Hafalan Shalat Delisa

hsdHafalan Shalat Delisa. Penulis: Tere-Liye. Penerbit Republika. Cetakan VII, Maret 2008 (Edisi Revisi). First published 2005, by Republika. ISBN: 9793210605.

Delisa tipikal anak yang cerdas, menggemaskan, kritis, kadang-kadang nakal. Usianya 6 tahun saat peristiwa itu terjadi. Saat itu ia dan kakak-kakaknya juga umminya sesaat akan merayakan ‘kemenangan kecil’ baginya: ujian hafalan bacaan shalat. Yang bagi anak-anak seusianya di kampungnya, hal itu merupakan sesuatu peristiwa besar dan berarti tersendiri.

Delisa saat itu sedang berdiri di depan Ibu Guru Nur, setoran hafalan bacaan shalat. Berusaha khusyuk. Mencoba shalat khusyuk untuk pertama kalinya. Usai Delisa takbiratul ihram, tiba-tiba bumi berguncang. 130 km dari pantai Lhok Nga, lantai laut retak. Dasar bumi terban seketika (what is terban?), merekah panjang ratusan kilometer. Air laut tersedot ke dalam rekahan tanah teramat luas, kemudian mendesak keluar kembali, tumpah ke pantai Lhok Nga. Gempa dan gelombang air laut raksasa menghantam.

Delisa sedang sangat ingin khusyuk ketika air datang, menghanyutkan segala, termasuk dirinya. Seperti kata Ustadz Rahman, karena khusyuknya, salah seorang sahabat Rasul bahkan tidak merasa ketika kalajengking menyengatnya saat sedang shalat. Maka ia pun berusaha abai pada segala sesuatu di sekitar, di sekeliling, di luar dirinya. Khusyuk, khusyuk, khusyuk. Hanya itu yang Delisa ingin. Hingga ia tak merasa ketika tulang betis kanannya remuk  menghantam pagar besi sekolah, juga sikunya yang patah, juga dua giginya yang patah. (Remembering betis kanan yang remuk dan rahang yang patah, Thank You Allah, You gave me back! Just because if You want… )

Delisa tersangkut di semak. Tertimpa hujan dan terik hingga tujuh hari lamanya. Seperti ranting, daun, dan dahan, tubuh dan jiwanya meranggas. Lemah, ia sangat lemah. Dan sedih sangat tak kuat lagi. Hingga Allah masih memberinya kesempatan untuk menyelesaikan hafalan bacaan shalatnya.

Pada hari ketujuh (kedelapan) tubuhnya ditemukan seorang prajurit Amerika. Peristiwa ini memberi pengalaman spiritual tersendiri bagi sang prajurit: ia mendapat hidayah dan jawaban atas ketidakbisaan ia menerima kenyataan hidup yang dialaminya—kematian mendadak istri dan anaknya tercinta. Ketulusan, kepasrahan, keikhlasan, kebesaran hati Delisa dalam menerima dan menyikapi kenyataan pahit yang harus dihadapinya, membuatnya seperti melihat sisi yang lain dari hidup.

Delisa sendiri terpaksa harus diamputasi. Kakinya yang luka, lama, telah bernanah dan busuk. Sedih dengan kenyataan itu, tapi Delisa tetap tabah, dan berusaha ikhlas.

Lama Abi mencari. Mereka akhirnya bertemu. Pertemuan yang membuat saya menangis, pertama kalinya saat membaca buku ini. Bagaimana tidak. Bayangkan adegan ini: ketika Abi datang , Delisa langsung memeluk sambil melapor: Abi, kaki Delisa dipotong. Gigi Delisa lepas dua. Siku Delisa dibungkus. Selesai itu ia meluncurkan pertanyaan polos dan tulus: Kenapa Kak Aisyah tidak ikut? Kenapa Kak Fatimah dan Kak Zahra tidak ikut? Kenapa Ummi tidak ikut juga menengok Delisa? Coba bayangkan. Bayangkan saja.. Bagaimana pula Abi harus menjawab atau menjelaskan, karena Kak Fatimah, Kak Aisyah, Kak Zahra sudah dikuburkan bersama-sama mayat lainnya. Tidak. Tentu saja Abi tidak bisa mencari kata lain untuk menjelaskan dan membuat Delisa nyaman dengan penjelasan itu. Abi menangis. (Saya juga menangis.)

Akhirnya Delisa belajar menerima semua keadaan. Dan dalam mimpi, hanya dalam mimpi Delisa, berkali bertemu Ummi. Ummi yang hingga saat itu belum ditemukan jejaknya. Di mimpi, Delisa ingin ikut Ummi, Kak Fatimah, Kak Aisyah, Kak Zahra, Ibu Guru Nur, Tiur, Ummi Tiur, ke taman indah. Tapi selalu Ummi menggeleng. Dan gelengan Ummi paten, berarti tidak. Delisa harus menyelesaikan hafalan bacaan shalatnya.

Delisa sempat mendendam. Ketika umminya Umam ditemukan. Mengapa bukan ummi Delisa? Bukankah selama ini Delisa sudah berusaha jadi anak baik. Semata-mata agar Allah kembalikan ummi Delisa. Tapi yang diberikan umminya Umam. Delisa marah. Delisa benci. Tapi Allah sayang Delisa. Ditegur-Nya langsung kebencian buruk itu. Diselamatkan-Nya Delisa dari pekat yang bisa melanda hati.

Delisa sakit. Ingatannya kembali. Sebagian memorinya yang hilang, memori akan hafalan bacaan shalatnya, dikembalikan Allah swt. Delisa bisa menyelesaikan hafalan bacaan shalatnya. Bacaan shalat itu tidak menolaknya lagi, ketika Delisa sudah mencoba belajar ikhlas. Sebelum bencana ini datang, Delisa menghafal bacaan shalat ini untuk sebuah hadiah, sebuah kalung, kalung dari Ummi, kalung dengan huruf D untuk Delisa.

Sore Sabtu, 21 Mei 2005, Delisa akhirnya bisa menjalankan shalat khusyuk pertamanya—dengan bacaan yang sempurna, tidak lagi kebolak-balik—shalat ashar yang penuh makna. Setelah semua peristiwa yang menimpanya bersama ribuan penduduk Lhok Nga lain. Peristiwa yang membuatnya lebih cepat dewasa. Peristiwa yang mempunyai hikmah bagi tiap-tiap diri, sendiri-sendiri, secara pribadi. Peristiwa tsunami di Aceh, pagi Ahad, 26 Desember 2004.

Hanya di penutup cerita, saya tidak tahu apakah Delisa meninggal atau hanya terjatuh ke sungai. Hanya ada kalimat penutup yang membuat saya bertanya-tanya: Semua urusan sudah usai. (I don’t have any answer or conclusion.)

***

Sedikit catatan..

Kisah di novel ini sederhana, sangat sederhana. Hanya tentang kisah hidup keseharian keluarga kecil Delisa di sebuah kampung yang tenang, damai dan punya nuansa religi yang kental. Keseharian yang juga sederhana.  Just the real life… Sembahyang, mengaji, sekolah, bermain, bercengkrama bersama saudara dan teman. Ah, itu hal pertama yang saya suka.

Hal kedua, buku ini mengingatkan saya untuk meng-introspeksi shalat saya. Ingin… Ingin sekali bisa shalat sekhusyuk Delisa. Setidaknya, berusaha untuk khusyuk.

Hal ketiga, cara penyampaian cerita yang juga sederhana. Apa adanya. Tapi menyentuh.

Hal keempat, dan ini yang paling saya suka. Tentang penggambaran hubungan manusia-Tuhan yang digambarkan sangat dekat, dan indah. Terutama mungkin lebih tersirat di catatan kaki penulisnya, yang juga membuat kisah ini seolah-olah nyata. Padahal kata penulisnya kisah ini fiktif belaka.

Sedikit keluhan kecil, nama tokoh ilmuwan dari Finlandia-nya kok Michael J. Fox, kan aneh…

Nilai-nilai yang diangkat: keikhlasan, ketulusan, tentang berbagi dan peduli..

Membaca buku ini, sambil menangis teringat lagu ini..

Aneuk Yatim by Rafli Kande

Deungo lon kisah saboh riwayat
Kisah baro that… baro that di Acheh Raya
Lam karu Acheh… Acheh… timu ngon barat ngon barat
Di saboh teumpat… teumpat meunoe calitra:

Na sidroe aneuk… jimoe siat at
Lam jeuet jeuet saat… saat dua ngon poma
Ditanyong bak ma… bak ma… “ayah jinoe pat… jinoe pat?”
Dilon rindu that… rindu that keuneuk eu rupa

Meunyo mantong hudep meupat alamat
Ulon jak seutot… jak seutot oh watee raya
Meunyo ka meuninggai… meuninggai
Meupat keuh jeurat… oh jeurat
Ulon jak siat… jak siat lon baca do’a

Udep di poma oh tan le ayah
Lon jak tueng upah tueng upah lon bri bu gata
Ka naseb tanyoe geutanyoe keuheundak bak Allah… bak Allah
Adak pih sosah… sosah tetap lon saba

Seubut le poma… “aneuk meutuah
Keuheundak bak Allah… bak Allah geutanyoe saba
Bek putoh asa… hai asa cobaan Allah… ya Allah
Saba ngon tabah… ngon tabah dudoe bahgia…

Talakee do`a… taniet bak Allah
Ube musibah… musibah bek le troh teuka
Acheh beu aman… beu aman bek le ro darah… ro darah
Seuramoe Meukah… Meukah beu kong agama.

Terjemahannya kurang lebih seperti ini:

Dengarlah ku kisahkan satu riwayat
Kisah terbaru… terbaru di Acheh Raya
Di dalam kerusuhan Acheh… Acheh timur dengan barat dengan barat
Disebuah tempat… tempat begini ceritanya:

Ada seorang anak yang terus menerus menangis
Dalam setiap saat… saat berdua dengan ibunya
Dia bertanya kepada ibu… kepada ibu “ayah dimana sekarang… dimana sekarang?
Saya sangat rindu sekali… rindu sekali ingin melihat wajahnya

Jika masih hidup dimana alamatnya
Saya mahu cari… mencari ketika saya besar
Jika sudah meniggal… meninggal
Dimana kubur… kuburan nya?
Saya ingin ziarah sebentar… pergi ziarah untuk membacakan do’a

Hidup sang ibu ketika tiada sang ayah
Saya mengambil upah mengambil ubah untuk menafkahkan kamu (anak)
Sudah nasib kita nasib kita begini kehendak dari Allah… dari Allah
Walaupun susah… susah saya tetap bersabar

Ibu berkata… “Anakku yg bertuah
Kehendak dari Allah… dari Allah kita bersabar
Jangan putus asa… hai asa atas cobaan Allah… ya Allah
Sabar dan tabah… dan tabah kita akan bahagia

Kita mohon do’a… kita niatkan pada Allah
Semua musibah… musibah jangan kembali lagi
Acheh akan aman… akan aman dan jangan ada lagi pertumpahan darah… pertumpahan darah
Serambi Mekah… Mekah semoga terus kuat agama

(Teks lagu dan terjemahannya di copy dari sini.)

4 thoughts on “Hafalan Shalat Delisa

  1. terimakasih yah teks dan artinya, saya bingung sebelumnya mendengarkan lagu ini di

    “Acheh Sumatra tsunami – First Day”
    ternyata di sini di terjemahkan, jadi saya mengerti maksud dari lagu ini….semoga semua ada hikmahnya, karena saya orang Pontianak.

  2. sama-sama.. saya juga dapat dari sitesnya orang.. insya Allah semoga ada hikmahnya untuk semua.. lirik, musik dan suara Rafli-nya pas banget ya..

  3. LOEN GALAK THAT DEUGO LAGU RAFLI…TAPI, SAAT SAYA MEMBACA SEKILAS TENTANG HAFALAN SHALAD DELISA,LANGSUNG SEKETIKA SAYA INGIN MEMILIKI NOVEL INI.THANK FOR WRITER…OH YA,,,KALAU BOLEH SAYA BELAJAR MENULIS NOVEL SEPERTI INI,SAYA SANGAT INGIN BELAJAR.MUNGKIN ADA YANG BERBAIK HATINYA DAN YANG SUKA MENULIS SUDI KIRANYA SAYA JADIKAN GURU…INI 081377131995 NOMOR HANDPHONE SAYA.TOLONG SMS SAYA KALAU SAUDARA MAU JADI GURU BELAJAR MENULIS NOVEL SAYA.TEURIMONGGENASEH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s