Puisi-puisi Soe Hok Gie

– 1 April 1969

Sebuah Tanya

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mendalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru

#

– 11 November 1969

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegakklah ke langit luas atau awan yang mendung.
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa-apa.

#

– Salem, 29 Oktober 1968

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Di mana ulama – buruh dan pemuda,
Bangkit dan berkata – Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi rasa benci pada siapa pun,
Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun,
Dan melupakan perang dan kebencian
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan – Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.

#

– Salem, 31 Oktober 1968

Saya kira saya ada di Jakarta kembali,
Datang dan bicara dengan manusia-manusia yang saya cintai
Tentang dunia yang semakin tua — atau tanah air yang kelabu
Atau tentang mimpi-mimpi kita (yang tak pernah akan datang).
Aku ingat kembali mata-mata mengantuk di rumah Uno
Jam duabelas malam, dan masih bicara
Tentang pertempuran-pertempuran yang tak bisa kita menangkan,
(Aku sendiri tak tahu — mengapa aku ikut serta)
Saya kira saya terbangun oleh kicau burung-burung gereja
Di pohon kelapa dan mangga dekat tempat tidurku
Atau terbangun karena nyamuk dalam kelambu.

Jakarta—
Aku yakin aku cinta padamu
Jalan-jalanmu yang ramai di siang hari
Dan tukang-tukang soto, pohon-pohon asem dan tanjung
Kemarin malam saya pun terbangun dari tidur
Mendengar gemercik hujan yang menderap seperti di rumahku
Aku kira aku di Jakarta kembali.

(jam 08.00 pagi)

#

Dari buku: Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. LP3ES, 2005

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s