The Kite Runner – Sepenuhnya Tentang Cinta

4381.jpg

Judul: The Kite Runner. Penulis: Khaled Hosseini. Penerjemah: Berliani M. Nugrahani. Penerbit: Qanita (PT. Mizan Pustaka). Cetakan I Maret 2006, 616 Hal

Kata-kata yang berhamburan dalam pikiran saya (tepatnya dalam pikiran dan hati saya) selepas membaca novel ini kira-kira seperti ini:

Novel ini sepenuhnya berkisah tentang cinta, kasih sayang, ketulusan, pengabdian, kesetiaan, persaudaraan.

Yang bila dirangkum dari kesemua kata itu bisa diwakilkan dengan hanya satu kata: cinta (setidaknya menurut saya).

Merujuk pada tokoh sentral kisah ini, Hassan. Ya, karena semua kisah berawal dari ketulusan, kesetiaan, pengabdian, kasih dan cinta yang dimiliki seorang Hassan. Yang kemudian menjadi tumpukan rasa bersalah Amir, yang terjebak dalam liku sebuah pengkhianatan.

Untuk Khaled Hosseini, sang pengarang, saya ingin mengucapkan salut dan terima kasih yang besar atas kenangan masa kecil yang disajikan dengan indah dalam detil rasa dan suasana. Masa kecil yang teramat indah. Disajikan dalam balutan kata teramat indah. Mengingatkan saya pada suatu masa yang pernah dilalui. Masa yang.. sangat indah.

Detil. Penggambaran emosi dan karakter setiap tokoh dalam novel ini ditampilkan sedetil-detilnya. Juga setting dan suasana yang muncul. Seolah pengarang mengalami sendiri semua kejadian dan menyelami setiap karakter secara mendalam. Awalnya saya kira ini sebuah memoar, karena semuanya seperti nyata. Nice!

Kata lain tentang novel ini adalah: dramatis. Dramatis yang tidak didramatisasi. Karena segalanya tetap mengalir alami, realistis dan logis. Dan tetap penuh kejutan.

My favorite stage is.. ketika kalimat favorit saya itu diucapkan: “Untukmu, keseribu kalinya!”, “For you, a thousand times over!”, dan adegan ketika Baba mengatakan: “Selama bertahun-tahun, itulah yang kucoba ajarkan padamu, bagaimana supaya kau tidak pernah menanyakan pertanyaan itu.” Keduanya adalah kata tentang cinta yang tulus dan tak berperhitungan, tak mengharap balasan, hanya memberi, just givng.

“…tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Yup, hanya memberi.. tak harap kembali.. tak terhingga.. sepanjang masa..

Penyajian yang lugas dan sederhana, to the point. Tidak ada bagian yang sia-sia. Segalanya seperti telah dirancang dan dipersiapkan dengan sangat baik, dan tentu saja detil. Semuanya terfokus dan terintegrasi dengan sempurna menuju pada satu titik: alur kisah utamanya. Dan satu lagi: cermat!

Karakter Amir, Baba dan Hassan, dan hubungan antara Amir-Baba, dan Amir-Hassan begitu tertata dan kuat.

Pun semua karakter lain. Dirancang dan dibangun dengan cermat, perlahan dan pasti, juga mengesankan. Yang kesemuanya menuju pada alur kisah utamanya. How very smart work!

Setting yang diambil adalah Afganistan di masa sejak berkuasanya Raja Zahir Shah, pendudukan Sovyet, dan berkuasanya Taliban. Penggambaran masa perang tidak terlalu lengkap. Mungkin karena pengarang tidak mengalaminya sendiri. Penyempurnaan penggambaran akibat perang kemudian ditampilkan ketika keharuan puncak pada kisah pencarian putra Hassan. Tentang anak-anak korban perang yang harus menjalani hidup tanpa pilihan.

Buku yang bagus katanya akan menyisakan banyak hal setelah kita membacanya. Begitu juga buku ini. Banyak hal yang bisa dimaknai. Bahwa kita tidak bisa hanya memikirkan diri sendiri untuk setiap pilihan keputusan dan tindakan.

Salut buat Sang Pengarang, Khaled Hosseini. Bravo! Mr. Detail, Mr. Puitis.. :) Dan tentu yang tak kalah penting, salut buat penerjemahnya, Mbak Berliani M. Nugrahani, yang telah menjadikan buku ini bisa dinikmati seindah ini dalam Bahasa Indonesia-nya.

Betapapun ini adalah novel pertama Khaled Hosseni. Pertama terbit tahun 2003 oleh Riverhead Books dan menjadi international bestseller. Publishers Weekly menempatkannya sebagai Top Seller 2005 dan pada tahun 2006 lalu menjadi salah satu kandidat Book of The Year di Jerman. Selama 2 tahun lebih berada dalam daftar New York Times bestseller. Salut!

Genius..? Hmmh.. Satu kata itu masih hanya untuk satu orang, Pramudya Ananta Toer.

*update: dibaca lagi pada akhir 2011. Tulisan pertama saya. Sepertinya waktu itu banyak nyomot dari endorsement yang ada di buku, hehe.

8 thoughts on “The Kite Runner – Sepenuhnya Tentang Cinta

  1. hai mbak, salam kenal yah…
    makasih loh aku dipuji di sini, hihiihi… *jadi pengen malu…
    eh, buku kedua khaled udah terbit loh, a thousand splendid suns. bagus juga kok :D

  2. salam kenal juga mbak…
    udah lama pengen kenal ma mbak.., eh gak tahunya mbak dateng duluan ^_^ *duh senengnya…
    iya buku kedua katanya bagus juga,
    belum ada yg minjemin ni mbak :D

  3. btw.. jadi ikut comment nih, aku juga suka bgt baca buku dan suka nulis…

    Kite Runner memang ditulis dgn bgitu menggugah oleh penulisnya, aku sampe nangis smleman bacanya.. (lebay..)

    Masih tentang Khaled nih, novelnya “A Thousand Splendid Suns” juga keren bgtt…

    • iya, blom baca nih.. byk yg bilang bagus.. tdnya rada underestimate takutnya ngebosenin coz denger2 ttg perempuan, bias gender, dalam setting Afganistan (hukum Taliban, red.).. jd kayaknya arahnya kemana udah ketauan.. hehehe, soktahu.com

      • ya, memang kental dengan yg namanya diskriminasi wanita.hehe.. tapi yang bikin keren, kita juga jadi tahu bagaimana wanita sangat dijaga oleh suaminya.. Bukunya tentang pengorbanan..

  4. oh ya.. wah, kayaknya jadi harus baca ni..
    makasih rekomendasinya, n kunjungan2nya, hihi.. blog-nya Nining keren.. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s