“Design Your Future!”
February 5, 2010 at 12:00 am | Posted in Lain-lain | Leave a commentTags: edward de bono, future, kutipan, thinking
- You can analyse the past, but you have to design the future.
- The quality of our thinking will determine the quality of our future.
- The winner is the chef who takes the same ingredients as everyone else and produces the best results.
- Perception is real even when it is not reality.
- If you do not design the future someone or something else will design it for you.
- We may need to solve problems not by removing the cause but by designing the way forward even if the cause remains in place.
- Traditional thinking is all about “what is;” Future thinking will also need to be about what can be.
- Effectiveness without values is a tool without a purpose.
- Nothing’ is the space for everything.
Reichstag dan Semangat Keterbukaan Jerman
October 21, 2009 at 8:23 am | Posted in Lain-lain | 1 CommentTags: arsitektur, dream country, germany, loves me
Ada yang unik dan masih sangat jauh berbeda dengan kondisi di negara kita saat ini. Ini tentang gedung parlemen negeri Jerman. Dari sebuah berita di detik.com pagi ini, berjudul Melongok Pusat Kekuasaan Jerman. Germany is my dream country. (Kapan ya bisa kesana?)
Dem Deutschen Volke
Kalimat diatas terukir di fasad Gedung Reichstag—gedung DPR-nya Jerman, yang artinya: Untuk Rakyat Jerman. (Merinding membacanya, mengingat ‘carut marut’ negeri sendiri.) Gedung Reichstag merupakan ruangan sidang paripurna DPR Jerman. Terletak di kompleks DPR Jerman, Bundestag, di kawasan Platz der Republik, Berlin. Gedung kantor Kanselir Jerman Angela Merkel berdiri disampingnya. Tidak ada pagar tinggi menghadang seperti di Senayan. Platz der Republik adalah lapangan luas tanpa pagar.
Kalau di Indonesia yang dibuka untuk publik adalah Istana Merdeka. Maka di Jerman, yang dibuka untuk publik adalah gedung DPR ini. Masuk Reichstag gratis. Keterbukaan menjadi tema besar bangunan di pusat kekuasaan Jerman ini. Gedung paripurna Reichstag bebas dikunjungi setiap hari. Sehingga pengunjung bisa melihat persidangan anggota DPR.
Gedung bergaya klasik Romawi ini menjadi salah satu obyek wisata paling menarik di Berlin. 3 juta pengunjung datang setiap tahunnya. Daya tarik Reichstag yang lain adalah sebuah kubah kaca futuristis di puncak gedung yang menyajikan pemandangan ke seluruh Berlin.
Pengunjung masuk setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Kemudian mereka langsung naik lift ke atap. Kubah kaca yang besar langsung terlihat. Kubah kaca ini didesain sebagai jalan masuknya cahaya ke ruang sidang paripurna untuk menghemat penggunaan listrik. Cahaya dipantulkan lewat cermin panjang dari puncak kubah sampai ke lantai. Pengunjung bisa naik ke puncak kubah dengan mengikuti tangga spiral yang landai untuk menikmati pemandangan.
Keterbukaan juga menjadi tema bangunan lain dalam kompleks DPR Jerman. Ruang anggota dewan dan ruangan komisi pun tampil transparan di Gedung Paul Loebe dan Gedung Jakob Kaiser. Semua serba kaca, sehingga rakyat dari jalanan bisa melihat apakah anggota DPR sedang tidur-tiduran atau sedang bekerja.
Semangat membuka diri ini tidak terlepas dari tekad untuk menjadikan Bundestag sebagai rumah rakyat Jerman. Seperti terpatri dalam ukiran tulisan di fasad Gedung Reichstag tadi: Dem Deutschen Volke yang berarti Untuk Rakyat Jerman.
Yang lebih menarik lagi, setelah saya browsing mengenai gedung Reichstag ini ternyata sangat indah. Futuristic. Fantastic. I love it. I wanna go there! Di bawah saya simpan beberapa gambar.

The Reichstag building - The dedication "DEM DEUTSCHEN VOLKE", meaning "To the German people" or "For the German people", can be seen on the architrave.
Note:
- Tulisan di atas disalin dari sumber berita detik.com dengan sedikit adaptasi.
- Sumber gambar dari Wikipedia dan www.panoramafactory.net.
Prinsip-prinsip Pikiran
June 16, 2009 at 8:04 am | Posted in Lain-lain | 7 CommentsTags: arvan pradiansyah, life & learning, otak, prinsip pikiran, psikologi
Tulisan di bawah adalah rangkuman dari tiga rangkaian acara talkshow Arvan Pradiansyah di Smart FM 95.9 bertajuk Smart Happiness, setiap Jum’at jam 07.00 WIB. Tiga pertemuan masing-masing tanggal 29 Mei, 5 Juni dan 12 Juni 2009 membahas satu topik yang sama: Prinsip-prinsip Pikiran.
Materi ini sendiri dirangkum dari bukunya Arvan Pradiansyah yang berjudul The 7 Laws of Happiness. Jadi kalau penasaran dan ingin tahu lengkapnya, beli dan bacalah bukunya. Saya sendiri belum membaca bukunya (belum beli pula :D).
Menurut Arvan, kunci kebahagiaan itu letaknya pada ‘pikiran’, yaitu pada bagaimana kita mengelola pikiran. Tidak ada yang lebih dahsyat di dunia ini selain pikiran. Dan pikiran inilah yang membedakan manusia dengan yang bukan manusia.
Ketidaksempurnaan itu adalah kesempurnaan itu sendiri. Tuhan mengutus kita ke dunia ini untuk menyempurnakan hidup kita. Dan segala sesuatu selalu memiliki bright side dan dark side. Tetapi keputusan untuk bahagia ada pada tangan kita, kitalah yang memutuskan untuk tidak diperbudak oleh pikiran-pikiran kita.
Prinsip 1 – Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran kita.
Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People menyebutkan kita bisa memilih untuk bersikap proaktif atau reaktif. Menjadi proaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan positif, dan menjadi reaktif artinya Anda memilih tindakan-tindakan negatif dalam menyikapi sesuatu. Arvan said, memilih tindakan akan memberikan Anda kesuksesan, tetapi memilih pikiran memberi Anda kebahagiaan.
Ilustrasinya seperti ini. Ketika datang peminta sumbangan ke kantor Anda, dan Anda sedang berada bersama rekan-rekan dan beberapa bawahan Anda. Kemudian Anda memberikan sumbangan yang cukup besar, karena, Anda merasa perlu menjaga image Anda sebagai seorang yang dermawan.
Analisisnya, secara tindakan Anda jelas sukses, image Anda terjaga. Tetapi secara pikiran, apakah Anda bahagia? Jawabannya tidak. Karena Anda menyumbang bukan atas dasar keinginan Anda, melainkan karena faktor luar. Anda sama sekali tidak memenuhi need Anda, dan Anda tidak bahagia.
Prinsip 2 – Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung. Tetapi kita dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran kita.
Pikiran adalah induk dari segalanya. Mari kita lihat ilustrasi berikut. Anda menerima sebuah sms dari seorang teman yang isinya tidak baik. Anda kecewa, sedih, sebel dan mungkin ngomel. Tetapi, tidak lama kemudian kawan tadi sms lagi, meminta maaf bahwa ia tadi salah kirim sms. Bagaimana perasaan Anda? Sampai disini terungkap bahwa perasaan Anda ditentukan oleh pikiran Anda.
Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.
Prinsip 3 - Pikiran kita tidak dapat membedakan mana kejadian yang sudah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi.
Begitu Anda memikirkan kejadian yang pernah Anda alami, walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi. Contohnya, jika Anda pernah memiliki suatu pengalaman yang sangat menyenangkan (mengesankan) atau sangat menyedihkan berpuluh tahun yang lalu, ketika Anda memikirkannya lagi, akankah sensasi rasa senang atau rasa pedih yang pernah dirasakan itu terasa kembali?
Prinsip 4 – Pikiran adalah gladiresik dari semua tindakan.
Peribahasa mengatakan, You are what you think. Arvan said, You are what you repetitively think. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah hasil dari pikiran yang sudah ada bertahun-tahun yang lalu. Artinya, masa depan dapat kita ciptakan.
Kita harus benar-benar memilih dan memilah pikiran-pikiran yang masuk ke dalam pikiran kita. Setiap pikiran yang masuk tidak selalu serta merta dapat diwujudkan. Ia akan mengendap menjadi sebuah keinginan pasif, yang menunggu diaktifkan. Ketika ada suatu rangsangan yang mengaktivasi maka ia akan terwujud dalam bentuk tindakan.
Contoh sederhananya, ketika ingin membeli suatu barang, terkadang kita tidak bisa langsung membelinya. Setelah diincer cukup lama, dan kondisi keuangan sudah mendukung, barulah barang tersebut bisa kita beli.
Atau yang agak ekstrim, proses selingkuh. Ketika kondisi belum mendukung, mungkin hal itu hanya sesuatu yang sekedar terbersit di pikiran. Lalu ketika kondisi luar mendukung, seperti kondisi financial, ada lawan main, maka teraktivasilah keinginan pasif tadi menjadi sebuah tindakan.
Prinsip 5 – Kita sadar ketika pikiran-pikiran positif masuk ke dalam pikiran kita. Namun, seringkali kita tidak sadar ketika pikiran-pikiran negatif masuk ke dalam pikiran kita. Karenanya kita harus selalu dalam kondisi ‘alert‘.
Contohnya, kita sadar ketika kita sedang berada di masjid, atau di gereja, atau sedang mengikuti training-training motivasi, bahwa kita sedang memasukkan makanan positif ke dalam pikiran kita. Tetapi seringkali kita tidak sadar ketika menonton televisi, ketika berjalan-jalan di mall, bahwa segala sesuatu yang kita lihat bisa saja menimbulkan hasrat-hasrat negatif yang terlintas begitu saja tanpa kita sadari.
Prinsip 6 - Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apapun kita selalu berpikir, memasukkan makanan ke dalam pikiran kita. Pikiran kita senantiasa sibuk.
Oleh karena itu, ketika ada masalah, endapkanlah dulu. Ketika mau tidur hendaklah berdo’a, menyerahkan masalah tersebut pada Tuhan dan meminta diberi petunjuk agar keesokan hari dapat berpikir dengan jernih demi mencari solusinya. Dengan begini, ketika tidur nanti, bawah sadar kita akan berproses. Apalagi kalau sudah dibimbing Tuhan. Dalam hal ini kita berserah, surrender. Artinya, menyerahkan apa yang tidak bisa kita lakukan kepada Tuhan, ketika kita overwhelmed. Surrender, damai, tenang.
Prinsip 7 – Pada saat kepala kita terinfeksi pikiran negatif, Anda dapat membuangnya saat itu juga dan menggantinya dengan sebuah pikiran positif.
Tahu dari mana kalau kita kurang sehat? Tentunya dari tanda-tanda atau gejala-gejala penyakit yang ditimbulkan. Sekarang, tahu dari mana kalau kepala kita sudah terinfeksi oleh pikiran negatif? Jawabnya adalah, dari perasaan (feeling) kita.
Perasaan adalah barometer untuk mengetahui keadaan kita. Perasaan negatif adalah barometer bahwa telah ada makanan negatif yang masuk ke pikiran kita. Tuhan menurunkan perasaan sebagai barometer pikiran kita.
Ketika ada pikiran negatif masuk, kita bisa switch saat ini juga. (Dengan catatan pikiran negatif itu belum mengendap dalam bawah sadar kita. Jika sudah masuk dalam bawah sadar, megubahnya tidak semudah itu. Perlu reprogramming, ada tekniknya, seperti hipnoterapi dan sejenisnya.)
Prinsip 8 – Kemampuan kita untuk mengendalikan pikiran kita seperti otot. Ia dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh kita lakukan.
Rumus dari latihan ini adalah, selalulah mengawasi makanan yang masuk ke dalam pikiran kita, indikasinya adalah perasan kita.
Prinsip 9 – Kita hanya bisa memikirkan satu hal. Jika kita memikirkan hal yang positif, maka hal yang negatif akan pergi. Begitu juga sebaliknya.
~~~
Kebahagiaan itu adalah hasil pilihan pikiran. Bahagia itu kaitannya dengan perasaan. Dan perasaan tidak dapat dikontrol secara langsung. Cara mengelolanya adalah dengan mengontrol pikiran kita. Pikiran adalah sebab, dan perasaan merupakan akibat.
Jagalah hati! Tentunya yang dimaksud hati disini adalah qalbu. Bukan hati sebagai organ hati. Qalbu dalam subsistem jiwa menjadi pusat perasaan. Qalbu berbentuk spiritual, sehingga sulit dikelola secara langsung. Berkaitan dengan hal ini, Arvan Pradiansyah menyodorkan sebuah terobosan. Menurutnya yang menjadi pusat segalanya adalah PIKIRAN.
Pikiran adalah sumber dari segalanya. Dimana letak pikiran? Dengan mudah kita akan menunjuk kepala kita. Pikiran bersifat abstrak, tetapi pikiran memiliki bentuk real sebagai organ otak. Bila diibaratkan, otak adalah hardware dan pikiran adalah software-nya.
Di dalam otaklah segala data dan informasi yang kita terima diolah. Segala jenis kecerdasan pun berpusat di otak. Kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (SQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) ~God spot, semuanya terdapat di otak.
Maka, terkait hadits Nabi yang berbunyi, ”Sesungguhnya di dalam diri setiap orang ada segumpal daging. Bila daging itu sehat maka sehatlah seluruh tubuh orang itu, tetapi bila daging itu sakit maka rusaklah seluruh tubuh orang tersebut”, Arvan merasa yakin bahwa yang dimaksud “segumpal daging” tersebut adalah otak.
Semoga bermanfaat.
PS. Terkait paragraf terakhir mengenai otak yang diyakini Arvan menjadi pusat ‘segalanya’, saya pernah membaca dua artikel Jalaluddin Rakhmat di facebook page-nya, yang juga menyatakan hal senada (di sini dan di sini). Ada pro dan kontra, sudah tentu. Banyak hal bisa diterima, selain kemudian muncul berbagai pertanyaan akan hal yang sudah mapan.
Next what..? Wallahu ‘alam bishawab. Ilmu pengetahuan terus berkembang. Tuhan mengilhamkannya pada manusia untuk menyempurnakan kehidupannya.
Paradigma Baru Bersyukur
May 26, 2009 at 2:19 am | Posted in Lain-lain | 1 CommentTags: arvan pradiansyah, bersyukur, life & learning, psikologi
Dari Talkshow Interaktif Arvan Pradiansyah lagi.. Acaranya sekarang di Smart FM 95.9, bertajuk Smart Happiness. Tayang setiap Jum’at pagi jam 07.00 – 08.00 WIB.
Beberapa pekan ini membahas poin-poin dari buku keempatnya Arvan Pradiansyah yang berjudul “The 7 Laws of Happiness”. (Belum kesampean punya atau baca bukunya nih…) Meski bisa mengikuti acaranya setiap pekan, hanya pada beberapa kesempatan saja sempat mencatat poin-poin pentingnya -meski semua rasanya penting.
Nah, ini dia yang paling menggugah bagi saya, dalam arti memberikan pola pandang baru bagi saya atas sesuatu yang selama ini hanya diartikan melulu begitu, dari dulu sampai sekarang.
Dari acara tanggal 8 Mei 2009, yang mengetengahkan judul “Bersyukur: Menjelajahi Semua Potensi Anda”.
Hal paling menarik dari episode ini adalah mengenai makna bersyukur yang dikemukakan Arvan Pradiansyah, bahwa bersyukur itu berarti melihat ke dalam. Yaitu, dengan mengeksplor kemampuan kita sampai yang sekecil-kecilnya, sehingga ketika kita meninggal nanti kita bisa berkata kepada Tuhan: “Tuhan, aku sudah berusaha menggunakan (memaksimalkan) segala potensi yang Engkau berikan kepadaku, semuanya. Dan tidak ada sedikitpun yang tersisa (tersia-sia).” Alangkah indahnya jika kalimat itu bisa terucap dari bibir kita saat menghadap-Nya nanti.. (Semoga.)
Saya suka pengertian bersyukur seperti di atas. Syukur dalam pengertian ini menjelma menjadi sebuah sikap aktif, bukan hanya tindakan pasif yang biasanya selalu diartikan dengan ‘merasa (cepat) puas’ atau ‘melihat ke bawah’. Kedua pengertian ini juga benar, tapi baru 50% benar, menurut Arvan.
Mitos Salah Mengenai Bersyukur
Pertama, kita biasanya bersyukur hanya untuk hal-hal yang besar. Padahal ada banyak sekali atau mungkin bahkan ribuan hal kecil yang bisa (pantas) disyukuri.
Kedua, kita hanya bersyukur ketika mendapat kesenangan. Definisi senang sendiri adalah, segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Padahal, hanya Tuhan yang tahu yang terbaik untuk kita. Jadi, seharusnya kita bersyukur baik dalam keadaan senang maupun susah.
Jadi teringat teori ‘kemerdekaan hidup’ seorang Ustadz favorit saya. Bahwa senang atau susah hanya sebutan untuk keadaan yang kita alami. Ketika kita menjalani kehidupan ini dengan ‘sadar’, alias tidak terikat pada dualisme senang dan susah tadi, maka hakikat keadaan tersebut bisa kita selami, dan tidak ada senang atau susah lagi. Semua kejadian runtut dalam pengaturan maha sempurna Sang Pengatur. So, ‘sadar’ adalah kata kunci dalam menjalani hidup ini. Sehingga kita bisa merdeka, memandang segala sesuatu dengan jernih, memandang hidup dari sisi sebagaimana seharusnya kita menempatkan diri.
Ketiga, kita sering undervalue terhadap keadaan (diri) kita, dan overvalue terhadap keadaan (diri) orang lain.
Keempat, bersyukur diartikan sebagai ‘cepat puas’ atau ‘melihat ke bawah’ sebagaimana disebutkan di atas.
Tips Bersyukur
1 – Ketika mendapat kenikmatan, tanya: Why me?
2 – Ketika mendapat kesusahan, tanya: Apa yang ingin Tuhan berikan kepada saya dengan musibah ini?
Bersyukur terkait erat dengan kemampuan spiritual seseorang. Hanya orang yang beriman (mempunyai kemampuan spiritual) saja yang bisa melihat apa yang tidak terlihat.
~~~
Acara Smart Happiness ini adalah acara favorit kedua saya setelah dulu begitu mencintai talkshow interaktif dengan Mario Teguh di PRO 2 FM Jakarta, yang tayang setiap Senin pagi jam 7 pagi juga. (Sekarang sudah tidak tayang, penyiarnya Mbak Ratih Atmojo, kangen suaranya.. :)) Nama acaranya saya lupa, apakah Mario Teguh Open Forum.. (?)
Kedua acara ini memiliki kesamaan, menyajikan pola pandang-pola pandang baru untuk hal-hal yang sudah dianggap lazim. Saya sering dibuat takjub dengan pengertian-pengertian baru dari hal-hal yang sebetulnya biasa. Ketika kita bisa memaknai sesuatu dengan cara pandang yang berbeda, dengan hati yang jernih, dengan intuisi yang tajam, segala hal kecil menjadi begitu indah dan ‘sangat bermakna’. Tidak ada yang sia-sia. Semoga Allah senantiasa merahmati beliau berdua untuk selalu dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menebarkan rahmat-Nya. Amiin..
Semoga bermanfaat.
Found, Interested, Finished
December 11, 2008 at 6:47 am | Posted in Lain-lain | Leave a commentTags: kutipan, passion
“Manusia, pada waktu mudanya, pasti bertemu satu hal yang menarik hatinya. Yang penting adalah, tidak putus asa dan menyelesaikan apa yang dimulai.” – Osamu Shimomura, Pemenang Nobel Kimia 2008
Menarik membaca kisahnya menemukan green fluorescence protein atau protein berpendar hijau yang ada pada ubur-ubur. Baca selengkapnya di sini.
Menjadi Tua Itu Pasti, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan
February 9, 2008 at 4:55 am | Posted in Lain-lain | 4 CommentsTags: arvan pradiansyah, kedewasaan, life & learning, psikologi
Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan.
Kalimat pendek, but deeply emphasize.
Menjadi dewasa..? Sebagian ada yang menyatakan sulit menjadi dewasa, sebagian lagi mengatakan definisi dewasa itu berbeda-beda, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Di atas itu semua, satu hal yang pasti, (menurut saya) menjadi dewasa itu suatu keharusan.
Mengapa? Karena hidup yang sedang kita jalani ini adalah amanah dari-Nya. Setiap tarikan nafas adalah titipan dari-Nya. Kenyataannya, banyak sekali masalah yang tidak dapat diselesaikan ‘tanpa kedewasaan sikap’, seperti banyak sekali masalah yang bisa timbul dari ‘ketidakdewasaan’, padahal, hidup yang kita jalani ini haruslah dapat memberi makna.
Terkait dengan hal ini, berikut satu catatan menarik tentang ‘kedewasaan’. Saya salin bebas dari Talkshow Interaktif : Friday Spirit di Ramako 105.8 FM oleh Arvan Pradiansyah, Jum’at 7 Februari 2008 pukul 07.00-08.00 WIB. Semoga tidak ada substansi yang berubah..
***
Mengambil tema seperti tertulis pada judul di atas, Arvan Pradiansyah mengemukakan 5 hal yang menjadi ciri yang membedakan orang ‘dewasa’ dan ‘tidak dewasa’.
Sebelumnya Arvan mengungkapkan bahwa, kedewasaan tidak terkait sama sekali dengan masalah umur. Meskipun sering terdengar ungkapan: orang tua lebih bijak, atau orang muda lebih enerjik.
Dan 5 hal tersebut adalah..
Pertama, orang dewasa lebih melihat ke dalam (lebih dahulu), ketika ‘anak kecil’ lebih sering mengacu pada sesuatu di luar dirinya.
Contoh mudahnya, ketika dihadapkan pada pertanyaan berikut, apa jawaban kita: Telat masuk kantor, siapa yang salah? Siapapun bisa menjawab dengan mudah: macet, ketika pilihan jawaban lain juga tersedia. Dengan mengambil tanggung jawab pribadi Anda bisa memilih untuk mengatakan: Saya tahu Jakarta macet, maka saya harus berangkat lebih pagi untuk dapat sampai di kantor tepat waktu.
Orang dewasa mengambil tanggung jawab pribadi, ketika anak kecil mencari-cari kambing hitam atas kesulitan yang menimpanya.
Kedua, orang dewasa selalu memberi manfaat pada orang lain, ketika anak kecil selalu ingin mengambil manfaat (meminta hak) dari orang lain.
Ilustrasinya, ketika seseorang telah berkerja dengan baik, maka dipromosikan adalah sebuah konsekwensi. Ingat bahwa, tidak ada orang yang ‘berhak’ untuk dipromosikan, yang ada adalah orang yang ‘pantas’ untuk dipromosikan. Dan yang sering kita temui, orang lebih banyak menuntut haknya, alih-alih menunjukkan kinerja yang dengannya pemenuhan hak itu menjadi suatu konsekwensi yang dapat ia terima.
Ketiga, orang dewasa memiliki pengendalian diri -sense of control- yang besar, sementara anak kecil lebih banyak dikendalikan orang lain (rangsangan luar).
Pengendalian diri yang besar, ciri praktisnya dapat ditandai dengan adanya jarak antara stimulus dan respon. Ada proses mawas diri, melihat ke dalam dan kepada persoalannya, sebelum memberikan respon atas sesuatu.
Keempat, orang dewasa siap kalah (mengalah), sementara anak kecil selalu ingin menang dan tidak siap kalah.
Kelima, orang dewasa bisa membedakan masalah dengan orangnya, sementara anak kecil berlaku sebaliknya.
Just look behind..
(For F. I proud of you.., stay the same bro’.)
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.







