Ahmadinejad (2)

Siapakah Ahmadinejad ?

First: The Missing Man

Ia mempunyai “spektrum karakter” yang amat berwarna. Selain sebagai aktifis dan politisi, ia juga ulama yang mengasah ilmu dari salah seorang tokoh spiritual Iran terkemuka.

Sebagai ulama ia mesti bersikap lemah lembut, santun, memancarkan kecerdasan, disisi lain sebagai pemimpin yang harus mengayomi masyarakat harus menunjukkan ketegasan, sekaligus konfrontatif jika dibutuhkan. Meski harus diakui terkadang perpaduan dua fungsi tadi membuat segala sesuatunya menjadi kontradiktif. (xviii)

Ia mempunyai “kepribadian ganda”: di satu sisi, bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, disisi lain bertarung sama kerasnya untuk menolak segenap pengaruh kekuasaan terhadap aspek batinnya.

Di puncak kekuasaan politik duniawinya, ia senantiasa berada dalam puncak perlawanan batin terhadap kekuasaan yang digenggamnya. Sehingga sama sekali tidak tampak terpengaruh oleh kekuasaan yang diraihnya. Bahkan, kekuasaan itu seolah-olah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. (149)

Ia orang yang sangat religius, ‘tapi’ berpikiran modern. Percaya diri, sangat berkomitmen dan saleh. Satu-satunya sifat buruknya adalah: ia sangat ‘lurus’ dalam pandangan-pandangannya dan sulit untuk dipengaruhi oleh orang lain -menurut seorang sahabatnya sejak kecil.

Ia seorang “revolusioner sejati”, dengan kedahsyatan aura yang berbeda, yang terlihat jauh lebih ‘awam’ dan ‘normal’ dibanding mentor spiritualnya yang sangat ‘khas’ dan ‘mystique’, Imam Khomeini. (148)

Seorang revolusioner sejati akan tampil tanpa kompromi saat berbicara tentang landasan dasar pandangan-dunianya. Pandangan-pandangan seorang revolusioner bisa jadi terdengar sangat mengganggu dan menakutkan. Namun, bila kita mengikuti alur penalarannya maka kita akan menemukan kejujuran, kelurusan, dan kewarasan dalam cara-pikirnya. Sedemikian jujur, lurus dan waras logika seorang revolusioner itu sampai-sampai terkadang seakan mengentak kesadaran kita yang hidup di dunia modern yang penuh dengan kompromi dan ambivalensi ini. Seorang revolusioner sejati bukan orang yang mudah berubah-ubah karena ia bukan orang yang sedang marah dan mencari sasaran-sasaran mudah. (162)

Pandangan-pandangannya terikat erat pada suatu logika revolusi yang diyakininya. Pendekatan-pendekatannya begitu rigorous, ketat, fokus dan dingin bila terkait dengan prinsip-prinsip dasarnya. Namun, bila persoalan tidak menyangkut masalah yang mendasar, maka ia akan terlihat cukup realistis, praktis, pragmatis dan lunak. (163) I like it!

Kehidupan Pribadi. Pribadi. Kepribadian

Ketika menjabat sebagai walikota, gaji walikotanya semua disumbangkan untuk rakyat bawah dan hidup dengan gaji dosen. (136) Sebagai walikota ia tetap tinggal di rumah sederhananya. Rumah berukuran kira-kira 170 meter persegi, yang rapi dan bersih, tapi sangat murahan. Rumah dinas walikota dijadikannya museum!

Ia memperpanjang jam kerjanya agar punya waktu luang hingga 4 jam lebih untuk menerima siapapun warga kota yang ingin mengadu di kantornya yang sederhana: dari anak kecil hingga korban tabrakan lalu lintas, dari ibu-ibu hingga pebisnis. Sejak hari pertama menjabat sebagai walikota, ia menetapkan kebijakan yang menekankan sisi religius.

Sejak terpilih sebagai presiden ia tidak mengubah penampilannya yang sangat bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan: sepatu, kaus kaki, celana panjang, baju putih kerah, jas tanpa embel-embel merk terkenal yang biasa dijumpai di dalam negeri, tidak pernah berdasi sebagai salah satu ciri khasnya.

…gesture-gesture itu menunjukkan kegigihannya untuk tetap menjadi seorang revolusioner, dalam konteks penguasa yang senantiasa mengarahkan batinnya untuk tidak terjamah oleh segala kekuasaan yang digenggamnya. (165)

Ia tampak begitu kukuh, berpendirian dan bersahaja. Dari ucapan-ucapannya dan berbagai aspek kepribadiannya. Ia percaya penuh bahwa kemenangan itu adalah hasil pasti dari keyakinan dan perjuangan.

Senyum tulus, lambaian tangan penuh kehangatan, perhatian pada semua orang, dan bahasa tubuh bersahabat adalah diantara kesederhanaan yang melekat pada dirinya.

Sebagai dosen favorit, tidak banyak basa-basi membuang waktu dengan kalimat-kalimat pembuka. Sapaan Assalamu’alaikum dan puji syukur kepada Tuhan Maha Pengasih Penyayang adalah 2 kalimat pembuka. Setelah itu pasti keluar seloroh pemecah kebekuan yang instan dan orisinil.

Karir. Cita-cita, Idealisme, Tujuan dan Pergulatan

Kemenangannya dalam pemilu hingga menjadi presiden terpilih adalah suatu kenyataan yang menjungkirbalikkan real politik.

Ia adalah seorang politisi dengan modal paling sedikit dan pandangan paling lurus, mampu menonjok kelompok yang berkuasa.

Ia ingin menciptakan Iran sebagai model pemerintahan yang modern, maju, dan islami. (154) Dan ini hanya bisa dicapai dengan berpijak pada manajemen kerja yang kuat, profesional, bebas korupsi, dan favoritisme politik.

Semua konsep harus diperagakan secara nyata sehingga sikap populis ia pertahankan dalam menjalankan pemerintahan.

Berbicara dengan nada lembut, tapi tegas, dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan maksudnya kepada lawan bicaranya. Kesadaran seorang Ahmadinejad spontan, lurus, incorruptible dan selalu konsisten dengan logika revolusi yang dipegangnya kuat-kuat. Logika itu sangat simplistik sehingga sulit untuk dibantah.

Pikiran-pikirannya memang terdengar asing bagi diplomat barat yang sering berbicara dalam bahasa yang bersayap dua, tiga, empat, dst. Logika-logika revolusi yang terdengar begitu minimalistik dan simplistik tapi sangat menggugah kesadaran.

Dalam ceramah-ceramahnya ia memulai dengan sejumlah pernyataan tentang ajaran tauhid, keadilan, dan kasih sayang yang dikumandangkan oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi dasar-dasar utama ajaran Islam. He said: tak ada kata akhir untuk kerja dan kita selalu berpeluang meningkatkan laju kemajuan dan mengurangi efek-efek sampingnya melalui berbagai inovasi, inisiatif, dan invensi. He said: Bagi saya pemuda adalah modal utama; mereka adalah modal paling berharga.

Ia tampil manusiawi dan merakyat. Percaya diri, sangat komitmen dan saleh. Rendah hati dan penuh kasih. Ia ingin mengembalikan Islam pada tempatnya sebagai umat yang terpelajar, beradab dan membuat sejarah.

Ia adalah anak revolusi yang tidak habisnya menggali segenap potensi diri untuk mencapai summum bonum. Dan begitulah hakikat seorang revolusioner : tidak pernah lelah memberontak, melawan, menantang, dan berjuang membangun keadilan, tanpa melupakan bahwa semua itu harus dimulai dari dalamnya sendiri. Revolusioner dalam pengertian ini adalah orang yang tidak pernah puas, tidak ingin mapan di suatu tingkat kesempurnaan.

Sebaliknya di dalam dirinya terdapat energi yang setiap saat siap meledak, energi yang timbul dari penghayatan bahwa manusia hidup di dunia untuk tujuan-tujuan yang jauh lebih besar dari dunia dan isinya.

~~~

Ini sekedar catatan saya selepas membaca buku ini. Penggalan-penggalan yang saya suka dan saya anggap penting. Sebagai upaya memaknai: Merasakan denyut perjuangan sebuah hidup. Agar lebih bisa memaknai, merasai, meresapkan (perjuangan sebuah hidup).

Seperti disebutkan dalam kata pengantarnya, buku ini adalah buku biografi yang mengupas sosok seorang Ahmadinejad yang ditulis dengan gaya bahasa populer sehingga enak dibaca, terasa ringan, dan mudah dicerna. Sekalipun buku ini menyajikan berbagai persoalan sosial-politik Iran dengan berbagai perubahannya.

Dari keempat penulis, tiga diantaranya adalah lulusan perguruan tinggi di Iran, sehingga terasa menguasai benar seluk-beluk negara dan masyarakat Iran beserta sejarahnya. Dengan dihadirkannya sosok, visi, dan kiprah politik Ahmadinejad seperti ini, diharapkan dapat menjadi pemantik akan lahirnya pemimpin-pemimpin yang berwibawa dan bermartabat di negeri ini.

Ahmadinejad is the man in reality. Seorang tokoh besar dunia yang masih hidup. He is a man of this century (versi saya). Yes, he is the real man. Apa yang dilakukan Ahmadinejad mestilah dapat diikuti jejaknya.

Kehadiran sosoknya sedikit mengobati kerinduan akan sosok-sosok yang telah hilang dulu: pribadi mulia dan sederhana manusia agung Nabi Besar Muhammad SAW, atau sosok rendah hati, lurus dan bersahaja ‘Dua Umar’: Umar bin Khaththab dan Umar bin Abdul Aziz, atau sosok merakyat seperti Mahatma Gandhi dan Muhammad Hatta. (I love them.)

Keseluruhan buku ini sangat inspiratif. Dilengkapi dengan surat Presiden Ahmadinejad kepada Presiden Bush dan rakyat Amerika, serta wawancara Ahmadinejad dengan harian Der Spiegel Jerman.

Cetakan pertama terbit Agustus 2006, mengalami cetak ulang hampir setiap bulan dan menjadi National Best Seller.

4 thoughts on “Ahmadinejad (2)

  1. Saya sangat senang dengan kalimat “energi yang timbul dari penghayatan bahwa manusia hidup di dunia untuk tujuan-tujuan yang jauh lebih besar dari dunia dan isinya.”

    Kita sebagai seorang muslim juga sudah diajarkan bagaimana seharusnya mengorientasikan hidup kita, mendefinisikan tujuan besarnya dan mengerahkan seluruh upaya kita kepadanya.

    “Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” {Qs 37:61]

    Sehingga selayaknya kita menjadi “Ahmadinejad” atau “Muhammad Fatih”, “Ibnu Sina”, “Imam Syafii”, dll dalam skala kapasitas yang kita miliki.

    However many simple things easy to say are difficult to realize. That’s why we always need Allah to holding for.

  2. Ya, many simple things easy to say are difficult to realize.
    Sehingga setiap saat adalah jatuh bangun kita dalam merajut kebersamaan dengan-Nya.
    Karena Ia adalah Sumber.
    Thanks

  3. Pingback: Ahmadinejad (1) « Chrysant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s