Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

1989

Dalam Diriku

Because the sky is blue
It makes me cry
(The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan
dan selokan – swaranya bisa di beda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu
dan jendela. Meskipun sudah kaumatikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh
di pohon, jalan, dan selokan –
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

1981

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

Metamorfosis

ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu
bertanya, “tubuh siapakah gerangan yang kukenakan
ini?”

ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu,
menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka
sebab-sebab kematianmu –

ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu

1981

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

1992

Di Tangan Anak-anak

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk kepada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

1981

Di Restoran

Kita berdua saja duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput –
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu di tengah sungai terjal yang deras –

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

1989

Gadis Kecil

ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang-goyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang ada pohon dan seekor burung

Kepada Ully Sigar

hutan itu gericik air dari bukit sana
bermuara di gelas dan cangkir kita
hutan itu desau udara melintas cakrawala
lewat paru-paru dan pori-pori kita

hutan itu tempat tinggal Adam kakek kita
terlempar dari surga; kita ke sana, Saudara

Nokturno

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
Entah kapan kau bisa kutangkap.

Tautan:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s