Tentang Menulis

Menulis punya banyak manfaat dan bisa dilakukan untuk banyak tujuan—tidak mesti untuk menjadi penulis, diantaranya seperti yang ditulis Pak Hernowo berikut. Saya kutip dari catatan beliau di facebook, sebagai pengingat dan penyemangat. :)

  • Menulis untuk “membuang” pikiran yang menekan, menyesakkan, dan membebani (merujuk ke riset psikolog Dr. James W. Pennebaker)
  • Menulis untuk “mengenali” diri (merujuk ke gagasan novelis Ursula K. Leguin)
  • Menulis untuk “menata” pikiran yang kacau atau semrawut (merujuk ke riset ahli linguistik Dr. Stphen D. Krashen)
  • Menulis untuk “mengeluarkan” pikiran orisinal (merujuk ke gagasan Dr. Rhenald Kasali)
  • Menulis untuk “mengikat” hal-hal penting dan berharga yang diperoleh dari membaca (merujuk ke konsep “mengikat makna”)
  • Menulis untuk “menggali” gagasan yang tersembunyi di dalam pikiran (merujuk ke gagasan Rendra)
  • Menulis untuk “menangkap” gagasan yang berkelebat (merujuk ke gagasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)
  • Menulis untuk “merumuskan” sesuatu di dalam pikiran yang masih terpecah-pecah, berantakan, dan ambyar (merujuk ke gagasan Jean Piaget tentang konstruktivisme)
  • Menulis untuk “mengomunikasikan” kedalaman dan kelengkapan pikiran (merujuk ke gagasan Haidar Bagir)
  • Menulis untuk “membuka dan menunjukkan” sesuatu di dalam pikiran agar tampak jelas, jernih, dan tertata
  • Menulis untuk “berpikir” secara cermat, detail, dan berpegang pada referensi yang sangat kuat
  • Menulis untuk “mengait-ngaitkan” berbagai hal yang ada di dalam pikiran
  • Menulis untuk “mengendalikan” amarah dan kekesalan
  • Menulis untuk “menjelaskan” secara gamblang tentang apa yang sedang dipikirkan
  • Menulis untuk “mengungkapkan dan memahami” perasaan
  • Menulis untuk “menangkap dan merumuskan” secara cepat gagasan yang berkelebat di dalam pikiran
  • Menulis untuk “membebaskan” pikiran dari segala hal

Tetap semangat! :)

Mengangkasa Bersama Buku

Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.

(Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken – Biblioteca Magica de Bibbi Bokken – Bibbi Bokken’s Magic Library)

Kalimat di atas berulang saya temukan di buku yang baru saya baca, Mengikat Makna Update, yang ditulis Pak Hernowo. How very fascinating words. I like it so.

Di bawah saya simpan daftar beberapa buku (tidak semua) yang direkomendasikan—atau lebih tepatnya dituturkan—Pak Her di buku MM Update. Terima kasih telah membawa saya merambahi ranah isi, bahkan makna, dari buku-buku ini ya Pak. Dan ini membuat saya: terpacu.

Beberapa diantaranya sudah masuk daftar harus-baca. Membaca MM Update, jadi diingatkan kembali, agar daftar itu tidak hanya menjadi sekedar daftar. Bahkan lebih jauh—melalui penuturan bagaimana buku-buku ini telah menjadi bingkai (frame) konsep “mengikat makna”-nya Pak Her, konsep tujuan saya membaca jadi lebih jelas. Dan ini teramat penting! My next post will talk about why purpose becomes so important.

Buku-buku yang ditulis Pak Her sendiri beberapa diantaranya bisa di lihat di website-nya Mizan. Saya baik hati, sudah saya carikan link-nya, klik saja di sini. :D Tapi di daftar di bawah ini, saya hanya menulis yang berarti buat saya. Maaf ya.. Hehe.

The World Is Flat: Sejarah Ringkas Abad Ke-21, Thomas L. Friedman. (Dian Rakyat)

Crowd: Marketing Becomes Horizontal, Yuswohady, Pengantar oleh Hermawan Kartajaya. (Gramedia)

Think Like A Genius, Todd Siler. Edisi Indonesia: Berpikir ala Einstein. (2004)*

Brain Based Learning, Eric Jensen.*

The 7 Habits of Highly Effective Families, Stephen Covey.*

The 28 Laws of Attraction: Saatnya Kesuksesan Mengejar Anda, Thomas J. Leonard. (Kaifa)

Spiritual Capital (SC), Danah Zohar dan Ian Marshall. (Mizan)

Contextual Teaching and Learning (CTL) : Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Elaine B. Johnson. (MLC, 2006)

Authentic Happiness, Martin E. P. Seligman, Pengantar oleh Jalaluddin Rakhmat: From Suffering to Savoring”. (Mizan)*

What Happy People Know: How the New Science of Happiness Can Change Your Life for the Better, Dan Baker. Edisi Indonesia: Pergulatan Cinta dan Rasa Takut: Kisah-kisah Menggugah dan Mengharukan Orang-orang yang Menemukan Kembali Kebahagiannya, Pengantar oleh Jalaluddin Rakhmat. (Kaifa – Creative Nonfiction)*

SQ for Kids: Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini, Jalaluddin Rakhmat, (Mizan)*

Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions, Dr. James W. Pennebaker. Edisi Indonesia: Ketika Diam Bukan Emas: Berbicara dan Menulis Sebagai Terapi. (Mizan, 2002)

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup.*

Accidental Genius, Mark Levy.

Marketing Yourself: Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis, Hermawan Kartajaya.

New Wave Marketing, Hermawan Kartajaya.

Semua Berakar pada Karakter, Ratna Megawangi. (Penerbit UI Pres)*

Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, Muhammad Iqbal. (Penerbit Tintamas, Bogor, 1966)*

Discours de la methode (1637), Rene Descartes. Edisi Indonesia: Risalah tentang Metode. (Gramedia Pustaka Utama, 1995).

Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, Arief Budiman.

Pergolakan Pemikiran Islam, Achmad Wahib.*

Stray Reflections (catatan harian M. Iqbal).*

Mutiara Nahjul Balaghah. (Penerbit Mizan)

Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, Taufik Adnan Amal.*

Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, Ziauddin Sardar. (Penerbit Mizan)*

The Power of Reading, Dr. Stephen D. Krashen.*

Parent Who Love Reading, Kids Who Don’t, Mary Leonhardt.

99 Cara Menjadikan Anak Anda “Keranjingan” Membaca, Mary Leonhardt. (Kaifa)

Dunia Sophie, Jostein Gaarder. (Mizan) ~ dari dulu belum kesampean aja baca buku ini, sampe harus ditulis di sini, hiks…*

Kembara Bahasa, Anton M. Moeliono.

Present Yourself!: Melakukan Presentasi Berdasarkan Cara Kerja Otak, Michael J. Gelb, Pengantar oleh Tony Buzan. (MLC)

Menjadi Superkreatif dengan Menggunakan Metode “Pemetaan Pikiran”, Joyce Wycoff. (Kaifa)

Bengkel Kreativitas, Jordan E. Ayan. (Kaifa)

F.I.R.E.U.P Your Learning, Thomas L. Madden. ~ pernah baca versi Indonesianya tapi lupa judulnya apa, penerbitnya mana, sudah lama banget.. (anybody know?)

Ajaran Islam tentang Perawatan Anak, Ismail R. Faruqi. (Dewan Ulama Al-Azhar Mesir)*

Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Ismail R. Faruqi & Lois Lamya.*

Revolusi Cara Belajar, Gordon Dryden & Jeannette Vos.*

Muhammad Iqbal, Donny Gahral Adian. ~ sepertinya punya dan sudah baca

Barack Obama: Dreams from My Father

Anne of Green gables, Anne of Avonlea, Anne of the Island, Lucy M. Montgomery.

Mengikat Makna Update

Mengikat Makna Update. Penulis: Hernowo. Penerbit: Kaifa (PT. Mizan Pustaka). Cetakan I, Oktober 2009. xxxii + 216 Halaman. ISBN 978-979-1284-34-9

Alhamdulillah.. Akhirnya selesai juga membaca buku ini, setelah dua hari lamanya berjuang melawan deretan kalimat-kalimat panjangnya Pak Her. Dua hari yang penuh perjuangan. Diselingi berkali-kali membuka facebook—hampir setiap setengah jam. :D

Usai menarik nafas dalam dan bertanya pada hati: apa yang didapat dari buku ini? Sungguh ini menjadi pengalaman membaca yang tak akan saya lupakan. Mengapa? Mengutip judul kecil buku ini: Membaca dan Menulis yang Memberdayakan, saya juga sungguh merasa terberdayakan. Rasa terberdayakan itu saya rasakan di sepanjang perjalanan menyimak seluruh bagian buku ini. Rasa yang sulit diungkapkan, semacam opening up my mind, or like your feeling filled up with energies.., semacam itulah.

Terima kasih Pak Her, untuk berbagi pengalaman yang teramat sangat berharga. Banyak penulis, bahkan penulis hebat. Tetapi mungkin tidak banyak yang mau (dan bisa) berbagi dengan begitu tulus dan jujur mengenai proses panjang perjalanan kepenulisannya, yang meminjam istilah Pak Her—tidak sekali jadi ini.

Ini menjadi kabar baik bagi siapapun. Bahwa menulis bukan soal bakat. Melainkan menulis adalah sebuah keterampilan. Untuk mendapatkan keterampilan ini, seseorang perlu berproses menulis atau membiasakan diri menulis dalam rentang waktu yang panjang. Menulis boleh tentang apa saja dan untuk siapa saja, tetapi menulislah untuk mendapatkan manfaat langsung dan konkret bagi diri sendiri ‘terlebih dahulu’. Inilah tujuan penerbitan buku MM Update ini. Dan manfaat menulis yang dimaksud adalah manfaat menulis untuk sebuah upaya memperbaiki diri. (hal. 17)

Nah, saya rasa mungkin inilah mengapa lantas di atas saya sebutkan bahwa saya merasa jiwa saya menjadi terbuka dan dipenuhi energi. (Ah, finally I found it…) Ada hubungannya kan? Membaca-Menulis-Menemukan makna-Memperbaiki diri-Jiwa yang terbuka-Terberdayakan. Rantainya kurang lebih seperti itu.

Banyak hal indah terkait kegiatan membaca dan menulis, yang dibagikan Pak Her dari banyak buku yang dibacanya. Atau lebih tepatnya, buku-buku yang memiliki nilai sejarah tersendiri dalam proses panjang perumusan konsep “mengikat makna”.

Tentang “mengikat makna” sendiri, sebelumnya pernah saya tulis sedikit di sini. Yang dalam MM Update, ditegaskan dengan penyederhanaan bahwa jika ingin memanfaatkan konsep “mengikat makna”, diperlukan hanya 3 hal: menyediakan “ruang privat”; memadukan kegiatan membaca-menulis secara kontinu dan konsisten; berusaha menemukan makna dalam kegiatan membaca-menulis.

Sulit membuat semacam intisari atau sekedar ringkasan tentang isi buku ini. Karena keseluruhan isinya, dari lembar pertama sampai halaman terakhir, adalah deretan mutiara yang sangat berharga. Tentang apa dan bagaimana kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan itu. Alami dan rasakan sendiri sensasi membacanya. Bagi saya pribadi, ada sensasi tersendiri, entah apakah karena saya sedang mencoba mempelajari “jalan pena” ini. (Lagi-lagi meminjam istilahnya Pak Her: jalan pena.) Tapi memang Pak Her tidak sekedar bicara tentang membaca dan menulis. Melainkan, lebih dari itu.

Satu diantara sekian banyak yang ingin saya kutip di sini adalah, tentang membaca sebagai salah satu bentuk kasih sayang Tuhan. Dari halaman 97-98, saya ungkapkan dengan adaptasi versi saya (Amit ya, Pak..): Tuhan melimpahkan kasih sayang lewat membaca kepada hamba-Nya, secara unik dan luar biasa. Dengan kemampuan membaca, manusia kemudian bisa memiliki derajat di atas malaikat. Dengan kemampuan membaca, seorang manusia dapat mendaki tangga kualitas kehidupan. Manusia dapat menantang dirinya untuk terus mereguk nikmat Tuhan yang tersebar di alam semesta, menjumpai wilayah baru, menyimpan pengetahuan baru, menjelajah kehidupan luas yang hampir tidak terbatas. (Feel so excited for these words…)

Masih dari halaman 97, Pak Her menuliskan: membaca adalah sebentuk kasih sayang Tuhan yang paling awal sekali diberikan kepada Rasulullah Saw. Dan saya juga jadi tersadarkan, lewat penggalian Pak Her atas makna kata iqra’, bahwa Allah Swt. pertama-tama mengajarkan “membaca dan menulis” dalam peristiwa panjang penurunan wahyu al-Quran kepada Rasulullah Saw.

Ini hanya sedikit kesan yang bisa diungkapkan usai membaca buku ini. Sungguh tak sebanding dengan makna besar yang saya dapat dari membacanya. Sekali lagi terima kasih Pak Her. Semoga menjadi catatan amal baik Bapak yang tak kan pernah putus.

Sejalan dengan yang diungkapkan Riris K. Toha-Sarumpaet pada halaman apresiasi buku ini, bahwa Pak Her tak hanya bicara tentang keterampilan baca-tulis; lebih dari itu pak Her terutama bicara tentang sebuah kehidupan yang bermakna.

Bagi saya pribadi, dari merenungi perjalanan “mengikat makna”-nya Pak Her ini, menemukan sesuatu yang lebih tinggi di atas semua pembicaraan mengenai membaca dan menulis. Bahwa di dalamnya, terekam jejak panjang sebuah pencarian diri, menuju puncak. Saya menyebutnya seperti sebuah “sujud panjang” sebuah pencarian diri. Yang pada ujungnya, bermuara kepada-Nya jua. Semoga dapat mengikuti jejak Bapak. Amiin.

Oh, ya.. Facebook-nya Pak Her klik di sini.

Selamat mengeksplorasi kegiatan membaca dan menulis yang memberdayakan. Dan terbang dengan sepasang sayap: “membaca” dan “menulis”, seperti kata Pak Her lagi. :)

Happy reading.
Then, get writing!

~~~

*) Saya membuat catatan tersendiri untuk nge-list buku-buku yang direkomendasikan Pak Her di setiap halaman buku MM Update. Di sini. (I feel so excited for this stuff. Terima kasih banyak-banyak pokoknya Pak.)

“Mengikat Makna”

“Menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam, semacam upaya untuk menemukan identitas kita yang paling orisinal. Jelas di sini bahwa menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan, tetapi juga merupakan keperihan untuk mencari lagi diri kita yang hilang dan tenggelam dalam pelbagai kedangkalan…” – Sindhunata

Mengikat Makna adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Hernowo. Konon judul ini diilhami kata-kata indah dan penuh makna ciptaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a.

Diriwayatkan, beliau berkata kurang lebih demikian, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Arti harfiah ‘mengikat’ disini adalah menulis, dan kegiatan menulis disini adalah kegiatan menulis yang menyenangkan. Diharapkan hasil dari kegiatan menulis yang menyenangkan ini adalah sesuatu yang bermakna. Dan jika hasilnya belum bermakna, maka proses ‘mengikat’ atau proses menjalani kegiatan menulis itulah yang diharapkan dapat bermakna -memberi manfaat langsung dan nyata bagi pelakunya.

Ada tiga buku Mengikat Makna yang ditulis Pak Hernowo: Mengikat Makna, Mengikat Makna Untuk Remaja dan Mengikat Makna Sehari-hari.

Ketiga buku tersebut pada dasarnya menekankan pentingnya memadukan kegiatan membaca dan menulis secara tertata agar dua kegiatan tersebut dapat memberikan makna (manfaat) kepada pelakunya. Dan bukan hanya buku yang dapat diikat maknanya, kehidupan diri kita sehari-hari pun dapat diikat maknanya. Lebih jauhnya, dengan ketiga buku tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat Indonesia untuk mau dan mampu membaca dan menulis secara “fun“.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ secara efektif. Sebagai catatan, satu hal yang sangat perlu diperhatikan bahwa, efek dahsyat ‘mengikat makna’ ini baru akan muncul jika kegiatan tersebut benar-benar dijalankan setiap hari secara kontinu dan konsisten, meski hanya beberapa menit. (Hey…, wake up!)

Membaca Memerlukan Menulis dan Menulis Memerlukan Membaca

Konsep ‘mengikat makna’ ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Pak Hernowo di masa lalu dalam kegiatan membaca. Diutarakan bahwa ketika kegiatan membaca itu usai dijalankan dan begitu banyak materi yang diperolehnya dari buku, senantiasa pula banyak hal itu terlupakan.

Maka, kegiatan ‘mengikat makna’ kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca.

Kegiatan ‘mengikat makna’ membantu melejitkan dua keterampilan-penting sekaligus: membaca dan menulis. Kegiatan membaca menjadi efektif artinya ada hasilnya (berupa tulisan) dan dengan menuliskan hasil bacaan kita menjadi terlatih dalam menulis.

Pengalaman pribadi Pak Hernowo sendiri, melalui kegiatan menulis ini dirasakannya ada penambahan kata-kata yang masuk ke dalam dirinya sehingga beliau menjadi kaya raya dengan kata. Dan ini luar biasa!

Jadi, membaca memerlukan menulis. Karena apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak kita tulis (‘ikat’). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Jika kita miskin kata-kata (baca: enggan membaca), menulis bisa menjadi kegiatan yang menyiksa diri.

Membaca dan Menulis di Ruang Privat

Ruang privat adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita.

Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut. Jika bisa dilukiskan secara ekstrem, ruang privat adalah sebuah ruang yang hanya ada satu diri yaitu pemilik ruang privat itu.

Keberhasilan menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ sangatlah bergantung pada keberanian untuk menciptakan ruang privat ini.

Kegiatan ‘mengikat makna’ yang tidak dijalankan di ruang privat, hasilnya akan kurang efektif. Karena pada awalnya ‘mengikat makna’ adalah kegiatan yang sangat pribadi.

Seseorang yang menjalankan konsep ini harus benar-benar mementingkan dirinya sendiri. Ketika membaca lebih-lebih ketika menulis, orang tersebut harus benar-benar melibatkan diri pribadinya. Ada kemungkinan hasil tulisan yang dirumuskan bernada subjektif, namun inilah kunci keberhasilan ‘mengikat makna’, yaitu: mengunggulkan diri -tepatnya keberanian sang diri untuk mengungkapkan pendapat pribadi/subjektifnya.

Bahkan dalam menulis, kata ganti orang pertama, ‘aku’ atau ‘saya’ sangat penting digunakan sebagai ‘alat’ untuk menggali kekayaan diri, yaitu hal-hal bermakna yang didapat dan dihimpun oleh sang diri.

Arti Kebermaknaan (Makna)

Kendati mengunggulkan subjektivitas, ‘mengikat makna’ sama sekali tidak anti-objektivitas. ‘Mengikat makna’ diciptakan untuk melindungi diri kita yang unik (menata diri pribadi) sebelum dibawa ke ruang publik dimana objektivitas sangat diunggulkan.

‘Mengikat makna’ kemudian menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Pak Hernowo, dimana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya.

Definisi makna dalam konsep ‘mengikat makna’ adalah bahwa,” sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu sangat penting dan berarti bagi diri pribadi”. Jadi, kebermaknaan dikaitkan dengan diri pribadi yang unik, sehingga ‘mengikat makna’ membantu seseorang menemukan keunikannya.

Memanfaatkan Otak Belahan Kanan

‘Mengikat makna’ yang dijalankan di ruang privat dan menggunakan subjektivitas (diri pribadi yang unik) pertama-tama merujuk kepada belahan otak kanan. Artinya, ketika menulis sesuatu yang bermakna, si pelaku harus benar-benar merasakan kebebasan. Tulisan yang dikeluarkan harus dibiarkan dan tidak dikoreksi begitu selesai ditulis. Jika langsung dikoreksi, maka kebebasan itu terhenti. Kalau perlu endapkan tulisan yang bebas itu sehari.

‘Mengikat makna’ juga harus dilakukan secara spontan. Persepsikan menulis sebagai ‘membuang’ semua yang didapat sehingga diri mengalami kelegaan secara luar biasa (Sensasi plong…! :) ). Kegiatan menulis yang disesuaikan dengan cara kerja otak ini dinamakannya ‘brain-based writing‘.

Metode Pemetaan Pikiran (Mind Mapping)

Pemetaan pikiran adalah sebuah alat ajaib untuk membuka pikiran. Dapat dimanfaatkan apabila kita masih gagap dalam ‘membuang’ hasil-hasil yang diperoleh dari membaca.

Sifat metode ini adalah menggabungkan fungsi otak kiri (kata) dan otak kanan (gambar). Apakah semuanya harus ada kaitannya lebih dahulu? Ternyata tidak. Peta pikiran membebaskan kita untuk mengeluarkan atau mengalirkan apa saja!

Menggunakan Seluruh Kecerdasan (Multiple Intelligences)

Kecerdasan majemuk berprinsip bahwa otak manusia terdiri atas area-area. Profesor Gardner mengelompokkan area-area itu menjadi sembilan: cerdas kata, angka, gambar, musik, diri, gaul, alam, tubuh, dan makna. Masing-masing area kecerdasan itu bisa berdiri sendiri atau saling membantu.

Kegiatan membaca dan menulis dapat dilakukan siapa saja dengan cara-cara yang sangat bervariasi, misalnya menulis dapat dimulai dengan pertanyaan (cerdas kata) dan seterusnya. Sehingga, ‘mengikat makna’ dapat melejitkan seluruh kecerdasan.

Mengisahkan Diri yang Unik

Terakhir, semuanya kembali kepada diri kita yang unik. Keunikanlah yang sangat ditekankan oleh ‘mengikat makna’. Agar diri yang unik itu dapat tampil secara luar biasa, sang diri harus berada di ruang privat ketika menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang dipadukan ini (‘mengikat makna’).

Jika kegiatan ini dapat dijalankan secara kontinu dan konsisten setiap hari, tentulah kekayaan yang disimpan sang diri meski hanya berupa pengalaman, akan dapat dicuatkan kebermaknaannya.

Membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang sangat penting, terutama jika ingin mengaitkan diri kita yang unik dengan ilmu. Membaca dapat membawa diri kita ke tempat-tempat terjauh dimana sumber ilmu berada. Membaca juga membuat diri kita dapat bertafakur, berpikir secara sistematis, hati-hati dan tidak dangkal dalam mencari dan menemukan ilmu. Sebaliknya, menulis akan membantu kegiatan membaca agar tidak sia-sia. Menulis dapat menata dan menyusun seluruh pengetahuan yang masuk ke dalam diri menjadi arsip-arsip ilmu yang kaya dan mudah diakses kembali. Sehingga, ‘mengikat makna’ sejalan dengan semangat mencari ilmu.

Untuk menunjukkan pentingnya ‘mengikat makna’ dari perspektif yang lain, dikutipkan kata-kata ciptaan Jalaluddin Rakhmat dalam pengantar buku Karen Armstrong, Muhammad: Prophet for Our Time (Mizan, 2007) sebagai berikut (h. 13):

“Cerita, kisah, atau dongeng secara ilmiah disebut narrative. Manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Kita cenderung menerima cerita dan menyampaikannya dalam bentuk cerita pula. Tanpa cerita, hidup kita akan carut marut. Dengan cerita, kita mampu menyusun dan menghimpun pernak-pernik kehidupan yang berserakan. Narrative, seperti pernah diucapkan oleh Dilthey, seorang filsuf Jerman, adalah pengorganisasian hidup.”

(Tulisan di atas dirangkum dan diadaptasi dari Makalah Workshop Penulisan Diary I Love My Al-Qur’an, dengan tema “Mengikat Makna di Ruang Privat” oleh Hernowo, diselenggarakan oleh Pelangi Mizan & Mizan Dian Semesta, 26 Januari 2008.)