Tentang Puisi, Yang Bermuara Kepada Tuhan..

I

Dari 27th Indonesia Book Fair, sebuah buku kumpulan puisi kecil Karsono H. Saputra. Judulnya: Bulan Bulat Laut Pasang, judul yang… bening. Di sampul belakang tertulis barisan kata berikut:

puisi itu komunikasi

puisi itu ekspresi

puisi itu simbolisasi

puisi itu jiwa

puisi itu kehidupan

puisi itu pengendapan

puisi itu kebebasan

puisi itu pencerahan

puisi itu kejujuran

jadi, puisi itu

tergantung siapa yang memberi makna

 

Segalanya tentang puisi.. that’s true at all.

II

“Sesungguhnya dari retorika bahasa bisa berakibat sihir. Dari ilmu bisa menimbulkan kebodohan. Dan sesungguhnya dari sebait syair banyak mengandung hikmah.” Nabi Muhammad Saw.

Hadits riwayat Abu Daud di atas memperingatkan kita betapa rumitnya sebuah ilmu itu sehingga kita perlu berhati-hati dalam mempelajarinya. Seorang yang pandai tak ada jaminan untuk tidak tertipu, misalnya. Bodoh terkecoh, pinter keblinger, adalah pepatah yang menodong kita ketika kita tidak cukup jeli dalam mengarungi lautan ilmu. Dari ilmu agama sampai ilmu kimia nuklir, misalnya, semuanya itu menuntut ekstra hati-hati kita. Bisa mendatangkan kebahagiaan, namun juga bisa mengundang bencana. Kita bisa salah, bisa tinggi hati, bisa pesimistis, bisa pula sesat.

Kemudian Rasulullah memuji puisi, karena sebagai ilmu, sajak atau syair itu mengandung berbagai pelajaran tentang hidup. Sehingga sebait puisi bisa menggaet banyak orang untuk berlomba dalam kebaikan. Bahkan Presiden Joh F. Kennedy meyakini bahwa jika politik kotor, maka puisi membersihkannya.

Nabi sendiri meski sehari-harinya sangat sibuk mengurus ummat, beliau masih sempat mengundang sejumlah penyair untuk berdeklamasi di depan beliau. Rasul juga meluangkan waktu menulis puisi. Dan puisi yang kadang hanya sebaris kalimat itu, mampu memberikan kearifan hidup yang bisa menerangi jalan panjang sejarah manusia. Jalan panjang yang kadang begitu misterius, yang kadang sangat bengis, sering memberikan harapan yang gilang-gemilang bagi kemenangan manusia lewat puisi, seperti yang sudah dibuktikan para penyair zaman dahulu hingga zaman kontemporer ini. Kadang kemajuan suatu bangsa dapat diukur lewat kemajuan puisi dan apresiasi terhadapnya.

(Dari buku: Gerak Gerik Allah – Danarto)

III

Bagi saya sendiri, puisi adalah soal pekerjaan hati: mendengarkan dengan hati, bicara dengan bahasa hati, kepada hati. Puisi itu jujur. Puisi itu bersih. Puisi itu tulus.

Sebagai ilustrasi, saya kutipkan kata-kata indah ini, dari buku Dan Damai di Bumi! – Karl May:

‘Alam’ tidak membutuhkan kata-kata karena bahasanya ditujukan bukan kepada telinga melainkan kepada hati. Suaranya yang berasal ‘dari atas’ harus merasuk jauh ke dalam; tetapi barangsiapa menutup lubuk hatinya bagi suara alam takkan pernah mengenal ‘keagungan tempat suara itu berasal’.

Atas setiap penyair sejati pasti lebih berterima kasih ke ‘atas’ daripada ke bawah. Ia sadar dirinya menjadi harpa dengan sekian banyak dawai berkat ‘kekuatan di luar kekuasaannya’. Namun ia pun sadar bahwa tak ada harpa yang dapat memainkan dirinya sendiri.

Jadi, puisi adalah hasil perenungan ke dalam dan juga ke luar diri. Puisi adalah sebuah refleksi.

Tuhan memperkenalkan diri-Nya juga lewat hati. Seperti terungkap dalam hadits indah ini (I love this so much..) :

Kebijaksanaan di dalam tindakan-Ku menciptakan engkau adalah untuk melihat bayangan-Ku dalam cermin jiwamu, cinta-Ku dalam hatimu. Nabi Muhammad Saw.

Sehingga, tepat kalau Karl May mengungkapkan: Puisi adalah ekspresi Ilahi. Seni sejati yang dilandasi agama adalah saudari kandung dari iman. Seni sejati selalu berasal dari Tuhan.

Hal senada diungkapkan D. Zawawi Imron: Dengan puisi saya belajar menyelami jiwa kemanusiaan dan ayat-ayat Tuhan. Dengan puisi saya belajar menjadi manusia. Dengan sajak saya menemukan kembali kesegaran jiwa remaja saya.

(Ungkapan D. Zawawi Imron di atas diambil dari PUISINET, banyak ungkapan lain tentang puisi di situ, dua artikel yang sangat menarik bagi saya, Teks Puisi, Teks Kehidupan dan Ketegangan Penyair, Sajak dan Pembacanya.)

Kesimpulannya, bagi saya, puisi lebih kepada perkara menghidupkan hati. Hati yang disana Ia berkehendak melihat cinta-Nya, cinta-Ku dalam hatimu, bayangan-Ku dalam cermin jiwamu. Yang kemudian menimbulkan pertanyaan, mampukah kita menjabarkan firman Allah kepada Nabi kita itu? Semoga.

8 thoughts on “Tentang Puisi, Yang Bermuara Kepada Tuhan..

  1. yess :D
    saya sepakat bhw puisi adalah pekerjaan hati. Ia ditulis untuk dibaca dengan hati bukan sepintas lalu…

    lalu … ‘Alam’ tidak membutuhkan kata-kata karena bahasanya ditujukan bukan kepada telinga melainkan kepada hati.

    Saya pun sepakat. Bahwa dimanapun kita berada, bukan lantas kita tanpa guna. Allah telah merancang bhw kita di suatu tempat karena alasan sesuatu. Peran kita, campur tangan kita dibutuhkan di sana. Begitu istilah Sahabat saya, Lita. Lantas apa yang mesti kita lakukan?
    Kitalah yang harus menemukan peran itu dan menunaikannya dengan sempurna :)
    (deeuuu….. :D

  2. ass.aku sangat suka akan karya puisi.namun saya suka merasa kakun jika hrs mebuat puisi.apakah saya ini tidak mempuyai bakat seni menulis puisi?bls

  3. wass. wr. wb. hi nienda, makasih uda nulis comment disini. aduh, sy bukan pakar puisi :) basic sastra jg gak ada. tp krn nienda minta balas, sy crita versi pengalaman aja ya.

    klo pengalaman saya, klo mo nulis puisi trus diniatin hrs jd puisi yg bagus ttg sesuatu, kagak jadi2 juga. tapi, ketika ada sesuatu yg mmg bener2 dirasakan n coba diungkapin lwt puisi, ada rasa puas tersendiri ketika udah jadi. dan…makin dibaca n dirasa2, tu yg udah ditulis bagus jg :)
    makanya sy suka kutipan di atas ttg puisi itu ekspresi dan puisi itu (hasil) pengendapan (jiwa).

    ttg hasil jadinya. spt disebutkan di atas juga, tergantung siapa yg memberi makna. bs jadi tidak bermakna utk orang lain, tp sangat bermakna buat nienda sendiri. ttg bagus nggaknya, tiap org punya gaya masing2 ‘n menyukai gaya yg berbeda2. so, keep writing!

    terus latihan, n banyak2 baca karya para penulis puisi terkenal. bagus buat nambah kosa kata, ‘n nambah wawasan ttg macam2 gaya penulisan. pertama2 mungkin nienda bs cr dulu penulis yg nienda suka, pelajari. biasanya pertama2 kita mengikuti gaya penulis favorit kita, …sp akhirnya nemuin gaya sendiri.

    duh, panjang banget :) kayak sayanya udah pinter nulis puisi aja hehehe. sharing aja ya nien.. sy jg lg masih belajar. moga berguna. terus latihan aja ya..kita latihan sama2 :) tp sy sih nulis klo lg butuh aja *butuh m’ekspresikan s.t :)

  4. Assalamualaikum… hai salam kenal yah dari Qu. puisi kamu bgs”. pasti dari pengalaman hdp yah. bagi Qu puisi itu cahaya hati..
    ia datang dari lubuk hati yg paling dalam
    dari jiwa yg suci . . .
    terlintas begitu saja di benak . .
    menuntun tiap insan mencari arti kehidupan melalui puisi. So, puisi itu indah.
    Gmn menurut kamu?!!

  5. wa’alaikumsalam wr wb. salam kenal juga hana.. makasi uda mampir di sini..
    yup! setUUjUU… puisi itu jujur, datang dr lubuk hati paling dalam, terlintas begitu saja di benak, gak dibuat2…
    n puisi itu indah, tercipta dr jiwa yg halus :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s