-masing tanggal 29 Mei, 5 Juni dan 12 Juni 2009 membahas satu topik yang sama: Prinsip-prinsip Pikiran.

Materi ini sendiri dirangkum dari bukunya Arvan Pradiansyah yang berjudul The 7 Laws of Happiness. Jadi kalau penasaran dan ingin tahu lengkapnya, beli dan bacalah bukunya. Saya sendiri belum membaca bukunya (belum beli pula :D).

Menurut Arvan, kunci kebahagiaan itu letaknya pada ‘pikiran’, yaitu pada bagaimana kita mengelola pikiran. Tidak ada yang lebih dahsyat di dunia ini selain pikiran. Dan pikiran inilah yang membedakan manusia dengan yang bukan manusia.

Ketidaksempurnaan itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Tuhan mengutus kita ke dunia ini untuk menyempurnakan hidup kita. Dan segala sesuatu selalu memiliki bright side dan dark side. Tetapi keputusan untuk bahagia ada pada tangan kita, kitalah yang memutuskan untuk tidak diperbudak oleh pikiran-pikiran kita.

Prinsip 1 – Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.

Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menyebutkan kita bisa memilih untuk bersikap proaktif atau reaktif. Menjadi proaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan positif, dan menjadi reaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan negatif dalam menyikapi sesuatu. Arvan said, memilih tindakan akan memberikan Anda kesuksesan, tetapi memilih pikiran memberi Anda kebahagiaan.

Ilustrasinya seperti ini. Ketika datang peminta sumbangan ke kantor Anda, dan Anda sedang berada bersama rekan-rekan dan beberapa bawahan Anda. Kemudian Anda memberikan sumbangan yang cukup besar, karena, Anda merasa perlu menjaga image Anda sebagai seorang yang dermawan.

Analisisnya, secara tindakan Anda jelas sukses, image Anda terjaga. Tetapi secara pikiran, apakah Anda bahagia? Jawabannya tidak. Karena Anda menyumbang bukan atas dasar keinginan Anda, melainkan karena faktor luar. Anda sama sekali tidak memenuhi need Anda, dan Anda tidak bahagia.

Prinsip 2 – Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.

Pikiran adalah induk dari segalanya. Mari kita lihat ilustrasi berikut. Anda menerima sebuah sms dari seorang teman yang isinya tidak baik. Anda kecewa, sedih, sebel dan mungkin ngomel. Tetapi, tidak lama kemudian kawan tadi sms lagi, meminta maaf bahwa ia tadi salah kirim sms. Bagaimana perasaan Anda? Sampai disini terungkap bahwa perasaan Anda ditentukan oleh pikiran Anda.

Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.

Prinsip 3 – Pikiran kita tidak dapat membedakan mana kejadian yang sudah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi.

Begitu Anda memikirkan kejadian yang pernah Anda alami, walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi. Contohnya, jika Anda pernah memiliki suatu pengalaman yang sangat menyenangkan (mengesankan) atau sangat menyedihkan berpuluh tahun yang lalu, ketika Anda memikirkannya lagi, akankah sensasi rasa senang atau rasa pedih yang pernah dirasakan itu terasa kembali?

Prinsip 4 – Pikiran adalah gladiresik dari semua tindakan.

Peribahasa mengatakan, You are what you think. Arvan said, You are what you repetitively think. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah hasil dari pikiran yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Artinya, masa depan dapat kita ciptakan.

Kita harus benar-benar memilih dan memilah pikiran-pikiran yang masuk ke dalam pikiran kita. Setiap pikiran yang masuk tidak selalu serta merta dapat diwujudkan. Ia akan mengendap menjadi sebuah keinginan pasif, yang menunggu diaktifkan. Ketika ada suatu rangsangan yang mengaktivasi maka ia akan terwujud dalam bentuk tindakan.

Contoh sederhananya, ketika ingin membeli suatu barang, terkadang kita tidak bisa langsung membelinya. Setelah diincer cukup lama, dan kondisi keuangan sudah mendukung, barulah barang tersebut bisa kita beli.

Atau yang agak ekstrim, proses selingkuh. Ketika kondisi belum mendukung, mungkin hal itu hanya sesuatu yang sekedar terbersit di pikiran. Lalu ketika kondisi luar mendukung, seperti kondisi financial, ada lawan main, maka teraktivasilah keinginan pasif tadi menjadi sebuah tindakan.

Prinsip 5 – Kita sadar ketika pikiran-pikiran positif masuk ke dalam pikiran kita. Namun, seringkali kita tidak sadar ketika pikiran-pikiran negatif masuk ke dalam pikiran kita. Karenanya kita harus selalu dalam kondisi ‘alert‘.

Contohnya, kita sadar ketika kita sedang berada di masjid, atau di gereja, atau sedang mengikuti training-training motivasi, bahwa kita sedang memasukkan makanan positif ke dalam pikiran kita. Tetapi seringkali kita tidak sadar ketika menonton televisi, ketika berjalan-jalan di mall, bahwa segala sesuatu yang kita lihat bisa saja menimbulkan hasrat-hasrat negatif yang terlintas begitu saja tanpa kita sadari.

Prinsip 6 – Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu berpikir, memasukkan makanan ke dalam pikiran kita. Pikiran kita senantiasa sibuk.

Oleh karena itu, ketika ada masalah, endapkanlah dulu. Ketika mau tidur hendaklah berdo’a, menyerahkan masalah tersebut pada Tuhan dan meminta diberi petunjuk agar keesokan hari dapat berpikir dengan jernih demi mencari solusinya. Dengan begini, ketika tidur nanti, bawah sadar kita akan berproses. Apalagi kalau sudah dibimbing Tuhan. Dalam hal ini kita berserah, surrender. Artinya, menyerahkan apa yang tidak bisa kita lakukan kepada Tuhan, ketika kita overwhelmed. Surrender, damai, tenang.

Prinsip 7 – Pada saat kepala kita terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.

Tahu dari mana kalau kita kurang sehat? Tentunya dari tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan. Sekarang, tahu dari mana kalau kepala kita sudah terinfeksi oleh pikiran negatif? Jawabnya adalah, dari perasaan (feeling) kita.

Perasaan adalah barometer untuk mengetahui keadaan kita. Perasaan negatif adalah barometer bahwa telah ada makanan negatif yang masuk ke pikiran kita. Tuhan menurunkan perasaan sebagai barometer pikiran kita.

Ketika ada pikiran negatif masuk, kita bisa switch saat ini juga. (Dengan catatan pikiran negatif itu belum mengendap dalam bawah sadar kita. Jika sudah masuk dalam bawah sadar, megubahnya tidak semudah itu. Perlu reprogramming, ada tekniknya, seperti hipnoterapi dan sejenisnya.)

Prinsip 8 – Kemampuan kita untuk mengendalikan pikiran kita seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.

Rumus dari latihan ini adalah, selalulah mengawasi makanan yang masuk ke dalam pikiran kita, indikasinya adalah perasan kita.

Prinsip 9 – Kita hanya bisa memikirkan satu hal. Jika kita memikirkan hal yang positif, maka hal yang negatif akan pergi. Begitu juga sebaliknya.

~~~

Kebahagiaan itu adalah hasil pilihan pikiran. Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.

Jagalah hati! Tentunya yang dimaksud hati disini adalah qalbu. Bukan hati sebagai organ hati. Qalbu dalam subsistem jiwa menjadi pusat perasaan. Qalbu berbentuk spiritual, sehingga sulit dikelola secara langsung. Berkaitan dengan hal ini, Arvan Pradiansyah menyodorkan sebuah terobosan. Menurutnya yang menjadi pusat segalanya adalah PIKIRAN.

Pikiran adalah sumber dari segalanya. Dimana letak pikiran? Dengan mudah kita akan menunjuk kepala kita. Pikiran bersifat abstrak, tetapi pikiran memiliki bentuk real sebagai organ otak. Bila diibaratkan, otak adalah hardware dan pikiran adalah software-nya.

Di dalam otaklah segala data dan informasi yang kita terima diolah. Segala jenis kecerdasan pun berpusat di otak. Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (SQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) ~God spot, semuanya terdapat di otak.

Maka, terkait hadits Nabi yang berbunyi, ”Sesungguhnya di dalam diri setiap orang ada segumpal daging. Bila daging itu sehat maka sehatlah seluruh tubuh orang itu, tetapi bila daging itu sakit maka rusaklah seluruh tubuh orang tersebut”, Arvan merasa yakin bahwa yang dimaksud “segumpal daging” tersebut adalah otak.

Semoga bermanfaat.

PS. Terkait paragraf terakhir mengenai otak yang diyakini Arvan menjadi pusat ‘segalanya’, saya pernah membaca dua artikel Jalaluddin Rakhmat di facebook page-nya, yang juga menyatakan hal senada (di sini dan di sini). Ada pro dan kontra, sudah tentu. Banyak hal bisa diterima, selain kemudian muncul berbagai pertanyaan akan hal yang sudah mapan.

Next what..? Wallahu ‘alam bishawab. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Tuhan mengilhamkannya pada manusia untuk menyempurnakan kehidupannya.

 

7 thoughts on “Prinsip-prinsip Pikiran

  1. Salam kenal dedeh..

    Sebuah ringkasan yang sangat menarik….

    Apakah kebahagiaanya itu? Bukankah itu adalah pikiran dan perasaan.

    Bagi saya kebahagiaan adalah teman perjalanan yang menyenangkan. Hanya jangan sampai meninabobokkan sehingga kita lupa bahwa kita masih dalam perjalanan…

    ab

  2. nice man artikelnya. akhirnya aku tau keselarasan pikiran dengan perasaan. padahal aku sudah lama memikirkan hal itu. di artikel ini akhirnya aku tau bahwa perasaan lah yang menjadi barometer pikiran. sebenarnya sih tuh simpel baget tapi mengena banget.. eureka.
    aku mau menambahkan juga bahwa kita sebagai pemilik pikiran kita seharusnya menjadi pemilik yang creative dalam menciptakan inner talk kepada pikiran kita sehingga outcome nya pun memuaskan kita.. dan yang pasti dan harus pasti jadilah orang yang berpikir besar.

    thanks.

  3. Alhamdulillah..Segala puji hanya milik Alloh
    Saya bersyukur sekali bisa membaca artikel ini,kadang dunia menyibukkan saya.Saya sering mengikuti pikiran negatif,Dan memang benar bahwa doa akan terkabul ketika alam bawah sadar kita mengendapkannya maka Alloh SWT akan mengabulkan karena hati kita tidak lalai dan mengerti apa yang kita mohonkan,sering saya memohon tetapi alam bawah sadar saya tidak merespon sehingga energi tidak maw tergerak..semoga kita salalu dalam ridhoNya.Ammiiiiin.
    Wassalam.

  4. Sebelum membaca artikel ini sy sudah menyadari bahwa penentu kebahagiaan ataupun kesedihan adanya di dalam pikiran kita. Tetapi satu hal yg baru sy sadari bahwa kalau ternyata perasaan adalah barometer pikiran kita. Secara teori sy mudah diserap, tapi secara praktek masih sulit sy lakukan. Bisa beri sy solusi bagaimana memulai latihan pikiran ini?

  5. mf klo bleh nanya,hipno terapi tu pa ya,gm cara trmudah bljar hipnoterapi..?aqw slm ni hdup bs dblang pnuh beban pkiran yng ngtif.tlong solicinya…?????thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s