“Design Your Future!”

February 5, 2010 at 12:00 am | Posted in Lain-lain | Leave a comment
Tags: , , ,

Edward de Bono

  • You can analyse the past, but you have to design the future.
  • The quality of our thinking will determine the quality of our future.
  • The winner is the chef who takes the same ingredients as everyone else and produces the best results.
  • Perception is real even when it is not reality.
  • If you do not design the future someone or something else will design it for you.
  • We may need to solve problems not by removing the cause but by designing the way forward even if the cause remains in place.
  • Traditional thinking is all about “what is;” Future thinking will also need to be about what can be.
  • Effectiveness without values is a tool without a purpose.
  • Nothing’ is the space for everything.

Reichstag dan Semangat Keterbukaan Jerman

October 21, 2009 at 8:23 am | Posted in Lain-lain | 1 Comment
Tags: , , ,

Ada yang unik dan masih sangat jauh berbeda dengan kondisi di negara kita saat ini. Ini tentang gedung parlemen negeri Jerman. Dari sebuah berita di detik.com pagi ini, berjudul Melongok Pusat Kekuasaan Jerman. Germany is my dream country. (Kapan ya bisa kesana?)

Dem Deutschen Volke

Kalimat diatas terukir di fasad Gedung Reichstag—gedung DPR-nya Jerman, yang artinya: Untuk Rakyat Jerman. (Merinding membacanya, mengingat ‘carut marut’ negeri sendiri.) Gedung Reichstag merupakan ruangan sidang paripurna DPR Jerman. Terletak di kompleks DPR Jerman, Bundestag, di kawasan Platz der Republik, Berlin. Gedung kantor Kanselir Jerman Angela Merkel berdiri disampingnya. Tidak ada pagar tinggi menghadang seperti di Senayan. Platz der Republik adalah lapangan luas tanpa pagar.

Kalau di Indonesia yang dibuka untuk publik adalah Istana Merdeka. Maka di Jerman, yang dibuka untuk publik adalah gedung DPR ini. Masuk Reichstag gratis. Keterbukaan menjadi tema besar bangunan di pusat kekuasaan Jerman ini. Gedung paripurna Reichstag bebas dikunjungi setiap hari. Sehingga pengunjung bisa melihat persidangan anggota DPR.

Gedung bergaya klasik Romawi ini menjadi salah satu obyek wisata paling menarik di Berlin. 3 juta pengunjung datang setiap tahunnya. Daya tarik Reichstag yang lain adalah sebuah kubah kaca futuristis di puncak gedung yang menyajikan pemandangan ke seluruh Berlin.

Pengunjung masuk setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Kemudian mereka langsung naik lift ke atap. Kubah kaca yang besar langsung terlihat. Kubah kaca ini didesain sebagai jalan masuknya cahaya ke ruang sidang paripurna untuk menghemat penggunaan listrik. Cahaya dipantulkan lewat cermin panjang dari puncak kubah sampai ke lantai. Pengunjung bisa naik ke puncak kubah dengan mengikuti tangga spiral yang landai untuk menikmati pemandangan.

Keterbukaan juga menjadi tema bangunan lain dalam kompleks DPR Jerman. Ruang anggota dewan dan ruangan komisi pun tampil transparan di Gedung Paul Loebe dan Gedung Jakob Kaiser. Semua serba kaca, sehingga rakyat dari jalanan bisa melihat apakah anggota DPR sedang tidur-tiduran atau sedang bekerja.

Semangat membuka diri ini tidak terlepas dari tekad untuk menjadikan Bundestag sebagai rumah rakyat Jerman. Seperti terpatri dalam ukiran tulisan di fasad Gedung Reichstag tadi: Dem Deutschen Volke yang berarti Untuk Rakyat Jerman.

Yang lebih menarik lagi, setelah saya browsing mengenai gedung Reichstag ini ternyata sangat indah. Futuristic. Fantastic. I love it. I wanna go there! Di bawah saya simpan beberapa gambar.

The Reichstag building - The dedication "DEM DEUTSCHEN VOLKE", meaning "To the German people" or "For the German people", can be seen on the architrave.

The Reichstag building - The dedication "DEM DEUTSCHEN VOLKE", meaning "To the German people" or "For the German people", can be seen on the architrave.

The Reichstag Dome

The Reichstag Dome - On top of the Reichstag building

Reichstag coupole

Reichstag coupole - Inside the cupola

Spiral walkway up to top of dome at Reichstag

Spiral walkway up to top of dome at Reichstag

Inside the cupola

Inside the cupola

Plenary Chamber of the Bundestag - O, my lovely violet. :)

Plenary Chamber of the Bundestag - O, my lovely purple. :)

A panoramic view inside the dome. The most I love. The real futuristic view.

A panoramic view inside the dome. The most I love. The real futuristic view.

Note:
- Tulisan di atas disalin dari sumber berita detik.com dengan sedikit adaptasi.
- Sumber gambar dari Wikipedia dan www.panoramafactory.net.

Prinsip-prinsip Pikiran

June 16, 2009 at 8:04 am | Posted in Lain-lain | 7 Comments
Tags: , , , ,

Tulisan di bawah adalah rangkuman dari tiga rangkaian acara talkshow Arvan Pradiansyah di Smart FM 95.9 bertajuk Smart Happiness, setiap Jum’at jam 07.00 WIB. Tiga pertemuan masing-masing tanggal 29 Mei, 5 Juni dan 12 Juni 2009 membahas satu topik yang sama: Prinsip-prinsip Pikiran.

Materi ini sendiri dirangkum dari bukunya Arvan Pradiansyah yang berjudul The 7 Laws of Happiness. Jadi kalau penasaran dan ingin tahu lengkapnya, beli dan bacalah bukunya. Saya sendiri belum membaca bukunya (belum beli pula :D).

Menurut Arvan, kunci kebahagiaan itu letaknya pada ‘pikiran’, yaitu pada bagaimana kita mengelola pikiran. Tidak ada yang lebih dahsyat di dunia ini selain pikiran. Dan pikiran inilah yang membedakan manusia dengan yang bukan manusia.

Ketidaksempurnaan itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Tuhan mengutus kita ke dunia ini untuk menyempurnakan hidup kita. Dan segala sesuatu selalu memiliki bright side dan dark side. Tetapi keputusan untuk bahagia ada pada tangan kita, kitalah yang memutuskan untuk tidak diperbudak oleh pikiran-pikiran kita.

Prinsip 1 – Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.

Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menyebutkan kita bisa memilih untuk bersikap proaktif atau reaktif. Menjadi proaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan positif, dan menjadi reaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan negatif dalam menyikapi sesuatu. Arvan said, memilih tindakan akan memberikan Anda kesuksesan, tetapi memilih pikiran memberi Anda kebahagiaan.

Ilustrasinya seperti ini. Ketika datang peminta sumbangan ke kantor Anda, dan Anda sedang berada bersama rekan-rekan dan beberapa bawahan Anda. Kemudian Anda memberikan sumbangan yang cukup besar, karena, Anda merasa perlu menjaga image Anda sebagai seorang yang dermawan.

Analisisnya, secara tindakan Anda jelas sukses, image Anda terjaga. Tetapi secara pikiran, apakah Anda bahagia? Jawabannya tidak. Karena Anda menyumbang bukan atas dasar keinginan Anda, melainkan karena faktor luar. Anda sama sekali tidak memenuhi need Anda, dan Anda tidak bahagia.

Prinsip 2 – Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.

Pikiran adalah induk dari segalanya. Mari kita lihat ilustrasi berikut. Anda menerima sebuah sms dari seorang teman yang isinya tidak baik. Anda kecewa, sedih, sebel dan mungkin ngomel. Tetapi, tidak lama kemudian kawan tadi sms lagi, meminta maaf bahwa ia tadi salah kirim sms. Bagaimana perasaan Anda? Sampai disini terungkap bahwa perasaan Anda ditentukan oleh pikiran Anda.

Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.

Prinsip 3 - Pikiran kita tidak dapat membedakan mana kejadian yang sudah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi.

Begitu Anda memikirkan kejadian yang pernah Anda alami, walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi. Contohnya, jika Anda pernah memiliki suatu pengalaman yang sangat menyenangkan (mengesankan) atau sangat menyedihkan berpuluh tahun yang lalu, ketika Anda memikirkannya lagi, akankah sensasi rasa senang atau rasa pedih yang pernah dirasakan itu terasa kembali?

Prinsip 4 – Pikiran adalah gladiresik dari semua tindakan.

Peribahasa mengatakan, You are what you think. Arvan said, You are what you repetitively think. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah hasil dari pikiran yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Artinya, masa depan dapat kita ciptakan.

Kita harus benar-benar memilih dan memilah pikiran-pikiran yang masuk ke dalam pikiran kita. Setiap pikiran yang masuk tidak selalu serta merta dapat diwujudkan. Ia akan mengendap menjadi sebuah keinginan pasif, yang menunggu diaktifkan. Ketika ada suatu rangsangan yang mengaktivasi maka ia akan terwujud dalam bentuk tindakan.

Contoh sederhananya, ketika ingin membeli suatu barang, terkadang kita tidak bisa langsung membelinya. Setelah diincer cukup lama, dan kondisi keuangan sudah mendukung, barulah barang tersebut bisa kita beli.

Atau yang agak ekstrim, proses selingkuh. Ketika kondisi belum mendukung, mungkin hal itu hanya sesuatu yang sekedar terbersit di pikiran. Lalu ketika kondisi luar mendukung, seperti kondisi financial, ada lawan main, maka teraktivasilah keinginan pasif tadi menjadi sebuah tindakan.

Prinsip 5 – Kita sadar ketika pikiran-pikiran positif masuk ke dalam pikiran kita. Namun, seringkali kita tidak sadar ketika pikiran-pikiran negatif masuk ke dalam pikiran kita. Karenanya kita harus selalu dalam kondisi ‘alert‘.

Contohnya, kita sadar ketika kita sedang berada di masjid, atau di gereja, atau sedang mengikuti training-training motivasi, bahwa kita sedang memasukkan makanan positif ke dalam pikiran kita. Tetapi seringkali kita tidak sadar ketika menonton televisi, ketika berjalan-jalan di mall, bahwa segala sesuatu yang kita lihat bisa saja menimbulkan hasrat-hasrat negatif yang terlintas begitu saja tanpa kita sadari.

Prinsip 6 - Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu berpikir, memasukkan makanan ke dalam pikiran kita. Pikiran kita senantiasa sibuk.

Oleh karena itu, ketika ada masalah, endapkanlah dulu. Ketika mau tidur hendaklah berdo’a, menyerahkan masalah tersebut pada Tuhan dan meminta diberi petunjuk agar keesokan hari dapat berpikir dengan jernih demi mencari solusinya. Dengan begini, ketika tidur nanti, bawah sadar kita akan berproses. Apalagi kalau sudah dibimbing Tuhan. Dalam hal ini kita berserah, surrender. Artinya, menyerahkan apa yang tidak bisa kita lakukan kepada Tuhan, ketika kita overwhelmed. Surrender, damai, tenang.

Prinsip 7 – Pada saat kepala kita terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.

Tahu dari mana kalau kita kurang sehat? Tentunya dari tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan. Sekarang, tahu dari mana kalau kepala kita sudah terinfeksi oleh pikiran negatif? Jawabnya adalah, dari perasaan (feeling) kita.

Perasaan adalah barometer untuk mengetahui keadaan kita. Perasaan negatif adalah barometer bahwa telah ada makanan negatif yang masuk ke pikiran kita. Tuhan menurunkan perasaan sebagai barometer pikiran kita.

Ketika ada pikiran negatif masuk, kita bisa switch saat ini juga. (Dengan catatan pikiran negatif itu belum mengendap dalam bawah sadar kita. Jika sudah masuk dalam bawah sadar, megubahnya tidak semudah itu. Perlu reprogramming, ada tekniknya, seperti hipnoterapi dan sejenisnya.)

Prinsip 8 – Kemampuan kita untuk mengendalikan pikiran kita seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.

Rumus dari latihan ini adalah, selalulah mengawasi makanan yang masuk ke dalam pikiran kita, indikasinya adalah perasan kita.

Prinsip 9 – Kita hanya bisa memikirkan satu hal. Jika kita memikirkan hal yang positif, maka hal yang negatif akan pergi. Begitu juga sebaliknya.

~~~

Kebahagiaan itu adalah hasil pilihan pikiran. Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.

Jagalah hati! Tentunya yang dimaksud hati disini adalah qalbu. Bukan hati sebagai organ hati. Qalbu dalam subsistem jiwa menjadi pusat perasaan. Qalbu berbentuk spiritual, sehingga sulit dikelola secara langsung. Berkaitan dengan hal ini, Arvan Pradiansyah menyodorkan sebuah terobosan. Menurutnya yang menjadi pusat segalanya adalah PIKIRAN.

Pikiran adalah sumber dari segalanya. Dimana letak pikiran? Dengan mudah kita akan menunjuk kepala kita. Pikiran bersifat abstrak, tetapi pikiran memiliki bentuk real sebagai organ otak. Bila diibaratkan, otak adalah hardware dan pikiran adalah software-nya.

Di dalam otaklah segala data dan informasi yang kita terima diolah. Segala jenis kecerdasan pun berpusat di otak. Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (SQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) ~God spot, semuanya terdapat di otak.

Maka, terkait hadits Nabi yang berbunyi, ”Sesungguhnya di dalam diri setiap orang ada segumpal daging. Bila daging itu sehat maka sehatlah seluruh tubuh orang itu, tetapi bila daging itu sakit maka rusaklah seluruh tubuh orang tersebut”, Arvan merasa yakin bahwa yang dimaksud “segumpal daging” tersebut adalah otak.

Semoga bermanfaat.

PS. Terkait paragraf terakhir mengenai otak yang diyakini Arvan menjadi pusat ‘segalanya’, saya pernah membaca dua artikel Jalaluddin Rakhmat di facebook page-nya, yang juga menyatakan hal senada (di sini dan di sini). Ada pro dan kontra, sudah tentu. Banyak hal bisa diterima, selain kemudian muncul berbagai pertanyaan akan hal yang sudah mapan.

Next what..? Wallahu ‘alam bishawab. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Tuhan mengilhamkannya pada manusia untuk menyempurnakan kehidupannya.

 

Paradigma Baru Bersyukur

May 26, 2009 at 2:19 am | Posted in Lain-lain | 1 Comment
Tags: , , ,

Dari Talkshow Interaktif Arvan Pradiansyah lagi.. Acaranya sekarang di Smart FM 95.9, bertajuk Smart Happiness. Tayang setiap Jum’at pagi jam 07.00 – 08.00 WIB.

Beberapa pekan ini membahas poin-poin dari buku keempatnya Arvan Pradiansyah yang berjudul “The 7 Laws of Happiness”. (Belum kesampean punya atau baca bukunya nih…) Meski bisa mengikuti acaranya setiap pekan, hanya pada beberapa kesempatan saja sempat mencatat poin-poin pentingnya -meski semua rasanya penting.

Nah, ini dia yang paling menggugah bagi saya, dalam arti memberikan pola pandang baru bagi saya atas sesuatu yang selama ini hanya diartikan melulu begitu, dari dulu sampai sekarang.

Dari acara tanggal 8 Mei 2009, yang mengetengahkan judul “Bersyukur: Menjelajahi Semua Potensi Anda”.

Hal paling menarik dari episode ini adalah mengenai makna bersyukur yang dikemukakan Arvan Pradiansyah, bahwa bersyukur itu berarti melihat ke dalam. Yaitu, dengan mengeksplor kemampuan kita sampai yang sekecil-kecilnya, sehingga ketika kita meninggal nanti kita bisa berkata kepada Tuhan: “Tuhan, aku sudah berusaha menggunakan (memaksimalkan) segala potensi yang Engkau berikan kepadaku, semuanya. Dan tidak ada sedikitpun yang tersisa (tersia-sia).” Alangkah indahnya jika kalimat itu bisa terucap dari bibir kita saat menghadap-Nya nanti.. (Semoga.)

Saya suka pengertian bersyukur seperti di atas. Syukur dalam pengertian ini menjelma menjadi sebuah sikap aktif, bukan hanya tindakan pasif yang biasanya selalu diartikan dengan ‘merasa (cepat) puas’ atau ‘melihat ke bawah’. Kedua pengertian ini juga benar, tapi baru 50% benar, menurut Arvan.

Mitos Salah Mengenai Bersyukur

Pertama, kita biasanya bersyukur hanya untuk hal-hal yang besar. Padahal ada banyak sekali atau mungkin bahkan ribuan hal kecil yang bisa (pantas) disyukuri.

Kedua, kita hanya bersyukur ketika mendapat kesenangan. Definisi senang sendiri adalah, segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Padahal, hanya Tuhan yang tahu yang terbaik untuk kita. Jadi, seharusnya kita bersyukur baik dalam keadaan senang maupun susah.

Jadi teringat teori ‘kemerdekaan hidup’ seorang Ustadz favorit saya. Bahwa  senang atau susah hanya sebutan untuk keadaan yang kita alami. Ketika kita menjalani kehidupan ini dengan ‘sadar’, alias tidak terikat pada dualisme senang dan susah tadi, maka hakikat keadaan tersebut bisa kita selami, dan tidak ada senang atau susah lagi. Semua kejadian runtut dalam pengaturan maha sempurna Sang Pengatur. So, ‘sadar’ adalah kata kunci dalam menjalani hidup ini. Sehingga kita bisa merdeka, memandang segala sesuatu dengan jernih, memandang hidup dari sisi sebagaimana seharusnya kita menempatkan diri.

Ketiga, kita sering undervalue terhadap keadaan (diri) kita, dan overvalue terhadap keadaan (diri) orang lain.

Keempat, bersyukur diartikan sebagai ‘cepat puas’ atau ‘melihat ke bawah’ sebagaimana disebutkan di atas.

Tips Bersyukur

1 – Ketika mendapat kenikmatan, tanya: Why me?

2 – Ketika mendapat kesusahan, tanya: Apa yang ingin Tuhan berikan kepada saya dengan musibah ini?

Bersyukur terkait erat dengan kemampuan spiritual seseorang. Hanya orang yang beriman (mempunyai kemampuan spiritual) saja yang bisa melihat apa yang tidak terlihat.

~~~

Acara Smart Happiness ini adalah acara favorit kedua saya setelah dulu begitu mencintai talkshow interaktif dengan Mario Teguh di PRO 2 FM Jakarta, yang tayang setiap Senin pagi jam 7 pagi juga. (Sekarang sudah tidak tayang, penyiarnya Mbak Ratih Atmojo, kangen suaranya.. :)) Nama acaranya saya lupa, apakah Mario Teguh Open Forum.. (?)

Kedua acara ini memiliki kesamaan, menyajikan pola pandang-pola pandang baru untuk hal-hal yang sudah dianggap lazim. Saya sering dibuat takjub dengan pengertian-pengertian baru dari hal-hal yang sebetulnya biasa. Ketika kita bisa memaknai sesuatu dengan cara pandang yang berbeda, dengan hati yang jernih, dengan intuisi yang tajam, segala hal kecil menjadi begitu indah dan ‘sangat bermakna’. Tidak ada yang sia-sia. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua untuk selalu dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menebarkan rahmat-Nya. Amiin..

Semoga bermanfaat.

Found, Interested, Finished

December 11, 2008 at 6:47 am | Posted in Lain-lain | Leave a comment
Tags: ,

“Manusia, pada waktu mudanya, pasti bertemu satu hal yang menarik hatinya. Yang penting adalah, tidak putus asa dan menyelesaikan apa yang dimulai.” – Osamu Shimomura, Pemenang Nobel Kimia 2008

Menarik membaca kisahnya menemukan green fluorescence protein atau protein berpendar hijau yang ada pada ubur-ubur. Baca selengkapnya di sini.

“Mengikat Makna”

March 4, 2008 at 9:38 am | Posted in Lain-lain | 3 Comments
Tags: , , ,

“Menulis adalah pergulatan hidup dalam intinya yang terdalam, semacam upaya untuk menemukan identitas kita yang paling orisinal. Jelas di sini bahwa menulis bukan hanya pekerjaan yang menyenangkan, tetapi juga merupakan keperihan untuk mencari lagi diri kita yang hilang dan tenggelam dalam pelbagai kedangkalan…” – Sindhunata

Mengikat Makna adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Hernowo. Konon judul ini diilhami kata-kata indah dan penuh makna ciptaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a.

Diriwayatkan, beliau berkata kurang lebih demikian, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Arti harfiah ‘mengikat’ disini adalah menulis, dan kegiatan menulis disini adalah kegiatan menulis yang menyenangkan. Diharapkan hasil dari kegiatan menulis yang menyenangkan ini adalah sesuatu yang bermakna. Dan jika hasilnya belum bermakna, maka proses ‘mengikat’ atau proses menjalani kegiatan menulis itulah yang diharapkan dapat bermakna -memberi manfaat langsung dan nyata bagi pelakunya.

Ada tiga buku Mengikat Makna yang ditulis Pak Hernowo: Mengikat Makna, Mengikat Makna Untuk Remaja dan Mengikat Makna Sehari-hari.

Ketiga buku tersebut pada dasarnya menekankan pentingnya memadukan kegiatan membaca dan menulis secara tertata agar dua kegiatan tersebut dapat memberikan makna (manfaat) kepada pelakunya. Dan bukan hanya buku yang dapat diikat maknanya, kehidupan diri kita sehari-hari pun dapat diikat maknanya. Lebih jauhnya, dengan ketiga buku tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat Indonesia untuk mau dan mampu membaca dan menulis secara “fun“.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ secara efektif. Sebagai catatan, satu hal yang sangat perlu diperhatikan bahwa, efek dahsyat ‘mengikat makna’ ini baru akan muncul jika kegiatan tersebut benar-benar dijalankan setiap hari secara kontinu dan konsisten, meski hanya beberapa menit. (Hey…, wake up!)

Membaca Memerlukan Menulis dan Menulis Memerlukan Membaca

Konsep ‘mengikat makna’ ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Pak Hernowo di masa lalu dalam kegiatan membaca. Diutarakan bahwa ketika kegiatan membaca itu usai dijalankan dan begitu banyak materi yang diperolehnya dari buku, senantiasa pula banyak hal itu terlupakan.

Maka, kegiatan ‘mengikat makna’ kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca.

Kegiatan ‘mengikat makna’ membantu melejitkan dua keterampilan-penting sekaligus: membaca dan menulis. Kegiatan membaca menjadi efektif artinya ada hasilnya (berupa tulisan) dan dengan menuliskan hasil bacaan kita menjadi terlatih dalam menulis.

Pengalaman pribadi Pak Hernowo sendiri, melalui kegiatan menulis ini dirasakannya ada penambahan kata-kata yang masuk ke dalam dirinya sehingga beliau menjadi kaya raya dengan kata. Dan ini luar biasa!

Jadi, membaca memerlukan menulis. Karena apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak kita tulis (‘ikat’). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Jika kita miskin kata-kata (baca: enggan membaca), menulis bisa menjadi kegiatan yang menyiksa diri.

Membaca dan Menulis di Ruang Privat

Ruang privat adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita.

Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut. Jika bisa dilukiskan secara ekstrem, ruang privat adalah sebuah ruang yang hanya ada satu diri yaitu pemilik ruang privat itu.

Keberhasilan menjalankan kegiatan ‘mengikat makna’ sangatlah bergantung pada keberanian untuk menciptakan ruang privat ini.

Kegiatan ‘mengikat makna’ yang tidak dijalankan di ruang privat, hasilnya akan kurang efektif. Karena pada awalnya ‘mengikat makna’ adalah kegiatan yang sangat pribadi.

Seseorang yang menjalankan konsep ini harus benar-benar mementingkan dirinya sendiri. Ketika membaca lebih-lebih ketika menulis, orang tersebut harus benar-benar melibatkan diri pribadinya. Ada kemungkinan hasil tulisan yang dirumuskan bernada subjektif, namun inilah kunci keberhasilan ‘mengikat makna’, yaitu: mengunggulkan diri -tepatnya keberanian sang diri untuk mengungkapkan pendapat pribadi/subjektifnya.

Bahkan dalam menulis, kata ganti orang pertama, ‘aku’ atau ‘saya’ sangat penting digunakan sebagai ‘alat’ untuk menggali kekayaan diri, yaitu hal-hal bermakna yang didapat dan dihimpun oleh sang diri.

Arti Kebermaknaan (Makna)

Kendati mengunggulkan subjektivitas, ‘mengikat makna’ sama sekali tidak anti-objektivitas. ‘Mengikat makna’ diciptakan untuk melindungi diri kita yang unik (menata diri pribadi) sebelum dibawa ke ruang publik dimana objektivitas sangat diunggulkan.

‘Mengikat makna’ kemudian menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Pak Hernowo, dimana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya.

Definisi makna dalam konsep ‘mengikat makna’ adalah bahwa,” sesuatu itu menjadi bermakna apabila sesuatu itu sangat penting dan berarti bagi diri pribadi”. Jadi, kebermaknaan dikaitkan dengan diri pribadi yang unik, sehingga ‘mengikat makna’ membantu seseorang menemukan keunikannya.

Memanfaatkan Otak Belahan Kanan

‘Mengikat makna’ yang dijalankan di ruang privat dan menggunakan subjektivitas (diri pribadi yang unik) pertama-tama merujuk kepada belahan otak kanan. Artinya, ketika menulis sesuatu yang bermakna, si pelaku harus benar-benar merasakan kebebasan. Tulisan yang dikeluarkan harus dibiarkan dan tidak dikoreksi begitu selesai ditulis. Jika langsung dikoreksi, maka kebebasan itu terhenti. Kalau perlu endapkan tulisan yang bebas itu sehari.

‘Mengikat makna’ juga harus dilakukan secara spontan. Persepsikan menulis sebagai ‘membuang’ semua yang didapat sehingga diri mengalami kelegaan secara luar biasa (Sensasi plong…! :) ). Kegiatan menulis yang disesuaikan dengan cara kerja otak ini dinamakannya ‘brain-based writing‘.

Metode Pemetaan Pikiran (Mind Mapping)

Pemetaan pikiran adalah sebuah alat ajaib untuk membuka pikiran. Dapat dimanfaatkan apabila kita masih gagap dalam ‘membuang’ hasil-hasil yang diperoleh dari membaca.

Sifat metode ini adalah menggabungkan fungsi otak kiri (kata) dan otak kanan (gambar). Apakah semuanya harus ada kaitannya lebih dahulu? Ternyata tidak. Peta pikiran membebaskan kita untuk mengeluarkan atau mengalirkan apa saja!

Menggunakan Seluruh Kecerdasan (Multiple Intelligences)

Kecerdasan majemuk berprinsip bahwa otak manusia terdiri atas area-area. Profesor Gardner mengelompokkan area-area itu menjadi sembilan: cerdas kata, angka, gambar, musik, diri, gaul, alam, tubuh, dan makna. Masing-masing area kecerdasan itu bisa berdiri sendiri atau saling membantu.

Kegiatan membaca dan menulis dapat dilakukan siapa saja dengan cara-cara yang sangat bervariasi, misalnya menulis dapat dimulai dengan pertanyaan (cerdas kata) dan seterusnya. Sehingga, ‘mengikat makna’ dapat melejitkan seluruh kecerdasan.

Mengisahkan Diri yang Unik

Terakhir, semuanya kembali kepada diri kita yang unik. Keunikanlah yang sangat ditekankan oleh ‘mengikat makna’. Agar diri yang unik itu dapat tampil secara luar biasa, sang diri harus berada di ruang privat ketika menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang dipadukan ini (‘mengikat makna’).

Jika kegiatan ini dapat dijalankan secara kontinu dan konsisten setiap hari, tentulah kekayaan yang disimpan sang diri meski hanya berupa pengalaman, akan dapat dicuatkan kebermaknaannya.

Membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang sangat penting, terutama jika ingin mengaitkan diri kita yang unik dengan ilmu. Membaca dapat membawa diri kita ke tempat-tempat terjauh dimana sumber ilmu berada. Membaca juga membuat diri kita dapat bertafakur, berpikir secara sistematis, hati-hati dan tidak dangkal dalam mencari dan menemukan ilmu. Sebaliknya, menulis akan membantu kegiatan membaca agar tidak sia-sia. Menulis dapat menata dan menyusun seluruh pengetahuan yang masuk ke dalam diri menjadi arsip-arsip ilmu yang kaya dan mudah diakses kembali. Sehingga, ‘mengikat makna’ sejalan dengan semangat mencari ilmu.

Untuk menunjukkan pentingnya ‘mengikat makna’ dari perspektif yang lain, dikutipkan kata-kata ciptaan Jalaluddin Rakhmat dalam pengantar buku Karen Armstrong, Muhammad: Prophet for Our Time (Mizan, 2007) sebagai berikut (h. 13):

“Cerita, kisah, atau dongeng secara ilmiah disebut narrative. Manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Kita cenderung menerima cerita dan menyampaikannya dalam bentuk cerita pula. Tanpa cerita, hidup kita akan carut marut. Dengan cerita, kita mampu menyusun dan menghimpun pernak-pernik kehidupan yang berserakan. Narrative, seperti pernah diucapkan oleh Dilthey, seorang filsuf Jerman, adalah pengorganisasian hidup.”

(Tulisan di atas dirangkum dan diadaptasi dari Makalah Workshop Penulisan Diary I Love My Al-Qur’an, dengan tema “Mengikat Makna di Ruang Privat” oleh Hernowo, diselenggarakan oleh Pelangi Mizan & Mizan Dian Semesta, 26 Januari 2008.)

Menjadi Tua Itu Pasti, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan

February 9, 2008 at 4:55 am | Posted in Lain-lain | 4 Comments
Tags: , , ,

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan.

Kalimat pendek, but deeply emphasize.

Menjadi dewasa..? Sebagian ada yang menyatakan sulit menjadi dewasa, sebagian lagi mengatakan definisi dewasa itu berbeda-beda, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Di atas itu semua, satu hal yang pasti, (menurut saya) menjadi dewasa itu suatu keharusan.

Mengapa? Karena hidup yang sedang kita jalani ini adalah amanah dari-Nya. Setiap tarikan nafas adalah titipan dari-Nya. Kenyataannya, banyak sekali masalah yang tidak dapat diselesaikan ‘tanpa kedewasaan sikap’, seperti banyak sekali masalah yang bisa timbul dari ‘ketidakdewasaan’, padahal, hidup yang kita jalani ini haruslah dapat memberi makna.

Terkait dengan hal ini, berikut satu catatan menarik tentang ‘kedewasaan’. Saya salin bebas dari Talkshow Interaktif : Friday Spirit di Ramako 105.8 FM oleh Arvan Pradiansyah, Jum’at 7 Februari 2008 pukul 07.00-08.00 WIB. Semoga tidak ada substansi yang berubah..

***

Mengambil tema seperti tertulis pada judul di atas, Arvan Pradiansyah mengemukakan 5 hal yang menjadi ciri yang membedakan orang ‘dewasa’ dan ‘tidak dewasa’.

Sebelumnya Arvan mengungkapkan bahwa, kedewasaan tidak terkait sama sekali dengan masalah umur. Meskipun sering terdengar ungkapan: orang tua lebih bijak, atau orang muda lebih enerjik.

Dan 5 hal tersebut adalah..

Pertama, orang dewasa lebih melihat ke dalam (lebih dahulu), ketika ‘anak kecil’ lebih sering mengacu pada sesuatu di luar dirinya.

Contoh mudahnya, ketika dihadapkan pada pertanyaan berikut, apa jawaban kita: Telat masuk kantor, siapa yang salah? Siapapun bisa menjawab dengan mudah: macet, ketika pilihan jawaban lain juga tersedia. Dengan mengambil tanggung jawab pribadi Anda bisa memilih untuk mengatakan: Saya tahu Jakarta macet, maka saya harus berangkat lebih pagi untuk dapat sampai di kantor tepat waktu.

Orang dewasa mengambil tanggung jawab pribadi, ketika anak kecil mencari-cari kambing hitam atas kesulitan yang menimpanya.

Kedua, orang dewasa selalu memberi manfaat pada orang lain, ketika anak kecil selalu ingin mengambil manfaat (meminta hak) dari orang lain.

Ilustrasinya, ketika seseorang telah berkerja dengan baik, maka dipromosikan adalah sebuah konsekwensi. Ingat bahwa, tidak ada orang yang ‘berhak’ untuk dipromosikan, yang ada adalah orang yang ‘pantas’ untuk dipromosikan. Dan yang sering kita temui, orang lebih banyak menuntut haknya, alih-alih menunjukkan kinerja yang dengannya pemenuhan hak itu menjadi suatu konsekwensi yang dapat ia terima.

Ketiga, orang dewasa memiliki pengendalian diri -sense of control- yang besar, sementara anak kecil lebih banyak dikendalikan orang lain (rangsangan luar).

Pengendalian diri yang besar, ciri praktisnya dapat ditandai dengan adanya jarak antara stimulus dan respon. Ada proses mawas diri, melihat ke dalam dan kepada persoalannya, sebelum memberikan respon atas sesuatu.

Keempat, orang dewasa siap kalah (mengalah), sementara anak kecil selalu ingin menang dan tidak siap kalah.

Kelima, orang dewasa bisa membedakan masalah dengan orangnya, sementara anak kecil berlaku sebaliknya.

Just look behind..

(For F. I proud of you.., stay the same bro’.)

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.