“Mengikat Makna”

“Menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam, semacam upaya untuk menemukan identitas kita yang paling orisinal. Jelas di sini bahwa menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan, tetapi juga merupakan keperihan untuk mencari lagi diri kita yang hilang dan tenggelam dalam pelbagai kedangkalan…” – Sindhunata

Mengikat Makna adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Hernowo. Konon judul ini diilhami kata-kata indah dan penuh makna ciptaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a.

Diriwayatkan, beliau berkata kurang lebih demikian, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Arti harfiah ‘mengikat’ disini adalah menulis, dan kegiatan menulis disini adalah kegiatan menulis yang menyenangkan. Diharapkan hasil dari kegiatan menulis yang menyenangkan ini adalah sesuatu yang bermakna. Dan jika hasilnya belum bermakna, maka proses ‘mengikat’ atau proses menjalani kegiatan menulis itulah yang diharapkan dapat bermakna -memberi manfaat langsung dan nyata bagi pelakunya.

Ada tiga buku Mengikat Makna yang ditulis Pak Hernowo: Mengikat Makna, Mengikat Makna Untuk Remaja dan Mengikat Makna Sehari-hari.

Ketiga buku tersebut pada dasarnya menekankan pentingnya memadukan kegiatan membaca dan menulis secara tertata agar dua kegiatan tersebut dapat memberikan makna (manfaat) kepada pelakunya. Dan bukan hanya buku yang dapat diikat maknanya, kehidupan diri kita sehari-hari pun dapat diikat maknanya. Lebih jauhnya, dengan ketiga buku tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat Indonesia untuk mau dan mampu membaca dan menulis secara “fun“.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ secara efektif. Sebagai catatan, satu hal yang sangat perlu diperhatikan bahwa, efek dahsyat ‘mengikat makna’ ini baru akan muncul jika kegiatan tersebut benar-benar dijalankan setiap hari secara kontinu dan konsisten, meski hanya beberapa menit. (Hey…, wake up!)

Membaca Memerlukan Menulis dan Menulis Memerlukan Membaca

Konsep ‘mengikat makna’ ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Pak Hernowo di masa lalu dalam kegiatan membaca. Diutarakan bahwa ketika kegiatan membaca itu usai dijalankan dan begitu banyak materi yang diperolehnya dari buku, senantiasa pula banyak hal itu terlupakan.

Maka, kegiatan ‘mengikat makna’ kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca.

Kegiatan ‘mengikat makna’ membantu melejitkan dua keterampilan-penting sekaligus: membaca dan menulis. Kegiatan membaca menjadi efektif artinya ada hasilnya (berupa tulisan) dan dengan menuliskan hasil bacaan kita menjadi terlatih dalam menulis.

Pengalaman pribadi Pak Hernowo sendiri, melalui kegiatan menulis ini dirasakannya ada penambahan kata-kata yang masuk ke dalam dirinya sehingga beliau menjadi kaya raya dengan kata. Dan ini luar biasa!

Jadi, membaca memerlukan menulis. Karena apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak kita tulis (‘ikat’). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Jika kita miskin kata-kata (baca: enggan membaca), menulis bisa menjadi kegiatan yang menyiksa diri.

Membaca dan Menulis di Ruang Privat

Ruang privat adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita.

Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut. Jika bisa dilukiskan secara ekstrem, ruang privat adalah sebuah ruang yang hanya ada satu diri yaitu pemilik ruang privat itu.

Keberhasilan menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ sangatlah bergantung pada keberanian untuk menciptakan ruang privat ini.

Kegiatan ‘mengikat makna’ yang tidak dijalankan di ruang privat, hasilnya akan kurang efektif. Karena pada awalnya ‘mengikat makna’ adalah kegiatan yang sangat pribadi.

Seseorang yang menjalankan konsep ini harus benar-benar mementingkan dirinya sendiri. Ketika membaca lebih-lebih ketika menulis, orang tersebut harus benar-benar melibatkan diri pribadinya. Ada kemungkinan hasil tulisan yang dirumuskan bernada subjektif, namun inilah kunci keberhasilan ‘mengikat makna’, yaitu: mengunggulkan diri -tepatnya keberanian sang diri untuk mengungkapkan pendapat pribadi/subjektifnya.

Bahkan dalam menulis, kata ganti orang pertama, ‘aku’ atau ‘saya’ sangat penting digunakan sebagai ‘alat’ untuk menggali kekayaan diri, yaitu hal-hal bermakna yang didapat dan dihimpun oleh sang diri.

Arti Kebermaknaan (Makna)

Kendati mengunggulkan subjektivitas, ‘mengikat makna’ sama sekali tidak anti-objektivitas. ‘Mengikat makna’ diciptakan untuk melindungi diri kita yang unik (menata diri pribadi) sebelum dibawa ke ruang publik dimana objektivitas sangat diunggulkan.

‘Mengikat makna’ kemudian menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Pak Hernowo, dimana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya.

Definisi makna dalam konsep ‘mengikat makna’ adalah bahwa,” sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu sangat penting dan berarti bagi diri pribadi”. Jadi, kebermaknaan dikaitkan dengan diri pribadi yang unik, sehingga ‘mengikat makna’ membantu seseorang menemukan keunikannya.

Memanfaatkan Otak Belahan Kanan

‘Mengikat makna’ yang dijalankan di ruang privat dan menggunakan subjektivitas (diri pribadi yang unik) pertama-tama merujuk kepada belahan otak kanan. Artinya, ketika menulis sesuatu yang bermakna, si pelaku harus benar-benar merasakan kebebasan. Tulisan yang dikeluarkan harus dibiarkan dan tidak dikoreksi begitu selesai ditulis. Jika langsung dikoreksi, maka kebebasan itu terhenti. Kalau perlu endapkan tulisan yang bebas itu sehari.

‘Mengikat makna’ juga harus dilakukan secara spontan. Persepsikan menulis sebagai ‘membuang’ semua yang didapat sehingga diri mengalami kelegaan secara luar biasa (Sensasi plong…! :) ). Kegiatan menulis yang disesuaikan dengan cara kerja otak ini dinamakannya ‘brain-based writing‘.

Metode Pemetaan Pikiran (Mind Mapping)

Pemetaan pikiran adalah sebuah alat ajaib untuk membuka pikiran. Dapat dimanfaatkan apabila kita masih gagap dalam ‘membuang’ hasil-hasil yang diperoleh dari membaca.

Sifat metode ini adalah menggabungkan fungsi otak kiri (kata) dan otak kanan (gambar). Apakah semuanya harus ada kaitannya lebih dahulu? Ternyata tidak. Peta pikiran membebaskan kita untuk mengeluarkan atau mengalirkan apa saja!

Menggunakan Seluruh Kecerdasan (Multiple Intelligences)

Kecerdasan majemuk berprinsip bahwa otak manusia terdiri atas area-area. Profesor Gardner mengelompokkan area-area itu menjadi sembilan: cerdas kata, angka, gambar, musik, diri, gaul, alam, tubuh, dan makna. Masing-masing area kecerdasan itu bisa berdiri sendiri atau saling membantu.

Kegiatan membaca dan menulis dapat dilakukan siapa saja dengan cara-cara yang sangat bervariasi, misalnya menulis dapat dimulai dengan pertanyaan (cerdas kata) dan seterusnya. Sehingga, ‘mengikat makna’ dapat melejitkan seluruh kecerdasan.

Mengisahkan Diri yang Unik

Terakhir, semuanya kembali kepada diri kita yang unik. Keunikanlah yang sangat ditekankan oleh ‘mengikat makna’. Agar diri yang unik itu dapat tampil secara luar biasa, sang diri harus berada di ruang privat ketika menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang dipadukan ini (‘mengikat makna’).

Jika kegiatan ini dapat dijalankan secara kontinu dan konsisten setiap hari, tentulah kekayaan yang disimpan sang diri meski hanya berupa pengalaman, akan dapat dicuatkan kebermaknaannya.

Membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang sangat penting, terutama jika ingin mengaitkan diri kita yang unik dengan ilmu. Membaca dapat membawa diri kita ke tempat-tempat terjauh dimana sumber ilmu berada. Membaca juga membuat diri kita dapat bertafakur, berpikir secara sistematis, hati-hati dan tidak dangkal dalam mencari dan menemukan ilmu. Sebaliknya, menulis akan membantu kegiatan membaca agar tidak sia-sia. Menulis dapat menata dan menyusun seluruh pengetahuan yang masuk ke dalam diri menjadi arsip-arsip ilmu yang kaya dan mudah diakses kembali. Sehingga, ‘mengikat makna’ sejalan dengan semangat mencari ilmu.

Untuk menunjukkan pentingnya ‘mengikat makna’ dari perspektif yang lain, dikutipkan kata-kata ciptaan Jalaluddin Rakhmat dalam pengantar buku Karen Armstrong, Muhammad: Prophet for Our Time (Mizan, 2007) sebagai berikut (h. 13):

“Cerita, kisah, atau dongeng secara ilmiah disebut narrative. Manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Kita cenderung menerima cerita dan menyampaikannya dalam bentuk cerita pula. Tanpa cerita, hidup kita akan carut marut. Dengan cerita, kita mampu menyusun dan menghimpun pernak-pernik kehidupan yang berserakan. Narrative, seperti pernah diucapkan oleh Dilthey, seorang filsuf Jerman, adalah pengorganisasian hidup.”

(Tulisan di atas dirangkum dan diadaptasi dari Makalah Workshop Penulisan Diary I Love My Al-Qur’an, dengan tema “Mengikat Makna di Ruang Privat” oleh Hernowo, diselenggarakan oleh Pelangi Mizan & Mizan Dian Semesta, 26 Januari 2008.)

3 thoughts on ““Mengikat Makna”

  1. Pingback: Mengikat Makna « Chrysant

  2. Pingback: BRAINVIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s