Warna-Warni Homeschooling
November 29, 2011 at 3:02 am | Posted in Buku-buku, Pendidikan | Leave a commentTags: charlotte mason, home-education, homeschooling, indonesia bisa, pendidikan, pendidikan rumah
Warna-warni Homeschooling. Penerbit Elex Media. Februari, 2009. 110 halaman. ISBN: 978-979-27-4384-0.
Mengenai apa itu homeschooling (jika belum mengenalnya), pernah saya tulis sedikit di sini. Dari catatan pengantar: Buku ini berisi kumpulan tulisan dari beberapa keluarga homeschooling Indonesia yang aktif di milis SekolahRumah.
Tulisan-tulisan dikelompokkan ke dalam 7 bagian: Menghargai Keragaman, Peluang dan Masa Depan Anak Homeschooling, Model dan Metode Homeschooling, Kurikulum dan Standar Homeschooling, Bahan Belajar Homeschooling, Evaluasi Homeschooling, Ide Belajar & Kegiatan Homeschooling.
Dari judul ketujuh bagian di atas, sudah bisa dibayangkan isinya, kan? Ditulis dalam bentuk tulisan-tulisan pendek dan ringan, berdasarkan pengamatan dan pengalaman nyata dari para praktisi selama menjalankan HS sehari-hari. Dari yang filosofis sampai yang praktis.. Memberi gambaran lengkap tentang apa dan bagaimana HS dan praktiknya. Bagi Anda yang berminat atau sedang mencari informasi mengenai pendidikan berbasis keluarga atau homeschooling, mungkin buku ini wajib dibaca.
Tulisan-tulisan di buku ini: Menginspirasi. Ringkas, tapi kaya dan warna-warni.
Salah satu cerita favorit saya, “Homeschooler Inggris Pecinta Indonesia”, ditulis oleh Yanuar Nugroho, dosen dan peneliti di Manchester University, Inggris, praktisi homeschooling untuk kedua putranya. Saya kutip utuh. Ini dia:
Pagi ini tanpa persiapan saya tiba-tiba diminta bergabung dengan komite seleksi mahasiswa doktoral dari jurusan tetangga (studi pembangunan). Mahasiswa itu mau mempelajari soal Indonesia. Maka saya diajak mewawancarainya.
Bagi seorang yang bukan Indonesia, pengetahuannya luar biasa. Ia ingin meneliti soal peran kearifan dan pengetahuan tradisional (indigenous wisdom and knowledge) dalam pembangunan. Waktu saya dapat giliran bertanya, setelah bertanya macam-macam soal landasan teori dan lain-lain, saya tanya dia, “Mengapa kamu berminat mempelajari Indonesia?”
Dia jawab kira-kira begini, “Indonesia itu negara besar. Setidaknya, ia akan besar suatu hari. Memang sayang sekali itu tidak tercermin dalam kinerjanya baik dalam dunia akademik maupun pembangunan saat ini. Tetapi itu tinggal tunggu waktu. Saya kira saya ingin menyumbangkan sesuatu pada Indonesia.”
Hmmm.. lalu saya tanya lagi, “Dari mana kamu tahu soal Indonesia?”
Dia jawab, “Oh, itu saya tahu karena saya belajar sendiri di rumah. Saya dulu tidak sekolah.”
Saya kaget, “Tidak sekolah?” kejar saya. Dia jelaskan, “Orang tua saya meng-‘home-ed’ (home education/homeschooling) saya hingga saya selesai A-level. Saya suka sekali mempelajari Indonesia. Saya belajar banyak tentang sejarah Indonesia. Karena itulah saya ingin meneruskannya. lalu saya kuliah sarjana dan kini langsung mencoba doktor tanpa lewat master.”
Saya tanya lagi, “Kamu pernah ke Indonesia?”
“Belum. Tapi saya pasti akan ke sana dalam fieldwork saya. Saya juga belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit, lho.” (sambil tersenyum), lalu bilang, “selamat siang, pak” (dalam bahasa Indonesia.
Saya ketawa.
Waktu kami reses, kolega senior saya yang memimpin sidang wawancara itu bertanya apa saya merekomendasikannya diterima. Saya bilang, bacalah proposalnya. Itu saja kriterianya. Memang, proposalnya jauh lebih bagus—lebih dalam, lebih kritis—dari rata-rata kandidat doktor lainnya yang melamar yang punya gelar master. Dan memang benar, baru saja saya dikabari, dia diterima.
Seorang anak muda Inggris, baru 22 tahun, percaya diri, kritis, cerdas. Tidak pernah sekolah formal. Langsung kuliah. Selesai sarjana langsung diterima di jenjang doktoral. Mempelajari aspek tradisional dan pembangunan negara lain karena tertarik dan ingin menyumbang/berbuat sesuatu pada negara itu, yang hanya dikenalnya lewat buku dan film. Luar biasa.
Saya yakin anak-anak muda kita bisa juga melakukan hal yang sama jika mereka dibiasakan berpikir kritis, merdeka, terbuka. Yang dibutuhkan bangsa ini untuk maju adalah anak-anak yang terdidik (tidak selalu berarti tersekolahkan) dengan baik: yang hidup daya nalar dan daya kritisnya.
Dan saya ingin suatu hari bukan hanya kita, tapi dunia yang akan mengatakan “luar biasa” ketika melihat anak-anak Indonesia tersebut berkiprah membangun bangsanya.
##
Nah, bagaimana perasaan Anda setelah membaca kisah di atas? Buat saya.. menarik dan menggelitik. Jadi ingat slogan kebanggaan kita sekarang, Ayo, Indonesia Bisa!
Oh ya, buku ini membuat saya mengenal Charlotte Mason, salah satu metode homeschooling paling populer. Dan seperti cinta yang menemukan bentuknya.. hehe, tepat dua hari setelah saya menulis status ini di Google+, “baca warna-warni HS, dan aku jatuh cinta pada Charlotte Mason, in a glance..,” Bu Ellen, salah satu penulis buku ini, membuat grup Komunitas Charlotte Mason Indonesia di Facebook. Cinta yang tuntas dan tertunaikan. :)
Sebagai penutup, saya kutip kata-kata CM dari Bu Ellen: Memilih opsi pendidikan apa pun, berangkatlah dari apa yang benar-benar kita yakini tentang mengapa, apa, dan bagaimana anak seharusnya belajar.
Selamat megeksplor opsi pendidikan Anda. :)
Leave a Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a Reply
Blog at WordPress.com | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

